bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?
Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Nadira menyambar amplop itu, membukanya dengan hati-hati agar tidak merobek kertas di
dalamnya. Matanya melebar saat membaca baris demi baris laporan keuangan yang tidak
masuk akal.
"Dia mengalihkan dana warisan ke perusahaan cangkang dua tahun lalu?
Angkanya tidak masuk di akal, Arga."
"Itu baru sebagian kecil," sahut Arga, mendekatkan wajahnya agar suaranya tidak
terdengar oleh staf kebersihan yang melintas membawa gerobak.
"Ada tanda tangan palsu di sini, tanda tangan almarhumah ibu kalian. Dinda memalsukannya untuk mencairkan aset
properti di luar negeri."
Napas Nadira tersengal sejenak, namun ia segera menarik wajahnya kembali ke arah yang datar.
"Dia pikir dia yang paling pintar di ruangan ini."
Nadira menatap tajam ke arah koridor utama di mana bayangan Dinda sempat terlihat bergerak.
"Tapi dia lupa, orang yang terdesak sering melakukan kesalahan bodoh."
Mereka berdua terdiam sesaat, membiarkan informasi berat itu meresap.
"Kapan kita akan menggunakannya?" tanya Arga pelan.
"Jika kita rilis sekarang, Dinda akan kehilangan kendali atas dewan direksi dalam hitungan menit."
Nadira menggeleng keras, memasukkan kembali dokumen itu ke dalam tas kantornya dan mengunci resletingnya dengan pasti.
"Belum. Kita simpan dulu. Jika kita gunakan
sekarang, dia hanya akan dipecat dan bisa melarikan diri. Aku ingin dia hancur di depan
semua orang, dengan tangan hukum yang menunggunya."
Mereka berbalik untuk meninggalkan sudut ruangan itu, langkah kaki mereka sengaja
dibuat lebih berisik untuk menandakan kepercayaan diri. Nadira memastikan dokumen itu aman di dalam tasnya, merasakan beban dua ratus triliun yang perlahan mulai condong ke arah mereka.
Udara di koridor lantai 38 terasa berat, mengusir sisa aroma kopi dan parfum mahal yang menempel di baju Nadira. Ia menarik napas panjang, mencoba melepaskan ketegangan di bahunya yang pegal karena duduk terlalu lama di ruang rapat.
Nadira sadar, jantungnya masih berdetak kencang, namun ia harus menjaga ketenangan sebelum kepergok kelelahan oleh orang lain.
Arga berjalan di sampingnya, membawa map dokumen yang nyaris jatuh karena tangannya sedikit gemetar. Pria itu mencoba merapikan kerah kacamatanya yang sedikit melorot, menandakan ia juga merasakan tekanan dari pertemuan sebelumnya.
Suara langkah kaki mereka bersahutan di lantai marmer yang licin, menciptakan ritme yang membosankan di tengah kesunyian gedung tinggi tersebut.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arga pelan, matanya terus mengawasi sudut-sudut koridor yang sepi.
Nadira mengangguk singkat, meski telapak tangannya terasa dingin dan lengket oleh
keringat. Ia memilih fokus pada napasnya yang mulai melambat, menghitung detik demi detik untuk mengusir pusing yang mulai menyerang pelipisnya. Nadira tidak ingin
menunjukkan kelemahan, terutama karena mereka belum benar-benar aman dari
jangkauan pengawasan para pemegang saham.
Tiba-tiba, sosok Dinda muncul dari balik sudut koridor dengan langkah yang sengaja dibuat berisik. Sepupunya itu berhenti tepat di depan mereka, menyilangkan tangan di dada
dengan ekspresi yang tidak ramah. Dinda menatap Nadira dari atas ke bawah, seolah
sedang menimbang seberapa jauh keberanian wanita itu untuk melawannya kali ini.
"Kalian pikir dengan berteriak di ruang rapat tadi, semua masalah selesai?" suara Dinda
tajam, menembus keheningan koridor yang sepi.
Nadira tidak langsung menjawab. Ia melirik Arga yang langsung maju selangkah,
menciptakan jarak fisik antara Nadira dan Dinda.
Nadira menarik napas dalam sekali lagi,
menahan emosi agar tidak meledak, lalu menatap langsung ke mata Dinda dengan
pandangan yang tidak berkedip.
"Sejarah kelam itu milik masa lalu, Dinda. Sekarang aku yang pegang kendali," jawab
Nadira dengan suara yang datar dan tenang.
Dinda terkejut mendengar jawaban itu. Biasanya, Nadira akan menundukkan kepala atau mencari alasan untuk pergi saat diserang pertanyaan tajam. Kini, senyum tipis yang muncul di bibir Nadira terasa lebih menyeramkan daripada kemarahan.
Dinda mundur selangkah, kehilangan kata-kata untuk beberapa saat, sebelum akhirnya memaksakan diri untuk tetap terlihat dominan.
"Jangan sombong. Warisan itu bukan milikmu sendirian. Bermain api dengan masa lalu
bisa membuatmu terbakar," ancam Dinda, meski nadanya mulai kehilangan kekuatan.
Arga melangkah maju, menghalangi pandangan Dinda yang masih tertuju pada Nadira. Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya menatap Dinda dengan tatapan yang membuat sepupu mereka itu merasa tidak nyaman.
Suasana koridor yang tadinya dingin kini terasa membeku, penuh dengan ketegangan yang siap meledak kapan saja.
Nadira melihat keragu-raguan di mata Dinda. Ia tahu, pertemuan singkat ini menegaskan
bahwa permainan mereka telah berubah drastis.
Medan perang bukan lagi hanya di ruang
rapat yang resmi, tapi telah bergeser ke ranah pribadi yang lebih berbahaya. Nadira
menarik napas lega saat melihat Dinda akhirnya memilih untuk mundur dan pergi dengan wajah kesal.
Mereka berdua kemudian melanjutkan langkah, meninggalkan koridor yang sunyi itu. Nadira merasakan kepalanya sedikit ringan setelah berhasil meredam konfrontasi tadi. Ia
menyadari bahwa perjalanan mereka masih panjang, dan rasa lelah mulai terasa di
kakinya.
Tanpa berkata apa-apa, mereka mulai berjalan menuju arah lift, meninggalkan keheningan gedung yang mulai terasa menyesakkan.
Nadira menarik napas pendek, mencoba menahan getar di ujung jarinya. Ruang rapat
yang tadi riuh rendah kini hanya menyisakan gema langkah kaki staf yang membubarkan
diri.
Ia merasa seperti baru keluar dari gelanggang pertempuran, meski sebenarnya ia hanya duduk dan berdebat soal angka-angka di atas kertas bermeterai. Ketegangan itu masih mengendap di pelipisnya, berdenyut pelan mengikuti irama jantung yang belum
sepenuhnya tenang.
Ia melangkah menyusuri koridor panjang menuju lift pribadi. Lantai marmer terasa dingin menembus sol sepatu hak tingginya. Pantulan bayangannya di dinding kaca menunjukkan wajah yang terlihat asing--tajam, pucat, namun ada keteguhan yang sebelumnya tidak pernah ia miliki.
Ia menepis bayangan itu, membuka keriting di rambutnya yang mulai kusut karena terlalu sering ia garuk saat berpikir keras.
"Kamu masih di sini?" suara Arga memecah lamunan sesaat pintu lift terbuka.
Nadira mengangguk singkat, menahan nadanya agar tidak terdengar terlalu lelah.
"Belum sempat pergi. Masih banyak yang harus dipikirkan sebelum rapat lanjutan minggu depan."
Arga mendekat, tangannya menyembunyikan sesuatu di balik balikannya.
"Lupakan dulu soal rapat. Kita perlu bicara tanpa dinding kaca dan telinga-telinga yang tidak perlu." Ia menekan tombol lift ke bawah, menuju area parkir yang sepi.
Mereka turun dalam diam. Nadira bisa merasakan mata Arga yang sesekali menatapnya dari sudut kaca lift. Ada kekhawatiran di sana, atau mungkin kecurigaan? Ia tidak tahu pasti. Yang jelas, udara di dalam kabin yang sempit itu terasa semakin tipis, memaksanya untuk menarik napas lebih dalam agar tidak pusing.