Hutang budi karena pernah ditolong, seorang pria kaya berjanji akan menikahkan putrinya kepada pemuda bernama Kosim anak orang miskin yang menolongnya.
Di lain pihak istri seorang kaya itu tak setuju. Dia tak rela bermenantukan anak orang miskin dengan rupa kerap dicemooh orang desa.
Namun sang suami tak mau ingkar janji, ia menyebut tanpa ditolong orang miskin itu entah bagaimana nasibnya mungkin hanya tinggal nama.
Akhirnya sang istri merestui namun dalam hatinya selalu tumbuh rasa antipati kepada sang menantu, tak rela atas kehadiran si menantu orang miskin yang buruk rupa.
Bagaimana jadinya? Ya, "Mertua Kaya Menantu Teraniaya."
Lebih rincinya ikuti saja jalan ceritanya di buku kedua penulis di PF NToon ini.
Selamat membaca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fendy citrawarga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Tiga Tamparan Mendarat di Wajah Yani
Akhirnya Yani membuka pintu kamarnya. Belum juga tubuhnya keluar kamar, tangan ibunya sudah terlebih dahulu menjemputnya untuk menarik lengan Yani agar segera keluar.
"Kurang ajar kamu berani-beraninya melawan wanita yang telah melahirkanmu, hah?" sungut Amih Iah sembari menarik kasar tubuh putrinya di bawa ke ruang tamu.
"Sakiiiit....Bu, sakiiiit!" teriak Yani.
Teriakan itu sampai juga ke telinga Kosim yang masih berada di langit-langit para. Mendengar teriakan sang istri, Kosim ingin segera turun dan membantu sang istri.
Akan tetapi, mengingat situasinya yang belum memungkinkan terutama takut diketahui Amih Iah dan itu pasti akan lebih merepotkan, maka Kosim pun masih berada di atas langit-langit para rumah.
"Duduk!" hardik Amih Iah sesampainya di ruang tamu.
Kosim mendekatkan mata ke lubang kecil bekas tadi ngintip pembicaraan Amih dengan si Johar. Tampak Yani duduk di kursi dengan wajah terisak menahan tangis.
Hati Kosim benar-benar trenyuh, sedih, tak dinyana seorang ibu tega memperlakukan putrinya dengan amat kejam hanya karena harta. Padahal kurang apa harta kekayaan yang dimiliki Pak Haji Soleh. Untuk ukuran orang desa boleh dikatakan nomor dua setelah bapaknya si Johar.
Kosim benar-benar tak tega melihat istrinya teraniaya oleh ibunya sendiri. Dia pikir tidak apa-apa dirinya teraniaya oleh ulah mertuanya, tetapi jangan sampai berimbas kepada istrinya yang hanya seorang perempuan.
Ada pikiran Kosim untuk menyudahi rumah tangga dengan Yani jika Yani terus ikut teraniaya gegara dirinya. Namun tentu tak semudah itu.
Amih Iah pastinya akan menyambut baik jika Kosim bersedia menceraikan Yani. Akan tetapi tidak demikian dengan Pak Haji Soleh dan ibunya Mak Sutiah, pasti keduanya takkan mengizinkan.
Akhirnya Kosim hanya mampu menengadah tangan kepada Yang di Atas, semoga diberi jalan terbaik dalam mengarungi rumah tangganya bersama Yani.
Tak lupa pula Kosim memohon agar mertua istrinya diberi hidayah ke jalan yang benar, tidak kemaruk oleh harta benda melimpah karena harta suaminya pun sudah begitu banyak.
"Kenapa tadi kamu pergi dari sini ketika ada Den Johar, hah? Dia itu pemuda tampan, idaman setiap wanita, anak orang kaya, dan dia terang-terangan menyatakan cintanya hanya untukmu, akan bersabar menunggumu biar jadi janda dari si anak orang miskin, si tikus besar itu!" koar Amih Iah.
Dan plak, plak, plak, tiga buah tamparan mendarat di pipi Yani, sang putri yang telah dilahirkan dari rahimnya. Yani tak melawan, dia hanya menungkup wajahnya dengan kedua belah telapak tangannya agar sang ibu menghentikan aksi barbarnya.
Akan tetapi, alih-alih menghentikan aksinya, Amih Iah menjambak rambut Yani dan membedol jilbab yang tengah dikenakannya. Entah setan dan iblis mana yang telah merasuki jiwa Amih Iah.
"Tak berguna kamu mengenakan hijab, tetapi akhlakmu buruk pada ibumu, Yani! Aku menyesal telah melahirkanmu!" koar Amih Iah, sambil menjambak kembali rambut putrinya,
"Astagfirulahalazhim........" Kosim mengelus Dada, tak dinyana Amih Iah yang notabene seorang yang berpredikat hajah berani mengatakan menyesal telah melahirkan putrinya.
"Dengarkan ya Yani. Pokoknya kamu harus segera meminta cerai dari si anak miskin, si tikus besar itu, kalau kamu ingin mendapat rida dari ibumu. Ingat, rida Tuhan ada pada rida orangtua, terutama ibumu. Jadi kamu harus ingat, jika kamu terus berumah tangga dengan si tikus besar itu, maka selamanya kamu tidak akan bahagia. Oleh karena itu, mungpung belum telanjur sengsara, segeralah dari sekarang kamu meminta cerai!"
Panjang lebar Amih Iah menceramahi Yani. Namun Yani tak mengiyakan. Tampaknya Yani masih bingung, sikap yang kerap ia rasakan selama ini, yaitu takut durhaka kepada orangtua terutama ibu dan ingin tetap mempetahankan rumah tangga dengan Kosim.
"Ngomong kamu, ngomong! Kamu akan menuruti keinginan wanita yang telah melahirkanmu, kan?" ujar Amih Iah sambil mendongakkan wajahYani agar menatapnya dan berbicara mengiyakan keinginan dan harapan ibunya.
Yani akhirnya mendongakkan wajah dan menatap tajam wajah ibunya sehingga Amih Iah seketika terkejut.
"Tidak! Tidak! Aku tidak mau mengkhianati pertikahan. Ingin tetap bersatu dengan Kang Kosim walau hidup sengsara, tak banyak harta. Lagian ini amanat dari bapak yang jelas-jelas diselamatkan nyawanya oleh almarhum bapak mertua," ujar Yani, tiba-tiba punya keberanian.
Tampaknya Yani sudah tak takut lagi dengan tamparan tangan kasar ibunya. Bahkan jika harus sampai meregang nyawa jika ibunya nekat membunuhnya, Yani sudah siap.
Sementara Kosim seketika mengusap air matanya yang tiba-tiba meleleh mendengar penuturan istrinya yang sedemikian mengharukan. Dia berjanji akan membalas perlakuan kasar mertua terhadap istrinya. Biarlah dia yang dimarahi dan dipukuli bahkan dibunuh, tapi jangan istrinya.
Kosim pun berjanji akan setia terhadap Yani apa pun badai rumah tangga yang menimpanya.
Keikhlasan dan pengorbanan menghadapi sikap kasar ibunya suatu saat harus Kosim balas dengan kebahagiaan sang istri dan anak-anaknya jika Tuhan mempercayainya punya keturunan, seperti kerap yang selalu dikatakan Pak Haji Soleh, kapan katanya Yani hamil.
Kalau Pak Haji bertanya seperti itu, Yani suka memandangi sang suami. Tentu pandangan untuk meminta jawaban terbaik bagi bapaknya dan Kosim selalu mengatakannya mungkin belum dititipi momongan oleh Tuhan.
"Mugkin karena melihat bapaknya belum bisa membahagiakan ibunya, kakek dan neneknya, si utun (bayi, Sunda) ogah-ogahan nongol, Pak," ujar Kosim sembari tersenyum.
"Iyalah semoga kalian segera punya bekal untuk berumah tangga secara mandiri, tanpa mengandalkan orangtua walaupun aku kata orang-orang disebut orang kaya. Bapak doakan semoga cita-cita kalian tercapai," ujar Pak Soleh dengan sangat bijak.
Pak Soleh sungguh mengapresiasi niat Kosim ingin hidup mandiri karena itu akan menjaga marwah harga dirinya sebagai seorang suami.
Dan memang apa yang dilakukan Kosim itu sejalan dengan nasihat ibuya, Mak Tiah, untuk melawan mertua wanitanya yang arogan dan kemaruk harta adalah Kosim harus mampu mandiri meski dengan hasil usaha mencari nafkah yang tidak seberapa.
Nasihat itu benar-benar dipegang teguh oleh Kosim. Walaupun belum bisa dilaksanakan sepenuhnya karena kini dia masih menghargai Pak Soleh agar tinggal dulu di rumahnya.
Pak Solehlah yang selama ini menanggung risiko hidup Kosim dan istrinya namun dengan bekerja. Kosim tak mau menerima pemberian dari bapak mertuanya tanpa keluar keringat terlebih dahulu.
Apa saja bisa dilakukannya, entah di sawah, kebun, kebun sayuran, pabrik huller, ada dua buah di ujung desa sebelah selatan satu dan satunya lagi di ujung desa sebelah utara.
Sebenarnya takkan kekurangan biaya hidup dengan mengelola harta kekayaan Pak Soleh. Pak Soleh sendiri akan senang hati kekayaannya digarap langsung oleh sang menantu yang "hampang birit" (peribahasa bahasa Sunda yang artinya orang yang ringan diperintah bekerja apa pun).
Akan tetapi lain halnya dengan ibu mertuanya yang sangat bertolak belakang dengan Pak Haji. Jangankan mengurus harta kekayaan, diam di rumah pun rasanya Amih Iah jijik melihat Kosim.
Itulah sebabnya Kosim berniat suatu saat pergi dari rumah mertuanya dan akan mengajak istrinya pergi jauh, mungkin ke kota mengadu nasib untuk mengubah jalan hidupnya agar tidak dihinakan oleh orang lain terutama mertua perempuannya.
Sampai Kosim rela berkorban yang mungkin berlebih-lebihan selama setahun ini, yakni takkan dulu menggauli istrinya sebelum mempunyai pekerjaan layak hasil keringat sendiri.
Alhamdulillah sang istri menyetujuinya. Tentu itu pun meupakan pengorbanan istrinya yang bukan hal enteng-enteng. Yang namanya nafkah lahir dan batin suami-istri itu sama pentingnya.
"Apa kamu bilang?" Amih Iah benar-benar murka mendengar jawaban Yani.
Dia pun lantas mengangkat tangan kembali akan menampar wajah putrinya. Akan tetapi tiba-tiba tangan Amih Iah ada yang mengcengkeram cukup kuat.
"Hentikan!!!!!!"
(Bersambung)