NovelToon NovelToon
SAJADAH Di Atas BARA

SAJADAH Di Atas BARA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:482
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Sebuah proses perjalanan pulang seorang wanita yang tersesat jauh dari Agama.
karena,kehancurannya di masa lalu.
Perjalanan mencari makna hidup,keikhlasan,dan cinta yang tulus untuknya.

happy reading💗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SISA-SISA LUKA YANG BELUM USAI

Malam mulai merayap naik, menggantikan semburat jingga di ufuk barat dengan kegelapan yang pekat. Di dalam kafe, Maira sedang merapikan beberapa helai celemek terakhir ketika Aisyah berjalan menghampirinya sembari menggendong tas ranselnya.

“Mbak Maira, aku duluan ya? Taksi online-ku sudah sampai di depan gerbang. Mas Fatih barusan mengabari lewat pesan kalau pekerjaannya belum selesai, jadi dia tidak bisa menjemputku malam ini,” ucap Aisyah sembari menunjukkan layar ponselnya.

Maira menoleh lalu mengulas senyum ramah. “Oh, iya, Syah, santai aja. Hati-hati di jalan ya. Gue juga ini bentar lagi mau langsung pesan taksi, tapi mau mampir dulu sebentar ke warung pecel lele di seberang jalan depan. Perut gue udah demo dari tadi, nih.”

Aisyah terkekeh pelan mendengar gurauan seniornya itu. “Siap, Mbak. Kalau begitu aku duluan, ya. Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumussalam,” jawab Maira.

Setelah memastikan seluruh lampu bagian depan kafe padam dan mengunci pintu kaca dengan rapat, Maira mengembuskan napas panjang. Ia membetulkan letak tas selempangnya lalu mulai berjalan keluar dari area pekarangan kafe. Angin malam yang dingin langsung menusuk pori-pori kulitnya, membuat Maira mempercepat langkah kakinya menuju warung pecel lele di seberang jalan demi mendapatkan santapan malamnya.

Namun, baru beberapa langkah kakinya menapak di trotoar jalan raya, langkah Maira mendadak terhenti total. Tubuhnya mendadak kaku, mematung di tempat.

Di bawah temaram lampu jalanan yang agak redup, dengan jarak beberapa meter di depannya, berdiri seorang wanita paruh baya berbalut pakaian sederhana. Wanita itu sedang menatap ke arahnya dengan pandangan mata yang berkaca-kaca dan sarat akan kerinduan yang teramat dalam.

Maira mengenal betul wajah itu. Wajah yang selama bertahun-tahun ini sengaja ia kubur dalam-dalam dari ingatannya. Ibunya sendiri.

Wanita paruh baya itu perlahan melangkahkan kakinya yang tampak gemetar, berjalan menghampiri Maira yang masih berdiri mematung layaknya sebuah patung lilin.

“Maira...” ucap sang ibu dengan suara yang teramat lirih, hampir tenggelam oleh bisingnya suara kendaraan yang melintas di jalan raya.

Maira terdiam seribu bahasa. Kedatangan wanita yang melahirkannya itu sama sekali tidak memancing air mata atau kepanikan di wajah Maira. Alih-alih sedih, tatapan mata Maira perlahan berubah menjadi teramat dingin, datar, dan hampa. Sorot matanya kini seolah sedang menatap seorang asing yang tak memiliki arti apa-apa di dalam hidupnya.

Melihat respons dingin dari sang putri, sang ibu menyeka sudut matanya yang basah lalu memberanikan diri untuk kembali membuka suara. “Maira... ikut Ibu sebentar yuk, Nak? Om Yudi... Om Yudi sekarang mau ketemu sama kamu. Dia... dia mau meminta maaf dengan tulus atas semua kesalahan besar yang pernah dia lakukan sama kamu dulu.”

Maira mengembuskan napas panjang yang teramat berat. Ia benar-benar merasa lelah. Energi dan staminanya setelah seharian penuh bekerja di kafe serasa terkuras habis dalam sekejap hanya karena mendengar nama lelaki berengsek itu disebut kembali.

“Dia di mana?” tanya Maira dengan nada suara yang teramat datar, tanpa emosi sedikit pun.

“Di Rumah Sakit Harapan Bunda, Nak... penyakitnya... penyakitnya sudah parah sekali sekarang,” jawab ibunya dengan suara yang tercekat di tenggorokan, menahan tangis yang kian membuncah.

Mendengar kabar tersebut, sebuah senyuman sinis yang teramat dingin terukir di sudut bibir Maira. “Baguslah kalau begitu. Mungkin itu memang balasan yang setimpal dari Tuhan buat dia, karena dia udah berhasil ngehancurin seluruh hidup dan masa depan saya sampai berantakan kayak gini.”

Bahu sang ibu seketika merosot mendengar kalimat tajam yang keluar dari bibir putrinya. “Maira... Ibu mohon, Nak. Kali ini saja. Dia benar-benar sudah bertobat dari semua dosanya. Tim dokter bilang, mungkin saja sisa umurnya di dunia ini sudah tidak lama lagi. Dia cuma mau meminta maaf secara langsung kepada kamu sebelum terlambat, Nak.”

“Tobat?” potong Maira cepat. Kali ini tatapannya menghunus tajam tepat ke manik mata ibunya. Tak ada satu tetes pun air mata yang keluar dari pelupuk mata Maira. Luka yang terlalu dalam telah membuat air matanya mengering sejak lama.

“Tobat sejak kapan, Bu? Sejak dia divonis sakit parah? Makanya baru sekarang dia ingat sama dosa-dosanya? Lalu waktu tubuhnya masih sehat dan bugar dulu, apa dia pernah sedetik saja ingat sama kesalahannya? Apa dia pernah ingat betapa hancurnya saya waktu itu? Nggak, kan? Dia baru ingat Tuhan dan ingat saya setelah fisiknya gak berdaya!” cecar Maira dengan penekanan di setiap kalimatnya.

Tangis sang ibu akhirnya pecah di tengah keheningan trotoar jalan raya. Wanita itu menundukkan kepalanya, meremas ujung bajunya sendiri dengan rasa bersalah yang teramat pekat.

“Maira... Ibu tahu Ibu salah. Ibu sangat amat malu sama kamu... bahkan untuk sekadar bertemu atau menampakkan diri di hadapan kamu dari dulu pun, Ibu gak pernah punya keberanian, Nak. Makanya selama bertahun-tahun ini Ibu gak pernah datang langsung ke hadapan kamu... Ibu... Ibu cuma bisa memantau dan melihat kondisi kamu dari kejauhan,” ucap ibunya sesenggukan, mengakui segala kelemahannya sebagai seorang ibu yang gagal melindungi anaknya sendiri di masa lalu.

Maira terdiam, mendengarkan isak tangis ibunya tanpa ada niat untuk menenangkan atau merangkul wanita itu. Di dalam benak dan rongga dada Maira, sebuah pergolakan batin yang hebat mendadak berkecamuk dengan liar.

Pikiran licik dan rasa dendam yang selama ini terpendam rapi di sudut hatinya mendadak bangkit ke permukaan. Apakah ini kesempatan bagus yang sengaja Tuhan berikan untukku? Kesempatan untuk memaki-maki, mengumpat, dan memuaskan rasa sakit hatiku di depan wajah Yudi yang sedang sekarat? Setidaknya... untuk mengobati rasa dendam membara yang telah lama menggerogoti jiwaku selama ini.

Maira menarik napas dalam-dalam, mengunci rapat-rapat segala rasa kemanusiaannya malam itu. Tatapannya menatap lurus ke arah sang ibu dengan ketegasan yang dingin.

“Oke. Antar saya ke sana sekarang juga,” ucap Maira dengan nada suara yang teramat datar namun sarat akan maksud terselubung. “Saya mau lihat sendiri gimana bentukannya dia yang lagi kesakitan menanggung akibat dari perbuatannya.”

Sang ibu mendongak dengan tatapan penuh rasa syukur yang campur aduk. Meski ia tahu kedatangan Maira kali ini mungkin bukan membawa kedamaian, melainkan kemarahan, setidaknya putrinya itu bersedia melangkahkan kaki ke rumah sakit.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, mereka berdua segera menaiki kendaraan umum yang melintas malam itu, bergerak membelah keheningan jalanan kota menuju Rumah Sakit Harapan Bunda, tempat di mana sisa-sisa masa lalu kelam Maira sedang menunggu di ambang maut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!