Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)
Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.
Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.
jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Kasus Baru
Suara kegaduhan di rumah Subastian kian riuh ketika suara tangis bocah berumur dua tahun terdengar ikut mencampuri perdebatan antara Tian dan Baron.
Dika dan Tiara yang sudah tersulut emosi langsung berdiri usai mengendong putra kecil mereka yang bernama Dio. Dengan dengusan dan hentakkan kaki, akhirnya Tiara mengikuti langkah suaminya yang sudah berlenggak ke luar dari kamar.
“Kalian ini apa-apaan? Kenapa malam-malam membuat kegaduhan?” hardik Dika begitu sudah berdiri di hadapan dua orang itu. “Tidak bisakah kalian berdebat besok pagi?” imbuh Dika lagi.
“Pamanmu yang memulai!” sembur Tian dengan telunjuk mengarak lurus tepat di tengah perut menonjol milik Baron.
Baby Dio yang masih dalam gendongan Tiara, tak kunjung berhenti menangis. Dengan mencoba menimang-nimang supaya tenang, Tiara menatap tajam kearah Tian supaya segera menghentikan perdebatan tak penting itu.
“Ya sudah. Aku pulang,” ucap Baron sambil mengibaskan dua tangan di udara.
“Tunggu!” cegah Tian. “Temui aku di kantor Joanda Group besok. Kita harus bicara!” pinta Baron dengan memaksa.
Setelah Baron berlalu, Tian yang merasakan lelah di tubuhnya langsung ambruk duduk dengan bersenderan di sofa. Dika ikut duduk sementara Tiara masih berdiri menimang Dio yang sudah mulai tenang dan hampir terlelap.
“Ada apa sih, Kek? Apa ada masalah?” Dika coba bertanya. Di sampingnya sang kakek terlihat sedang memijit kepalanya sendiri.
“Ada benda terlarang di klub pamanmu.” Tian menjawab singkat.
“Maksudnya?” Dika mengerutkan dahi. “Benda terlarang yang bagaimana?
Tian membuang napas lalu duduk mencondong dengan kedua tangan menyiku di atas paha. “Ada 10 kg ganja di klubnya. Dan Baron tidak tahu itu punya siapa?”
“Ganja??” Tian menatap tajam wajah kakeknya.
“Ya. Aku juga tidak tahu kenapa sampai Baron kecolongan begitu. Rasanya sangat aneh!”
“Apa itu memang betul bukan punya paman Baron?” tanya Dika.
“Bukan. Baron sudah bersumpah tadi, dan benda itu bukan miliknya.”
“Untung saja, benda itu sudah lebih dulu di temukan sebelum polisi. Kalau polisi sampai yang lebih dulu, hancur sudah itu si Baron,” sambung Tian lagi. Sepertinya besok dirinya juga harus ikut bertindak.
“Ya sudah, kakek istirahat saja. Pikirkan saja lagi besok,” ujar Dika sambil mengusap pundak kakeknya.
“Kau benar.” Tian pun berdiri. “Aku butuh istirahat. Hah!” Tian membuang napas lagi, kemudian mendekat ke arah Tiara, membungkuk mencium kening Dio, barulah Tian masuk ke dalam kamar.
Kini Tiara langsung ikut duduk di samping Dika dengan memangku baby Dio yang sudah terlelap dalam mimpi.
“Apa betul itu bukan milik Paman Baron?” tanya Tiara.
“Menurutku sih, bukan. Pasalnya, klub itu sudah puluhan tahun berdiri, dan tidak pernah satupun pengunjung yang berhasil masuk membawa barang-barang aneh termasuk benda terlarang itu. Kecuali....” Tian menaikkan jari telunjuk lalu memutar bola mata ke arah Tiara dengan tatapan tajam.
Tiara yang tidak paham hanya mundur menarik dagu ke dalam, tapi mencoba ikut menebak-nebak dari sambungan kata ‘kecuali' itu.
“Kecuali... memang ada orang dalam yang sengaja melakukan itu.” Celetuk Tiara yang sontak membuat Dika lebih menajamkan tatapannya dengan menggeratkan gigi.
“Kau benar.” Kali ini Bian menunjuk-nunjuk istrinya dengan jari telunjuknya. “Pasti memang ada orang dalam. Tapi siapa?”
Tiara mengangkat kedua pundaknya. “Mana aku tahu. Coba, besok kau bicarakan dengan kakek. Mungkin dia juga sedang memikirkan hal ini kan?”
“Ya. Besok aku akan bicara dengan kakek, dengan Baron juga.”
Meninggalkan rasa curiga mereka, kini beralih ke hunian lain yang kini hanya di tinggali dua orang wanita saja.
Di sebuah kamar yang cukup luas, kedua wanita itu nampak tengah berbincang-bincang. Di atas ranjang, mereka duduk berhadapan dengan kaki masing-masing di tekuk bersila.
“Ibu, kenapa selama ini ibu menyembunyikan perusahaan ibu?” tanya Tika penasaran. Pasalnya entah itu ayah maupun Aura, mereka tidak ada yang tahu bahwa ibunya masih memiliki sebuah perusahaan di luar kota. Sebuah perusahaan yang mengelola sebuah makanan dalam kemasan yang ternyata berkembang pesat di kota itu.
“Bukan maksud ibu untuk menyembunyikannya. Ibu hanya mematuhi wasiat dari kakekmu untuk tetap menyembunyikan perusahaan itu, sampai ibu benar-benar membutuhkannya. Untung saja para bawahan kakekmu sampai sekarang masih dapat di percaya,” ungkap Widya hingga membuat Tika manggut-manggut.
“Tapi ibu, sekarang apa yang harus kita lakukan supaya Ayah dan Kak Cia cepat bebas?”
Widya refleks membuang napas kasar. Jika memikirkan hal itu, sepertinya terlalu akan terlalu sulit. Apalagi jika melihat lawannya. Akan tetapi, bukan Widya jika hanya duduk dan diam saja ketika dua orang penting dalam hidupnya harus dipenjara bertahun-tahun. Dengan seringaian yang terlihat ngeri di wajahnya, Widya seolah sedang membayangkan sebuah rencana licik untuk membalas perbuatan semua orang yang ikut andil dalam hal ini.
“Kau tenang saja, ibu pasti cari cara untuk membalaskan dendam ayah dan kakakmu,” ujar Widya penuh keyakinan. “Yang terpenting sekarang, kau bantu ibu untuk menjalankan bisnis ibu supaya berkembang lagi.”
Bagi Tika yang memang memiliki otak encer, tentu perkara ini sangatlah mudah. Apalagi soal penjualan, pasti Tika sangatlah paham.
***
Like!! Vote!! Komentar!! 😆😆😆 maksa banget yaaa. jangan lupa bintangnya ups!!
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...