Gagal menikah dengan calon tunangannya tidak membuatnya putus asa dan tetap kuat menghadapi kenyataan.
Kegagalan pertunangannya disebabkan karena calon suaminya ternyata hanya memanfaatkan kebaikannya dan menganggap Erina sebagai wanita perawan tua yang tidak mungkin bisa hamil.
Tetapi suatu kejadian tak terduga membuatnya harus menikahi pemuda yang berusia 19 tahun.
Akankah Erina mampu hidup bahagia dengan pria yang lebih muda darinya??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fania Mikaila AzZahrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 6
“Andaikan gue sudah resmi menjadi istrinya sudah gue berikan pelajaran padanya karena berani-beraninya menyentuh milikku,”
Erina hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh perempuan yang tidak dikenalnya dengan calon suaminya itu.
“Ck… ck.. Dasar bocah punya pacar tapi menyanggupi permintaan dari orang-orang kampung duren tidak runtuh,” gumamnya.
Akmal tersenyum canggung karena diperlakukan begitu mesra oleh perempuan yang berstatus pacarnya.
Akmal mendorong tubuhnya kekasihnya itu karena tidak enak hati dengan Erina calon istrinya.
“Olivia! Gue mohon jangan seperti ini. Enggak enak dilihat orang, kita itu hanya pacar bukan suami istri jadi jangan berlagak seperti istri gue!” ketusnya Akmal.
Erina berjalan ke arah dalam sambil melirik ke arah Akmal,” selesain urusanmu dengan perempuan itu! Gue gak mau menikah dengan pria yang masih memiliki hubungan asmara dengan perempuan lain.”
Erina berjalan ke arah dalam warung itu kemudian memesan bakso karena dia sudah tidak sabar ingin menikmati makanan sejuta umat itu yang harganya murah meriah, tapi mengenyangkan perut.
“Sayang siapa perempuan itu dan apa maksud dari ucapannya?” Tanyanya Olivia.
Akmal menarik tangan pacarnya dan berjalan ke arah samping warung,” gue akan jelasin kepada Lo apa maksud dari ucapannya.”
“Sayang tanganku sakit, jangan cepat-cepat jalannya,” keluhnya.
Akmal berhenti setelah memperhatikan sekitarnya yang sudah aman dari pengunjung warung karena dia tidak ingin masalah pribadinya jadi konsumsi publik.
“Olivia, Maaf mulai detik ini kita putus, tolong jangan usik kehidupan gue lagi!”
Viona melotot terkejut bukan main mendengar ucapan dari kekasihnya.
“Gue ga mau putus denganmu! Gue itu sangat mencintaimu, tidak ada pria lain yang gue sukai selain kamu!” Teriaknya Olivia.
Akmal hanya tersenyum tipis,” gue sedari dulu tidak pernah mencintaimu. Gue setuju menjadi pacarmu karena gue kasihan sama Lo dan juga gue bosan melihat kamu terus mengikutiku kemanapun gue melangkah! Lo kira gue bahagia pacaran denganmu!?”
Sebenarnya sejak awal, Akmal tidak pernah mencintai Olivia hanya saja ia iba dan kasihan melihat perjuangan Olivia. Awalnya dia menyetujui permintaannya Olivia menjadi kekasihnya semata karena kasihan dan berharap bakal bahagia.
Tapi, tau-taunya bukan kebahagiaan yang dia dapatkan malah terkekang dan ruang geraknya terbatas. Olivia selalu bersikap cemburuan. Akmal paling tidak menyukai jika sedikit-sedikit kamu dimana, dengan siapa semalam berbuat apa. Intinya Akmal tidak menyukai kalau pasangannya itu terlalu posesif apalagi terkesan agresif.
“Jawabnya tidak karena gue sangat tertekan dan terbebani menjalin hubungan dengan gadis posesif seperti kamu. Semoga Lo paham dengan ucapanku!”
Akmal sejujurnya tidak menyukai sikapnya Olivia yang mirip dengan bocah SMP. Dia malah seperti cegil yang terus mengusik ketenangannya.
Olivia menangis histeris mendengar kejujuran dari Akmal,” tapi gue cinta mati dengan kakak!”
“Bulshit! Nggak ada yang namanya cinta mati didunia ini. Dimana-mana cinta itu saling melengkapi, saling menghargai dan saling mengerti. Tapi, selama gue coba jalan dengan Lo malah hidup gue seperti terkurung gak bebas melakukan apapun yang gue inginkan. Kamu selalu melarang gue ini itu!”
“Kakak gue sungguh-sungguh serius mencintaimu, apa gue gak pantas untuk menjadi kekasihnya kakak?” cicitnya Olivia.
“Maaf bukan masalah pantas atau tidaknya, tapi semua itu nggak bisa terjadi lagi karena gue bakal menikah minggu depan, jadi gue mohon dengan sangat mulai saat ini jangan ganggu hidup gue!”
Akmal segera meninggalkan Olivia yang semakin mengeraskan suara tangisannya. Dia tidak ingin percaya apa yang dikatakan oleh Akmal.
“Gue harus tau siapa perempuan itu? Apakah perempuan itu lebih cantik lebih baik dari gue,” tekadnya.
Erina menunggu kedatangannya Akmal padahal dia sudah tidak sabar ingin mencicipi bakso yang masih mengepul asapnya. Bahkan, aroma wangi racikan bumbunya seolah-olah menggoda dan melambai-lambai ingin disantap.
Akmal segera menjatuhkan bobot tubuhnya ke atas kursi plastik,” Maaf agak lama.”
“Selow saja! Lebih baik sekarang gue nunggu Lo lebih lama untuk menyelesaikan masa lalumu daripada harus berbagi suami dengan wanita lain,”
Akmal terdiam mendengarkan ucapan Erina,” apa Mbak sudah siap menjadi istri dari pria pengangguran kayak gue?”
Erina membantu membumbui kuah bakso yang ada di depannya Akmal,” siap gak siap wajib siaplah, daripada gue diarak massa telan**jang keliling kampung mendingan lah nikah dengan brondong ganteng kayak Lo.”
Erina kemudian menyantap baksonya, dia sesekali mengeluh kepedesan ketika menikmati kuah baksonya.
“Apa Mbak nggak merasa rugi kalau nikah dengan mahasiswa? Tau kan kalau gue belum punya pekerjaan,” ucapnya Akmal.
“Kalau masalah itu, nanti kita pikirkan yang terpenting penuhi wasiat dari orang-orang dulu. Lo enggak usah khawatir entar gue bantuin kalau masalah mencari pekerjaan yang paling penting Lo siap dengan pekerjaan apapun,” imbuhnya Erina.
“Gue itu jurusan pertanian mana ada pekerjaan yang cocok di ibu kota besar seperti Jakarta, Mbak! Mana sawah di kota besar metropolitan,” tukasnya Akmal.
Erina menepuk pundaknya Akmal,” Lo kira cuma di pedesaan ada kantor dinas pertanian apa!? Di kota juga banyak, gue bisa bantuin Lo kerja di sana.”
Akmal terkekeh ketika ditepuk oleh calon istrinya itu,” tapi, gue ingin mengembangkan potensi pertanian di kampung asalku.”
“Gampang itu, gue yang ngikut kamu tinggal di sana. Gitu saja kok repot,” ujarnya Erina tanpa beban.
Akmal menelisik raut wajahnya Erina,” gue bakal lihat apa dia sanggup menjadi orang kampung dan meninggalkan segala kemewahannya di ibu kota.”
Erina mengipas-ngipas bibirnya karena kuah bakso yang disantapnya membuat wajahnya memerah.
“Kalo gak sanggup makan yang pedes kenapa dipaksain,” oloknya Akmal.
“Gue ngiler banget lihat sambalnya yang merah merona itu, jadi gue ambil satu sendok ternyata woo rasanya luar biasa menggoyang lidah sampai bibir Jontor,” ujarnya sambil sesekali mengipas wajahnya yang kepanasan.
Akmal tanpa terduga menyeka keringatnya Erina yang menetes membasahi keningnya.
“Ternyata brondong pilihanku perhatian juga rupanya,” candanya Erina.
“Gue harus kudu perhatian sama Mbak yah meskipun kita nantinya menikah karena paksaan dan desakan dari orang-orang. Tapi kewajiban dan hak tetap harus dipenuhi dan gue tetap akan melakukannya sebagai seorang suami,” ujarnya Akmal.
“Kewajiban seperti apa maksudnya Lo?” Erina menautkan kedua alisnya.
“Mungkin traktir Mbak makan bakso asalkan jangan minta dibeliin mobil, emas berlian atau honeymoon keliling dunia saja insha Allah kalau yang lain masih bisa gue penuhin,”
Erina mencapit kedua pipinya Akmal,” unyu-unyu banget calon imamku insha Allah dunia akhirat.”
“Ish ish… Mbak gue ini bukan bocah digituin, malu tau sama orang-orang,” kesalnya Akmal yang tidak enak diperhatikan oleh orang karena ulahnya Erina.
“Hahaha! Ayo lanjutkan makannya kita harus ke studio untuk foto prewed sebelum dzuhur,” Erina kembali melanjutkan acara makannya.
Keduanya masih menyantap baksonya hingga tandas tak bersisa di dalam mangkok masing-masing.
Kedua pasangan calon pengantin itu kembali melanjutkan perjalanannya menuju salah satu studio foto. Meskipun cuaca cukup terik di siang bolong itu tidak menyurutkan semangat mereka.
“Mbak kalau selesai nikah gue kan libur dua mingguan apa Mbak setuju kalau kita ke kampung?” Teriaknya Akmal.
“Kalau cuma seminggu saja gue bisa kalau dua minggu gue gak bisa Lo kan tau kalau kerjaan gue banyak akhir-akhir ini,” ucapnya Erina yang mendekatkan wajahnya ke telinga Akmal.
Akmal sedikit geli karena daun telinganya dengan wajahnya Erina saling bersentuhan. Seumur-umur baru kali ini dalam posisi yang sangat dekat dengan lawan jenisnya. Dengan mantannya Olivia tidak pernah berboncengan.
“Mbak munduran sedikit boleh, gue geli soalnya,”
Erina bukannya menuruti perintah dari Akmal, ia dengan sengaja mengerjai Akmal dengan menggesek pipinya dengan cuping telinganya Akmal.
Hingga laju ban motornya oleng ke kanan kiri,” Mbak, stop!”
Erina tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya Akmal yang di matanya sangat lucu. Daerah paling sensitifnya Akmal itu adalah telinganya sehingga dia kegelian.
“Sorry! Gue sengaja soalnya.”
Akmal misuh-misuh sambil terus mengendarai sepeda motornya menuju ke alamat yang akan mereka kunjungi.
“Tapi, ngomong-ngomong ayah sama bunda kamu nggak galak kan?” Tanyanya Erina setelah kondisi laju kendaraannya membaik.
Akmal tersenyum smirk mendengar pertanyaan dari Erina sang polwan cantik itu.
“Kenapa emangnya kalau galak? Masa sih seorang polisi cantik harus takut sama rakyat biasa, bunda gue itu galak kayak macan betina,” ejeknya Akmal.
“Bukannya gue takut, tapi masa ada yang saingi sifat bar-bar dan galak gue,” ujarnya Erina.
“Lah gue kirain Mbak takut kalau ayah sama bunda, gue galak,” sangkanya Akmal.
Perjalanan mereka siang itu mereka lalui dengan canda tawa. Layaknya pasangan yang sudah lama bersama.