Sifa tidak pernah menyangka dengan nasib nya, ia harus menjadi Pengantin Pengganti, Kakak kandung nya sendiri yang tiba-tiba kabur di hari pernikahan nya sendiri.
Bagaimana Kisah nya.. hanya di Novel Pengantin Pengganti
Follow Me :
Ig : author.ayuni
Tiktok : author.ayuni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Cafe Sidewalk
Sita dan Sifa sedang bersitegang dan beradu mulut. Tidak menunggu lama Sifa langsung mencecar Kakak nya.
" Otak kamu dimana sih Kak ? Apa yang kamu lakuin itu bahaya banget, gimana kalo penyakit jantung Ayah kambuh, mau tanggungjawab kamu ?! Bagaimana dengan keluarga Mas Revan, kamu gak mikirin kesitu ! " ucap Sifa berapi-api.
" Dek, Kakak tau kakak salah, tapi tolong ngertiin posisi Kakak "
" Kak, Aku harus ngertiin posisi Kakak ? Tapi Kakak gak ngertiin posisi aku, gak mikirin hubungan Aku sama Novan sekarang kaya gimana " susul Sifa.
" Dek, Kakak minta maaf banget, aku kira pernikahan Kakak bakal dibatalin, Kakak gak nyangka kalo ternyata kamu yng diminta untuk mengantikan Kakak " balas Sita.
" Kalo Kakak gak kabur, aku gak bakalan kaya gini Kak, sekarang jawab sama aku, kenapa Kakak tiba-tiba kabur, Kakak kabur demi Leon ? Ck.. Parah ! " Sifa berdecak ia sangat tidak habis pikir dengan pikiran Kakak nya.
Sita terdiam, ia pun mengakui kesalahannya, mau bagaimana lagi nasi sudah menjadi bubur, semua sudah tidak dapat diulang, ia pun merasa kasihan kepada adiknya, ia yang harus menanggung semua karena kesalahannya.
Sungguh ia sangat benci keadaan seperti ini.
" Kamu kan tahu Dek, aku sama Leon sudah merencanakan pernikahan, banyak mimpi-mimpi aku sama Leon "
" Kakak pikir aku gak punya mimpi ? Sama aku juga punya mimpi sama Novan Kak, tapi mimpi itu semua hancur, karena siapa ? Karena Kakak ! Kakak lebih memilih laki-laki gak jelas seperti Leon dibandingkan Mas Revan yang sudah jelas masa depannya ! " ucap Sifa berapi-api.
" Lancang kamu ya Dek ! " Sita pun tersulut emosi, ia hampir saja menampar adiknya jika tangannya tidak ditangkis oleh Sifa.
" Kok kamu jadi nyalahin Kakak, salahin Ayah dan Ibu dong, itu karena mereka ! " susul Sita.
" Aku pulang ! Silakan Kakak urus hidup Kakak, kalau Kakak masih sayang Ayah dan Ibu, Kakak pulang ke rumah ! Dan perlu Kakak ingat, aku melakukan ini semua demi Ayah dan Ibu bukan demi Kakak ! " susul Sifa.
Sifa langsung beranjak dari duduknya ia pergi meninggalkan Sita sendiri, ia keluar cafe dengan emosi yang memuncak, setelah berada di tepi jalan, jalanan sudah sangat sepi, ia mencoba untuk membuka aplikasi angkutan online, lama tidak ada angkutan yang ingin menjemputnya nya.
Sekilas ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 23.20 malam, ia sedikit terhenyak, karena ini sudah malam sekali baginya, selama ini ia jarang sekali keluar hingga larut malam, karena saking emosinya bertemu Sita, ia sampai tidak sadar jika waktu sudah semakin larut.
" Tuhan.. Bantu aku.. Ini udah malam banget " batin Sifa, sambil terus mencoba memesan angkutan online melalui aplikasi.
Setelah menunggu lama, akhirnya ada satu ojek yang menerima pesanan nya, sekitar 15 menit menunggu ojek itu tiba.
" Dengan Mbak Sifa ? " tanya pengemudi ojek.
" Betul "
" Silakan Mbak, ini helm nya "
" Makasih "
Sifa menaiki motor, motor melaju menuju rumah Revan. Dalam perjalanan Sifa berdo'a semoga ia diselamatkan sampai rumah dan Revan tidak curiga.
Sesampainya di depan rumah Revan, Sifa langsung turun dan membayar ojek yang ia naiki, ia bersyukur ia sampai depan rumah dengan selamat.
Perlahan ia berjalan menuju teras rumah, mengeluarkan kunci lalu membuka pintu rumah dengan kunci yang ia bawa, ia masuk lalu kembali mengunci pintu rumah.
Sesaat setelah ia mengunci pintu terdengar suara bariton yang cukup mengagetkan Sifa.
" Ehem "
" Astaghfirullah " Sifa terperanjat kaget, ia membalikkan badannya melihat Revan sudah berdiri di hadapannya sambil melipat kedua tangannya di dada.
" Darimana kamu ? " tanya Revan.
Blash
Jantungnya serasa ingin copot, ia membulatkan matanya karena kaget.
" Darimana Kamu ?! " tanya Revan lagi dengan suara sedikit meninggi.
" Euu... I..itu.. Dari minimarket kan ? " jawab Sifa.
" Jangan bohong ya, kamu habis bertemu kekasihmu ? " tanya Revan lagi.
" Kenapa Mas Revan jadi mengaturku ? Bukannya Mas Revan menjunjung tinggi privasi ? Mau bertemu dengan siapapun itu hak ku " jawab Sifa lagi.
" Kamu lihat ini jam berapa ? Tidak pantas perempuan keluar malam-malam, kalau ada apa-apa denganmu, siapa bertanggungjawab sekarang ? Aku ! " susul Revan.
Ada benarnya ucapan Revan, Sifa terdiam.
" Kamu ingin tahu Aku bertemu dengan siapa ? " ucap Sifa.
Revan masih menunggu jawaban Sifa.
" Calon istri mu ! " Sifa langsung berjalan melewati Revan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
" Siapa calon istriku ? " tanya Revan meyakinkan.
" Kak Sita "
Blash
Revan masih pada posisinya, ia cukup kaget mendengar ucapan Sifa.
" Sifa bertemu Sita ? Ada apa ini sebenarnya ? Jadi sekarang Sifa tahu dimana keberadaan Sita " guman Revan.
Ia membalikkan badannya mengejar Sifa.
" Dek, tunggu.. Aku mau bicara " ucap Revan.
Sifa tidak menggubris, ia tetap berjalan tanpa memperdulikan Revan.
Saat Sifa akan membuka handel pintu kamarnya, Revan secepat kilat menghalangi Sifa.
" Jangan dulu masuk kamar, aku belum selesai bicara " ucap Revan.
Sifa menghentikan langkahnya, sambil melipat kedua tangannya.
" Jadi, kamu bertemu Sita ? " tanya Revan melemahkan suaranya.
Sifa mengangguk sekilas.
" Kamu tahu keberadaan Sita ? "
" Kalau aku tahu keberadaan Kak Sita, Mas Revan mau apa ? Mau menyusul nya ? " tanya Sifa menyelidik.
Revan dibuat bingung, dengan pertanyaan Sifa.
" Aku tidak tahu Kak Sita bersembunyi dimana, ia menemuiku hanya untuk memastikan pernikahan nya batal atau tidak, nyatanya pernikahan tetap berjalan walaupun mempelai wanitanya bukan dia " susul Sifa.
Revan terdiam.
" Permisi Mas, aku mau istirahat " ucap Sifa seraya kembali berjalan membuka handel pintu kamar.
Brugh
Pintu kamar kembali tertutup.
Revan masih pada posisinya, walaupun hatinya terluka, rasa cinta terhadap Sita masih ada, entah ia pun tidak mengerti padahal pertemuan keduanya cukup singkat, namun rasa itu datang begitu cepat.
Revan meninju angin lalu mengacak rambutnya, ia lalu berjalan menuju kamarnya.
Ingatan nya kembali kepada Sita. Jika waktu diulang dan seandainya ia diharuskan memilih, ia tetap akan memilih Sita untuk saat ini.
Revan sungguh dibuat gila oleh perasaan nya sendiri.
🌺🌺🌺
Jangan lupa dukung author ya, dengan vote, like & komennya ❤️