Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6: Sisi Lain dari Kesempurnaan
Kepala Doni terasa seberat batu. Dia mengerang pelan saat alarm ponselnya menjerit untuk kelima kalinya pagi itu. Dengan mata yang susah sekali dibuka akibat baru saja dipejamkan pukul tiga pagi tadi, Doni terpaksa bangkit. Di atas meja di kamarnya, layar laptop yang masih terbuka menampilkan dasbor NovelToon dengan status bab yang menunggu rilis. Doni tersenyum kecut. Dia benar-benar gila semalam.
Saat meraih ponsel untuk mematikan alarm, sebuah pesan pop-up dari WhatsApp langsung menyambutnya.
Pagi, Sayang. Jangan lupa ya, jam 9 kita ketemu di kantin biasa sebelum kelas kamu mulai. Aku udah potongin buah dari rumah buat kita makan nanti.
Ternyata pesan dari Marcella. Doni menghela napas panjang. Rasa kantuknya mendadak menguap, digantikan oleh rasa bersalah yang akrab. Dia segera menyambar handuk dan bersiap-siap.
Pemandangan jalanan pagi hari yang padat merayap tidak dihiraukan Doni. Sepanjang perjalanan, mata Doni memang menatap ke plat nomor mobil di depannya, tapi pikirannya tidak. Semenjak dia melangkahkan kakinya ke luar kamar kos, dia sudah bertekad. Rasa bersalah, kegelisahan, dan dilema yang dia rasakan sudah dia tumpahkan semua ke dalam tulisan tengah malam tadi.
Hari ini adalah hari baru, pikirnya. Dia sedang dalam perjalanan untuk menemui kekasihnya. Wanita yang sudah dia perjuangkan sejak SMA. Wanita yang sudah tulus menemaninya dalam suka dan duka. Wanita yang hampir pasti akan menjadi masa depannya. Bagaimana mungkin percikan kecil yang memicu sedikit adrenalin saat dia menonton gadis SMA bermain basket itu bisa memalingkan hatinya yang sudah terkunci selama lima tahun? “Tidak”, pikir Doni. “Tidak mungkin.”
Tak terasa, Doni sudah sampai di parkiran. Dengan pemikiran panjang tadi, Doni sudah memutuskan. Dia akan membahagiakan Marcella, apa pun yang terjadi. Dengan semangat itu, Doni pun berjalan menuju kantin kampus, ‘tempat biasa’ bagi mereka berdua. Tempat yang entah sudah berapa kali menjadi saksi betapa mesranya Doni dan Marcella sebagai sepasang kekasih.
Kantin itu sudah mulai ramai ketika Doni tiba. Dari kejauhan, dia langsung bisa menemukan Marcella. Gadis itu duduk dengan punggung tegak, mengenakan blouse rajut berwarna biru muda yang tampak sangat anggun dan pas di tubuhnya. Rambut panjangnya dia jepit rapi ke belakang. Di atas meja, sebuah kotak bekal kecil dan beberapa buku tebal tentang manajemen tertata dengan sangat simetris. Marcella selalu perfeksionis.
"Hei," sapa Doni sambil menarik kursi di hadapan kekasihnya.
Marcella mendongak, senyum manisnya langsung mengembang. Namun, senyum itu perlahan berubah menjadi kernyitan khawatir saat menatap wajah Doni. Tanpa ragu, Marcella mengulurkan tangannya, mengusap lembut lingkaran hitam di bawah mata Doni.
"Kamu begadang lagi, Don? Kan aku udah bilang, begadang itu nggak bagus buat kesehatan kamu. Tugas akhir kamu masih bisa dicicil pelan-pelan, kok", omel Marcella dengan nada yang sangat lembut, namun terasa seperti perintah terselubung bagi Doni.
"Iya, Cell. Semalam cuma... lagi dapet inspirasi aja", jawab Doni setengah berbohong. Inspirasinya memang datang semalam, tapi bukan untuk tugas kuliah, melainkan untuk novel rahasianya.
Marcella menarik kembali tangannya, lalu menggeser kotak bekal berisi buah yang sudah dia potong-potong ke hadapan Doni. "Nih, Don. Buah yang tadi aku bilang. Udah aku potongin, loh. Dimakan, ya”, Marcella kembali memberikan perhatian mesranya sambil menunjukkan senyum simetris khas-nya yang menjadi salah satu alasan Doni jatuh hati padanya lima tahun lalu. “Oh iya, Papa kemarin tanya lagi soal tempat magang kamu. Papa bilang, temennya yang punya perusahaan distribusi itu lagi buka lowongan magang buat posisi analis. Papa sengaja mau rekomendasiin kamu langsung, biar nanti kalau udah lulus, udah gampang. Kamu tinggal jalanin aja."
Doni tertegun. Garpu buah plastik di tangannya terasa berat. "Tapi aku kan belum masukin CV ke sana, Cell. Aku masih mau coba daftar di perusahaan start-up yang kemarin udah aku incer…"
"Doni, sayang", potong Marcella, masih dengan suara selembut sutra namun penuh penekanan. "Perusahaan temen Papa itu jauh lebih stabil. Masa depan kita itu perlu direncanakan dengan matang, kan? Aku nggak mau kamu nekat masuk ke perusahaan yang belum jelas arahnya. Ini demi kebaikan kita juga nanti."
Doni memaksakan sebuah senyuman, lalu mengangguk pelan. "Demi kebaikan kita", kalimat itu sudah dia dengar ratusan kali selama lima tahun ini. Marcella selalu tahu apa yang terbaik, keluarganya selalu punya jalan pintas yang mapan. Dan Doni, yang ‘hanya’ si anak kos yang mencoba berjuang mandiri, selalu berakhir harus menekan egonya sendiri demi terlihat ‘layak’ di mata mereka.
Rasa sesak itu kembali datang. Beban ekspektasi ini membuat Doni merasa seperti boneka yang sedang disetir. Tapi hari ini, Doni mencoba memendamnya. Dia teringat kembali ke niat awalnya, “Apapun untuk membahagiakan Marcella.”
Ego lelakinya tentu sedikit tercubit, tapi karena pagi ini dia sedang dalam mode "ingin membahagiakan Marcella", Doni memilih untuk menurunkan egonya. Dia menarik napas pendek, tersenyum tulus, lalu menggenggam tangan Marcella di atas meja.
"Iya, Marcella, sayang. Aku ngerti, kok. Kamu dan Papa pasti mau yang terbaik buat aku. Makasih ya, udah selalu mikirin masa depan kita sejauh ini. Nanti malam aku rapihin lagi CV-ku", ucap Doni manis, sambil membersihkan sudut bibir Marcella yang sedikit berair setelah memakan potongan semangka.
Setelah mengiyakan dan membuat Marcella merasa tenang, Doni langsung mengambil inisiatif untuk mengubah atmosfer obrolan yang sempat serius menjadi manis kembali, "Hmm… ngomongin kerjaan gini jadi bikin laper, deh. Menunya sekarang potongan buah aja, atau ada bonus suapan dari pacarku yang paling cantik ini?"
“Dih! Apaan sih, Don?”, tanya Marcella sedikit malu sambil memukul manja lengan Doni yang tertutup kemeja flannel bermotif kotak-kotak. Marcella yang tadinya bersikap agak menuntut dan kaku, seketika meleleh melihat respons Doni yang begitu manis dan penurut pagi itu. Marcella tersenyum manis, menunjukkan rasa cintanya yang masih ada dihatinya walaupun sudah lima tahun berlalu. Dia lalu benar-benar menyuapi Doni sesuai permintaannya.
Di momen yang romantis dan penuh cinta itu, tiba-tiba saja ponsel Marcella yang tergeletak di atas meja bergetar. Layarnya menyala, menampilkan nama kontak: “lil sist ❤︎”
Marcella menghela napas pendek, lalu menggeser layar untuk mengangkatnya. "Halo? Iya, Liv? Kakak lagi di kantin kampus ini sama Doni, kenapa?"
Doni yang sedang mengunyah sepotong melon mendadak membeku. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat mendengar nama itu disebut.
Suara Olivia di seberang telepon terdengar agak nyaring, bahkan samar-samar bisa ditangkap oleh telinga Doni yang tiba-tiba menjadi sangat sensitif.
"Kak! Tolong tanyain Kak Doni, deh. Kemarin pas kita ngobrol di GOR abis aku tanding, dia lihat botol tumbler aku, nggak? Udah aku cari kemana-mana, nggak ada! Aku kira ketinggalan di rumah, tapi nggak ada juga.”
Mendengar itu, gerakan tangan Marcella yang hendak menyuapi buah ke mulut Doni langsung terhenti. Alisnya bertaut. Dia memotong kalimat adiknya, "Bentar, Liv. Ngobrol di GOR? Doni kemarin nonton kamu tanding?"
Doni yang sedang mengunyah sepotong melon langsung tersedak. Dia terbatuk kecil, buru-buru meraih segelas air sambil menatap Marcella dengan jantungan.
Marcella menurunkan ponselnya sedikit, matanya menyipit menatap Doni langsung dengan tatapan menyelidik, tatapan khas seorang kekasih yang merasa ada sesuatu yang tidak diceritakan.
"Don, kamu kemarin ke GOR nonton Olivia? Kok nggak bilang aku?"