Romeo bukanlah tokoh dalam dongeng klasik yang jatuh cinta pada pandangan pertama. Ia hanyalah seorang pemuda biasa, anak tunggal yang hidup tenang dalam rutinitasnya. Namun, hidupnya mendadak berubah ketika sang nenek—satu-satunya keluarga yang ia miliki—mengatur sebuah perjodohan untuknya. Romeo menolak secara halus, tetapi tak mampu membantah keinginan nenek yang sangat ia hormati.
Tanpa ia sadari, gadis yang dijodohkan dengannya ternyata bukan orang asing. Ia adalah Tina—sahabat masa SMP yang dulu selalu ada di sisinya, yang bahkan pernah menyelamatkannya dari tenggelam di kolam renang sekolah. Namun waktu telah memisahkan mereka. Kini, keduanya telah tumbuh dewasa, dan pertemuan kembali ini bukan atas kehendak mereka, melainkan takdir yang disulam oleh tangan tua sang nenek.
Tapi, Romeo merasa ada yang berubah. Tina yang kini berdiri di hadapannya bukan lagi sahabat kecilnya. Dan yang lebih membingungkan, perasaannya pun mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ryuuka20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6. Perasaan yang mulai tumbuh
“Gue bawa ya gelangnya.”
Romeo mengucapkannya sambil hati-hati meletakkan gelang manik berwarna-warni itu ke dalam kantong depan celananya, kemudian menekuk jari untuk memastikan barang itu aman dan tidak akan jatuh.
“Eh jangan....Gue aja yang simpen...”
Tina segera merebut tangan Romeo, mata sedikit khawatir dan penuh keinginan untuk menyimpan gelang itu sendiri. Jari-jarinya sedikit menggoyangkan ketika mencoba mengambil gelang dari kantong pria itu, seolah takut barang berharga itu akan hilang jika disimpan oleh orang lain.
Romeo melihatnya dengan senyum lembut, lalu mengeluarkan gelang itu kembali dari kantong. Ia memegangnya dengan hati-hati sebelum menyerahkannya ke tangan Tina.
“Oke oke, Lo yang simpen aja ya. Jangan sampai hilang lagi ya.”
Tina langsung menyimpan gelang itu ke dalam dompet kecil yang selalu dibawanya, kemudian menutupnya dengan rapat. Wajahnya kembali menunjukkan ekspresi tenang setelah barang berharga itu berada di tempat yang ia anggap aman.
...****************...
Mobil melaju dengan tenang di jalan raya yang mulai sepi. Udara di dalam kabin terasa hangat, dan Romeo mulai membuka cerita lama untuk menghangatkan suasana setelah kegagalan rencana menginap.
“Inget gak? Waktu kita ikut piknik tamasya SMP, tiba-tiba hujan deras tuh.” Romeo melirik Tina sebentar, bibirnya sedikit mengerucut sambil mengingat kenangan itu.
“Kita berdua malah ketinggalan kelompok, badan basah kuyup sampe baju jadi tembus pandang. Dan Lo tau gak? Pas itu Lo nangis terus, kayak nangisnya bikin hujan makin deras aja!”
Pria itu tertawa pelan, sambil menepuk setir dengan ringan. Tina mengerutkan dahi, jari-jarinya bermain-main dengan tali pengaman yang terbuka. Wajahnya sedikit memerah, seolah masih merasa malu dengan kenangan itu—yang juga membuat mereka berdua sakit demam keesokan harinya.
“Iya, iya, inget dong!” Tina menjawab dengan nada sedikit kesal tapi matanya sudah mulai bersinar dengan kesenangan. “Bukan cuma gue yang nangis lho! Lo juga nangis sampe mata jadi merah kayak tomat! Kita kan bingung banget mau kemana, udah basah semua dan sekitarnya cuma kebun jagung!”
Romeo tertawa lebih keras, suara riangnya memenuhi kabin mobil. “Tapi yang paling lucu itu Lo! Mau ngehindarin rambut dari hujan, malah ditutupin pake tas plastik yang juga udah basah kuyup!”
Tina menutup wajahnya dengan kedua tangan, tapi senyum lebar sudah tidak bisa ditahan lagi. Ia tertawa bersama Romeo, suara tawanya ceria dan merdu. “Oke oke, itu memang konyol banget.” Ia mengangkat kepalanya, mata melihat ke arah jalan raya yang menerawang. “Tapi inget nggak? Sandwich yang Lo bikin sama gue buat tukar makanan jadi basah semua gara-gara hujan. Akhirnya kita dibilang sama Bu guru karena tidak bisa menyelesaikan tugas tukar makanan.”
“Padahal kita udah janji banget kan?” Tina melanjutkan, jari-jarinya menggambar pola acak di permukaan jendela. “Rencananya kita mau saling coba makanan yang masing-masing buat sendiri.”
Romeo mengangguk perlahan, wajahnya sedikit merenung tapi tetap penuh dengan senyum. “Ya, tapi itu jadi kenangan yang paling berkesan juga lho. Kita dua aja duduk di belakang bis, makan sisa keripik yang masih kering dari dalam tas.”
Tina mengangguk, lalu tiba-tiba terdiam sejenak. Bibirnya terbuka sedikit sebelum ia bisa menutupinya lagi. “Terus malah… di cie-ciein sama temen-temen kita waktu itu…”
Kata-katanya terhenti di tengah kalimat. Wajahnya langsung memerah seperti buah ceri, dan ia cepat menutup mulutnya dengan tangan kanan. Tina melirik Romeo dengan mata yang penuh gelagapan, seolah tidak percaya bahwa dirinya baru saja mengungkapkan hal itu.
“Eh, maksudnya...itu aja kok!” Ia mencoba mengubah topik dengan tergesa-gesa, tapi sudah terlambat. Romeo sudah tertawa terbahak-bahak, bahunya bergoyang karena tawa yang tak terkendali.
“Waduh, jadi Lo masih inget ya tentang itu?” Romeo melihat ke arah Tina sambil mengedipkan mata dengan licik. “Lo merasa malu karena kita di cie-ciein sama teman-teman?”
Tina semakin gugup, tangannya mulai mengusap-usap paha celananya yang sedikit berkeringat. “Iya lah kan! Itu waktu SMP, kita masih anak-anak aja. Gue males banget ingetnya lagi!” Ia berusaha menunjukkan wajah serius, tapi sudut bibirnya tetap mengarah ke atas karena ingin tertawa.
Romeo menghela napas pelan, tawa perlahan mereda tapi senyumnya tetap ada di wajahnya. “Kenapa harus malu? Itu yang bikin kenangan kita jadi lebih warna-warni dong. Lagipula, siapa sih yang nggak seneng kalau di cie-ciein sama orang yang kita suka?”
Kata-kata itu membuat Tina langsung menoleh ke arah Romeo. Matanya membesar dengan terkejut, dan bibirnya sedikit terbuka. “Jadi Lo sebenarnya....”
“Apa?” Romeo menghentikan mobil tepat saat lampu lalu lintas berubah merah. Ia menoleh penuh dengan rasa ingin tahu, kedua matanya saling menatap dengan intens. Udara di dalam mobil tiba-tiba menjadi lebih pekat, dan keduanya terdiam sebentar.
Tiba-tiba suara klakson yang keras terdengar dari belakang mobil mereka. Lampu lalu lintas sudah berubah menjadi hijau. Romeo sedikit terkejut dan langsung menginjak pedal gas.
“Eh, maaf-maaf!” serunya dengan sedikit tergesa-gesa.
Mobil kembali melaju, tapi suasana di dalam kabin tetap terasa tegang. Tina masih menatap Romeo dengan ekspresi campur aduk antara penasaran dan cemas. Akhirnya ia mengambil napas dalam dan membuka mulutnya lagi.
“Jadi, lo sebenarnya suka aja ya kalau kita di cie-ciein sama orang lain?” Pertanyaannya terdengar sedikit canggung, tapi penuh dengan rasa ingin tahu yang tulus.
Romeo tertawa kecil, lalu menggelengkan kepala. “Sebenarnya sih lucu aja sih. Tapi yang penting buat gue adalah kita bisa sama-sama tertawa dan bahagia bareng, bukan cuma jadi bahan cie-ciean aja. Itu kan terlalu mainstream kan?” Ia mengedipkan mata lagi sambil memberikan senyum yang hangat.
Tina mengangguk perlahan, wajahnya mulai kembali rileks dan senyumnya muncul lagi. “Jadi kamu nggak keberatan ya kalau kita lagi jadi bahan bualan teman-teman? Gue dulu selalu mikir itu kayak hal yang memalukan banget.”
“Kenapa harus malu?” Romeo menjawab dengan percaya diri, tangannya tetap fokus pada setir mobil. “Kita kan sudah mau nikah juga kan? Itu semua bagian dari perjalanan kita berdua. Dan siapa tahu, mungkin kita bakal jadi pasangan yang paling dicie-ciein dan paling bahagia juga di antara teman-teman kita!”
“Udah deh, cukup aja!” Tina menutup telinganya dengan kedua tangan sebentar sebelum membukanya lagi. “Gue pengen pulang aja sekarang. Turunin gue disini aja boleh.”
“Jangan dong. Kalau Lo turun disini, bisa aja ada yang tidak baik buat kamu.” Romeo mengabaikan permintaan Tina dan melanjutkan mengemudi sampai mereka tiba di parkiran apartemen Tina. Ia memarkirkan mobil dengan hati-hati di tempat yang biasanya digunakan Tina.
Tina membuka pintu mobil dan mulai mengambil barang-barangnya dari jok belakang. Romeo merasa sedikit bersalah karena rencana mereka untuk menghabiskan akhir pekan bersama harus batal karena situasi di hotel.
“Eh, tunggu dulu!” Romeo memegang lengan Tina dengan lembut sebelum ia bisa keluar dari mobil. “Makasihnya mana ya buat gue yang udah ngantar pulang dengan aman?”
Tina berbalik dengan ekspresi sedikit terkejut, kemudian wajahnya langsung menunjukkan senyum lebar yang hangat. Tanpa berpikir panjang, ia menghampiri Romeo dan memberikan pelukan erat pada tubuhnya yang kekar.
Romeo sedikit terkejut dengan tindakan tiba-tiba itu, tapi segera ia mengembalikan pelukan dengan lembut. Tangan kanannya menyentuh punggung Tina dengan lembut, sementara tangan kirinya menyangga tubuhnya yang kecil.
“Terima kasih ya sudah ngantar aku pulang dengan aman,” ujar Tina dengan suara lembut di telinga Romeo. “Meskipun rencana kita jadi berantakan, tapi aku seneng bisa jalan-jalan bareng kamu.”
Setelah beberapa saat, Tina melepaskan pelukan dan memberikan senyum terakhir sebelum masuk ke dalam lift. Romeo hanya bisa mengangguk dengan sedikit tercengang, lalu melambaikan tangannya saat pintu lift mulai menutup.
Setelah lift menghilang dari pandangannya, Romeo berdiri di depan pintu masuk apartemen dengan hati yang berdebar kencang. Jantungnya berdegup sangat cepat, seolah ia baru saja berlari sejauh beberapa kilometer. Ia menggelengkan kepala dengan sedikit kebingungan, mencoba mengusir rasa cemas yang muncul tiba-tiba.
“Kenapa jadi kayak gini ya?” gumamnya pada diri sendiri sambil berjalan menuju mobilnya. “Tina kan dari dulu cuma temen baik gue aja.”
Namun saat ia mengingat senyum hangat Tina dan pelukan yang baru saja mereka bagi, hatinya bergetar dengan cara yang berbeda dari biasanya. Romeo masuk ke dalam mobilnya dan mengemudi pulang ke rumahnya sendiri.
Setelah sampai di kamar tidurnya, Romeo duduk di tepi tempat tidur sambil menatap langit-langit yang putih polos. Suasana malam yang tenang seharusnya membuatnya rileks, tapi hatinya masih berdebar kencang seperti sebelumya. Ia merasa seperti sedang berdiri di ambang dua dunia—dunia di mana Tina hanya sahabatnya, dan dunia lain yang semakin jelas menunjukkan bahwa perasaannya pada wanita itu sudah tumbuh lebih dalam dari sekadar persahabatan.
“Kenapa gue bisa jadi kayak gini ya?” pikirnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Apakah ini sudah bisa disebut cinta?”
Ia mengingat kembali semua momen kecil yang mereka lalui bersama—tawa mereka saat bercanda, cara Tina selalu bisa membuat hari-harinya menjadi lebih baik, dan bagaimana pelukan hangatnya bisa membuat semua kekhawatirannya lenyap dalam sekejap.
“GAK MUNGKIN!” Romeo menjerit pelan sambil menepuk tempat tidur di depannya.
Ia menghela napas panjang dan berdiri dari tempat tidur. Romeo mulai berjalan mondar-mandir di kamar, pikirannya terus memutar tentang apa yang harus ia lakukan selanjutnya.
“Apa yang harus gue lakukan ya?” Ia merenung lagi. “Kalau gue tidak cepat bertindak, mungkin nanti Jovan yang akan mengambilnya dariku.”
Setelah beberapa saat berpikir, Romeo memutuskan untuk pergi tidur terlebih dahulu. Ia akan memikirkan semua ini lagi besok hari, ketika ia akan bertemu kembali dengan Tina.