Ellena adalah sosok gadis yang mandiri, kuat, keras kelapa, sedikit kasar, namun hatinya baik dan murah hati. Ellena sangat sering membantu teman-teman di daerahnya yang kurang mampu.
Ia dibesarkan dari sepasang suami istri yaitu Papa dan Mamanya, yang memulai hidup berumah tangga dari O saat mereka menikah, sampai mereka membuka bisnis dan hidup berkecukupan.
Masa pertumbuhan Ellena, ia mendapat didikkan yang sangat keras oleh Papanya. Karenaa banyaknya pengalaman saat merantau semasa muda, menjadikan Papa Ellena sangat keras dalam mendidik anak-anaknya. Begitu juga dengan Ibunya yang menjadi guru SD dan SMP didaerahnya. Ia adalah wanita mandiri.
Papa Ellena sering melayangkan tangan, kaki, barang atau pun dengan ucapan yang keras dan kasar kepada Ellena dan Mamanya.
Ellena memilih satu Adik laki-laki yang sangat di sayangi oleh Papanya. Dibanding terbalik dengan Ellena.
Karena semua itu, bertahun-tahun lamanya, Ellena memendam kebencian terhadap Papanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hellena24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Setengah Tahun Lalu
Satu setengah tahun yang lalu. Malam itu sekitar pukul 18.00 WIB, saat Ellena ada di rumah bersama Adik, Mama dan Papa nya. Ia sudah pulang ke kampung empat hari yang lalu, dengan membawa semua barang-barang selama tiga tahun ia hidup terpisah dengan kedua orang tua dan saudaranya.
Ellena menempuh Sekolah Menengah Atas di kota yang lumayan jauh dari kampung halamannya.
Terlihat Malam itu, Ellena dan adik laki-laki nya yang sedang berbaring santai di depan TV ruang tamu rumahnya. Mereka berdua sedang asyik menonton film Hollywood yang tayang di salah satu siaran TV Indonesia.
Di sisi lain, terlihat Mama Ellena yang sedang berada di toko sembako. Ia sedang sibuk menyusun dan merapikan satu persatu barang-barang dari dalam kardus belanjaan, ke rak toko yang ia miliki.
Toko sembako milik keluarga Ellena itu masih menyatu dengan rumah utamanya, hanya saja memiliki ruangan tersendiri yang dibatasi dengan dinding semen tebal.
Di teras rumah terlihat Papa Ellena yang duduk santai, sambil menghisap sebatang demi sebatang rokok dengan ditemani segelas kopi hangat favoritnya.
"Woi Bang!" sapa seorang lelaki sambil menaiki tangga rumah Ellena, lelaki itu umurnya sedikit lebih muda dari Papa Ellena.
Papa Ellena memang dipanggil dengan panggilan 'Bang' oleh orang-orang yang mengenal dia, termasuk teman-temannya.
"Oiii, Tus!!" sahut Papa Ellena sambil tersenyum.
"Apa buat Bang! Jangan terlalu banyak melamun, bahaya!" lelaki itu memberi candaan kepada Papa Ellena.
"Haha... Ndaklah... Biasa aja lah, santai-santai sambil minum kopi" sahut Papa Ellena sambil mempersilahkan temannya itu untuk duduk di ujung kursi yang sedang ia duduki.
"Mau beli bola lampu, Ma Ellen!" kata lelaki itu kepada Mama Ellena dari teras rumah.
"Oh ada ni... Banyak model juga ini lampu! Mau model yang bagaimana, Bapak Kevin?" tanya Mama Ellena kembali. (Kevin adalah nama anak dari lelaki itu dan hampir setiap siang hari Kevin bermain bersama Adik Ellena di rumah milik Ellena ini)
"Emang model bagimana yang ada?" tanya Om Natus yang sudah duduk di kursi teras bersama Papa Ellena, sambil menghadap ke Mama Ellena yang sedang ada di dalam toko.
"Sini Ma... Bawa ke sini contoh-contohnya, biar Natus bisa lihat" kata Papa Ellena.
Mama Ellena pun membawa empat jenis bola lampu kemeja teras tempat Suami dan Bapak Kevin itu duduk.
Baru Mama Ellena meletakkan beberapa lampu itu di atas meja dan ingin menjelaskan perbedaan-perbedaan dari ke empat bola lampu tersebut, Bapak Ellena sudah memberi perintah kepadanya.
"Ma... Buatkan kopi dulu buat Natus!" pinta Papa Ellena kepada sang Istri.
Mama Ellena tidak menjawab apa pun dan langsung berjalan ke dapur untuk kembali lagi membawakan segelas kopi hangat, yang mengeluarkan uapan dan wangi kopi bagi pencinta minuman ini.
Ellena yang berbaring di depan TV ruang tamunya hanya menoleh sekilas melihat Mama yang bolak-balik dari toko ke dapur dan kembali lagi dari dapur ke toko, untuk membuatkan segelas kopi hangat.
Dari posisi Ellena baring, ia dapat mendengarkan dengan jelas perbincangan antara Papa dan Om Natus di luar. (Mengikuti tradisi silsilah keluarga, Ellena memanggil lelaki itu dengan panggilan 'Om')
Walau dapat mendengarkannya dengan jelas perbincangan di luar, Ellena memilih untuk tidak perduli dan masih tetap fokus menonton film sambil berbaring bersama adik satu-satunya itu.
Mama Ellena juga tidak meminta atau berbicara apa pun kepada Ellena, padahal sebenarnya ia sangat membutuhkan pertolongan Ellena. Entah meminta pertolongan untuk menyusun barang di toko atau membuatkan segelas kopi untuk Om Natus.
'Mungkin Mama kasian sama aku, yang seharian kerja dan membersihkan rumah' pikir Ellena sambil mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Mama di toko.
Memang iya...! Seharian penuh dari pagi sampai sore hanya Ellena yang menjaga rumah sendirian. Karena Papa, Mama dan adiknya dari pagi sampai sore pergi berbelanja ke kota.
Selama mereka pergi Ellena yang mengusur semua pekerjaan rumah, menjaga toko dan lain sebagainya.
next next