NovelToon NovelToon
Ranjang Kosong Memanggil Istri Kedua

Ranjang Kosong Memanggil Istri Kedua

Status: tamat
Genre:Kaya Raya / Beda Usia / Selingkuh / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kemewahan rumah Tiyas, tersembunyi kehampaan pernikahan yang telah lama retak. Rizal menjalani sepuluh tahun tanpa kehangatan, hingga kehadiran Hayu—sahabat lama Tiyas yang bekerja di rumah mereka—memberinya kembali rasa dimengerti. Saat Tiyas, yang sibuk dengan kehidupan sosial dan lelaki lain, menantang Rizal untuk menceraikannya, luka hati yang terabaikan pun pecah. Rizal memilih pergi dan menikahi Hayu, memulai hidup baru yang sederhana namun tulus. Berbulan-bulan kemudian, Tiyas kembali dengan penyesalan, hanya untuk menemukan bahwa kesempatan itu telah hilang; yang menunggunya hanyalah surat perceraian yang pernah ia minta sendiri. Keputusan yang mengubah hidup mereka selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Keesokan paginya, dimana Rizal berpamitan harus ke kantor karena ada klien penting yang akan datang untuk menandatangani kontrak besar.

Meski berat hati meninggalkan Hayu, Rizal memastikan semua fasilitas di kamar bawah sudah lengkap.

"Jangan turun dari tempat tidur, Mas tidak akan lama. Kalau ada apa-apa langsung telepon Mas," pinta Rizal sambil mengecup kening istrinya lama.

Hayu menganggukkan kepalanya dengan senyum lembut.

"Iya, Mas. Jangan khawatir, aku akan istirahat total di sini."

Dengan perasaan yang sedikit tidak tenang, Rizal berangkat menuju ke kantor menggunakan mobilnya, dikawal oleh asisten pribadinya. Namun, tanpa ia sadari, ada mata-mata yang mengintai dari kejauhan.

Melihat Rizal yang keluar dari rumah, adik Ibu Hayu dan komplotannya segera memberi isyarat. Mereka telah mempelajari celah keamanan saat pesta sate kemarin.

Mereka langsung menyerbu rumah dan melumpuhkan semua orang dengan cepat.

Penjaga gerbang dan pelayan diikat serta disumpal mulutnya sebelum mereka sempat menekan tombol darurat.

Hayu yang baru saja memejamkan matanya untuk tidur pagi, langsung terkejut ketika melihat beberapa orang asing masuk ke dalam kamarnya dengan wajah beringas.

"TOLONG!!" teriak Hayu histeris, mencoba meraih ponsel di atas nakas.

Namun, salah satu lelaki langsung menutup mulut Hayu dengan kasar menggunakan kain beraroma bius dan membawanya pergi melalui pintu belakang yang sudah mereka bobol.

Tubuh Hayu yang lemas tak berdaya diseret masuk ke dalam mobil van hitam yang sudah menunggu.

Mereka segera membawa Hayu ke tempat persembunyian di sebuah gudang tua di pinggiran kota, tempat di mana Ibu Hayu sudah menunggu dengan rencana liciknya.

Di ruang rapat kantornya yang mewah, Rizal tampak sangat berwibawa.

Rizal telah sampai di kantor dan ia segera menemui klien yang sudah menunggunya.

Meskipun pikirannya sesekali melayang kepada Hayu, ia berusaha tetap profesional.

Meeting dan tanda tangan berjalan lancar sampai tiba-tiba ponsel pribadi Rizal yang terletak di atas meja bergetar hebat.

Nama kepala keamanan rumahnya muncul di layar. Firasat buruk yang ia rasakan sejak pagi tadi seakan meledak.

Rizal meminta izin sebentar kepada kliennya dan mengangkat telepon itu dengan jantung berdebar kencang.

Di seberang sana, suara salah satu petugas keamanan yang sudah sadar langsung menghubungi Rizal dan mengatakan kalau rumah telah diserang.

"Tuan. Maafkan kami. Bu Hayu dibawa pergi oleh sekelompok orang!" lapor petugas itu dengan suara gemetar dan terengah-engah.

Wajah Rizal seketika pucat pasi, lalu berubah menjadi merah padam karena amarah yang luar biasa.

Pena yang baru saja ia gunakan untuk tanda tangan kontrak bernilai miliaran itu jatuh begitu saja dari tangannya.

"Cepat lacak posisi mobil mereka melalui CCTV sekitar! Kirim titik koordinatnya ke ponsel saya sekarang juga!" bentak Rizal tanpa mempedulikan kliennya yang kebingungan.

Rizal langsung berlari keluar ruangan tanpa sepatah kata pun.

Ia segera menghubungi Riska dan tim keamanan khususnya.

"Siapkan senjata dan tim! Istriku diculik. Jika terjadi sesuatu pada Hayu atau anakku, aku akan memastikan orang-orang itu tidak akan melihat matahari esok hari!"

Mobil Rizal melesat meninggalkan gedung kantor dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan kota.

Matanya menatap tajam ke arah GPS yang mulai menunjukkan pergerakan mobil para penculik.

Pandangan Hayu perlahan mulai jelas, meskipun kepalanya terasa sangat berat dan berdenyut akibat sisa obat bius.

Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa dingin dari tali yang mengikat kuat di kursi menyadarkannya bahwa ia dalam bahaya.

Beralih ke gudang tua, di mana Hayu tersadar dan menangis melihat ibunya tertawa di depannya. Ruangan itu pengap, berdebu, dan hanya diterangi cahaya matahari yang masuk lewat celah atap yang bocor.

"Mmmph!!" Hayu mencoba berteriak, namun mulutnya disumpal kain dengan rapat.

Matanya melebar penuh ketakutan, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya yang pucat.

"Hahaha! Akhirnya bangun juga kamu, Anak Durhaka!"

Ibu Hayu tertawa nyaring, suaranya menggema di dinding gudang yang dingin.

Ia berjalan mendekat sambil membawa ponsel, menunjukkan wajah rakusnya yang mengerikan.

"Kenapa menangis? Harusnya kamu senang, sebentar lagi suami kayamu itu akan memberikan kita uang yang sangat banyak. Aku hanya minta hakku sebagai ibumu! Kamu pikir enak membesarkanmu sampai kamu bisa laku dijual ke pria kaya?" ucap ibunya tanpa rasa bersalah sedikit pun.

Adik ibunya, sang paman yang beringas, berdiri di belakang sambil memegang kayu.

"Cepat telepon suaminya, Kak. Minta lima miliar, atau kalau tidak, kita kirimkan saja salah satu jarinya sebagai peringatan!"

Hayu menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia tidak peduli dengan dirinya sendiri, tapi ia sangat mengkhawatirkan janin di dalam perutnya.Perutnya mulai terasa kencang karena stres yang luar biasa.

Ia terus bergumam di balik sumpalannya, memanggil nama Rizal dalam hati, berharap suaminya datang menyelamatkannya sebelum sesuatu yang buruk terjadi pada bayi mereka.

Tangan Ibu Hayu dengan gemetar namun penuh kemenangan menekan nomor Rizal.

Ia mengaktifkan pengeras suara agar Hayu bisa mendengar betapa berkuasanya dia saat ini.

Di seberang sana, Rizal yang sedang mengemudi dengan kecepatan gila langsung mengangkat telepon itu.

"Halo! Siapa ini?!" suara Rizal menggelegar, penuh dengan kemarahan yang tertahan.

"Halo, Menantu Kaya," ucap Ibu Hayu dengan nada mengejek.

"Istrimu yang cantik ini ada bersamaku. Kalau kamu ingin dia dan anakmu selamat, siapkan sepuluh miliar tunai sekarang juga!"

"Mmmph! Mmmph!!" Hayu meronta-ronta di kursinya, berusaha mengeluarkan suara di balik sumpalannya.

Mendengar rontaan itu, paman Hayu (adik dari ibunya) yang berhati dingin merasa kesal.

"Diam kamu! Berisik sekali!"

Tanpa belas kasihan, paman Hayu itu melayangkan tendangan keras tepat ke arah perut Hayu.

"AKHHH!!!"

Sumpalannya sedikit terlepas akibat guncangan tersebut, dan terdengar suara teriakan Hayu yang sangat memilukan merobek keheningan telepon.

"Mas Rizal! Tolong! Perutku sakit... Mas...!!"

Mendengar teriakan kesakitan istrinya dan menyadari bahwa janinnya dalam bahaya, Rizal semakin murka.

Matanya memerah, pembuluh darah di lehernya menonjol, dan ia mencengkeram kemudi begitu kuat hingga buku jarinya memutih.

"KAMU...!!!" raung Rizal di telepon dengan suara yang lebih menyerupai monster daripada manusia.

"Dengarkan aku, wanita iblis! Jika ada satu helai rambut pun yang jatuh dari kepala Hayu, atau jika anakku sampai terluka sedikit saja, aku bersumpah demi Tuhan. Aku tidak akan menyerahkanmu ke polisi. Aku sendiri yang akan memastikan kalian semua memohon untuk mati karena aku akan menyiksa kalian lebih parah dari ini!"

"Jangan banyak bicara! Cepat bawa uangnya ke—"

Rizal langsung memutus sambungan. Ia tidak perlu mendengar lokasi dari mereka, karena GPS di ponsel Hayu yang tersembunyi di gelangnya baru saja aktif.

"Riska! Tim Dua, masuk dari pintu belakang! Tim Satu ikut aku dari depan!" perintah Rizal melalui earpiece.

"Tembak di tempat siapa pun yang menghalangi. Tapi biarkan wanita itu dan adiknya untukku. Aku sendiri yang akan menghabisi mereka."

Mobil Rizal mengerem mendadak tepat di depan gudang tua itu, menimbulkan kepulan debu yang tebal. Amarahnya sudah di ubuk ubun.

1
Yul Kin
lanjut kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!