NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 14

"Iya. Lihat nih!" Nero menunjukkan piringnya yang hampir habis. Ia memajukan piring tersebut ke hadapan Asia dengan penuh percaya diri agar ibu tirinya itu bisa melihat sendiri hasilnya.

Asia menunjuk ke satu titik di tengah piring dengan ujung jarinya. "Itu masih ada nasinya."

"Ini sudah selesai," bantah Nero keras kepala, merasa beberapa butir nasi yang tersisa di sana sudah tidak penting lagi untuk dihitung.

"Belum. Makan harus habis. Bersih," kata Asia mendikte, memberikan standar yang tegas agar bocah itu tidak terbiasa menyisakan makanan di piringnya.

Nero cemberut. Wajahnya semakin ditekuk karena merasa dipaksa untuk menghabiskan sisa nasi yang beberapa butir itu.

"Kamu punya piaraan gak?" tanya Asia tiba-tiba.

"Kenapa?" Nero heran. Alisnya bertaut, bingung kenapa topik pembicaraan mereka mendadak berubah jauh ke soal binatang.

"Punya enggak?" kejar Asia lagi.

"Mmm ... Ada. Sugar Glider," jawab Nero akhirnya.

Asia menipiskan bibir ngeri. Membayangkan hewan pengerat kecil yang bisa terbang itu sebenarnya membuat Asia agak merinding, namun dia harus meneruskan kata-katanya demi membuat bocah di depannya ini patuh.

"Kalau kamu makan enggak habis. Sugar Glider mu mati itu," ancam Asia dengan wajah seserius mungkin.

"Ha? Mati?" Nero melotot kaget. Matanya yang bulat langsung memancarkan rasa panik.

"Iya. Di tempatku yang makan gak habis ada ayam piaraannya mati," cerita Asia. Mengarang bebas dengan ekspresi meyakinkan. Itu dongeng di tempat tinggalnya.

Nero menggelengkan kepala, mencoba membela diri. "Aku gak piara Ayam. Aku piara Sugar Glider."

"Sama aja. Siapa aja yang gak makan habis dan bersih nanti piaraannya mati," pungkas Asia telak. Tidak memberikan celah bagi Nero untuk membantah lagi.

"Iya kah?" tanya Nero ragu. Ia menatap Asia dengan pandangan penuh keraguan, mencoba mencari tahu apakah ibu tiri barunya ini sedang membohonginya atau tidak.

"Yang aku tahu begitu, tapi entahlah. Coba saja kalau kamu memang berani," tantang Asia.

Asia sengaja memasang wajah acuh tak acuh untuk memancingnya. Dalam hati, dia sangat yakin anak ini begitu menyayangi hewan piaraannya, sehingga tidak akan mau mengambil risiko sekecil apa pun untuk keselamatan hewan tersebut.

Tantangan Asia rupanya berhasil memengaruhi pikiran Nero. Perlahan, bocah itu mulai menyendoki sisa nasi yang ada di piringnya, memaksakan diri mengunyah hingga semuanya benar-benar habis tak bersisa.

"Aku sudah habis, lho," kata Nero setengah berseru. Dia menunjukkan piringnya lagi tepat di depan wajah Asia untuk membuktikan bahwa dia sudah patuh.

Asia mengangguk kecil seraya merapikan sendok di atas piring kosong tersebut. "Bagus. Aku harap Sugar Glider-mu sehat terus."

"Ya. Dia sehat kok. Kamu harus lihat sendiri hewanku itu," sahut Nero dengan nada bangga, seketika melupakan kekesalannya dan malah berniat memamerkan hewan kesayangannya.

Seketika Asia bergidik ngeri. Membayangkan hewan pengerat kecil berbulu itu saja sudah sukses membuatnya merasa geli setengah mati.

"Kapan-kapan," kata Asia.

Meski enggan, ia harus tetap mengiyakan ajakan itu agar Nero tahu bahwa dirinya memang peduli pada keadaan hewan tersebut, bukan hanya sekadar bicara saja untuk menakut-nakutinya.

***

Jenny baru pulang sekolah. Asia melihat di jam dinding sudah jam tiga sore.

"Baru pulang? Mau makan?" sapa Asia hangat.

Saat menanyakan hal itu, Asia mendadak teringat pada dirinya sendiri di masa lalu. Dulu, setiap kali pulang sekolah ia selalu ingin ditawari makan oleh ibu.

Ia sendiri tidak sering bertemu ibunya karena beliau sibuk bekerja. Kenangan sepi itulah yang membuat Asia ingin anak-anak Hugo setidaknya bisa merasakan rasanya disambut dan ditanya sudah makan apa belum oleh orang rumah.

Mendengar sapaan itu, Jenny menoleh dengan tatapan permusuhan seperti biasa. Tajam dan menusuk.

"Apa aku harus langsung makan? Tidak, kan? Bukannya aku harus ganti baju dulu?" cetus Jenny sinis.

Asia tetap berusaha tenang menghadapi respons ketus itu. "Ya. Setelah ganti baju kamu bisa makan. Aku akan siapkan."

"Jangan terlalu bersikeras mendekatiku," potong Jenny cepat. Nadanya ketus. "Aku bisa melakukannya sendiri. Sudah lama aku terbiasa melakukan sendiri."

Kata-kata itu terdengar sangat tajam. Tapi Asia tidak merasa marah sama sekali. Dia paham betul bahwa di balik sikap memberontak itu, ada kemandirian yang dipaksakan oleh keadaan.

"Baiklah kalau tidak mau makan. Maaf, aku menanyakannya," kata Asia berpamitan dengan sopan lalu berbalik untuk pergi dari sana.

Saat itu, Nyonya Malinda ternyata melihat kejadian tersebut dari arah koridor.

"Oh, Oma," gumam Jenny. Melihat omanya datang Jenny segera menghampiri wanita tua itu. Lalu meraih dan mencium punggung tangan neneknya dengan takzim. Sikapnya langsung berubah drastis menjadi anak yang penurut.

"Kamu baru pulang?" tanya Nyonya Malinda lembut.

"Ya," sahut Jenny pendek. Tangannya sedikit bergerak menyembunyikan bagian seragamnya yang tampak kotor di beberapa sisi. "Ada ekskul."

Nyonya Malinda mengusap bahu cucunya, lalu berbisik pelan, "Tidak bisakah kamu coba bersikap sedikit lembut pada Tante Asia?"

Jenny terdiam sejenak, lalu mendengus pelan. "Oma tahu aku tidak suka ada orang baru. Tapi karena Papa dan Oma memaksa, aku coba terima."

"Hhh ..." Nyonya Malinda menghela napas panjang. Beliau menatap cucu perempuannya itu dengan pandangan sendu. "Tapi jangan jahat ke Tante Asia. Itu pilihan papamu."

"Aku tidak jahat. Sudah, Oma. Aku mau ganti baju," potong Jenny, enggan memperpanjang bahasan itu lagi.

"Ya," sahut Nyonya Malinda pasrah. Akhirnya beliau melepaskan cucunya pergi, hanya bisa menatap punggung Jenny yang berjalan menjauh meniti koridor rumah.

"Hwaaa!!"

Tiba-tiba, suara tangis Nero terdengar pecah dan menggema. Di lorong kamar dekat tangga, Jenny bertemu dengan Nero yang rupanya baru saja terbangun dari tidur siangnya. Bocah kecil itu berjalan terhuyung-huyung dengan air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya.

Jenny segera mendekat dan berlutut di depan adiknya. "Kenapa nangis?"

"Aku mimpi buruk!" adu Nero di sela isak tangisnya yang sesak.

Tanpa membuang waktu, Jenny langsung memeluk adiknya dengan erat, mengusap punggung bocah itu untuk memberikan rasa aman.

Di sisi lain rumah, Asia yang mendengar suara tangisan kencang itu langsung tergopoh-gopoh mendekat. Namun, langkah kakinya mendadak urung saat matanya menangkap pemandangan di ujung lorong; ada Jenny yang sedang memeluk erat adiknya di sana.

Asia memilih untuk tetap berdiri di posisinya, tidak melangkah lebih jauh. Ia tahu betul gadis itu tidak akan membiarkannya mendekati Nero. Lagipula, melihat bagaimana Jenny mendekap erat adiknya, Asia sudah tidak punya keinginan lagi untuk maju memenangkan Nero. Dia sangat yakin bahwa Nero akan jauh lebih cepat tenang jika berada di pelukan kakaknya sendiri.

Melihat kedekatan kedua saudara itu, terbesit pertanyaan muncul di benak Asia. Mungkin Jenny memang lebih bisa diandalkan untuk menenangkan adiknya yang sedang menangis karena mimpi buruk seperti sekarang. Tapi, kenapa saat tadi pagi Nero marah dan mogok makan, Jenny sama sekali tidak berusaha menenangkannya?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!