NovelToon NovelToon
Titisan Darah Biru

Titisan Darah Biru

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Dendam Kesumat / Ilmu Kanuragan
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Mahesa Sura yang telah menunggu puluhan tahun untuk membalas dendam, dengan cepat mengayunkan pedang nya ke leher Kebo Panoleh. Dendam kesumat puluhan tahun yang ia simpan puluhan tahun akhirnya terselesaikan dengan terpenggalnya kepala Kebo Panoleh, kepala gerombolan perampok yang sangat meresahkan wilayah Keling.


Sebagai pendekar yang dibesarkan oleh beberapa dedengkot golongan hitam, Mahesa Sura menguasai kemampuan beladiri tinggi. Karena hal itu pula, perangai Mahesa Sura benar-benar buas dan sadis. Ia tak segan-segan menghabisi musuh yang ia anggap membahayakan keselamatan orang banyak.


Berbekal sepucuk nawala dan secarik kain merah bersulam benang emas, Mahesa Sura berpetualang mencari keberadaan orang tuanya ditemani oleh Tunggak yang setia mengikutinya. Berbagai permasalahan menghadang langkah Mahesa Sura, termasuk masalah cinta Rara Larasati putri dari Bhre Lodaya.


Bagaimana kisah Mahesa Sura menemukan keberadaan orang tuanya sekaligus membalas dendamnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gerombolan Gagak Abang

"Apa itu, Pendekar Muda? "

Mahesa Sura segera tersenyum tipis sambil memajukan jari telunjuk dan jempol nya lalu digosokkan. Resi Manikmaya mengerutkan keningnya tidak mengerti.

"Aku masih tidak paham dengan maksud mu, Pendekar Muda. Katakan saja terus terang", kembali Resi Manikmaya bicara.

" Uang. Lihatlah betapa menyedihkan nya penampilan ku Pak Tua. Pakaian ku ini sudah hampir 10 tahun tidak berganti, sudah aus dimakan usia. Aku butuh uang untuk membeli pakaian baru biar tidak dipanggil dengan sebutan gembel lagi.

Bagaimana? Bisa kau memberikan nya? ", Mahesa Sura menatap wajah tua Resi Manikmaya. Senyum lebar segera terukir jelas di lelaki tua berpakaian seperti seorang pertapa itu.

" Masalah itu gampang, aku bukan orang miskin ", Resi Manikmaya menepuk-nepuk kantong kepeng perak di pinggangnya. Bunyi gemerincing kepeng perak beradu terdengar nyaring bunyinya.

" Baiklah kalau begitu. Tapi tunggu sebentar disini, Pak Tua. Aku akan segera kembali "

Setelah berkata demikian, Mahesa Sura langsung menjejakkan kakinya ke tanah lalu melesat seperti terbang di angkasa. Resi Manikmaya melongo melihat ini semua.

Tunggak masih asyik menggasak kelapa muda yang dipetik oleh Mahesa Sura. Tiba-tiba..

Jllleeeeeeggggg!!

Saking kagetnya, Tunggak berjingkrak dari tempat duduknya. Dia menoleh ke belakang dan melihat Mahesa Sura datang.

"Darimana saja kau, Sura? Ini aku sisakan kelapa muda untuk mu", tanya Tunggak segera.

" Jangan banyak tanya. Beresi barang-barang mu, kita harus bergegas ", Tunggak meletakkan kelapa muda nya lalu mengambil buntalan kain yang berisi beberapa potong pakaian miliknya. Mahesa Sura pun sama, segera mengalungkan buntalan kain ke punggungnya.

" Memangnya kita mau kemana sih? Aku kan...

Kyyaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!! "

Tunggak langsung menjerit ketakutan saat lengannya di tarik oleh Mahesa Sura lalu dibawa terbang. Sambil terus menjerit ketakutan, Tunggak berdoa pada Hyang Jagat Batara agar tidak jatuh.

Dalam dua tarikan nafas saja, Tunggak dan Mahesa Sura sudah sampai di tempat Resi Manikmaya berada. Kemunculan Mahesa Sura dan Tunggak yang tiba-tiba sontak membuat Resi Manikmaya kaget bukan main.

"Pertapaan Gunung Pegat ada dimana, Pak Tua? "

"Di barat daya, Pendekar Muda.. Jika berkuda, mungkin butuh waktu 3 hari perjalanan. Jika berjalan kaki mungkin butuh waktu sekitar 2 pekan", balas Resi Manikmaya atas pertanyaan Mahesa Sura.

Hemmmmmmm..

" Kalau begitu pakai cara ku saja.. ", ujar Mahesa Sura yang membuat Resi Manikmaya mengernyit heran. Tetapi hal berikutnya yang dilakukan oleh Mahesa Sura membuat lelaki tua itu langsung berteriak ketakutan.

Usai menghela nafas panjang, Mahesa Sura dengan cepat menggenggam tangan Resi Manikmaya dan Tunggak. Berikutnya ia langsung membawa mereka terbang ke arah barat daya. Kotang Antakusuma pemberian Nini Rengganis benar-benar ia gunakan saat ini.

Sekitar waktu sepenanak nasi, dari udara terlihat dua bentang alam mirip perbukitan menjulang sendiri diantara hutan lebat di sekitarnya. Sekeliling tempat itu nampaknya sudah menjadi persawahan dan ladang hingga terlihat gunung ini berdiri sendiri .

Sesuai petunjuk Resi Manikmaya, Mahesa Sura membawa mereka ke salah satu puncak Gunung Pegat dimana terlihat sebuah bangunan suci berdiri megah. Beberapa brahmana nampak sedang membaca mantra pemujaan untuk Dewa Siwa saat Mahesa Sura mendarat di halaman bangunan suci itu. Seketika hal ini membuat heboh semua orang yang ada di Pertapaan Gunung Pegat.

Seorang brahmana sepuh dengan janggut putih panjang yang mendengar suara ribut-ribut di luar, hendak melihat penyebab keributan ini kala seorang cantrik nya mendekat dengan wajah ketakutan.

"A-ada orang datang dengan terbang dari langit, Danghyang. Pakaian nya gelap seperti iblis.. "

"Mana ada iblis keluar siang bolong begini, Wugu. Aku tidak percaya. Ayo kita lihat.. ", gegas lelaki tua yang dipanggil dengan sebutan Danghyang Resi Siwamurti ini keluar.

Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Wugu cantrik nya. Orang ini terlihat seperti orang jahat yang menakutkan. Tetapi belum sempat Danghyang Resi Siwamurti bertindak, seorang gadis ayu berpakaian biru muda sudah lebih dulu menghunus pedang dan menerjang ke arah Mahesa Sura.

"Iblis laknat! Mati kau.. ", seru gadis ayu ini sambil mengayunkan pedang nya ke arah sang pendekar muda.

Resi Manikmaya segera menjauh dengan bantuan Tunggak. Dia yang masih megap-megap karena ketakutan dibawa terbang Mahesa Sura, tak bisa berkata-kata lagi hanya tangannya saja yang melambai lambai ingin menghentikan tindakan gadis ayu ini.

Shhhrreeeeeeeetttttt....

Mahesa Sura dengan santai berkelit menghindari serangan, hingga si gadis ayu ini merasa geram dan terus menerus memburu nya. Kesan ogah-ogahan meladeni serangan maut gadis ayu ini begitu kentara dari cara Mahesa Sura bertarung. Tetapi saat gadis ayu berbaju biru muda ini berhasil merobek bajunya, Mahesa Sura mulai terlihat kesal.

"Perempuan gila ini benar-benar menyebalkan! ", gumam Mahesa Sura seraya berkelit ke samping kanan saat tebasan pedang si gadis ayu berbaju biru muda ini mengincar lehernya.

Lalu dengan cepat, Mahesa Sura menotok pinggang gadis itu yang seketika membuat tubuh bagian bawah nya kaku tak bisa digerakkan. Ia langsung marah marah.

"Bajingan tengik, lepaskan totokan mu! Ayo kita bertarung secara jantan!! "

"Hei kau ini betina, bukan jantan. Bagaimana caranya agar kita bisa bertarung secara jantan hah?! Yang benar saja kalau bicara", mendengar jawaban Mahesa Sura, perempuan cantik ini semakin naik pitam.

" Kau.... "

Belum Mahesa Sura menjawab omongan gadis berbaju biru muda ini, Danghyang Resi Siwamurti mendekati mereka berdua. Lelaki tua ini sudah melihat bahwa pemuda berpakaian compang-camping ini bukanlah pendekar sembarangan dan jika sampai mereka mengadu kesaktian, hal ini bukanlah hal yang mudah. Lebih baik mencari jalan damai saja, pikir lelaki tua itu.

"Pendekar muda, kendalikan amarah mu. Putri ku Parwati memang suka terbawa emosi, mohon pendekar muda tidak ambil hati", ucap Danghyang Resi Siwamurti lemah lembut.

" Romo, kenapa bicara mu begitu sopan pada bajingan ini? Penjahat seperti dia, tidak pantas untuk dihormati ", potong perempuan ayu berbaju biru muda yang ternyata bernama Parwati ini ketus.

" Siapa yang penjahat hah? Kau yang penjahat, ibu mu penjahat, bapak mu penjahat dan semua keluarga mu adalah penjahat. Enak saja kalau bicara.. ", sahut Mahesa Sura sengit.

" Kau.. kauuu... "

"Parwati, cukup!! Apa begini cara aku mengajari mu tentang bersikap kepada tamu hah? Apa kau perlu merenung sambil membaca kitab puja Siwa seratus kali di ruang sunyi?! ", gertakan Danghyang Resi Siwamurti ini berhasil membungkam suara Parwati.

Membaca kitab puja Siwa seratus kali di ruang sunyi sama dengan harus dikurung selama 5 hari berturut-turut. Dan tentu saja Parwati tidak mau hal ini terjadi.

Setelah Parwati diam, Danghyang Resi Siwamurti langsung mengalihkan perhatiannya pada Mahesa Sura yang mana dari tadi hanya menatap omongan anak dan bapak ini.

" Pendekar Muda, maafkan sikap putri ku ini. Mohon jangan ambil hati.

Kalau boleh tahu, apa tujuan mu ke tempat kami?"

Mahesa Sura langsung menunjuk ke arah Resi Manikmaya yang masih berusaha untuk menenangkan diri di salah satu pojokan halaman pertapaan.

"Dia meminta ku mengantarkan nya kesini. Itu saja.. "

"Jadi kau tidak punya niat jahat pada kami? "

Mahesa Sura hanya menggelengkan kepalanya pelan. Melihat itu, Danghyang Resi Siwamurti menarik nafas lega. Melihat ketegangan antara kedua belah pihak telah mereda, Resi Manikmaya dengan langkah kaki sempoyongan dan dibantu oleh Tunggak, segera mendekati mereka.

"Jadi ini semua salah paham belaka. Dia Resi Manikmaya adalah kawan ku. Kami memang sudah ada janji untuk bertemu", ujar Danghyang Resi Siwamurti sambil tersenyum tipis.

" Tugas ku sudah selesai, Pak Tua.. Mana bayaran ku? ", Mahesa Sura mengulurkan telapak tangannya pada Resi Manikmaya.

" Tentu.. Tentu saja aku tidak akan lupa.. ", Resi Manikmaya segera meraih kantong kepeng perak di pinggangnya dan segera memberikannya kepada Mahesa Sura.

" Nah kalau begini kan enak.. ", gumam Mahesa Sura sambil menimang kantong uang dalam genggaman tangan nya.

" Eh Resi, dimana pasar yang paling dekat dari sini? Aku mau belanja pakaian untuk menggantikan pakaian lama ini.. "

Belum sempat Danghyang Resi Siwamurti menjawab, serombongan orang berpakaian merah datang dari sisi barat. Melihat mereka, Danghyang Resi Siwamurti mendengus dingin.

"Gagak Abang..!!

Mau apa kalian kemari? Bukankah anak ku Parwati tempo hari jelas mengatakan bahwa ia tidak bersedia menjadi istri mu hah.. ", teriak Danghyang Resi Siwamurti sembari memapak langkah orang orang berbaju merah ini.

Seorang lelaki berusia sekitar 3 dasawarsa, berkumis tipis dengan jambang lebat, bertubuh kekar dengan pandangan mata licik yang merupakan pimpinan orang orang berpakaian merah ini menyeringai tipis mendengar omongan sang pimpinan Pertapaan Gunung Pegat.

Dia adalah Gagak Abang, pimpinan gerombolan pengacau keamanan yang sering membuat resah para penduduk desa di sekitar Pertapaan Gunung Pegat dengan ulahnya yang sering memeras penduduk. Pemerintah Keling sebenarnya sudah berupaya untuk memberantas mereka tetapi entah bagaimana caranya mereka selalu bisa lolos dari sergapan para prajurit Keling. Ada desas-desus yang beredar luas di masyarakat Keling bahwa mereka punya dukungan dari orang kuat dalam tata pemerintahan negeri bawahan Majapahit itu.

"Tempo hari aku bisa menerima kenyataan bahwa putri mu itu menolak lamaran ku, Resi Siwamurti. Tetapi, penolakan nya membuat ku malu di depan anak buah ku.

Sekarang, aku minta kau serahkan putri mu baik-baik pada ku untuk ku jadikan istri. Jika kau menolak, maka akan ku buat Pertapaan Gunung Pegat ini rata dengan tanah..!! ", ancam Gagak Abang tidak main-main.

Saat hendak memerintahkan para pengikutnya untuk maju, Mahesa Sura yang baru melepaskan totokan nya pada Parwati, melangkah maju sambil berkata,

" Masih musim ya memaksa pernikahan?"

1
Kurniawan Sudrajat
mantap kang ebez
Windy Veriyanti
keberhasilan menumpas pemberontak 👊👊👊
Tarun Tarun
up
pendekar angin barat
selamat hari raya idul Fitri...maaf lahir dan batin
Batsa Pamungkas Surya
menang menang menaaaa@ng
saniscara patriawuha.
gasssssd polllllll maningggg manggg eebbEEzzzzzz....
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Nah gitu baru pejantan namanya Singhakerta klo berani duel satu lawan satu 👍
𝒯ℳ: kalo sultan pejantann apa nih
total 1 replies
Ali Khadafy
penasaran ama tawaran Larasati
Ali Khadafy
sekali-kai bikin cerita yg MC nya kocak to kang ebez biar ga tegang trs
🦋⃟ℛ⭐Wangky Tirtakusumah⭐🦋ᴬ∙ᴴ
Kapayunan ka Kang Ebez sareng para wargi sobat penggemar karya-karya Kang Ebez, abdi ngahaturan wilujeung boboran Iedul Fitri 1446H.
Mugi urang sadaya dipaparin kasalametan dunya sareng akherat, kabarokahan rizki sareng yuswana.
Aamiin. Yaa Robbal Aalamiin.. 🤲🏽🙏🌹💐
🦋⃟ℛ⭐Wangky Tirtakusumah⭐🦋ᴬ∙ᴴ: Sami-sami Kang Ebez. 🙏
Ebez: aamiin ya rabbal alamin Kang Wangky 🙏🙏
Nuhun nya 😁😁
total 2 replies
Windy Veriyanti
tinggal dua racun lagi yang ditumpas...
Ebez: hehehe assiiiaaaappp kak Windy 🙏🙏😁😁
total 1 replies
pendekar angin barat
selamat hari raya idul Fitri Thor dan semua pembaca
Ebez: hehehe terimakasih bang Pendekar 😁😁🙏🙏
total 1 replies
🗣🇮🇩Joe Handoyo🦅
Yang jelas bukan Dewi Sambi yang ngajarin Ajian Tapak Wisa 😁
Ebez: hehehe itu jelas bang Joe 🙏🙏😁😁
total 1 replies
saniscara patriawuha.
dengannnn tulisan yangg samaaa manggg eeBbezzzzz,,,
Ebez: apa itu kang Saniscara? 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Tarun Tarun
slmt idul Fitri jg kg ebez minal aidin wal fa idzin jg.
SMG upnya jgn di tunda trs
Ebez: hehehe iya bang Tarun 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Batsa Pamungkas Surya
rasakan pendeitaamu sisa murid dewi upas
Ebez: hehehe assiiiaaaappp bang Batsa 😁😁🙏🙏
total 1 replies
Windy Veriyanti
Dipati Kalang...kabut...musnah dari peredaran
Ebez: hehehe iya tuh kak Windy 🙏🙏😁😁
total 1 replies
pendekar angin barat
makasi kang
Ebez: sama-sama kang Pendekar 🙏🙏😁😁
total 1 replies
Ali Khadafy
penasaran ama gunung pegat,,,apa bener gunung pegat tu nama aslinya sejak dulu..ato nama baru karena di belah di jadikan jalan.
Ali Khadafy
waaahhh ini berarti Mahesa kakak seperguruannya si pincang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!