Season 1: Bara x Retha
Jalinan cinta antara dua orang yang saling menguntungkan antara seorang duda dengan seorang guru yayasan yang memiliki pekerjaan sampingan. Bara membutuhkan wanita untuk mengobati kesepiannya dan Retha membutuhkan uang untuk melunasi hutang ayahnya.
Bagaimana perjalanan kisah cinta mereka dan lika-likunya menghadapi dunia? Akankah keduanya akan bersatu?
Season 2: Hendry x Citra
Cinta masa SMA yang dipertemukan kembali saat keduanya baru saja mengalami kegagalan berumah tangga. Hendry ditinggalkan istrinya karena permasalahan kesuburan. Sedangkan Citra memutuskan bercerai dari suaminya yang telah berselingkuh dan menghamili wanita lain.
Akankah mereka bisa menghadapi trauma hubungan sebelumnya? Bagaimana cara mereka bisa kembali membuka hati dan akhirnya hidup bahagia bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momoy Dandelion, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrakan Seribu Pintu
Retha berdiri di depan gerbang sebuah bangunan berlantai tiga dengan deretan banyak pintu-pintu kamar. Tempat itu merupakan rumah kontrakan milik temannya, Tiur. Seminggu sebelumnya ia memang sudah menghubungi Tiur untuk menumpang sebentar sampai ia mendapatkan tempat kontrakan yang baru.
Retha sudah tidak punya uang untuk memperpanjang kontrakan. Uangnya sudah habis digunakan untuk membiayai sekolah adiknya. Bahkan biaya asrama sang adik dan pelunasan hutang ayahnya terpaksa ia ambilkan dari uang milik sekolah yang dipegangnya.
Retha memang tidak bertanggung jawab. Uang yang dipercayakan sekolah kepadanya justru dipakai untuk kebutuhan pribadi. Tapi, ia bertekad akan secepatnya melunasi jika uangnya sudah terkumpul.
"Sori ya, agak lama!" seorang wanita mengenakan atasan tanktop dan celana pendek tampak berjalan menghampiri gerbang. Wanita itu adalah Tiur.
Gerbang dibuka. Tiur membantu Retha membawa barang-barangnya masuk ke dalam lalu menutup kembali gerbang itu. Retha memarkirkan motornya di tempat yang telah disediakan. Ada banyak motor milih penghuni terparkir di sana.
Sepanjang jalan Retha memperhatikan pintu-pintu yang berderet. Para wanita di sana penampilannya bisa dikatakan cukup terbuka dengan pakaian minim dan ketat.
"Kamarku ada di lantai paling atas. Maaf ya, kita agak harus bersusah payah untuk naik ke atas."
"Tidak apa-apa, Tiur. Seharusnya aku yang harus meminta maaf karena telah merepotkanmu."
"Halah! Seperti dengan orang lain saja. Aku sudah menganggapmu seperti adik sendiri."
Retha sudah tahu siapa Tiur. Dia seorang wanita yang berprofesi sebagai pelacvr. Mereka bisa saling mengenal karena pernah sama-sama bekerja di klab malam.
Retha yang dikenal sebagai seorang guru yang ramah dan baik hati di sekolah memiliki pekerjaan sampingan sebagai waitress di klab malam. Tentunya pihak sekolah tak mengetahui pekerjaan sampingannya itu karena sudah jelas melanggar perjanjian kerja bahwa guru di yayasannya tidak boleh terlibat dalam hal-hal atau kegiatan yang dapat mencoreng nama sekolah.
Bukan tanpa alasan Retha mengambil pekerjaan sampingan. Penghasilannya sebagai guru tidak mencukupi untuk menutupi seluruh kebutuhan keluarga, apalagi memiliki ayah yang hobi judi dan mabuk. Tiga kali dalam satu pekan ia bekerja di klab malam untuk mendapatkan tambahan uang.
"Hah! Akhirnya kita sampai juga." Tiur beehenti di depan pintu paling ujung di lantai tiga. Napasnya terdengar tersengal-sengal setelah naik tangga dari lantai satu ke lantai tiga dengan membawa koper milik Retha yang besar.
Retha juga merasakan hal yang sama. Sangat melelahkan untuk mencapai kamar milik Tiur. Tapi, pemandangannya dari atas sana terlihat indah. Hamparan padi yang mulai menguning diterpa matahari senja begitu mempesona. Ditambah lagi hembusan angin semilir semakin menentramkan jiwa yang dipenuhi kegundahan.
Tiur membukakan pintu. Kamar kontrakan itu cukup luas yang terdiri dari ruang tamu mungil, 2 kamar, 1 kamar mandi, dan dapur. Kata Tiur, lantai tiga memang dibuat lebih luas seperti rumah susun. Biaya sewanya juga lebih mahal.
"Aku sudah membereskan kamar untukmu. Mudah-mudahan nanti kamu betah, ya." Tiur membawa Retha ke kamar yang akan ditempati. Sudah tersedia Kasur dan lemari, Retha tinggal menempatinya saja.
"Tiur ... terima kasih, ya ...." Retha memberikan pelukan hangat kepada temannya. Ia tak tahu lagi harus pergi kemana. Tak ada seorangpun yang ia kenal di kota itu. Sejak kecil, ia hanya tinggal bersama keluarganya. Tak memiliki sanak saudara yang bisa diandalkan saat mereka kesulitan. Ayah yang diharapkan sebagai pelindung keluarga justru berubah haluan menjadi sosok yang jahat di matanya.
"Sudah aku bilang kan, tidak perlu berterima kasih. Kamu juga dulu pernah menolongku, sekarang giliranku menolongmu."
Tiur ingat saat masih bekerja di klab malam. Ia hampir mati keracunan akibat ulah salah seorang pelanggan yang berniat membunuh Tiur karena dicurigai menjadi selingkuhan pacarnya. Tidak ada orang yang berani menolong Tiur dalam kondisi sekarat. Retha, dengan kepolosannya, membawa Tiur ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Beruntung nyawa Tiur masih bisa diselamatkan. Sejak saat itu ia tidak pernah melupakan ke aikan Retha, meskipun dia sekarang sudah berhenti menjadi pelayan di klab malam.
"Retha ...," panggil Tiur. Sorot maganya menyiratkan keseriusan. Sepertinya ia ingin menyampaikan sesuatu yang penting. "Kamu sudah tahu, kan, apa pekerjaanku?" tanyanya memastikan.
"Iya, Tiur. Aku tahu. Aku tidak akan ikut campur dengan urusan pribadimu." Retha merasa dirinya juga bukan orang baik. Menurutnya, setiap orang memiliki alasan untuk memilih jalan hidupnya. Ia sendiri belum berminat mengikuti jalan Tiur. Selama masih bisa diusahakan, ia akan melakukan hal lain kecuali menjual diri.
"Aku, dan orang-orang di sini ... kebanyakan jadi wanita panggilan. Tidak jarang juga kami melayani tamu-tamu di dalam kontrakan."
Retha mengangguk memberi isyarat bahwa ia sudah paham. "Kamu tidak perlu sungkan dengan keberadaanku, aku akan pura-pura tidak tahu. Lakukan saja seperti biasa sebelum aku di sini."
Tiur tertawa kecil. Sebenarnya ia tidak ingin membawa Retha tinggal di sana. Tempat itu bukanlah tempat yang cocok untuk orang seperti Retha. Tiur tahu Retha orang baik, bekerja di klab malam saja sebenarnya terpaksa. Berbeda dengan dirinya yang rela menjual diri karena memang sudah terbiasa dengan kehidupan yang glamor dan mendapatkan banyak uang dengan cara instan. Ia sudah pernah mencoba beralih profesi sebagai SPG, namun penghasilannya sangat jauh dari yang biasa ia dapatkan dengan menjual diri.
"Kalau malam ada suara aneh-aneh, kamu jangan terpengaruh, ya. Usahakan jangan keluar kamar sebelum tamuku pulang. Takutnya ada yang rese sama kamu."
Retha mengangguk.
"Aku juga sering melakukan siaran langsung di aplikasi Big-O, My-Cat, Ba-Tok, dan lain-lain ... pokoknya jangan kaget kalau lihat aku buka-buka baju depan kamera atau joget-joget nggak jelas. Kamu tahulah, itu juga caraku untuk dapat uang."
Retha meringis. Membayangkan apa yang dikatakan Tiur itu ngeri-ngeri sedap. Ia belum pernah melihat Tiur seperti itu. Tiur sebatas mengatakan sering live di internet.
"Oh, iya. Lebih penting lagi, kalau kamu keluar masuk kawasan ini, tutupi serapat mungkin wajahmu dengan masker dan hoodie. Memang agak merepotkan, setidaknya kamu akan lebih aman. Untuk jaga-jaga saja supaya tidak ada lelaki jahil padamu. Yah, meskipun penjaga di gerbang juga sudah aku beri tahu kalau kamu itu adikku."
"Mereka kira-kira sok mau tahu nggak urusan orang? Soalnya aku kan mengajar di TK Yayasan yang lumayan punya nama. Kalau penghuni tempat ini ada yang lapor, aku bisa dipecat."
"Kamu tenang saja, orang-orang di sini sudah sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Tidak ada waktu mengurusi kehidupan orang. Apalagi kami ini bukan orang baik-baik."
ceritanya bagus
paling paling kau..
haaa
keluar juga sifat aslinya
guut Bara..
puas dah tawain thea