NovelToon NovelToon
Ayahku Memiliki Sistem

Ayahku Memiliki Sistem

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sistem One

Saat ia pikir hidupnya berakhir, seorang pria tiba-tiba mendapatkan sistem. Namun, bukannya menjadi kaya, ia justru terbangun di masa lalu... di dalam tubuh ayahnya saat masih muda.

Kini, dengan sistem di tangannya dan mengetahui masa depan, ia harus mengubah takdir keluarganya.

Mampukah ia menyelamatkan keluarganya... tanpa menghapus keberadaannya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Setelah Riko pergi dengan mobilnya, Raka dan Nadia langsung buru-buru masuk kembali ke dalam rumah dengan kondisi basah kuyup dan penuh lumpur.

​Nadia langsung mengunci pintu depan rapat-rapat. Badannya masih gemetaran.

Di ruang tengah, Reno kecil masih menangis sesenggukan karena ketakutan mendengar keributan tadi.

Nadia langsung memeluk anaknya sebentar untuk menenangkannya, sebelum akhirnya menyuruh Reno ganti baju di kamar.

​Nadia kembali ke ruang tengah sambil membawa kotak P3K dan sebaskom air hangat.

Dia duduk di sebelah Raka yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa sambil meringis menahan perih.

​"Sini, Mas, aku bersihin dulu lumpur sama darahnya," ucap Nadia dengan suara yang masih agak serak habis menangis.

​Dengan telaten dan penuh kehati-hatian, Nadia mengusap wajah Raka menggunakan kain lap basah. Begitu kain itu menyentuh sudut bibir Raka yang robek, Raka refleks mengaduh.

​"Aw! Pelan-pelan, Nad. Perih banget itu."

​"Iya, maaf, Mas. Makanya diam dulu, jangan banyak gerak," sahut Nadia yang kelihatan sangat khawatir.

​Nadia mulai meneteskan obat merah ke kapas, lalu menempelkannya ke luka-luka di wajah dan buku jari Raka.

Air mata Nadia kembali menetes, dia merasa bersalah. "Maaf ya, Mas... Gara-gara masalah keluargaku, kamu jadi harus berantem kayak gini sampai babak belur."

​Raka menatap ibunya itu, lalu tersenyum tipis untuk menenangkannya. "Nggak usah minta maaf. Udah kewajiban gua—maksudnya kewajiban aku sebagai suami buat jagain kamu sama Reno. Lagian cowok kayak begitu emang sesekali harus dikasih pelajaran biar nggak sok kuasa."

Sebenernya Raka merasa agak aneh dan malu saat berkata seperti itu.

​Nadia tertegun mendengar jawaban tegas Raka. Ada rasa aman yang mendadak muncul di hatinya.

 Sifat suaminya yang sekarang benar-benar jauh lebih bisa diandalkan daripada dulu.

​Beberapa hari kemudian, luka-luka di wajah Raka sudah mulai mengering dan memudar.

Kehidupan mereka sempat kembali tenang, sampai akhirnya pada suatu siang, sebuah mobil polisi tiba-tiba berhenti tepat di depan pagar rumah mereka.

​Dua orang petugas berseragam keluar dari mobil dan mengetuk pintu. Nadia yang membuka pintu langsung pucat pasi. Jantungnya berdegup kencang karena ketakutan.

​"Benar ini rumah Saudara Raka?" tanya salah satu polisi.

​Raka yang mendengar suara petugas langsung berjalan ke depan, mendampingi Nadia. "Iya, Pak. Saya sendiri. Ada apa ya?"

​"Kami mendapat laporan atas dugaan kasus penganiayaan berat dari Saudara Riko. Korban mengalami luka parah di wajah dan hidungnya patah. Anda dilaporkan sebagai pelaku pemukulan, jadi Anda harus ikut kami ke kantor untuk pemeriksaan lebih lanjut," ujar polisi tersebut sambil menunjukkan surat tugas.

​Nadia langsung panik dan memegang lengan Raka dengan erat. "Nggak, Pak! Suami saya cuma membela diri! Pria itu yang duluan datang ke sini dan berbuat kasar!"

​"Tolong tenang, Bu. Kami hanya menjalankan tugas berdasarkan laporan korban. Benar atau salahnya nanti bisa dibuktikan di persidangan atau saat pemeriksaan," kata polisi itu lagi secara normatif.

​Berbeda dengan Nadia yang panik, Raka justru kelihatan sangat santai.

Dia tahu betul kalau Riko pasti bakal memakai kekuasaan dan uangnya untuk membalas dendam lewat jalur hukum.

Tapi, Raka bukan orang bodoh yang tidak punya persiapan.

​"Oh, soal laporan si Riko ya, Pak? Santai aja, nggak usah pakai dibawa ke kantor segala," ucap Raka sambil tersenyum tenang.

​Polisi itu mengernyitkan dahi. "Maksud Anda bagaimana? Ini urusan hukum, Saudara Raka."

​Raka kemudian menunjuk ke arah sudut atas dinding rumah milik tetangga seberang jalannya, yang kebetulan adalah seorang juragan toko kelontong kaya.

Di sana, terpasang sebuah kamera CCTV yang arah rekamannya menyorot lurus ke halaman rumah Raka.

​"Pak Polisi, mending kita lihat bukti digitalnya dulu aja biar gak buang-buang bensin ke kantor. Di rumah seberang itu ada CCTV yang aktif dua puluh empat jam. Kebetulan kemarin saya udah minta salinan rekaman kejadiannya dari beliau," kata Raka sambil mengeluarkan sebuah flashdisk dari kantong celananya.

​Raka mengajak kedua polisi itu masuk ke ruang tengah untuk menyetel rekaman video tersebut di PC barunya.

​Di dalam video, terlihat jelas kronologi kejadian dari awal:

​Riko datang tanpa izin saat hujan deras dan langsung marah-marah di teras.

​Riko terlihat menerobos masuk dan mencengkeram tangan Nadia secara kasar serta menariknya paksa hingga Nadia meringis kesakitan.

​Raka baru melayangkan pukulan setelah melihat istrinya diperlakukan kasar (tindakan membela keluarga dari ancaman fisik/pelecehan).

​Di tengah halaman pun, Riko yang terlihat terus memprovokasi dan menyerang duluan sebelum akhirnya kalah telak.

​Setelah melihat video yang sangat jelas itu, kedua polisi saling pandang.

Narasi yang dilaporkan Riko ke kantor polisi ternyata berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan.

Riko melaporkan bahwa dirinya dikeroyok dan diserang tanpa sebab oleh Raka saat bertamu baik-baik.

​"Nah, Pak. Di situ jelas ya, dia melakukan penyerangan, masuk pekarangan orang tanpa izin, dan melakukan kekerasan fisik ke istri saya duluan. Saya cuma membela diri dan melindungi keluarga saya di rumah sendiri," tegas Raka.

​Polisi itu mengangguk-angguk paham, lalu mematikan layar PC. "Baik, buktinya sudah sangat jelas. Kasus ini murni tindakan pembelaan diri karena ada ancaman kekerasan dari pelapor terlebih dahulu. Berarti laporan Saudara Riko tidak bisa diproses karena unsur penganiayaan sepihak tidak terpenuhi."

​"Kalau saya mau laporkan balik si Riko atas pasal tindakan tidak menyenangkan, penganiayaan terhadap istri saya, dan memasuki pekarangan tanpa izin, bisa kan Pak?" tanya Raka sengaja memojokkan posisi Riko.

​"Sangat bisa, Mas Raka. Bukti rekaman ini sudah lebih dari cukup untuk menahan Saudara Riko kalau Anda mau buat laporan resmi," jawab polisi tersebut.

​Raka tersenyum puas. "Oke, kalau gitu tolong sampaikan aja ke si Riko, Pak. Suruh dia cabut laporannya dan jangan pernah muncul lagi. Kalau dia masih nekat mau main hukum, video ini bakal langsung saya serahin ke Polres sekalian biar dia yang masuk penjara."

​Polisi itu akhirnya pamit setelah mencatat beberapa informasi tambahan.

Setelah polisi pergi, Nadia langsung bernapas lega dan terduduk lemas di sofa. Dia menatap Raka dengan pandangan takjub.

Dia tidak menyangka Raka bisa berpikir sejauh dan secerdik itu untuk melindungi rumah tangga mereka.

1
Bryan
keren thor, banyakin ya update nya, 1 vote udh melayang 💪👍
Maul: terima kasih banyak kak😆
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
Reno bocil bikin ngakak deh🤣🤣
Maul
/Blush/
Maul
duit 😘
Maul
/Hey/
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Yuliana Tunru
knp verota x jd maju mundur sih kan yg baca bingung 🤭🤭
Maul: hehe, mungkin ke depannya gak akan maju mundur🙏
total 1 replies
Maul
Sistemnya plin-plan wkwk
Maul
waduh, yang ini gk cadel😅
Maul
ngasuh diri sendiri 🤭
Maul
women
Maul
Ayahku adalah diriku sendiri🤔
Maul: cuma bercanda kak, soalnya kan mc nya masuk ke tubuh ayahnya sendiri😅 🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!