Willie, seorang pengusaha muda yang sukses, hidupnya hancur seketika ketika sang istri, Vira meninggal secara tragis setelah berusaha membuka kasus pemerkosaan yang melibatkan anak didiknya sendiri.
Kematian Vira bukan kecelakaan biasa. Willie bersumpah akan menuntut balas kepada mereka yang telah merenggut keadilan dan istrinya.
Namun di balik amarah dan tekadnya, ada sosok kecil yang menahannya untuk tidak tenggelam sepenuhnya, putri semata wayangnya, Alia.
Alia berubah menjadi anak yang pendiam dan lemah sejak kepergian ibunya. Tidak ada satu pun yang mampu menenangkannya. Hanya seorang guru TK bernama Tisha, wanita lembut yang tanpa sengaja berhasil mengembalikan tawa Alia.
Merasa berhutang sekaligus membutuhkan kestabilan bagi putrinya, Willie mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan kontrak dengan Tisha.
Willie harus memilih tetap melanjutkan dendamnya atau mengobati kehilangan dengan cinta yang tumbuh perlahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerita Tina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji dan Dendam
Tak lama, kabar duka itu menyebar. Kerabat, tetangga, dan teman-teman mulai berdatangan. Rumah yang biasanya hangat dengan tawa kini penuh isak dan doa.
Beberapa orang membantu menyiapkan segala keperluan pemakaman, sementara aroma bunga dan air mata bercampur memenuhi udara.
Di pemakaman, malam semakin larut. Langkah-langkah para pelayat mulai menjauh satu per satu. Doa terakhir telah diucapkan. Tinggallah Willie duduk mematung di depan pusara istrinya, dengan tatapan kosong yang tak ingin beranjak.
Di belakangnya, dua sosok berdiri diam. Itu adalah ayah dan ibunya. Dari tadi mereka tak pergi, meski Willie tak menoleh sedikit pun.
Baru ketika langkah-langkah terakhir pelayat menghilang di kejauhan, Willie berbicara tanpa menatap.
“Kenapa kalian di sini?” suaranya datar dan tajam.
Ibunya, seorang wanita berparas anggun dengan pakaian serba hitam, menunduk sejenak.
“Dia menantu kami juga, Will,” jawabnya pelan.
Willie menoleh perlahan, sorot matanya dingin, penuh amarah yang tertahan.
“Menantu?” ia mengulang, suaranya mulai meninggi. “Sejak kapan kalian mengakuinya sebagai menantu?”
Ayahnya menarik napas dalam, hendak berbicara, tapi Willie tak memberinya kesempatan.
“Waktu aku menikahi Vira, kalian menyebutnya gadis tak jelas asal-usulnya. Kalian bilang aku mempermalukan keluarga, menikahi anak dari panti asuhan. Kalian usir aku dari rumah. Ingat itu?”
Kata-kata Willie bergetar, bukan hanya karena marah, tapi karena duka yang menumpuk di dadanya.
Ibunya menunduk makin dalam. “Kami salah, Will. Kami sudah lama sadar. Vira gadis baik, dia selalu datang saat tahu ayahmu sakit. Dia membawa Alia, dan kami…” suaranya terhenti oleh tangis yang ditahan.
“Kami sudah menerima dia. Kami bahkan sudah sering makan bersama. Apa Vira tak pernah memberitahumu?”
Willie membeku. Ia menatap tanah, mencoba mencerna kata-kata itu. “Apa?” tanyanya perlahan.
Memang benar. Vira memang sempat sering keluar setiap sabtu sore, katanya untuk urusan sekolah. Tapi ia tak pernah bilang bahwa ia pergi menemui orang tua Willie.
Ibunya menatapnya penuh harap. “Dia bilang, belum waktunya memberi tahu. Dia takut kamu marah kalau tahu tentang ini.”
Willie menunduk, menatap nisan itu lama sekali. "Vira, jadi selama ini kau memaafkan mereka diam-diam?" batinnya.
Hujan mulai turun lagi, seperti ikut menangis bersama mereka. Willie menyentuh tanah basah di pusara istrinya.
“Dia memang selalu seperti itu…” katanya lirih. “Terlalu baik, bahkan pada orang yang menyakitinya.”
Ayahnya mendekat setapak, meletakkan tangan di bahu putranya.
“Anakku. Sudah, cukup. Jangan biarkan amarah menelanmu. Vira pasti tak ingin itu.”
Willie melirik ke arah Alia yang sudah tertidur karena terlalu lelah menangis didalam gendongan Tisha. Bibi Ratih berdiri memayungi mereka.
Willie mendekat, "Ayo pulang." ucapnya singkat. Sekali lagi Willie menoleh tanah makam istrinya untuk terakhir kali.
Ia sempat mendengar laporan sekilas dari Rani, bahwa kecelakaan yang Vira alami sangat janggal.
Dalam hatinya, hanya ada satu janji yang bergema, “Aku akan mencari siapa yang membuatmu pergi seperti ini, Vira. Aku janji!"
Begitu sampai di rumah, Tisha melepas sepatunya, tapi langkahnya masih terasa terasa berat.
Ia langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Air hangat mengalir di tubuhnya.
Setiap tetes air seperti membawa kembali bayangan wajah kecil Alia yang menangis, wajah pucat Vira yang terbujur kaku, dan pandangan kosong Willie yang tak sanggup berkata apa-apa.
Selesai membersihkan diri, Tisha naik ke tempat tidur. Ia menarik selimut hingga ke dada, mencoba memejamkan mata. Tapi pikirannya masih berputar.
Tubuhnya lelah, pikirannya pun berat.
“Kenapa hari ini semuanya terasa seperti mimpi buruk yang nyata.” gumamnya pelan.
Akhirnya, karena badan dan pikirannya sudah terlalu lelah, ia pun tertidur.
***
Pagi itu, Tisha terbangun sedikit telat. Namun tubuhnya masih terasa berat. Ia mengucek mata, berusaha mengingat apa saja yang harus dikerjakannya hari itu.
Tangannya meraba sisi meja, mencari-cari ponselnya yang biasanya tergeletak di sana. Tapi kosong. Ia memeriksa tas, bantal, bahkan selipan kasur. Ponselnya tidak ada.
"Ya ampun..." gumamnya lirih, menepuk jidat sendiri. “Aku baru ingat, ponselku ketinggalan di rumah Alia semalam.”
Ia terdiam sejenak, menghela napas panjang. Hatinya sebenarnya ingin segera kembali ke rumah itu. Ia pun melirik jam dinding di kamarnya.
“Sudah telat...” bisiknya sambil bergegas bangun dan menyiapkan diri secepat mungkin.
Langkahnya tergesa keluar rumah.
“Nanti saja sepulang dari TK, aku ambil,” gumamnya.
Sepulang kerja, Tisha memutuskan mampir ke rumah Alia. Pikirannya sejak pagi memang belum tenang karena ponselnya tertinggal di sana.
Begitu bel pintu ditekan, Bi Ratih yang membukakan pintu.
“Assalamualaikum, Bi. Maaf, handphone saya ketinggalan kemarin,” ujar Tisha sopan.
“Wa’alaikumsalam, silakan masuk, Bu Guru. Kebetulan Bu Guru datang,” kata Bi Ratih, suaranya terdengar lega tapi juga seperti menahan sesuatu.
Tisha mengernyit heran. “Ada apa, Bi?” tanyanya setengah penasaran.
Bi Ratih menarik napas panjang, lalu menggenggam tangan Tisha dan berbisik.
“Dari tadi pagi Non Alia tantrum, Bu. Manggil-manggil Bu Vira terus. Sepertinya Non Alia belum bisa menerima kepergian ibunya.”
Belum sempat Tisha menjawab, suara tangisan keras dan pilu terdengar dari dalam kamar.
“Pokoknya Alia mau Mama!”
Tangisan itu terasa memilukan. Tak lama, Willie keluar dari kamar anaknya. Rambutnya acak-acakan, wajahnya lelah dan sayu.
Ia mengusap wajahnya yang tampak frustrasi, lalu tersentak begitu melihat Tisha sudah berdiri di ruang tamu.
“Oh... Bu Guru,” sapanya pelan.
Tisha menunduk sedikit. “Maaf Pak, saya hanya ingin mengambil handphone saya yang ketinggalan kemarin.”
Willie mengangguk singkat dan mempersilahkan. Tapi sebelum ia sempat bicara lagi, Alia keluar dari kamar. Begitu melihat Tisha, gadis kecil itu langsung berlari memeluknya.
“Bu Guru, aku mau Mama pulang...” isaknya parau.
Tisha menunduk, memeluknya erat. “Anak sholehah,” ujarnya lembut.
“Tuhan tahu Alia sayang sekali sama Mama. Tapi Tuhan juga lebih sayang Mama.”
Ia menyibak beberapa helai rambut Alia yang basah oleh air mata. “Sekarang Mama nggak jauh, sayang. Mama ada di sini.”
“Benarkah? Di mana?” tanya Alia dengan suara masih sedikit terisak. Tisha tersenyum tipis, menunjuk dada Alia. “Di sini. Di hati Alia.”
Alia kembali memeluk Tisha erat dengan terisak kecil, setelah sedikit tenang, kemudian Alia menarik tangan Tisha masuk ke kamarnya.
“Temani aku, Bu Guru.”
Tisha melirik ke arah Willie seolah meminta persetujuan, Willie pun mengangguk cepat. Dengan lembut Tisha menuruti Alia. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap punggung gadis kecil itu perlahan.
Mata Alia tertutup pelan-pelan. Mungki m karena terlu capek menangis dan merengek, gadis kecil itu pun tertidur.
Tisha menunduk, mengecup keningnya dengan kasih yang tulus.