NovelToon NovelToon
Suamiku Spesial

Suamiku Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Fantasi / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Tidur Siang di Kamar Alex

Hari-hari setelah kejadian di kebun apel berjalan dengan tenang. Liora dan Alex menghabiskan waktu di dalam rumah tanpa keluar. Cuaca di luar memang sedang panas, dan Liora merasa lebih nyaman berada di dalam rumah yang sejuk. Alex juga tidak protes—ia tampak senang bermain di ruang tamu dengan mainan barunya.

Beberapa hari yang lalu, Emi datang membawa sebuah kotak besar. Di dalamnya, ada satu set Lego yang cukup rumit—sebuah kapal bajak laut dengan banyak bagian kecil. Alex sangat senang. Sejak saat itu, hampir setiap hari ia duduk di lantai ruang tamu, menyusun balok-balok Lego satu per satu dengan penuh kesabaran.

Liora, di sisi lain, memilih untuk duduk di sofa. Ia sedang membaca sebuah novel roman yang ia temukan di salah satu rak buku di ruang tamu—buku itu mungkin milik Emi yang tertinggal. Ceritanya cukup ringan, tentang seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang pria misterius. Liora tenggelam dalam alur cerita itu, sesekali tersenyum atau menghela napas mengikuti lika-liku tokohnya.

Mereka berdua larut dalam dunianya masing-masing. Tidak ada suara percakapan. Hanya suara gesekan balok Lego yang disusun oleh Alex, dan suara lembaran kertas novel yang dibalik oleh Liora. Suasana rumah terasa begitu damai, seolah tidak ada masalah di dunia ini.

Waktu berlalu tanpa terasa. Matahari sudah berada di puncak langit, dan sinarnya yang terik menusuk melalui celah tirai jendela. Suhu di dalam ruangan perlahan meningkat, menciptakan rasa kantuk yang perlahan merayapi tubuh Liora.

Matanya mulai berat. Kata-kata di novel itu mulai kabur, dan ia menguap lebar beberapa kali. Namun, ia tetap mencoba untuk terus membaca.

Akhirnya, mata Liora tidak bisa bertahan lagi. Novel itu perlahan jatuh dari tangannya, mendarat dengan lembut di pangkuannya. Kepalanya terasa berat, dan tanpa sadar, ia menyandarkan kepalanya ke bantal sofa. Tangannya masih memeluk novel itu erat-erat, seolah buku itu adalah sebuah harta karun.

Dan Liora tertidur.

Napasnya menjadi teratur dan pelan. Wajahnya tampak tenang, bebas dari segala beban dan kekhawatiran. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela jatuh tepat di wajahnya, membuat kulitnya tampak bersinar lembut.

Alex, yang sedang asyik menyusun kapal bajak laut Legonya, tiba-tiba mengangkat kepalanya. Ia mendengar suara napas yang berubah, dan ia menoleh ke arah sofa.

Di sana, Liora tertidur. Novelnya masih berada di pangkuannya, dan tangannya menggenggam buku itu dengan erat, seolah ia sedang memeluknya dalam tidur.

Alex menatap Liora untuk waktu yang lama. Matanya yang biasanya polos, kini berubah menjadi tatapan yang lebih dalam. Ia menatap wajah Liora, bulu matanya yang panjang, pipinya yang sedikit berwarna merah muda, dan bibirnya yang sedikit terbuka. Rambut Liora tergerai di atas bantal, beberapa helai menutupi sebagian wajahnya.

Perlahan, Alex bangkit dari lantai. Ia melangkah mendekati sofa, berjongkok di samping Liora. Tangannya yang besar dan kokoh terulur, tetapi ia tidak menyentuh Liora. Ia hanya menatapnya, seperti sedang mengamati sebuah karya seni yang paling indah.

Kemudian, Alex melakukan sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya di siang hari. Dengan sangat hati-hati, ia menyelipkan satu lengannya di bawah punggung Liora, dan lengannya yang lain di bawah lututnya. Ia mengangkat tubuh Liora dari sofa—dengan gaya bridal carry—seperti seorang pangeran yang menggendong putrinya.

Liora tidak terbangun. Ia hanya mengerang sedikit, lalu kepalanya bersandar di dada Alex yang bidang. Novel di pangkuannya jatuh ke lantai, tetapi Alex tidak peduli.

Alex berjalan menaiki tangga dengan langkah yang pelan dan hati-hati. Ia melewati pintu kamar Liora, tetapi ia tidak berhenti. Ia terus berjalan, menuju pintu di sebelahnya.

Pintu kamar Alex.

Ia membuka pintu kamarnya dengan pelan, lalu menurunkan Liora di atas tempat tidurnya. Tempat tidur itu berbau sedikit wangi, aroma sabun mandi yang biasa dipakai Alex. Liora berguling sedikit, mencari posisi yang nyaman, lalu kembali tertidur dengan lelap.

Alex berbaring di samping Liora. Ia menarik selimut tipis dan menutupi tubuh Liora dengan hati-hati. Lalu, ia memeluk Liora dari belakang, lengannya melingkar erat di pinggang Liora, seperti malam-malam sebelumnya.

Keduanya terbaring dalam keheningan. Alex menutup matanya, merasakan kehangatan tubuh Liora yang bersandar di dadanya. Napas Liora yang teratur dan pelan membuat hatinya terasa tenang. Ia tersenyum, lalu perlahan ia pun tertidur, memeluk istrinya di siang hari yang sunyi.

---

Waktu berlalu. Matahari mulai bergeser dari puncak langit, dan sinarnya yang terik mulai meredup. Suara burung di luar kembali terdengar, dan angin siang berhembus pelan melalui jendela yang sedikit terbuka.

Liora perlahan membuka matanya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk. Tubuhnya terasa sangat hangat, dan ia merasa sangat nyaman.

Ia merasa ada sesuatu yang melingkar di pinggangnya. Sebuah lengan yang berat dan kokoh. Dan di belakang punggungnya, ada dada yang luas dan hangat.

Liora membeku.

Ia membuka matanya lebar-lebar. Perlahan, ia menunduk dan melihat lengan besar yang melingkar di pinggangnya. Lengan itu milik Alex. Lengan itu milik suaminya.

Liora menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Ia menoleh perlahan ke belakang.

Dan di sana, tepat di belakangnya, Alex masih tertidur. Wajahnya polos, napasnya teratur. Ia memeluk Liora erat, seperti anak kecil memeluk boneka kesayangannya.

Liora memicingkan mata. Ia melihat sekeliling. Tempat tidur ini berbeda dengan kamarnya. Seprainya berwarna biru muda, bukan putih. Di sudut kamar, ada beberapa mainan Lego yang belum selesai disusun. Dan di dinding, ada poster kapal bajak laut.

Ini bukan kamarnya.

Ini kamar Alex.

Liora tersentak kaget. Ia tidak ingat bagaimana ia bisa berada di sini. Terakhir kali ia ingat, ia sedang membaca novel di sofa. Dan sekarang, ia terbangun di kamar Alex, dalam pelukannya.

Ia mencoba mengingat. Apakah ia berjalan dalam tidur? Apakah ia tanpa sadar berjalan ke kamar Alex? Liora mengerutkan kening, mencoba memecahkan teka-teki ini, tetapi pikirannya kosong.

Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Liora mencoba melepaskan lengan Alex dari pinggangnya. Satu sentimeter demi satu sentimeter. Akhirnya, tangan Alex terlepas.

Liora segera berguling ke sisi lain tempat tidur, menjauh dari Alex. Ia bangkit dengan cepat, kakinya mendarat di lantai kayu yang dingin. Ia menatap Alex yang masih tertidur pulas, tidak sadar bahwa istrinya telah pergi dari pelukannya.

Liora berjalan cepat menuju pintu, membukanya, dan melangkah keluar. Ia menutup pintu kamar Alex dengan pelan, lalu berdiri di lorong, memegangi dadanya yang berdegup kencang.

"Bagaimana aku bisa ada di kamarnya?" bisiknya dengan panik. "Apakah aku berjalan dalam tidur?"

Ia menekan dahinya dengan tangannya, mencoba menenangkan diri. Wajahnya terasa panas.

Di dalam kamar, Alex yang sudah sadar sejak Liora bergerak, masih terbaring di tempat tidur. Matanya terbuka, dan ia menatap pintu yang baru saja ditutup oleh Liora. Sudut bibirnya terangkat, membentuk sebuah senyuman kecil—senyuman yang sama, senyuman yang penuh arti.

"Dia tidak tahu," bisik Alex pelan. "Dia pikir dia berjalan dalam tidur."

Alex tertawa kecil, lalu menutup matanya kembali, menikmati sisa-sisa kehangatan tubuh Liora yang masih tersisa di seprai.

Siang hari itu, rahasia Alex semakin dalam. Dan Liora masih percaya bahwa suaminya hanyalah seorang anak kecil yang polos.

1
Ilfa Yarni
oooo jadi gitu tp syukurlah udah ga ada rahasia lg diantara mereka dan jg bisa bersikap sebagaimana mestinya dan skr kalian bisa menghadapi masalah bersama2
Ilfa Yarni
aku jg penasaran bukan km saja liora
wulaniii
gais like dan komen kalo bisa tonton yah biar dapet komisi 🤣
Alia Chans
Hadir Thor, penasaran banget ama lanjutan nya ...🤭🤭

saling support sabi kali😉
Muhajir Al musyaffa
halo kak aku punya karya loh mampir yu kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!