Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Thalia
KEDIAMAN ARYANAKA
Tujuh hari telah berlalu sejak menghilangnya Nyonya besar dari keluarga Aryanaka, sehingga kini menyisakan kekhawatiran tak berkesudahan, serta memantik datangnya gosip - gosip dari kalangan borjuis, terutama para sosialita yang cukup dekat dan mengenal baik sosok Suratih. Beberapa berpendapat bahwa Suratih di culik karena banyak orang yang mengincar kekayaan keluarga Aryanaka yang melimpah. Namun, tak sedikit pula yang berpikir aneh, bahwa Suratih hanya bertindak semaunya dengan kabur dan bersenang-senang sendirian---mengingat perangainya yang tampak seperti wanita bebas.
Bagas pun tak mau ambil pusing dengan memerdulikan semua selentingan tak jelas itu. Sejauh ini ia hanya ingin fokus dalam pencarian sang Bunda. Untung saja calon istrinya turut senantiasa menemani dan mendukungnya agar tidak menyerah dan tetap tenang.
"Mas, ayo makan dulu yuk. Aku sama Bi Umi udah masakin Ayam Serundeng kesukaan kamu loh," ajak Farah dengan manis, bernada riang namun lembut.
Bagas yang sedang duduk sambil mengerjakan berkas di ruang kerja hanya berdeham dan tetap melanjutkan pekerjaannya sambil sesekali melihat ponsel yang tergeletak di atas meja, berada tepat disamping kirinya. Bukan sekali dua kali ajakan Farah tidak digubris oleh sang tunangan, nyatanya penolakan akan selalu ia dapatkan setiap kali gadis berhijab putih itu meminta Bagas untuk mengisi perut atau bahkan hanya sekedar menghirup udara segar.
Karena gemas sendiri melihat sang calon suami yang bersikap tak acuh itu, Farah pun semakin mendekat, mencoba mengalihkan perhatian pria berkaos hitam yang masih setia menampilkan raut datar nan serius tersebut.
"Mas," panggil Farah cukup keras namun tetap menjaga nada lembutnya.
"Hmm?" jawab Bagas singkat.
Menghembuskan napas pelan, Farah tetap mencoba untuk sabar. Menghadapi Bagas mode serius seperti ini memang memerlukan tenaga dan keteguhan hati yang ekstra.
"Mas!"
Kali ini suara Farah agak lebih keras, supaya sang pria setidaknya menoleh ke arah dimana ia berdiri saat ini.
"Hemm."
Hah, benar-benar ya. Apa harus Farah mengganti mode tenang ke mode cerewet lagi? Padahal semenjak Bagas sembuh, ia sudah tidak mengaktifkan mode tersebut. Ya, selama masa pengobatan dan pemulihan---ia yang merupakan seorang dokter sekaligus berstatus sebagai calon tunangan Bagas saat itu, benar-benar berusaha untuk setia disamping pria tersebut dan akan selalu bersikap cerewet apabila Bagas susah dalam menjaga pola makan dan rewel tidak mau minum obat.
Kembali saat ini, Farah harus menghadapi Bagas yang sulit diatur dan bersikap acuh terhadap kesehatan dirinya sendiri. Farah sungguh sedih melihat sang calon suami yang dalam seminggu ini makan tidak teratur, jarang tidur, bahkan terlalu memforsir pekerjaannya. Farah hanya takut kalau tunangannya itu akan kelelahan dan berakhir sakit serta berujung harus dirawat intensif kembali.
"Tidak. Mas Bagas gak boleh sampe sakit. Aku harus berhasil bujuk dia," gumam Farah dalam hati seolah menyemangati diri sendiri.
Kembali Farah mendekat, kemudian mengelus pelan pundak lebar nan kokoh sang pujaan hati. Kemudian perlahan ia berkata, "Mas Bagas, ayo dong kamu harus makan dulu, istirahat juga yaa. Aku tahu kamu sibuk, kamu juga pasti khawatir tentang Bunda. Tapi disini juga ada aku yang khawatir sama kamu mas. Aku gak mau kamu sakit."
Mendengar suara Farah yang mengalun indah namun menyayat kesadarannya, Bagas pun seketika merasa bersalah. Apalagi tampak disana wajah cantik itu tersenyum sendu seakan menjadi bukti bahwa calon istrinya itu sangat mengkhawatirkan dirinya.
Menghela napas berat, Bagas kali ini menanggapi bujukan Farah. Ia tidak tega membuat wanita yang selalu ada bersamanya itu menjadi sedih.
"Oke. Tapi makan bareng ya? Temenin mas," pinta Bagas sambil menggenggam tangan Farah yang masih bertengger apik di pundaknya.
Farah tersenyum senang---merasa bangga telah berhasil membujuk seorang Bagas Aryanaka. Ia tersenyum puas. Bukankah hal tersebut adalah tanda bahwa Bagas sudah benar-benar kembali mencintainya?
...****************...
RUMAH RANIA
Terdengar gemuruh guntur dan rintik deras hujan yang berjatuhan diatas genting rumah sederhana berlapis dinding biru yang mulai terkelupas. Suasana mencekam tergambar jelas meringkus tiga individu yang tampak sedang berbicara serius.
"Jadi, beneran bisanya minggu depan?" tanya perempuan berambut lurus hitam sembari menatap skeptis pada wanita menyebalkan yang tengah bersedekap dan terus menerus berpindah-pindah posisi karena merasa tak nyaman duduk pada kursi yang ia anggap keras dan murahan.
"Ck, IYA! minggu depan Farah baru berangkat ke Labuan Bajo!" teriak wanita bernama Suratih itu cukup keras. Tampaknya ia merasa jengkel karena sudah berkali-kali menjelaskan namun tetap saja tidak dipercaya oleh orang-orang yang telah menculiknya.
Mendengar Suratih yang dengan seenaknya berteriak, langsung membuat Sarah melotot dan menggebrak meja diantara mereka. "Hei! Diam! Sudah saya bilang jangan berisik. Thalia bisa dengar."
Suratih yang mendapat teguran itu hanya tersenyum miring, sungguh menyebalkan dan tampak pongah di mata Sarah. "Bagus dong, biar anak itu dengar, biar anak itu lihat kalo ibunya sedang melakukan tindakan kriminal," balas Suratih.
Tidak mau kondisi menjadi semakin kacau, akhirnya Rania memilih untuk mengalihkan perhatian keduanya dengan melanjutkan pembahasan mereka terkait rencana penyusupan Sarah sebagai ART di kediaman Aryanaka.
"Udah, udah. Kita lanjut aja," ucap Rania sebentar, sebelum kemudian melanjutkan.
"Jadi, mba Farah akan ada tugas relawan di Labuan Bajo minggu depan dan itu jadi kesempatan Mbak Sarah untuk melamar sebagai pembantu baru dirumah kalian. Tapi karena lagi ndak ada pembukaan lowongan, kita harus cari cara supaya mbak Sarah bisa diterima."
"Ya, tapi untuk jadi pembantu dirumah kami nggak gampang loh. Kualifikasinya ketat, saya ragu wanita jalang ini bisa masuk, hahaha," ejek Suratih kepada Sarah.
Raut masam kembali menghiasi wajah Sarah. Ternyata menjadikan sang mantan ibu mertua menjadi sandera mereka adalah sesuatu yang sangat sulit dan sungguh menguji kesabaran. Untung saja ia sudah terlatih dan cukup pintar dalam menghadapi situasi semacam ini, dimana orang-orang selalu menganggapnya remeh bahkan mencaci maki dirinya tiada henti. Sekarang, biarkan Sarah menunjukkan kemampuannya.
"Tapi saya punya ide tuh," ujar Sarah dengan senyum sinis-nya.
...****************...
KEDIAMAN ARYANAKA
Suasana pagi yang biasanya suram, kini semakin terasa ketika Farah telah meninggalkan kediaman Aryanaka untuk segera berangkat menuju Labuan Bajo dalam rangka melaksanakan kegiatan relawan sebagai tenaga kesehatan selama tiga bulan.
Para bawahan diantaranya yakni penjaga keamanan, bodyguard, pembantu, bahkan tukang kebun, kini tampak semakin menjaga sikap dan berhati-hati karena takut membuat tuan mereka marah. Raut wajah sang tuan akhir-akhir ini benar-benar kusut dan dipenuhi kekesalan. Sedikit samar kemarin karena masih ada calon istrinya, yaitu Farah. Namun sekarang, hanya nasib baik yang bisa para pekerja harapkan, semoga mereka tidak mendapat amukan dari sang tuan besar akibat Nyonya besar Aryanaka yang masih belum diketemukan.
Ah, namun hari ini sepertinya berbeda dengan asisten Bagas Aryanaka, yang dengan beraninya ia menerobos masuk ke ruang kerja sang bos tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Raska! beraninya kamu masuk tanpa salam ha? Cari mati kamu?!" bentak Bagas karena merasa terganggu dengan kedatangan sang asisten yang bersikap seenaknya.
Dengan napas tersengal dan dahi yang telah bercucuran keringat akibat berlari kencang naik ke lantai dua, Raska selaku asisten Bagas Aryanaka itu dengan cepat menjelaskan maksud kehadirannya yang tergesa.
"Mohon maaf tuan, maaf. Saya tidak bermaksud lancang. Namun, saya ingin memberitahu kalau Nyonya sudah pulang dan saat ini ada dibawah dengan keadaan baik-baik saja."
"SERIUS KAMU?!
"Serius tuan," jawab Raska yakin.
Selanjutnya mereka berdua pun segera turun ke bawah untuk menemui orang yang mereka telah cari selama ini.
"Bunda!"
Langsung saja ketika sampai, Bagas yang selama dua minggu ini murung dan diselimuti aura gelap nan menyesakkan---berlari masuk ke pelukan bunda-nya sembari terisak. Sungguh ia merasa sangat bersyukur akhirnya sang bunda telah kembali dalam keadaan selamat.
"Nak, Alhamdulillah bunda gak apa-apa. Bunda waktu itu mau dicelakai oleh musuh bunda, mereka bermaksud mendorong bunda ke laut hiks. Tapi untungnya ada orang baik yang menyelamatkan bunda dan merawat bunda sampai pulih," terang Suratih sigap setelah melihat anak lelakinya yang terus saja menangis.
Mendengar perkataan bundanya, Bagas pun terkejut. Ia tak menyangka bahwa sang bunda juga memiliki musuh, bahkan sampai melakukan tindak kriminalitas dan hampir menghilangkan nyawa bunda kesayangannya.
"Bunda, siapa mereka Bun? Biar Bagas kasih pelajaran. Berani-beraninya!"
"Sudah Bagas. Nanti saja ya, yang terpenting bunda selamat kan? Nah, untuk sekarang lebih baik kita balas budi sama penolong bunda dulu," pinta Suratih sambil mengelus pelan kepala sang anak.
Setelahnya, Suratih memanggil seseorang dengan cukup keras agar dapat segera bergabung bersama mereka.
"Masuk!"
Perlahan terdengar ketukan sepatu saling bersahutan, tanda ada orang lain yang sedang berjalan ke arah mereka. Semakin dekat, tampak seorang wanita dengan pakaian sederhana---hanya mengenakan rok plisket berwarna merah dan kaos panjang berwarna abu gelap serta rambut lurus yang terikat. Bagas mencoba tersenyum sekedarnya melihat sosok yang telah menolong sang bunda. Dilain sisi, ada Raska yang tampaknya sangat terkejut hingga tiba-tiba saja mengagetkan orang-orang disana.
"Loh, Bu Sarah?!"
"Sarah? Sarah siapa, Raska? Kamu kenal dengan dia, namanya Sarah? tanya Bagas heran. Raska pun tergagap pias setelah mendapat pelototan tajam dari Nyonya Suratih disana.
"Ti-tidak tuan. Maaf. Saya salah mengenali orang."
Kembali Suratih mengambil alih. Dengan senyuman yang kian terpancar, ia menarik pelan lengan perempuan yang baru datang itu agar mendekat kepada Bagas.
"Nak, perkenalkan dia Thalia. Dia yang sudah menolong, bahkan merawat Bunda selama ini."
Sebagai tanda perkenalan awal, Bagas pun menyodorkan tangan kanannya sembari memperkenalkan diri.
"Ah, halo saya Bagas Aryanaka. Salam kenal."
Dengan masih tertunduk malu, wanita bernama Thalia itu kemudian turut membalas jabat tangan dari lelaki yang memperkenalkan dirinya sebagai Bagas Aryanaka---putra dari Suratih Aryanaka itu.
"Salam kenal juga, saya Thalia."
Entah mengapa suasana disana malah berubah menjadi aneh. Jabat tangan nan hangat yang Bagas kira hanya sebagai bentuk formalitas semata, ternyata diam-diam merupakan awal dari sebuah tragedi kehancuran yang akan menimpanya di masa depan sebagai balasan atas pesakitan yang ia berikan terhadap anak dan istrinya sendiri di masa lalu.
"Akhirnya semua dimulai, bersiaplah Bagas Aryanaka!"