Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.
Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.
Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.
Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.
Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?
****
Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Mimpi Buruk
Berhentilah membenci seseorang, karena benci hanya akan menghalangi masa depan.
~Darel Ario Kusuma~
****
Rio menepuk-nepuk pipi adiknya yang sedari tadi tidur. Pria itu mengecek suhu tubuh adiknya, syukurlah suhunya tidak setinggi yang tadi.
"Eughh." Zahra menggeliat dalam tidurnya.
"Dek ... salat dulu yuk, terus makan. Nanti baru bobo lagi." Rio kembali menepuk pipi Zahra dengan irama.
Zahra membuka matanya, gadis itu berkedip pelan beberapa kali. "Jam berapa sekarang?" tanyanya sambil menutup mata.
"Jam lima kurang 10 menit . Ayo bangun, terus ambil wudu. Salat bareng sama gue." Rio membantu Zahra untuk duduk dan mengantarnya ke kamar mandi.
Setelah menunaikan salat asar, Rio mengajak adiknya ke bawah. Menemui Bi Heni yang sedang menyiapkan menu makan sore. Rio membantu bibi menyiapkan makanan, sedangkan Zahra memperhatikan mereka berdua dalam diam.
Rio duduk di depan Zahra, sedangkan bibi di samping gadis itu.
"Dek," panggil Rio saat Zahra ingin menyuapkan nasi.
"Hm?" Zahra mendongak, menatap sang kakak.
"Tadi Ardelia nelepon lo, karena HP lo ada di gue, jadi gue angkat teleponnya."
"Dia bilang apa?"
"Temen-temen lo mau kesini katanya, jengukin lo."
"Malam ini?"
"Maybe." Rio mengidikkan bahu acuh.
Bahkan tadi cowok bastard lo juga nelepon, lanjut Rio dalam hati.
****
**Rio baru saja menyelesaikan tugasnya memimpin rapat hari ini, ia begitu lelah. Ia ingin cepat-cepat pulang menemui adiknya yang entah mendengarkan atau mengabaikan perkataannya sebelum berangkat tadi.
Rio baru saja masuk ke ruangannya dan disuguhkan dengan berkas-berkas tebal yang perlu di periksa dan ditanda tangani. Rio duduk di kursinya dan menghembuskan napas kasar. Ia mulai mengecek satu persatu berkas itu dan menandatanganinya.
Saat Rio tengah serius, benda pipih yang ada di saku celana Rio bergetar. Pria itu segera mengambilnya, kaerna getarannya menimbulkan sensasi-sensasi tersendiri bagi Rio.
Layar benda pipih itu menyala dan menampilkan nama si penelpon, 'Putra bangke'. Rio mematikan panggilan tidak penting tersebut. Sesaat kemudian, handphone itu bergetar kembali, setelah dicek ternyata penelepon berasal dari orang yang sama. Karena sebal, akhirnya Rio mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?" Karena si penelepon tidak kunjung bicara, akhirnya Rio yang memulai percakapan tersebut.
"Lo siapa? Kok HP-nya Zahra ada di lo?" Si penelepon keheranan, kenapa handphone kekasihnya ada pada orang lain, pria pula. Tidak biasanya.
"Kalau ngomong sama yang lebih tua itu, yang sopan," kata Rio menegaskan.
"Eh, lo siapa? Be*o!" Si penelepon malah membentak Rio dengan kata tidak pantas.
"Emang bener gue ga ngasih celah buat lo deket sama adik gue? Cihh, buat apa lo sekolah tinggi-tinggi, kalau ujungnya lo ga ada sopan santun sama orang tua?" Rio mendecih pelan dan mematikan sambungan secara sepihak.
****
Zahra dan Rio sekarang berada di ruang keluarga, gadis itu bosan di kamar seharian. Akhirnya Rio mengajak Zahra untuk menonton TV di ruang keluarga.
"Ga tidur lagi?" tanya Rio.
"Tidur mulu, ntar gue gendutan. Big, no!"
"Obatnya udah diminum?"
Zahra hanya menjawab dengan anggukan.
Setelah obrolan singkat tersebut, Rio fokus dengan ponsel yang tengah dipegangnya. Acara TV dibiarkan begitu saja, seperti tidak menyalakan apapun.
Zahra memperhatikan Rio yang tengah asik dengan ponselnya. Zahra merasa terabaikan, padahal mereka tengah duduk berdua, akhirnya ponsel itu berada di tangan Zahra.
"Balikin, ga?" todong Rio.
"Lo mah ga nganggep gue. Mentang-mentang HP gue lo bawa, seenaknya main abai." Zahra mengerucutkan bibirnya kesal dan membuat sang kakak gemas dibuatnya. Rio mencubit hidung Zahra.
"Ish, sakit tau ...." Zahra mengusap-usap hidungnya yang tadi dicubit Rio.
"Iya-iya, maaf. Mau selfi ga?" tawar Rio.
"Tumbenan?" Zahra melongo menatap Rio.
"Mau ga?" tawar Rio lagi.
Zahra mengangguk antusias.
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
Pose satu, mereka memasang wajah konyol dengan kepala Zahra yang menyelip di ketiak Rio.
Pose kedua, wajah manis dengan tangan Rio bertengger di bahu sang adik. Memberi tanda bahwa mereka bukan seorang kakak adik saja, tapi seorang sahabat.
Pose ketiga, tidak ada wajah keduanya. Kosong! Hanya sebuah sofa yang kempes karena sering digigitin sama tinggi.
Jadi, kemanakah perginya Zahra dan Rio?
1 detik ....
2 detik ....
3 detik ....
"Awshh, punggung gue! Ini punggung masih sakit, tapi malah ditambahin sakit. Lama-lama encok dah gue ...." gerutu Zahra pelan.
"Makannya kalo duduk itu diem, udah tau sofanya kempes malah duduknya petakilan. Jadi gini 'kan?" Rio membantu Zahra untuk duduk di sofa kembali.
Zahra merosot ke bawah saat posisinya menghadap dinding, pantat gadis itu menyentuh lantai. Karena kurang keseimbangan saat duduk, Zahra terjungkal ke belakang. Punggung gadis itu menabrak kaki meja.
"Katanya tajir, masa beli sofa aja ga bisa. Ini 'kan gara-gara sofanya."
"Iya, nanti pesan di olshop, ya?"
"Ga perlu. Besok aja ke toko perabotan langsung."
"Iya."
Rio duduk di kursinya kembali, dengan Zahra yang masih setia disebelahnya. Gadis itu sedang mengusap punggungnya.
"Mau kakak bantuin?"
Zahra memandang sang kakak heran. Bantuin apa? Gimana?
"Tengkurap sini!" Rio menepuk-nepuk pahanya bermaksud agar Zahra menjadikan pahanya sebagai bantal.
Zahra menurut pada perintah sang kakak. Rio menaikkan kaos yang dipakai Zahra, sampai luka memar itu terlihat.
Rio mengusap punggung Zahra dengan perlahan, meskipun begitu tetap saja Zahra meringis.
"Kakak pelan, ish! Sakit tau!"
"Iya, ini juga pel—"
"Maaf, tuan, nona. Ada tamu." Seorang bodyguard tiba-tiba menyela ucapan Rio, pria itu segera menutup punggung adiknya yang terekspos bebas. Zahra yang masih dalam posisi tengkurap pun, langsung duduk.
"Persilakan masuk!" titah Rio pada bodyguardnya.
"Permisi, tuan, nona." Rio dan Zahra mengangguk.
"Temen-temen lo tuh!"
"Gue nemuin mereka sama lo, ya?" Itu bukanlah sebuah pertanyaan, tetapi sebuah permohonan. Permohonan yang mustahil di wujudkan mungkin.
"Buat apa? Gue ga ada urusan sama mereka."
"Temenin kakak, ish!" rengek Zahra pada Rio. Sungguh, gadis di depan Rio terlihat polos kalo seperti ini. Membuat siapa saja yang berada di dekatnya ingin menciumnya.
"Mereka di sini cuma mau jengukin gue kok ...." bujuk Zahra.
"Tau dari mana?"
"Kan kakak yang bilang."
"Kapan?"
"Di meja makan tadi apa?"
Rio mendekati Zahra menarik Zahra dalam pelukannya, lalu mengusap puncak kepala gadis itu. "Kali ini aja ya, gue ga mau lihat lo sedih," kata Rio sambil mencolek hidungnya Zahra.
"Makasih, Kak. Umm, tapi ...."
"Tapi?" Rio menaikkan sebelah alisnya bingung.
"Lepas. Sakit ...."
"Sorry-sorry, lupa gue." Rio melepaskan pelukannya pada Zahra.
"Gue ke depan dulu, ya. Lo ganti pakaian sana." Zahra mengangguk dan langsung pergi.
Setelah menemui teman-teman Zahra, mereka langsung ke kamar. Teman-teman Zahra lumayan lama juga kalau menjenguk seseorang.
Zahra dan Rio kini telah berada di atas kasur dan bersiap untuk tidur. Hari ini mereka tidur di kamar milik Rio, karena memang seperti itu. Kamar milik Zahra hanya boleh dimasuki oleh orang lain di saat-saat tertentu saja, karena ada rahasia besar yang harus dijaga Zahra di kamar itu. Bahkan, Rio hanya boleh masuk kesitu di saat-saat tertentu.
Kini posisi mereka saling berhadap-hadapan, bersiap untuk tidur.
"Punggungnya masih sakit?"
"Lumayan si, kenapa?"
"Besok jadi ke tukang urutnya?"
"Jadi dong. Udah sakit semua ini punggung gue," kata Zahra sewot. Rio terkekeh mendengarnya.
"Kalau gitu tidur, udah malam."
"Masih jam sepuluh."
"Tidur Ara, Sayang." Tangan Rio menjalar ke puncak kepala Zahra, Rio kembali mengusap tempat itu. Kalau tidak diperlukan seperti itu, maka Zahra akan sulit tertidur di bawah jam dua belas. Zahra selama ini selalu tidur di atas jam dua belas, tentu Rio tidak mengetahui fakta ini.
Setelah beberapa saat, Zahra baru bisa tertidur pulas. Rio menghentikan usapannya, pria itu ikut tertidur dengan memeluk Zahra.
****
Jam menunjukkan pukul setengah dua dini hari. Rio terbangun karena kehilangan guling ternyamannya. Rio terduduk dan memperhatikan sekitarnya dengan jelas.
Mata pria itu terhenti pada pintu kaca yang menghubungkan antara kamar dan balkon.
Dengan perlahan, langkah kakinya menuntun menuju pintu kaca. Langkah kaki tersebut berhenti ketika mengetahui apa yang terjadi.
Dengan langkah cepat, Rio segera menuju balkon. Pria itu segera mendekap seorang gadis yang duduk di atas pembatas balkon. Bahkan, kedua kaki gadis itu sama-sama menjuntai ke bawah.
"Turun, sekarang!" kata Rio lirih, tapi tersirat penekanan di kalimatnya.
Rio membantu gadis itu turun. Selama itu pula, pandangan Rio tidak lepas dari benda tajam yang sedari tadi dipegang gadis itu.
"Mimpi buruk?" Gadis itu tidak menjawab, melainkan mengeratkan genggamannya pada benda tajam di tangannya.
"Lepas benda itu sekarang, kalau engga benda itu akan melukai telapak tangan kamu." Gadis itu tersenyum miring mendengar perkataan Rio.
"Benda ini ga ada apa-apanya jika dibanding dengan benda tajam yang menyayat, menusuk, dan merobek. Itu lebih sakit, Kak. Disayat terus dicambuk, lo kira itu manusiawi?"
Cairan bening itu lolos dari pelupuk mata Zahra, Rio mengeratkan pelukannya. Sementara tangan kiri Rio berusaha melepaskan benda tajam yang digenggam adiknya.
Cairan merah kental terlihat dari sela-sela jemari Zahra yang mengepal. Rio tentu terkejut melihatnya. Pria itu mengangkat dagu Zahra, Rio menatap manik mata di depannya tajam.
"Lihat, tangan kamu udah berdarah. Cepat lepasin!"
"Ini gak apa-apanya dibanding dengan penderitaan mami."
"Cukup, Zahra. Jangan bodoh! Apa dengan kayak gini semuanya akan kembali? Enggak, 'kan? Mami gak akan senang kalau kamu kayak gini," kata Rio, pria itu menampar Zahra dengan kalimatnya.
"Gue benci, Kak. Kenapa gue ga bisa nolongin mami di saat-saat terakhir? Kenapa gue harus kayak gini, gue benci sama diri gue." Zahra menjambak rambutnya sendiri, secara tidak langsung gadis itu melepaskan pisau lipat yang digenggamnya.
Zahra memang memiliki trauma psikologi. Jika gadis itu sakit, maka mimpi buruk yang tidak mau diingat akan muncul tiba-tiba. Setiap kali mengingat itu, Zahra akan depresi. Gadis itu menyakiti dirinya sendiri, merasa bersalah karena tidak bisa menolong orang terkasihnya.
Rio segera menggendong Zahra ke ranjang. Pria itu membersihkan telapak tangan Zahra yang telah berwarna merah, Rio menempelkan plester di luka adiknya. Kemudian membalut telapak tangan Zahra dengan perban.
Zahra memejamkan matanya erat, gadis itu masih terisak. "Gue benci mereka, Kak. Karena mereka gue kehilangan orang-orang yang gue sayang."
"Kamu boleh benci sama mereka, tapi jangan sampai rasa benci itu jadi boomerang buat kamu. Kamu boleh benci, tapi jangan bodoh. Gue cukup kehilangan orang tua aja, lo jangan!"
Rio menghapus air mata Zahra. "Don't cry, princess. Tidur, lo butuh istirahat." Rio membawa Zahra berbaring, kembali membawa Zahra ke dekapannya yang hangat.
"Besok kita atur jadwal sama Dokter Ana. Lo udah lama ga kontrol, ya 'kan?"
Zahra menggaguk, tidak lama gadis itu mendongak. "Kak?"
"Hm?" Pandangan Rio turun, tertuju pada Zahra.
"Miss my mom," pinta Zahra penuh harap, pasalnya gadis itu selalu menangis ketika ke tempat ibunya.
"Kalau gitu, besok kita ke tempat mom."
"Beneran?"
"Iya. But promise, don't cry again."
"I'am promise." Zahra tersenyum. "Makasih, Kak."
Rio mengangguk. "Udah, sekarang tidur." Rio mencium kening Zahra. "Kakak sayang kamu," bisiknya lirih, "bentar, ya. Gue tutup pintu balkon, dingin."
Zahra terkekeh. Setelah Rio kembali, Zahra kembali menenggelamkan diri pada tubuh besar Rio. Pria itu menarik selimut, menutupi tubuhnya dan tubuh Zahra.