Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Benih Kebohongan
"Pak, jangan langsung melamar begitu saja. Kalau ditolak, nanti malah malu," ujar Hartato panik.
Pak Kades terkekeh kecil. "Masa anak Bapak yang rajin, dompetnya tebal, dan wajahnya lumayan tampan ditolak gadis?" godanya. "Banyak perempuan di desa ini yang pasti mau kalau kamu lamar."
Hartato menggeleng pelan. "Vira beda, Pak."
"Apa bedanya?"
"Dia yatim piatu, tapi mandiri. Meski hidup dari warisan orang tuanya, dia tetap bisa mengembangkan usahanya dan menghidupi dirinya sendiri."
Hartato berhenti sejenak sebelum melanjutkan, "Gak kayak Daril. Sejak ayahnya meninggal, aset keluarganya habis sedikit demi sedikit. Padahal selama ini hidup mereka juga banyak disokong Vira."
Pak Kades mengembuskan napas pelan. "Bapak juga heran kenapa dulu Vira bisa suka sama Daril. Memang, sih, Daril sedikit lebih tampan daripada kamu. Tapi ya cuma sedikit. Tampang doang gak bikin kenyang. Pengangguran pula."
Hartato tertawa kecil. "Namanya juga cinta, Pak. Katanya cinta itu buta."
"Halah... cinta, cinta." Pak Kades mendecak. "Kalau perut mulai lapar dan hidup isinya cuma susah, cinta juga bisa luntur. Buktinya Vira akhirnya mutusin Daril."
Hartato mengangguk pelan. "Iya juga, sih."
"Punya pasangan itu harus bikin hidup lebih nyaman," ujar Pak Kades.
"Nyaman dalam arti gimana, Pak?"
Belum sempat Pak Kades menjawab, Bu Kades keluar dari dapur sambil membawa sepiring pisang goreng hangat. Ia meletakkannya di atas meja, lalu ikut menyahut.
"Nyaman itu banyak artinya."
Hartato menoleh kepada ibunya.
"Nyaman karena kebutuhan rumah tangga tercukupi. Nyaman karena punya tempat pulang yang layak. Nyaman karena diperhatikan, disayangi, dan dimanjakan. Yang paling penting, nyaman karena sama-sama saling mengerti dan saling memahami."
"Nah, itu dia." Pak Kades mengangguk mantap.
Sambil tersenyum, ia meraih tangan istrinya yang masih berdiri di samping kursinya dan menggenggamnya dengan lembut.
Hartato hanya bisa tersenyum melihat kedua orang tuanya. Meski usia pernikahan mereka sudah puluhan tahun, kemesraan itu masih terasa seperti pasangan yang baru menikah.
"Gimana?" tanya Pak Kades. "Sekarang berani melamar gak?"
Hartato menggaruk tengkuknya. "Kemarin dia bilang masih pengen sendiri, Pak."
Bu Kades tersenyum tipis. "Nak, ngajak pacaran sama ngajak nikah itu beda."
"Betul," timpal Pak Kades. "Melamar untuk menikah itu bukti keseriusan. Orang yang pacaran belum tentu berniat menikahi. Tapi orang yang datang melamar, jelas menunjukkan tujuan."
Hartato terdiam beberapa saat, lalu mengangguk mantap.
"Aku akan tanya dulu sama Vira. Kalau dia bersedia... aku akan langsung menikahinya."
***
Mirna berniat membeli beberapa kebutuhan dapur di warung. Namun, saat tinggal beberapa beberapa meter lagi, langkahnya terhenti. Dari dalam warung terdengar beberapa ibu sedang mengobrol.
"Kalian dengar belum? Hartato katanya mau melamar Vira."
"Iya, aku juga dengar. Malah Bu Kades bilang, kalau Vira menerima lamaran Hartato, pesta pernikahannya bakal ngundang artis ibu kota."
"Wah, pasti meriah."
"Ya jelas. Keluarga kepala desa memang royal."
"Aku jadi gak sabar lihat Vira nikah sama Hartato."
"Iya. Kasihan juga Vira. Selama ini hidup sendirian."
"Hebatnya, meski sendirian dia tetap bisa menghidupi dirinya sendiri. Cantik, rajin, pintar cari uang lagi."
"Hartato juga gercep. Baru dengar Vira putus sama Daril, langsung mau melamar."
"Syukurlah Vira putus sama Daril. Laki-laki yang hidup bergantung sama perempuan memang gak pantas dipertahanin."
Rahang Mirna langsung mengeras. Tangannya mengepal erat hingga dompet kecil yang dibawanya berkerut.
"Kalau begini terus, lama-lama Vira benar-benar dinikahi Hartato."
Pikiran Mirna berputar mencari jalan keluar. Ia tidak boleh membiarkan itu terjadi.
Kalau Vira menikah dengan pria lain, bukan hanya Daril yang kehilangan kesempatan. Harapan mereka untuk kembali hidup berkecukupan juga akan lenyap.
Tiba-tiba sebuah ide licik terlintas di benaknya. Perlahan, sudut bibir Mirna terangkat membentuk senyum tipis.
"Kalau orang-orang masih menganggap Vira perempuan sempurna..." gumamnya dalam hati. "...tinggal kubuat mereka berhenti menganggapnya begitu."
Mirna segera melangkah masuk ke dalam warung.
"Yang kelihatan itu belum tentu yang sebenarnya."
Ucapan Mirna itu membuat seluruh percakapan langsung terhenti. Semua kepala menoleh ke arahnya.
Pemilik warung mengernyit bingung. "Maksudnya gimana, Bu Mirna?"
Ibu-ibu lainnya ikut menatap penuh rasa penasaran.
Mirna tersenyum tipis, seolah sedang menimbang-nimbang apakah ia harus berbicara atau tidak.
"Sebenarnya saya gak mau membuka aib orang."
Ia sengaja berhenti sejenak, membuat semua orang semakin penasaran.
"Tapi... karena anak saya terus dijelek-jelekkan, saya jadi gak tega kalau cuma diam."
Suasana warung mendadak hening. Semua orang menunggu kelanjutan ucapannya.
Mirna menarik napas pelan, lalu berkata dengan suara yang dibuat lirih.
"Vira itu... sebenarnya sudah gak perawan lagi."
Mata para ibu langsung membelalak.
"Bahkan..." Mirna menatap mereka satu per satu.
"...itu terjadi jauh sebelum dia pacaran sama Daril."
Warung yang semula ramai seketika sunyi senyap. Beberapa ibu saling pandang, sementara yang lain menatap Mirna dengan mata membelalak.
Tidak ada satu pun yang langsung percaya, tetapi tak seorang pun mampu menyembunyikan keterkejutannya. Tetapi benih keraguan telah berhasil ditaburkan.
Mirna tersenyum tipis di balik wajah prihatin yang sengaja dipasangnya. Tepat seperti yang ia harapkan, fitnah itu mulai menemukan telinganya sendiri.
"Aku mau lihat," batin Mirna. "Apa masih ada yang mau menikahinya."
...✨"Ketika iri menguasai hati, kebenaran bukan lagi sesuatu yang ingin dicari, melainkan sesuatu yang ingin dikalahkan."...
..."Orang baik akan diuji bukan hanya dengan kesulitan, tetapi juga dengan tuduhan yang tak pernah ia lakukan."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄