Zean Sin adalah putri bungsu dari Tora Sin dan Sherly Lee. Menjadi putri kebanggaan Tora yang meneruskan pekerjaan ayahnya sebagai polisi. Wanita cantik itu sedikit tomboi, dan juga terkenal sangat usil. Ia akhirnya bisa membanggakan kedua orang tuanya dan sekarang bisa menjadi Brigadir Polisi.
Brian adalah seorang dokter tampan dan juga cerdas, ia juga putra dari dokter Jack sahabat dari Tora Sin. Dokter Brian dan Zean Sin bersahabat sejak usia mereka baru 6 tahun, keduanya dijodohkan keluarga sejak kecil. Namun baik keluarga Tora maupun keluarga Jack tak pernah memaksakan keduanya.
Persahabatan mereka harus terputus karena Brian kuliah kedokteran di luar negeri, sedangkan Zean Sin juga sibuk dengan tugasnya sebagai anggota kepolisian di Bandar Lampung. Keduanya akhirnya bisa bertemu kembali setelah Zean Sin ditugaskan di Jakarta dan dokter Brian bertugas di rumah sakit Jakarta.
Mereka juga akhirnya bisa berlibur bersama saat si kembar Sin, kakak Zean menikah di Amerika. Akankah persahabatan keduanya menjadi cinta dan bisa bersama selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketahuan Ae-Ri
Brian dan Zean akhirnya kembali ke rumah, Brian mengantarkan Zean ke rumah besar Sin. Keduanya masih sangat enggan berpisah walaupun mereka sudah sampai.
"Sepertinya, pesta kedua belum selesai. Mereka belum kembali." ujar Zean.
"Kau benar, tapi di rumah ada kak Ji dan istrinya kan?" tanya Brian.
Zean mengangguk. "Kak Ji dan eonni Ae-Ri tak hadir hari ini."
"Apa kau mau ke pesta?" tanya Brian lagi.
"Aku lelah, besok kita akan pulang. Aku butuh tidur yang cukup lama malam ini." jawab Zean.
"Aku hampir lupa perjalanan kita, baiklah." ujar Brian seraya keluar dari mobilnya dan membukakan pintu mobil buat Zean.
Zean keluar dari mobil itu, tapi tubuhnya langsung diperangkap ke badan mobil oleh Brian.
"Apa yang kau lakukan Bri? Aku tak ingin ada yang melihat kita." ujar Zean.
"Aku masih ingin bersamamu Zee." jawab Brian sambil mengelus pipi Zean. "Kau sangat cantik nona, aku tak menyangka bisa mendapatkanmu." sambungnya.
Zean terkekeh. "Kau berubah setelah menjadi kekasihku, mana Brian yang usil itu." godanya.
Brian maju, ia memperpendek jarak diantara mereka. "Kau ingin tahu Brian usil seperti apa? Ini dia..." ujarnya seraya mencium Zean kembali.
Zean terkejut tapi ia tak mau menghentikan sentuhan Brian saat ini. Di sisi lain, Ae-Ri terbelalak saat melihat Zean dan Brian berciuman. Ia sedang menikmati angin malam di balkon kamarnya, ia tahu Zean sudah kembali sejak tadi. Tapi ia tak menyangka, adik iparnya itu berciuman dengan sahabat kecilnya, itu yang ia dengar dari suaminya.
"Sedang apa kau sayang, udara semakin dingin?" tanya Jidan Sin.
Ae-Ri terkejut lalu segera mendorong suaminya masuk. "Aku hanya menikmati udara malam." jawabnya gugup.
"Kau kenapa?" tanya Jidan bingung.
"Ah tidak apa apa sayang, kau benar udara semakin dingin. Jadi untuk apa kau ikut keluar." dalih Ae-Ri.
"Egois sekali, aku hanya ingin ikut menikmati udara malam bersamamu." kata Jidan.
"Sudahlah sayang, apa kau sudah lapar?" tanya Ae-Ri.
Jidan mengangguk. "Aku memang ingin mengajakmu makan malam, tapi sebelum itu..."
"Cukup sayang, aku selalu kau buat lelah." potong Ae-Ri.
Jidan tertawa. "Aku hanya bercanda nona cantik, ayo kita turun." ajaknya.
Ae-Ri mengangguk, ia bernafas lega karena Jidan tak melihat adiknya tadi. Jika sampai Jidan tahu, ia pasti akan memaksa Zean menikah saat ini juga. Ia sangat tahu bagaimana Jidan sangat protektif pada adiknya, ia juga sangat membanggakan Zean setiap kali menceritakan tentangnya.
"Kau aneh sekali." ujar Jidan.
"Apanya?" tanya Ae-Ri.
"Sejak tadi kau melamun sayang, seperti ada sesuatu yang kau pikirkan." jawab Jidan.
"Tidak ada Ji, aku tak memikirkan apapun." kata Ae-Ri.
"Apa kau sudah merindukan keluargamu?" tanya Jidan.
Ae-Ri menggeleng. "Baru satu hari, dan besok kita akan berkumpul lagi di pesta ketiga."
Keduanya sampai di ruang makan, dan pada saat ingin mulai makan malam, Zean masuk ke rumah.
"Kemarilah anak nakal, kau seharian pergi tanpa mengabari kami." ujar Jidan.
Zean menghampiri mereka. "Malam kak Ji, eonni." ujarnya seraya mengecup pipi mereka.
"Kau bahagia sekali bu pol, apa sangat menyenangkan jalan dengan pria yang kau sukai." goda Jidan.
"Kakak... Aku tak menyukainya." jawab Zean.
Ae-Ri tersenyum. "Kau yakin." godanya.
"Eonni...kau malah ikut menggodaku. Nikmatilah makanan kalian, aku akan beristirahat sekarang." ujar Zean.
"Makanlah bersama kami Zean." ajak Jidan.
"Aku sudah makan malam kak. Selamat menikmati." jawabnya seraya meninggalkan mereka.
"Ada yang aneh dengan Zean." ujar Jidan saat adiknya sudah menghilang.
Ae-Ri hanya tersenyum. "Makanlah tuan Sin, aku tak ingin kau kelaparan."
"Tentu sayang, aku butuh tenaga untuk malam ini." goda Jidan.
Wajah Ae-Ri merona, ia melemparkan serbet pada suaminya. "Jangan mengubah suasana makan malam menjadi kotor tuan."
Jidan tertawa mendengarnya, ia senang sekali menggoda istrinya. Tapi ia memang semakin berhasrat jika bersama Ae-Ri, apalagi istrinya sudah tak merasakan sakit lagi. Ia akan terus melakukannya sampai ia benar benar puas. Keduanya menikmati makan malam mereka sambil menunggu kedatangan orang tua mereka juga Jordan dan istrinya kembali ke rumah.
*****
Zean sudah menarik selimut untuk tidur setelah ia mandi, tapi suara ponselnya berdering dan kekasihnya lah yang menghubunginya.
"Aku baru sampai sayang." ujar Brian.
"Kau kemana dulu, bukankah hotelmu dekat dengan rumah ini." kata Zean kesal.
"Aku bertemu wanita cantik di jalan, ia meminta tumpangan. Jadi..."
"Kau mau mati." potong Zean.
Gelak tawa terdengar dari balik ponselnya. "Apa kau cemburu nona cantik?" tanya Brian.
"Kau lupa, aku memiliki senjata api pak dokter." jawab Zean.
Brian kembali tertawa. "Kau polisi sayang, bukan pembunuh. Maaf aku hanya bercanda, aku tadi ke pesta kakakmu untuk menjemput papa. Aku bertemu orang tuamu dan mendapat omelan yang begitu banyak, apalagi tante Sherly. Ia tak berhenti bertanya kemana aku membawamu pergi." jawabnya.
"Mami keterlaluan, apa kau terganggu Bri?" tanya Zean.
"Tentu tidak Zee, aku sangat senang, mereka sangat menyayangimu. Itulah mengapa mereka khawatir. Kau sudah mau tidur?" tanya Brian.
"Aku bersiap untuk tidur. Mandilah, kau berkeringat." perintah Zean.
"Pasti, aku masih mengatur nafasku karena baru sampai." jawab Brian.
"Mengapa kau malah menelponku. Kau akan kehabisan nafas karena terus berbicara." ujar Zean.
"Kau ini, aku tak memberimu kabar apa kau tak akan merajuk." ejek Brian. "Dan aku merindukanmu." sambungnya.
Zean tertawa. "Senang mendengar seorang Brian merindukanku."
"Bukankah aku selalu mengatakannya saat berada di Inggris. Kau tak peka sama sekali." kata Brian pura pura kesal.
"Kali ini berbeda Bri, status kita berubah. Sudahlah, mandi sebelum semakin malam. Lalu segera tidur. Penerbangan kita jam 9 pagi." ujar Zean.
"Baik bu pol, selamat malam dan selamat beristirahat. Sampai bertemu besok sayang." jawab Brian.
"See you tomorrow..." jawab Zean seraya menutup ponselnya.
Zean mulai merebahkan tubuhnya, ia memejamkan matanya karena lelah. Baru saja ia terlelap, suara ayah dan ibunya membangunkannya.
"Kau akan membangunkan Zean, ia sudah tidur sayang." ujar Tora.
"Aku hanya ingin melihatnya pi, anak nakal itu benar benar hilang seharian ini." jawab Sherly.
"Kita bisa bertemu besok, kau juga harus beristirahat sayang." ujar Tora.
"Suara kalian sudah membangunkan aku." ujar Zean keluar dari kamarnya.
Ia menghambur ke pelukan ibunya. "Maaf mi, jangan marah lagi." ujarnya.
"Ingin sekali aku menghukummu sayang, kau membuat mami khawatir seharian." ujar Sherly.
"Mami lupa kalau aku seorang polisi, dan aku bersama Brian." jawab Zean.
"Bagaimana liburanmu, apa sangat senang?" tanya Tora.
"Tentu saja pi, aku sangat menikmatinya. Kalian pasti lelah, beristirahatlah. Dimana kak Jo dan eonni Aerum?" ujar Zean.
"Tamu hari ini benar benar banyak walaupun banyak yang kecewa karena tak bertemu Jidan. Kakakmu Jo dan istrinya sangat kelelahan, mereka langsung ke kamarnya. Kau juga beristirahat, besok kau akan melakukan perjalanan jauh sayang." jawab Sherly.
Zean mengangguk, ia mencium pipi ayah dan ibunya seraya pamit kembali ke kamarnya. Sherly bisa bernafas lega setelah melihat putrinya.
"Apa kau sudah puas sekarang?" tanya Tora.
Sherly mengangguk. "Zean terlihat sangat bahagia, apa ada yang terjadi diantara mereka?".
Tora mengangkat bahunya. "Sudahlah, ayo kita beristirahat." ajaknya.
Sherly mengangguk dan kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.
*****
Happy Reading All...😘
Semangat 👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
The Sin Series...
Love you Thor 👏🏻👏🏻👍🏻👍🏻🙏🏻🙏🏻
tp kalau berdebat adu argument pria pasti menang🤭
karna perempuan harus nurut Ama suami
jd polisi kan ada tes kejiwaan, mana bisa jd polisi kalau labil kayak gitu😠😠