Kecubung Biru hanya bisa menatap getir. Akan Bumi Menoreh yang membara.
Diantara pertikaian ayah dan pamannya, Pulung Jiwo dan Ronggo Pekik.
Juga mesti membantu perjuangan Diponegoro dalam melawan Kumpeni.
Perang ini mesti mengabaikan segala kepentingannya, asmara yang membara dan kesehariannya yang sunyi, untuk dilewatkan bersama kepingan dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon C4703R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulung Jiwo terluka 2
Kecubung Biru berteriak nyaring melihat ayahnya jatuh. Tak bisa berbuat banyak hanya air mata yang menggenang. Tapi kemudian dia kemudian melemparkan tombaknya. Dan mengenai tubuh musuh yang melukai ayahnya. Orang itu langsung terjungkal. Kemudian dia memburu ayahnya. Untuk memberikan pertolongan.
“Ayo mundur!“ ujar Ronggo Pekik. Dia merasa kalau perlawanan kali ini bakalan sia-sia. Dan hanya akan menghabiskan banyak korban nantinya. Apalagi melihat rekannya juga sudah lemah akibat luka.
“Tapi.....“
“Kau memang ngeyel!“
Pulung Jiwo masih kebingungan menghadapi kenyataan itu. Antara melindungi sang anak menahan sakit lukanya atau untuk terus menewaskan musuh agar masih bisa bertahan hidup. Sementara musuh terus berdatangan. Kumpeni terus mendatangkan bala bantuan. Teman-temannya sudah banyak yang tewas. Melihat hal itu, Paman Ronggo Pekik terus menyuruh mundur. Dia sendiri sibuk melakukan perlawanan, namun dia berhasil menewaskan banyak orang dari pihak musuh. Sedangkan Pulung Jiwo kali ini terus merintih kesakitan. Perutnya terus mengeluarkan darah. Dia semakin lemah dan hampir tak bisa berbuat banyak dalam usaha menjatuhkan lawan. Kecubung Biru berusaha membantu ayahnya.
“Ayo Layung!“
Ronggo Pekik menyuruhku untuk meninggalkan tempat tersebut.
“Aku kasihan pada paman Pulung Jiwo, dia terluka, nampaknya memerlukan bantuan.“
“Dia ngeyel. Susah dibilangi. Mundur saja,“ ujar Ronggo Pekik yang nampaknya mengkhawatirkan nasib kita semua nanti. Kalau disitu terus bakalan terkena banyak masalah. Untung kalau cuma luka. Jika sampai tewas, maka akan terhenti perjalanan perjuangan ini nanti.
“Tapi... “
Aku masih termangu-mangu. Namun berikutnya dikejutkan dengan suatu yang tak terduga.
“Kecubung Biru awas!“
Ronggo Pekik menyeret Kecubung Biru.
“Bapak.... “
Kecubung Biru berteriak sembari meronta-ronta.
“Ronggo, lepaskan mau kau bawa kemana dia!“
Pulung Jiwo mencoba meraih tubuh anaknya. Namun sakitnya menghambat perjalanannya.
“Alah biar dia kubawa. Kau mau mati,“ kata Ronggo sembari menarik Kecubung Biru.
“Ronggo....”
Kecubung Biru sendiri terus meronta-ronta. Dia mencoba melepaskan diri dari tarikan Ronggo.
Berikutnya mereka tak terlihat. Menghilang dibalik ruimbunnya pepohonan.
Aku mendekati Paman Pulung Jiwo. Dan membantunya berdiri, berlari, berikutnya mundur dahulu. Mencoba mengejar Kecubung Biru yang sudah jauh.
Kita lari sudah lumayan jauh. Kemudian beristirahat. Meletakkan Pulung Jiwo di suatu tempat yang lumayan nyaman.
“Kecubung Biru. Dimana Ronggo membawanya,“ ujarnya masih memikirkan sang anak. Namun tangannya memegangi luka dan nampak mulutnya merintih kesakitan.
“Nanti kita cari paman. Biar paman istirahat dulu,“ ujarku mencoba menenangkan. “Biar aku mencari air disekitar sini. Dan mungkin obat-obatan agar lukanya cepat sembuh.“
Dia hanya terdiam. Dan aku berlalu.
Dibawah pohon diantara bebatuan kapur, Pulung jiwo mencoba memulihkan diri. Dia menaruh dedaunan obat pada lukanya. Hasil aku mencari daun obat itu. Diantara kunyahan air liurnya sendiri yang mungkin bisa menyembuhkan. Ditaruhnya obat itu. Kemudian membalut lukanya dengan sobekan kain. Lalu membiarkannya, dan mencoba lelap, mencoba melupakan rasa sakit itu.
Lumayan kali ini bisa beristirahat.
Hampir tanpa gangguan.
Aku bersandar di bebatuan sembari membersihkan pusaka, pedang pemberian ayah dulu. Sembari mengawasi sekeliling. Siapa tahu musuh ada didekat situ.
Hingga lupa segala yang terjadi.
Berikutnya, aku terjaga. Rupanya lumayan lama tertidur. Kulihat paman Pulung Jiwo masih lelap. Aku membiarkannya. Biar dia istirahat. Sampai rasa lelahnya pulih. Dan sakitnya perlahan menghilang.
Kulihat dia menggeliat, terbangun.
sejauh mana mengerti detilnya Thor 🤗🤗🙏🙏 ada yang ingin saya ketahui
Kutunggu kedatangan kalian
Terima kasih