Terbiasa hidup dijaga oleh pengawal pribadinya yang tampan, membuat Ellena diam-diam menaruh hati pada pria itu. Namanya Marco, dan usianya jauh lebih matang dari Ellena.
Saat tahu pengawalnya sudah dijodohkan, Ellena menyusun rencana licik untuk menjebak Marco agar menikahinya. Akankah Ellena berhasil menjerat Marco dengan tali pernikahan impiannya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MSP # Bab 6
Ellena benar-benar terluka karena penghinaan dari ayah mertuanya. Bagaimana bisa seorang ayah meminta anaknya untuk bercerai, dan itu demi seorang gadis yang berstatus tunangan.
“Kak Marco, apa kamu akan menceraikanku?” tanya Ellena dengan wajah yang telah dibasahi oleh air mata. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti jika harus menjadi seorang janda di usia yang masih sangat muda, apalagi dia masih perawan.
Marco menatap sang istri dengan tatapan lembut. Dia sangat menghormati Tuan Aland, apalagi Ellena sekarang adalah tanggung jawabnya, sehingga Marco tidak mungkin menceraikan gadis itu begitu saja demi menuruti keinginan orang tuanya.
“Tidak akan, Ellena. Aku tidak mungkin meninggalkan kamu demi Naina, karena aku dan Naina baru bertunangan sedangkan aku sama kamu sudah menikah,” jawab Marco.
Tentu saja hal itu membuat kekecewaan yang mendalam di hati kedua orang tua Marco. mereka pikir Marco sudah berubah karena menikahi gadis kaya.
“Oh, jadi kamu lebih memilih istri kamu yang kaya ini daripada kami orang tua yang sudah membesarkan kamu?” tanya ayah Marco dengan emosi. Hatinya sangat kecewa karena Marco tidak mau menceraikan Elena. Padahal, hubungan mereka dengan keluarga mainan baru diikat beberapa hari yang lalu.
“Bukan seperti itu, Ayah. Aku yakin sekarang Ayah hanya sedang emosi, lain kali aku dan Elena akan kembali jika emosi Ayah sudah reda,” jawab Marco dengan rasa sesal. Kedatangannya ke rumah orang tuanya ternyata malah menimbulkan masalah yang sangat besar.
“Tidak perlu kembali! Pergi saja dari rumah ini selamanya!” kata ayah Marco yang masih dirundung emosi.
Marco menatap ibunya, hatinya begitu sedih meninggalkan wanita yang sangat dicintai dan dihormatinya itu. Dia lalu berpamitan dan berjanji akan kembali meski ayah dan ibunya mengusir lagi. Lalu, Marco membawa Elena meninggalkan rumah itu.
***
Dalam perjalanan ke ibukota, Elena melihat wajah sedih dari suaminya. Sebagai istri tentu saja dia merasa tidak tega apalagi semua ini terjadi karena ulahnya yang tidak berpikir panjang sebelum bertindak sesuatu.
“Kak Marco, maaf ya. Gara-gara aku semua jadi seperti ini. Kak Marco pasti menyesal sudah menikah denganku,” kata Elena sembari memperhatikan wajah sedih suaminya itu.
Marco menoleh pada Ellena. Dia memaksakan senyum untuk menutupi rasa sedihnya.
“Sok tahu banget sih, Non. Udah, mending tidur, nanti kalau sampai aku bangunin!” balas Marco sembari mengusap dengan lembut kepala Elena.
Dengan malu-malu Ellena meraih tangan Marco dan menggenggamnya. Setelah beberapa saat tanpa reaksi dari Marco, Ellena pun menuruti apa yang suaminya itu katakan. Dia memejamkan mata dan mulai memasuki alam bawah sadar.
Elena akhirnya terlelap sambil menggenggam erat tangan Marco. Dia merasa nyaman berada di samping suaminya itu.
Setelah perjalanan yang melelahkan dan meski tidak membawa hasil yang memuaskan, mereka akhirnya tiba di sebuah rumah petak yang disewakan. Ellena membuka mata saat mobilnya berhenti.
“Kita di mana, Kak?” tanya gadis itu sambil mengucek kedua matanya.
“Ini di kamar kosan tempat tinggalku. sekarang akan menjadi tempat tinggal kita berdua,” jelas Marco sambil membuka pintu mobil.
Laki-laki itu terlihat menurunkan beberapa barang dari mobil lalu membuka pintu sebelah Elena.“Ayo turun! Sekarang kita akan memulai kehidupan kita di sini!” ajak Marco sambil mengulurkan tangan.
Ellena menyadari satu hal, bahwa kehidupannya sebagai istri akan dimulai dari tempat ini. Seharusnya dia juga sadar, Marco terbiasa hidup sederhana di tempat ini. Jadi, mau tidak mau dia juga harus mulai belajar hidup sederhana seperti Marco, suaminya.
***
Kembang kopinya jangan lupa 💋💋💋
sana sama Otor aja... pasti mau dia...