Celine, seorang mahasiswi cantik yang kabur dari rumah karena ingin menghindari perjodohan yang telah direncanakan oleh Ayahnya. Selama pelariannya, ia bertemu dengan seorang laki-laki dengan tingkah laku yang nakal, bernama Raymond. Dan ternyata Ray adalah Dosennya dikampus.
"Kak Ray lo jangan berani macam-macam ya sama gue." Celine.
"Bibir lo itu selalu menggoda gue, tau nggak?" Raymond
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RizkiTa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, Celine masih terlihat celingak celinguk di tempatnya. Di meja sembilan, tempat Celine menumpahkan bir ada dua orang lelaki yang sedang memandang ke arahnya dan menjadikan gadis itu sebagai topik obrolan mereka.
"Anak baru tadi, siapa namanya?" Tanya Raymond pada Erick setelah meneguk minumannya.
"Celine namanya, tapi kayaknya nggak bisa di pake bro, lugu banget, lo liat tuh. Nunduk terus kayak orang nggak ada rasa percaya diri, padahal ... "
Mereka berbicara sambil tetap memandang Celine dari kejauhan.
"Cantik," sahut Raymond.
"Gue jadi penasaran," lanjutnya. "Serius lo pingin nyoba yang polos gitu?" Tanya Erick.
"Iya ... tapi kayaknya harus pendekatan dulu."
Di balik bar tender, Celine terlihat sedang fokus menatap layar ponselnya, sejak jam sebelas tadi Pandu mengirimnya begitu banyak chat dan baru sempat ia lihat sekarang.
"Oh ya ampun Pandu, untung dia nggak nelpon." ucapnya sambil jari-jarinya mulai membalas chat lelaki itu. Terpaksa Celine berbohong tentang dimana keberadaannya. Ia tak mau sahabatnya itu mengetahui pilihan gila yang ia lakukakan saat ini.
"Woy Cel, lo di panggil Erick tuh!" terpaksa Eva menyenggol lengannya karena sedari tadi ia memanggil Celine namun tak ada respon karena ia fokus pada ponselnya.
"Ya? oh iya ... gue kesana sekarang." Mata Celine tertuju pada meja sembilan, meski ragu untuk melangkah tapi itu harus ia lakukan. Seperti biasa sambil berjalan ia menunduk, dan akhirnya tiba di meja sembilan. Dua lelaki itu masih membicarakan dirinya.
"Ada yang mau kenalan sama lo," Perlahan Celine mengangkat kepalanya.
Kenalan?
"Hai, gue Raymond." Ray menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Celine. Entah mengapa saat itu perasaannya sangat lega, bersyukur. Dosen killer itu ternyata sama sekali tak mengenalnya. Wajar saja, begitu banyak mahasiswinya tak mungkin Raymond hafal satu persatu wajah dan nama-nama mereka.
Celine menyambut tangan lelaki itu, "Celine." jawabnya singkat dengan senyum tipis.
"Gue tinggal ya," Erick beranjak dari kursinya menjauh dan meninggalkan mereka berdua.
Apa-apaan ini? Batin Celine.
"Santai aja, jangan gugup. Gue nggak akan nerkam lo disini, kok." setelah mengatakan itu, Ray tersenyum penuh makna.
"Boleh gue tanya-tanya tentang lo?"
"Maaf mau nanya apa ya?"
Celine yang sedari tadi mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kini fokusnya teralih pada lelaki dihadapannya. Ganteng, ber alis tebal. Jika di kampus Celine hanya bisa melihatnya dari kejauhan, kini wajah itu terlihat jelas meski dengan cahaya yang remang-remang ala bar.
"Alasan lo kerja disini?" Sambil menuangkan kembali minuman dari botol ke gelas.
"Butuh duit, emang ada alasan lain selain itu?" Sejujurnya Celine kesal dengan pertanyaan yang di lontarkan lelaki itu, ya anggap saja lah Ray hanya basa basi.
"Ada, buat senang-senang." sahut Ray.
"Tapi beneran bukan buat senang-senang, cuma butuh duit." jawab Celine tegas. Ia sudah pasrah bagaimana nasibnya nanti ketika bertemu Ray di kampus. Lelaki itu juga pasti akan terkejut, jika mengetahui bahwa Celine adalah salah satu mahasiswinya.
"Iya tau, keliatan dari muka lo tertekan banget kayaknya." Ray menertawakan Celine dengan seringai mengejek.
Celine mengumpat kesal dalam hatinya, sebenarnya ia mau apa sih?
"Lo butuh duit berapa?" Ray mengambil ponsel dari sakunya. "Kenapa nanya-nanya, emangnya Bapak mau ngasih saya uang?"
"Lo manggil gue dengan sebutan Bapak? gue nggak setua itu, cantik." Ray mulai memberanikan diri memegang dagu Celine, segera ia menepisnya.
"Oke saya ubah panggilannya, tapi tolong jangan sentuh saya, Kak." titah Celine setengah memohon.
"Terserah lo aja, mau manggil apa. Gue mau ngasih penawaran sama lo, berhenti bekerja disini. Gue biayai hidup lo tapi dengan satu syarat."
"Satu syarat? apa itu?" Celine mengeryitkan dahinya heran, sungguh diluar dugaan. Ingin menawarkan biaya hidup untuknya tapi dengan syarat.
"Iya, jadi wanita gue." Jawabnya singkat dan begitu jelas.
"Hah?" Celine tak menyangka, syarat seperti apa itu. Tentu saja ia akan menolak, lebih baik bekerja siang malam dari pada jadi wanita simpanan.
"Tenang lo bukan wanita simpanan kok, gue juga belom punya istri." Seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran Celine. Dan menjawab semua yang ada dibenak gadis itu.
"Maaf, saya nggak bisa." Celine melirik ke arah jam tangannya, masih jam dua. Berharap waktu cepat berlalu dan ia bisa segera pulang ke kos, meninggalkan tempat ini, meninggalkan Ray. Segera Celine beranjak, "Lo pikir-pikir lagi deh, mending ngelayani satu orang yang sama atau orang-orang yang berbeda setiap malamnya?" Langkah Celine terhenti, matanya membulat mendengar itu.
Melayani? mendengarnya saja sudah membuatnya merinding apalagi menjalaninya.
Oh Tuhan, tolong lah. Celine mereemas lengannya sendiri, kemudian benar-benar pergi meninggalkan meja itu. Meninggalkan Ray yang tertawa karena tingkahnya, seolah merendahkan dirinya.
-------------
Jangan lupa pencet likenya ❤