Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Hari sudah sangat terang ketika laki laki itu di pindahkan ke ruang ICU.
Raina menatap diam dari balik kaca jendela kamar ICU, Mata nya menatap tubuh laki-laki yang tak bergerak di balik kaca. Infus terpasang, perban menutupi pelipis, lengan kanan diperban penuh goresan. Napasnya naik turun pelan melalui selang oksigen. Tanpa sadar, pikirannya kembali ke beberapa waktu lalu saat dokter menjelaskan kondisi laki laki itu sesaat setelah ia keluar dari ruang operasi.
Lampu indikator akhirnya berganti dari merah menjadi kuning. Dada Raina serasa dicekik. Ia berdiri begitu cepat hingga kursi tempatnya duduk tergeser pelan.
Pintu terbuka, dan dr. Arya keluar dengan masker yang baru diturunkan. “Operasi selesai,” katanya, “tapi kondisinya… belum stabil.”
Raina merasa lututnya melemas.
“Ma—maksud dokter?”
“Pasien mengalami benturan parah dan kehilangan banyak darah. Organ-organ vitalnya kami stabilkan, tulang rusuknya sudah kami tangani. Tapi…” Ia menatap Raina lama, seolah memilih kata yang paling tidak melukai. “Pasien belum sadarkan diri. Ada kemungkinan ia masuk kondisi koma ringan.”
Kata koma itu menghantam seperti batu besar. Raina memegangi bibirnya, tak percaya. “Tapi… dia bernapas? Dia… dia masih bisa sembuh, kan?”
“Kita harus menunggu. Beberapa jam ke depan sangat menentukan.”
Raina hanya mengangguk, meski kepalanya seperti dipenuhi kabut.
Dr. Arya menepuk pundaknya singkat sebelum kembali masuk.
"Mbaknya keluarga pasien?" Tanya seorang perawat jaga yang baru datang membuyarkan lamunan Raina.
"Bukan mbak"
"Kalo begitu mbaknya nggak boleh ada di sini, ini belum waktunya jam besuk" Terang sang perawat lembut sambil memperhatikan penampilan Raina.
"Saya orang yang menemukannya, dia ...dia korban tindak kejahatan" Jawab Raina lalu duduk di kursi tunggu tak jauh dari ruang ICU.
Perawatan itu kaget" Oh astaga.... Maaf saya tidak tau... "Guman perawat itu.
" Tapi sebaiknya mbak pulang dulu untuk istirahat, mbaknya terlihat sangat kelelahan, nanti malah mbaknya ikutan sakit"Sambung perawat itu perhatian.
" Tapi bagaimana jika dia sadar? "
" Nanti pihak rumah sakit akan langsung mengabari mbak"
" Sebentar lagi saya akan pulang " Jawab Raina pelan, karena jujur dia memang sudah sangat kelelahan dan kurang tidur.
Namun Raina merasa berat meninggalkan laki laki itu sendirian.
Tidak hanya cemas karena menemukan korban kecelakaan.
Ada rasa tanggung jawab yang menempel di dadanya—seolah jika ia pergi, laki-laki itu benar-benar tak punya siapa pun.
Laki laki itu terbaring penuh luka, tanpa keluarga, tanpa teman, tanpa satu pun orang yang mencari. Rumah sakit ramai, tapi di tengah hiruk-pikuk itu, ia tetap sendirian.
Dan entah bagaimana, kesepian itu ikut menyentuh hati Raina.
Ia tahu rasanya berdiri di tempat ramai tanpa ada yang peduli.
“Kalau aku pergi,” batinnya pelan, “dia akan benar-benar sendirian, tapi kalau aku paksakan terus di sini tubuhku lama lama akan drop juga"Batin Raina berkecamuk.
" Sus... Apa saya bisa melihatnya sedikit lebih dekat? Saya ingin berpamitan padanya "Ucap Raina pelan begitu sampai di tempat perawat jaga.
" Boleh mbak, tapi pakai gown pelindung dulu ya mbak "
Raina mengangguk.
" Hy.... "Sapa Raina pelan,
"Terimakasih sudah mau bertahan...."
Raina menghela nafasnya "Aku pulang dulu ya... Nanti aku akan kembali, Tolong jangan tidur terlalu lama"Ucap Raina pelan dan lembut lalu keluar dari ruang ICU.
Raina melangkah keluar dari rumah sakit dengan langkah lelah. Begitu pintu otomatis menutup di belakangnya, ia hampir tersentak mendengar panggilan dari Fahri yang berdiri di dekat parkiran,
“Raina…” panggilnya lembut. “Kamu mau ke mana?”
“Pulang, Mas,” jawab Raina singkat.
Fahri mengangguk, seolah sudah menebak. “Ya sudah, ayo. Kupikir kamu nggak bakal pulang, jadi aku susul ke sini. Oh, aku beli nasi bungkus. Sarapan dulu, yuk!”
Raina hanya mengangguk pelan. Mereka duduk di bangku taman rumah sakit karena tak jauh dari parkiran dan makan dalam diam. Rasanya hambar, tapi setidaknya menghangatkan perutnya. Setelah itu mereka berboncengan pulang, karena motor Raina masih tertinggal di klinik tempat Fahri bekerja.
“Mas kita mampir dulu ke klinik ya, aku mau ambil motor "
“0k.”
Fahri tampak ragu sebelum berbicara .
“Ra… aku boleh kasih saran?”
“Apa?”
“Sebaiknya kamu berhenti kerja shift malam. Bahaya untuk kamu. Kalau kemarin kamu kenapa-kenapa gimana?”
Raina menghela napas. “Aku memang mau berhenti, Mas.”
“Bagus.” Fahri tersenyum lega.
Malam harinya, Raina berjalan menuju minimarket tempat ia bekerja. Pemilik minimarket awalnya keberatan saat Raina menyampaikan niat berhenti, tapi akhirnya melepaskannya juga.
Raina merasa bersalah namun juga lega.