Seyna Darma, gadis yang dianggap bodoh karena trauma kematian kedua orang tuanya, hidup dalam siksaan paman dan bibi yang kejam.
Namun di balik tatapannya yang kosong, tersimpan dendam yang membara.
Hingga suatu hari ia bertemu Kael Adikara, mafia kejam yang ditakuti banyak orang.
Seyna mendekatinya bukan karena cinta, tapi karena satu tujuan yaitu menghancurkan keluarga Darma dan membalas kematian orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 TIDAK DIBATALKAN
Seyna segera dituntun oleh Risa menuju ke lantai atas untuk mengobati luka di tangan dan wajah Seyna sekalian untuk berganti pakaian.
"Ayo nona, masuk," ucap Risa sambil menarik tangan Seyna kedalam kamar itu.
Seyna yang sudah di dalam kamarnya segera menghapus air matanya, dan segera duduk di pinggir ranjang.
"Baru hal kecil saja sudah kelabakan," ucap Seyna sambil tersenyum sinis.
"Nona, tidak apa apa. Biar saya bantu obati," ucap Risa sambil mengambil kotak p3k di atas nakas.
"Sudah, tidak usah diobati. Aku udah terbiasa dengan luka kecil ini," ucap Seyna sambil menepis tangan Risa yang mau mengobati tangannya.
"Tapi nona.." Risa sedikit ragu untuk menuruti permintaan Seyna.
"Obati saya wajahku yang memerah ini, soal lebam ditangan dan di kaki, aku bisa memakai pakaian yang panjang," jelas Seyna segera menuju ke ara lemari.
Seyna segera membuka almari itu dan mengambil satu dress panjang berwarna hitam.
"Bantu aku memakai dress ini Risa," ucap Seyna sambil memberikan dress hitam itu kepada Risa.
"Baik, akan saya bantu pakai nona," Risa mengangguk dan mengambil pakaian itu.
Saat Seyna melepas pakaian yang ia kenakan, terlihat luka lebam di bagian punggung yang sudah mulai menghitam.
"Nona..luka itu?"tanya Risa sedikit syok.
"Sudah tidak usah diperdulikan, bantu aku Risa daripada nanti kita kena omel dari nenek lampir itu," ucap Seyna tatapannya datar.
Risa hanya mengangguk lalu cepat cepat membantu Seyna untuk memakai dress hitam itu, dan mendadani wajah Seyna untuk menutupi bekas tamparan dari Alisha.
"Sudah nona, silahkan dilihat dulu," ucap Risa sambil menyodorkan cermin kepada Seyna.
"Bagus, ayo segera turun sepertinya suara mobil sudah datang," jelas Seyna.
Risa segera mengikuti langkah kaki Seyna menuju ke arah ruang tamu, lalu sedikit berbisik tepat di sebelah Seyna.
"Bagaimana bisa tuan dan nyonya meminta nona Seyna datang kesana."
"Sudahlah kita ikuti saja rencana mereka, keluarga wicaksana bukannya keluarga tunangannya Alisha?" tanya Seyna.
"Benar nona."
Seyna dan Risa segera berjalan ke arah ruang tamu yang sudah dihadiri keluarga Wicaksana dan keluarga pamannya, tetapi saat tengah asyik melihat tiba tiba ia tanpa sengaja menubruk seorang pria bertubuh atletis.
"Aduhh.." gumam Seyna.
Seyna lalu segera mendongakkan kepalanya menatap siapa pria yang telah ia tabrak. Pria itu hanya tersenyum tipis saat melihat wajah kebingungan dari Seyna.
"Kakak...kesini lagi," ucap Seyna sambil memiringkan kepalanya.
Reni yang melihat kejadian itu langsung menghampiri dengan langkah cepat, wajahnya berubah tegang dan sedikit panik. Ia segera menarik tangan Seyna, memaksa gadis itu berdiri tegak di hadapan tamu-tamu yang kini memperhatikan.
"Maafkan anak ini, Tuan Kael," ucap Reni dengan senyum kikuk, suaranya bergetar menahan malu.
"Dia ini memang sedikit… bodoh. Kadang tidak bisa menjaga sikapnya di depan orang."
Kael yang baru saja hendak duduk hanya menatap datar, pandangannya tak bisa ditebak. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangguk pelan sebagai bentuk sopan santun. Namun tatapannya sempat berhenti sejenak pada wajah Seyna ada sesuatu di mata gadis itu, sesuatu yang tidak cocok dengan kata bodoh seperti yang Reni ucapkan.
Seyna menunduk, jemarinya saling menggenggam di depan perut, berusaha menahan rasa takut.
"Maaf..maaf," ucapnya lirih.
"Sudah, duduk saja di sini, Seyna,"perintah Reni cepat sambil menepuk kursi di sebelahnya, mencoba menutup suasana canggung.
Seyna hanya mengangguk kecil, lalu duduk perlahan di sebelah Reni. Ia bisa merasakan tatapan banyak orang tertuju padanya beberapa menatap dengan rasa iba, sebagian lagi dengan tatapan meremehkan.
Kakek Adikara yang duduk di kursi utama memperhatikan dengan seksama. Wajah tuanya yang teduh tampak berubah, matanya mengerjap perlahan seolah sedang mencoba mengingat sesuatu dari masa lalu. Seyna Damar nama itu bukan asing baginya.
Ia tahu gadis itu. Ia tahu Damar teman lamanya, seorang pengusaha yang jujur dan setia. Dulu, Damar sering datang ke rumahnya membawa cucu kecil yang manis, berambut lembut, dengan mata yang bersinar polos. Dan kini, di hadapannya, gadis kecil itu sudah tumbuh besar, tapi sorot matanya redup, penuh luka yang disembunyikan.
Kakek Adikara menatap lama, lalu menarik napas pelan. Ia sudah mendengar kabar kematian keluarga Damar beberapa tahun lalu, tapi ia tidak tahu bahwa anak itu Seyna tinggal bersama Dirga dan Reni sekarang, wajahnya menegang.
Sementara itu Kael duduk di sebelah kanan kakeknya, diam dan tenang. Ia bersandar sedikit ke kursi, pandangan matanya sesekali melirik Seyna yang masih menunduk. Entah mengapa, ada rasa tidak nyaman yang tumbuh di dadanya.
"Kenapa wajah gadis itu sedikit takut?apa ada masalah dikeluarga ini?"pikir Kael.
Ia teringat saat pesta pertunangan sebelumnya gadis itu tampak linglung, tapi bukan karena kebodohan. Lebih seperti seseorang yang menahan sesuatu di dalam dirinya.
"Apa paman dan bibinya bersikap kasar," gumam Kael.
Kakek Adikara berdehem pelan, suaranya berat tapi hangat, memecah keheningan.
"Anak ini cucu kesayangan Damar, bukan?" tanyanya menatap langsung ke arah Dirga.
Dirga terlihat sedikit kaget, tapi cepat menguasai dirinya agar tidak membuat kecewa kakek Adikara.
"Benar, Tuan. Seyna… anak kakak saya, Riko Damar. Setelah orang tuanya meninggal, kami yang merawatnya. Lebih tepatnya saat ayah saya meninggal."
"Merawat?" gumam sang kakek pelan, seolah menelisik kata itu. Tatapannya lalu berpindah ke Seyna.
"Kau sudah besar, Nak. Kakek ingat dulu kau sering datang bersama ayahmu. Kakekmu selalu bangga saat menyebut namamu."
Seyna hanya menunduk, bibirnya gemetar. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kakek Damar?kakek siapanya kakek?"tanya Seyna seperti anak kecil.
Kakek Adikara hanya terkekeh lalu meminta Seyna untuk mendekat dan duduk di sampingnya, melihat itu Kael segera bergeser memberi tempat kosong kepada Seyna. Kakek Adikara mengelus pucuk rambut Seyna.
"Seyna, sayang kamu mau permen tidak?"tanya Adikara.
"Permen?" ucap Seyna kedua bola matanya berbinar.
"Mau..mau...seyna sukaa sekali permen."
Kakek Adikara segera mengeluarkan permen itu dan memberikannya kepadaa Seyna, Seyna menerimanya lalu segera membukanya dan kakinya badannya bergoyang goyang seolah senang bisa menikmati permen.
"Ada apa kakek Adikara datang kemari?" suara Dirga memecah ketenangan di ruangan itu.
Mendengar itu sang kakek segera menunjuk menantunya Joni untuk segera mengatakan apa tujuan mereka kemari.
"Karena permintaan Amar, pertunangan keluarga Wicaksana dan Damar bisa dilakukan," ucapnya sambil menepuk nepuk pundak anaknya Amar yang duduk tepat disebelahnya.
Alisha yang mendengar itu sedikit senang, lalu segera tersenyum ke arah sang ibu. Sedangkan Seyna hanya menatap datar sambil menikmati permen ditangannya.
"Bagus..bagus, saya setuju dengan hal ini. Terimakasih pak Joni sudah mau menerima Alisha lagi untuk menjadi menantu keluarga Wicaksana."
........
MOHON DUKUNGANNYA JANGAN LUPA VOTE,LIKE,KOMEN SEBANYAK BANYAKNYA TERIMAKASIHH
Jangan lupa follow buat tau kalau ada cerita baru dari othorrr!!