Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon adalah keempat CEO yang suka menghambur - hamburkan uang demi mendapatkan kesenangan duniawi.
Bagi mereka uang bisa membuat mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan bahkan seorang wanita sekalipun akan bertekuk lutut di hadapan mereka berempat demi mendapatkan beberapa lembar uang.
Sampai suatu hari Maxwell yang bertemu dengan mantan calon istrinya, Daniel yang bertemu dengan dokter hewan, Edric yang bertemu dengan dokter yang bekerja di salah satu rumah sakitnya, dan Vernon yang bertemu dengan adik Maxwell yang seorang pramugari.
Harga diri keempat CEO merasa di rendahkan saat keempat wanita tersebut menolak secara terang terangan perasaan mereka.
Mau tidak mau Maxwell, Daniel, Edric dan Vernon melakukan rencana licik agar wanita incaran mereka masuk ke dalam kehidupan mereka berempat.
Tanpa tahu jika keempat wanita tersebut memang sengaja mendekati dan menargetkan mereka sejak awal, dan membuat keempat CEO tersebut menjadi budak cinta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon si_orion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 6
Setelah diusir oleh Chelsea, mereka berdua pindah ke club langganan mereka. Para pria itu duduk melingkar di sudut VIP tempat mereka biasanya berkumpul. Namun tak hanya ada mereka disana, tentu saja ada para wanita yang menemani.
Para wanita itu dengan tak tahu malunya menurunkan baju mereka hingga menampilkan belahannya, bahkan dengan berani menaikan rok pendek mereka. Namun sayangnya, mereka berdua justru malah asyik bermain kartu sambil menghisap rokok maupun meminum alkohol mereka. Meskipun sesekali tangan mereka nakal meraba - raba para wanita tersebut.
mereka sedang tidak lengkap sekarang, dimeja bundar itu kini hanya ada Daniel dan Vernon saja. Edric masih terbaring dirumah sakit, sedangkan Maxwell, pria itu menghilang sejak tadi bahkan tanpa kabar.
Vernon memberikan isyarat melalui matanya untuk mengusir para wanita itu..
"Dimana Maxwell?" tanya Vernon celingukan mencari 'calon kakak iparnya' itu.
Bak mendengar panggilan 'calon adik iparnya', Maxwell muncul dan bergabung bersama teman - temannya dengan wajah yang tak bisa di deskripsikan.
"Kenapa?" tanya Daniel.
Maxwell menggelengkan kepalanya lalu meneguk habis alkohol di gelas Vernon yang masih penuh.
teman - temannya mengedikkan bahunya, kemudian melanjutkan permainan kartu mereka. Namun, bukannya ikut larut dalam permainan kartu, Maxwell justru terlihat sedang melamun.
"Max." panggil Vernon dijawab deheman oleh Maxwell yang masih asyik melamun.
"Aku memiliki penawaran menarik untukmu." lanjut Vernon.
"Apa?" tanya Maxwell tapi dari ekspresinya dia seperti tak tertarik.
"Aku memiliki unit penthouse baru, luas, mewah, memiliki 2 kamar, dan privasi tinggi. Dan lokasinya berada di tengah kota, dekat dengan unit apartemen dokter cantik itu. Oh, aku juga akan memberikan harga sahabat untuk proyek pembangunanmu di pinggir kota bagian selatan." ucap Vernon membuat teman - temannya terutama Maxwell mengernyit bingung.
Vernon tak pernah menawarkan bisnisnya, justru orang - orang yang akan mendatanginya. Vernon tak pernah dengan gratis memberikan hal - hal besar seperti itu, pasti dia memiliki suatu rencana.
"Lalu? Kau ingin aku menukar dengan apa semua yang kau beri itu?" tanya Maxwell masih dengan wajah tak tertariknya.
"Olivia."
Maxwell langsung memasang tampak galak ketika mendengar nama adiknya. Hei, apa Vernon berniat membeli Olivia? Sialan pria itu, Olivia bukan barang jualan. Sekali pun Maxwell pria brengsek, tapi dia tipe pria yang menyayangi dan menghargai keluarganya, meskipun panggilan Aron kepadanya adalah anak durhaka level 10.
"Adikku bukan barang, sialan." desis Maxwell tak terima, dia hendak memberikan pukulan pada rahang tegas Vernon tapi Daniel segera menahannya.
"Calm down, bro. Aku tak bermaksud untuk membeli Olivia. Aku hanya mengajukan kerja sama denganmu, kau mendapatkan apa yang aku tawarkan dan aku mendapatkan apa yang aku inginkan." jawab Vernon santai.
"Tiba - tiba kau menginginkan Olivia?" tanya Daniel di jawab anggukan oleh Vernon.
"Cih, padahal dulu kau sering mengejeknya." decih Maxwelll yang masih mengingat perlakuan Vernon pada Olivia dulu.
"Itu dulu. Aku tak tahu jika Olivia tumbuh menjadi gadis yang manis dan seksi." jawab Vernon.
"Kau menyukai dia saat penerbangan itu?" tanya Maxwell dijawab anggukan oleh Vernon.
"Holy shit! Aku menyesal menugaskan adikku saat itu. Jangan bilang-!" Maxwell kembali pada puncak amarahnya ketika pemikiran sampai pada pikiran Vernon telah menyentuh Olivia.
Vernon terkekeh. "Aku memang suka keluar masuk dengan para wanita. Tapi untuk Olivia, aku tak ingin sembarangan memasukinya. Aku harus memiliki izin dulu darimu."
"Oh, sayangnya aku tak akan pernah mengizinkanmu untuk itu." iawab Maxwell.
"Kau lupa dengan tawaran pertamaku? Luxury Penthouse yang dekat dengan unit apartemen dr. Pricilla." ucap Vernon misterius.
"dr. Pricilla?" pekik Daniel.
"Pricilla Noreen." sambung Vernon membuat pikiran Maxwell kembali melayang pada saat beberapa jam yang lalu, saat dia dan Pricilla berbicara di rooftop rumah sakit.
.
.
.
.
"He is your son." ucap Pricilla to the point begitu mereka sampai di rooftop rumah sakit
Setelah Pricilla melihat Maxwell tengah memandanginya dari jendela, dia langsung membawa pria itu menuju rooftop. Ini adalah pertemuan mereka setelah sekian tahun lamanya.
"Who?"
"Anak yang kau lihat tadi." jawab Pricilla.
Maxwell terperangah, tapi dia bisa segera tersadar lalu terkekeh.
"Benarkah?" tanyanya dengan ekspresi mengejek.
"Hem." jawab Pricilla, sedari tadi dia hanya berdiri menatap hamparan gedung, tak menengok pada Maxwell sedikit pun.
"Kau yakin dia anakku? Kau sudah melakukan tes DNA? Bisa saja kan itu adalah anak pancingan, anak orang lain yang kau gunakan untuk menjebakku? Oh atau dia adalah anakmu dari pria lain?"
Pricilla menghela nafasnya. "Aku tak peduli kau percaya atau tidak, aku hanya memberitahumu, bukan memaksamu untuk percaya."
"Sekalipun anak itu benar anakku, you know about me. Aku tak akan pernah menikahimu."
Pricilla kemudian berbalik menatap Maxwelll. "Aku tidak memintamu untuk menikahiku, tuan Maxwell yang terhormat. Lagipula aku tak ingin anakku memiliki Ayah yang brengsek sepertimu." ucapnya sebelum melangkah meninggalkan Maxwell, tapi Maxwell dengan cepat menahannya.
"Lalu kenapa kau memberitahuku?" tanya Maxwell.
Pricilla segera menghempaskan tangan Maxwell dari lengannya. "Supaya kau tahu bahwa benihmu telah tumbuh dan lahir dari rahim wanita yang merupakan 'mantan' calon istrimu."
"Kau tak ingin meminta pertanggung jawaban dariku? Oh tentu saja tidak, karena kau tak yakin siapa Ayah dari anak itu."
"Aku tak sudi meminta pertanggung jawaban darimu. Karena anakku terlalu suci untuk memanggilmu 'Ayah'" sarkas Pricilla.
"Kau hanya ingin menjebakku, bukan?" tanya Maxwell lagi.
Pricilla merotasikan bola matanya. "Terserah apa pemikiranmu. Yang penting aku sudah memberitahumu."
Maxwell menatap punggung Pricilla yang berjalan menjauh. Maxwell awalnya tak peduli, tapi sikap acuh Pricilla membuatnya penasaran.
"Dia bukan anakku, tentu saja. Mana mungkin wanita seperti dia hanya tidur bersamaku. Ya, Maxwell apa yang kau pikirkan, dia bukan anakmu." gumam Maxwell sambil terkekeh.
"Tapi tunggu, apa saat itu aku mengeluarkannya di dalam? Atau diluar? Aishh, kenapa kau memikirkan itu lagi. Tentu saja dia pasti mengkonsumsi obat pencegahan kehamilan, bisa saja kan anak itu anak dari pria yang mencampakkannya lalu menjadikanku kambing hitam karena kita pernah berhubungan." gumam Maxwell lagi.
"Iya, hahaha, Maxwell apa yang kau pikirkan, astaga." Maxwell menertawakan dirinya sendiri tapi setelah itu dia menyeringai.
"Tak mudah untuk menjebakku, cantik. Tapi sepertinya kau sendiri yang akan terjebak dalam jebakanmu." ucap Maxwell
***
Satu bulan setelah Edric dinyatakan sembuh total, Cade Corporations langsung mengadakan pesta perayaan anniversary yang sempat tertunda karena Edric yang sedang sakit.
Aula hotel luxury itu telah di sulap menjadi venue pesta yang elegan dan mewah dalam balutan warna gold. Edric berdiri tegap dan gagah menyambut para tamu. Sebagai pewaris tahta Cade Corporations, Edric begitu banyak dikagumi dan dielu - elukan. Selain karena ketampanan, tapi juga bakat dan tangan dinginnya yang begitu cekatan menjadikan dirinya masuk ke dalam Jajaran pengusaha muda yang sukses.
Setelah menyambut para tamu dan berbincang ringan, Edric memilih untuk mendatangi meja yang berisi teman - temannya. Disana tak hanya diisi oleh teman - temannya saja, tapi juga Olivia yang datang bersama Vernon.
"Kau benar - benar gila kerja, Edric. Bahkan setelah sehat pun kau langsung kembali ke pekerjaanmu." ucap Vernon.
"Kau terlalu gila kerja, sampai tak ada waktu bermain dengan wanita." sahut Daniel.
Di sisi lain, Maxwell masih memikirkan dan mendiskusikan tawaran Vernon dengan Olivia. Sebab bagaimana pun, Olivia menjadi objek tawaran Vernon sehingga Maxwell harus mendengar pendapat Olivia juga. Maxwell tak ingin menjual Olivia meskipun itu pada sahabatnya sendiri.
Namun, yang menjadi bahan utama pertimbangan Maxwell adalah lokasi penthouse yang Vernon tawarkan, sebab tawaran itu begitu menggiurkan baginya karena Vernon membawa nama Pricilla disana. Vernon seperti bisa membaca pikiran Maxwell saat ini yang sedang dalam kekalutan mengenai Pricilla dan anaknya.
Padahal Maxwell sudah meyakinkan diri bahwa anak itu bukanlah anaknya. Namun nurani sialannya terus mendorong Maxwell untuk peduli dan mencaritahu semua hal tentang mereka.
Dan objek yang menjadi bahan pikiran Maxwell dari tadi rupanya datang dengan seorang bayi di dalam gendongannya. Maxwell terkesiap melihat Pricilla yang tampak elegan dengan gaun berwarna hitam, sedangkan Zayden memakai suit berwarna senada dengan dress Pricilla. Bayi itu sangat menggemaskan.
"Hai, Pricilla."