Ketika Perbedaan status menjadi penghalang hubungan.
"Ethan, bisakah kita hanya akan menjadi Anna & Ethan, tanpa harus nama keluarga mengikuti kita?" tanya Anna berkca-kaca, dia merasa terancam akan kehilangan Ethan setiap saat.
Ethan menyadarkan dagunya, dan memeluk Anna, "aku akan berusaha untuk itu, hanya ada Anna & Ethan...."
"Tetapi Ruan darah dagingmu...."Anna terisak.
"Tetapi kau adalah Jantungku, Anna!"
"...."
Anna Su sadar, kehidupan miskinnya hanyalah debu kotor untuk sepatu Tuan muda Ruan, apalagi kepercayaan Anna Su terhadap cinta Ethan, sangat di uji, berkali-kali Anna dan Ethan harus mengalami tarik ulur kasih sayang.
Ketika, mereka sepakat menjalin hubungan, kembali keluarga besar Ruan, dengan berbagai cara mengakhiri hubungan Anna dan Ethan.
Sanggupkah hubungan perbedaan status ini, tetap berakhir bahagia?
***
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Calon istri
Ethan mengangkat keliking tangannya yang tersemat cincin berlian merah, segaris senyum datar dengan makna tersembunyi, kali ini, dia enggan bertanya pada Stephan Lu— sahabat baiknya, dia melirik pada Joe yang masih berdiri di hadapannya dengan banyak mawar di tangannya.
"Joe Han, apa arti cincin ini? Anna menyematkan sendiri."
Mulut Stephan gatal segera ingin menjawab, "itu artinya—"
"Stop! isi mulutmu terasa kentut," potong Ethan ketus, dia kembali ke Joe dan matanya mulai menindas, "katakan Joe Han!"
Ethan terlihat tidak sabar menunggu, dan sangat jelas, dia hanya akan mendengar kalimat yang menyenangkan hatinya sendiri.
Joe Han merundukkan kelopak matanya terhadap silaunya cincin berlian merah, hatinya merasa jatuh ke tanah,'hanya menjadi seperti Tuan muda Ruan, pantas mendekati Anna. Tuhan, mengapa aku ditakdirkan memiliki saingan seperti ini?'
"Joe Han, aku beri waktu 5 detik!"
Joe Han tercekat sebentar, memikirkan kalimat terbaik yang akan di sukai Ethan, dia meringis sebentar karena mulai hari ini, dia harus melupakan cinta pertamanya— dia harus melupakan Anna, merelakan Anna untuk Tuan muda Ruan.
"Katakan Joe!" Ethan menghardik, dia sudah sangat kesal dan mulai menghempas mawar di tangan Joe, mawar-mawar jatuh berserak ke tanah, di injak sampai hancur, seperri tengah menginjak hancur hati milik Joe.
"Joe Han!" seru Ethan.
"Biar aku yang menjawab, itu artinya—" Stephan maju dengan isi mulut yang tidak tahan ingin mengejek Ethan lagi dan lagi, untuk pertama kalinya seorang gadis menolak Tuan muda Ruan. Tentu saja, ini akan menjadi lelucon dalam lingkaran Ethan.
"Isi mulutmu tidak ada yang bagus." Ethan menatap malas Stephan yang terlihat senang mengejeknya. Kemudian, dia mengangkat tangan kelingking dengan cincin berlian merah menghadap Joe lebih dekat.
"Katakan Joe?" tanyanya terdengar tidak sabar.
Joe mengusap dahinya, yang tidak berkeringat namun terasa sangat dingin , dia segera menjawab lantang, "artinya... dia ingin menikahi ... Tuan muda Ruan!"
Wajah gelap Ethan, lenyap seketika, dia terluhat memiliki sepasang mata cerah lagi.
Stephan tercekat, ingin muntah. Fakta terbalik ini yang sangat di sukai Ethan. Ethan tersenyum puas dan membenarkan, "benar sekali, dia ingin aku— jadi suaminya."
"Dia membohongimu!" protes Stephan dengan mata membidik Joe.
Joe panik, segera menggelengkan kepala, dia telah mengukur semua gadis pastilah ingin menjadi istri Tuan muda Ruan, 'dia tampan, kaya, dan dia juga romantis.'
"Tidak ada kebohongan, Anna pasti ingin menikah dengan Tuan muda Ruan," ulang Joe, suaranya terdengar serak, mulai hari ini, dia harus melepas Anna dari kotak hatinya. Rasanya sangat sakit.
Stephan hanya menggelengkan kepalanya, dan mencibir, 'si pengecut.'
Ethan tersenyum girang, dan tanpa sadar menyapu bibirnya sendiri, dia teringat bibir Anna, terasa manis sekali. "Aku juga ingin menjadi suaminya!"
Stephan geli. Joe merasakan jantungnya sudah tidak memiliki harapan, dia tidak akan berani lagi berharap untuk Anna, 'hanya Tuan muda Ruan yang membesarkan Anna, aku bukanlah pria yang pantas. Aku hanya debu tanah yang terbang, dan Tuan muda Ruan adalah udara, siapapun di sisinya, akan terus hidup.'
Joe terisak dan segera menghapus air matanya, dan menahan suara napasnya yang tersenggal-senggal, dia sudah sangat menyukai Anna sedari masa kanak-kanak. Hari ini, adalah hari pertama putus harapannya dalam sekejap.
Stephan mengejek dan terkekeh sendiri melihat air mata Joe, 'kau rupanya seorang pengecut, yang suka Anna juga.'
Ethan berpura-pura tidak melihat.
Ethan kembali menatap cincin berlian merahnya, dan teringat bagaimana Anna mengambil jarinya, dan menyematkan cincinnya, dia merasa jantungnya benar akan berhenti berdetak, dan tanpa sadar berkali-kali bibirnya melengkung seperti busur, "aku makin menyukai Anna."
Glek!
Joe menahan napasnya, 'Anna, mengapa kau harus disukai Tuan muda Ruan?'
Teng—teng—teng.
Bunyi bel sekolah.
Lamunan Ethan naik menguap ke udara. Joe merasa di selamatkan lonceng, segera menyeret sepeda miliknya dan sepeda milik Anna. Kemudian, di parkirkan dengan rapi. Belum saja kakinya masuk, suara Ethan memanggilnya.
"Tunggu!"
Joe melihat jam di tangannya, sudah saatnya jam pertama mulai, wajahnya terlihat minta kasihan, namun Ethan terlihat sangat kejam, "aku tidak ingin kau pintar dari aku, jika hari ini aku tidak sekolah, kau juga tidak sekolah!"
Joe "..."
Tuan muda Ruan tidak mengijinkannya sekolah, maka dia tidak akan berani sekolah.
"Berikan nomor ponsel Anna untukku," pinta Ethan.
Joe menggelengkan kepala. Ethan marah segera, dia pikir Joe ingin merahasiakan sesuatu darinya.
"Kau berani tidak memberitahuku."
Joe gagap sebentar, langsung menjawab, "bukan itu maksudku Tuan muda Ruan, Anna memang tidak memiliki ponsel."
"Sangat miskin!" cemoh Ethan prihatin, bagaimana bisa seorang manusia tertinggal tanpa ponsel di dalam tangannya, dan gadis itu masih bisa hidup.
"Berikan saja ponsel yang baru kau beli," usul Stephan miris iri karena melihat Ethan memiliki ponsel terbaru, jadi dia pikir Ethan tidak akan pernah memberikan ponsel miliknya untuk Anna, walaupun gadis itu cukup menarik.
Tetapi, diluar dugaan Stephan. Ethan mengeluarkan ponselnya, dan menyodorkannya untuk Joe tanpa berpikir panjang. Harga ponsel itu sembilan belas juta. Stephan tercengang iri, berusaha menahan ponsel itu, namun Ethan dengan mudahnya menangkis tangan Stephan di udara.
"Berikan untuk Anna," pinta Ethan.
"Apa kau gila, itu keluaran terbatas, dan masih seminggu yang lalu. Jika kau tak sayang ponsel itu, berikan saja padaku, saudaraku!" Stephan tanpa sadar mengemis ponsel Ethan yang terlihat di sia-siakan.
Ethan melirik jijik, "aku rasa kau... bukan calon istriku!"
Konyol. Stephan iri, tetapi untuk menjadi istri Ethan, lebih baik menjadi waras, dan hanya merelakan untuk Anna, "aku normal!"
Joe terkagum akan ponsel milik Ethan. Ponsel termahal pertama, yang pernah dia sentuh, dia sangat hati-hati menerima dan menggenggam ponsel milik Tuan muda Ruan, dia memasukannya ke kantong tasnya segera.
Joe lari dengan cepat memasuki koridor menuju kelasnya, dia hanya di beri waktu sepuluh menit.
Masuk ruang kelas, mencapai meja Anna yang baru saja mengeluatkan bukunya, terlihat akan siap belajar.
Penuh peluh dingin. Joe tercekat sebentar tidak mampu berkata, di hadapan Anna. Untung saja, Guru belum datang.
"Ada apa Joe? " tanya Anna merasa curiga, jika ini menyangkut Ethan Ruan lagi, dia bersumpah tidak akan menolong Joe lagi.
Joe masih tidak bisa berkata satu patah katapun, lidahnya seakan terkunci dengan semua pasang mata yang menatap dirinya heran. Apa dia akan memberikan ponsel harga sembilan belas juta di hadapan teman-teman sekelas? bisa jadi semua teman sekelas, akan menjerit. Tetapi jika ponsel ini, tidak sampai ke tangan Anna. Maka, dia akan mati.
"Berbicara di luar." Joe secepatnya berpikir waras, menyeret Anna keluar dari kelas, membawa ke tempat yang lebih tersembunyi dari pandangan siapapun.
"Jika ini menyangkut Tuan muda gila itu, aku tidak mau!" Anna tegas menolak dan bersiap pergi, namun Joe malah duduk membentur lututnya ke tanah, memegang tangan Anna, agar jangan pergi begitu saja.
Anna kesal tetapi juga sangat kasihan. Pasti Ethan mengancam Joe lagi, "Ada apa lagi sih?"
Joe tidak mengeluarkan kalimat, hanya matanya yang terlihat mengiris minta kasihan, dan satu tangannya mengambil sesuatu dari isi tasnya dan meletakan ponsel sembilan belas juta di tangan Anna.
Anna bingung sebentar. Kemudian pikiran tertuju pada siswa nakal yang penuh kekayaan itu.
"Apa ini ?" tanya Anna berpura-pura bodoh.
"Ponsel."
Anna menggelengkan kepala, merasa konyol setelah mengendus kegilaan Tuan muda Ruan lagi, dia menolak cincin berlian, kini anak kaya itu memeberikan ponsel yang baru di iklankan sebagai edisi terbatas, Anna pun masih ingat jelas, harganya sembilan belas juta. Siswa nakal itu memang penghambur uang. Tepatnya, setan yang terlahir kaya raya.
"Aku tau itu ponsel. Maksudku mengapa kau memberikan aku ini, kau tidak mencuri kan—"
Joe menggeleng, "tidak mencuri, Tuan muda Ruan memintaku, untuk memberikannya ponsel ini untuk calon istrinya."
"Siapa calon istrinya?" tanya Anna tidak yakin, hal ini ditujukan untuknya. Anna tidak merasa dirinya adalah calon istri seorang penghambur uang.
Joe masih berlutut di tanah, tangannya sedikit bergetar, dia pernah bermimpi akan melamar Anna dengan berlutut seperti ini, tetapi tak dia sangka dia harus berlutut atas nama orang lain, "Anna, calon istri yang di maksud Tuan muda Ruan, adalah Anna Su, dan itu— "
Joe ingin menangis mendengar kalimatnya yang dia ucapkan sendiri.
Anna tercekat linglung dan kosong sebentar. Beberapa detik kemudian, dia merasa Ethan Ruan, benar-benar sedang mengerjainya.
Anna langsung menarik tangannya, tidak berani mengambil ponsel tersebut, "tidak, aku tidak mau."
Joe hampir menangis, dan kini, kedua tangannya malah turun mengemis kaki Anna, "Anna, aku mohon terima saja. Jika, kau ingin kembalikan, tolong kembalikan sendiri. Tolong, jangan minta aku yang mengembalikan kepada Tuan muda Ruan."
Anna mengigit bibirnya. Ingin memaki Joe, karena terlahir pengecut. Namun siswa nakal itu memang terlahir pandai menggertak oranglain hanya dengan matanya.
Terketuk kasihan. Anna mengambil ponsel itu, "biar, aku mengembalikan sendiri."
Joe menarik napas lega, dia merasa selamat.
***
Ns.
Jangan Lupa Vote dan Komentar Part ini
Terimaksih.