NovelToon NovelToon
Married With The Devil

Married With The Devil

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Tamat
Popularitas:7M
Nilai: 4.9
Nama Author: Reyya Jung

Diusianya yang baru menginjak 16 tahun, Bianca Rosaline terpaksa menikahi pria yang lebih tua 12 tahun dari dirinya. Semuanya terjadi ketika kedua orang tuanya dengan tega menjual dirinya pada lelaki asing.

Ditengah penolakannya, Bianca mau tak mau harus menemui pria itu—Alan Drax. Pria yang tanpa ragu membeli dirinya dengan harga mahal.

Dan ketika pertama kali bertemu, Bianca tak mampu mengalihkan perhatiannya saat iris hitam legam Alan menatapnya tajam. Sekalipun wajah pria itu tak menampakkan ekspresi apapun.


Note :: Kalo udah baca, jangan lupa ninggalin jejak yaahhh. Biar aku tau kalo kamu itu ada #eeaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyya Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rico

Rico yang sedari tadi menunggu kedatangan Bianca di depan kelasnya, mendadak tersenyum lebar ketika melihat kedatangan gadis itu. Hari ini, seperti biasa, Bianca terlihat begitu cantik. Tidak seperti orang Amerika kebanyakan yang memiliki rambut pirang, Bianca memiliki surai hitam khas orang Asia. Tak heran memang, sebab, Kakeknya—ayah dari sang ibu, memiliki darah keturunan Asia.

“Bianca, selamat pagi.” Sapa Rico ketika Bianca baru saja sampai di depan kelasnya.

“Pagi, Rico.” Balas Bianca seraya melangkah memasuki kelasnya. Tak peduli akan keberadaan Rico.

Tanpa ragu, Rico melangkah masuk—mengikuti Bianca. Sehingga membuat seluruh kelas mengalihkan perhatian padanya. Apalagi ketika ia dengan sengaja berdiri dalam jarak dekat di sebelah Bianca.

“Hah.” Bianca mendesah pelan lalu beralih menatap Rico. Sebenarnya, ia tahu jika pria itu dengan sengaja menunggu dan mengikutinya sampai ke dalam kelas. Hanya saja, Bianca berpura-pura tak acuh, dengan harapan, Rico tak mengganggunya. Namun sayang, pria itu justru semakin lebih berani untuk mendekatinya.

“Hum … Bianca, aku ingin mengajakmu makan siang bersama.” Suasana kelas mendadak riuh setelah mendengar ucapan Rico. Sesekali, ada yang bersiul dengan nada menggoda. Tapi Bianca menanggapinya dengan santai. Seolah telah terbiasa.

“Tapi aku dan Lily sudah janji untuk makan bersama.” Bianca segera menatap Lily yang sedari tadi hanya memerhatikan dalam diam. Sehingga membuat sahabatnya itu mengangguk cepat sebagai jawaban.

“Aku tak masalah.” Karena tak mengenal kata menyerah, Rico kembali berusaha agar Bianca mau menerima tawarannya.

“Tapi—baiklah.” Dengan enggan, Bianca menuruti permintaan Rico. Selain karena tak ingin mempermalukan pria itu di hadapan teman-teman sekelasnya, Bianca juga sudah merasa jengah saat beberapa gadis menatapnya tak suka. Jelas sekali jika mereka adalah penggemar kapten tim basket tersebut.

“Benarkah? Kalau begitu, sampai nanti.” Setelah berseru senang, Rico dengan cepat melangkah pergi meninggalkan Bianca sembari melambai penuh semangat. Namun, tak lama setelah ia menghilang dari jarak pandang Bianca, kebahagiaan di wajahnya tergantikan dengan seringain licik.

“Akan kulakuan apapun untuk mendapatkanmu.” Batinnya seraya tersenyum puas.

***

Kedatang Rico bersama Bianca di kantin sekolah, untuk pertama kalinya, menjadi tontonan yang menarik saat ini. Pasalnya, bukan rahasia umum lagi jika sejak dulu, Rico memang sudah mengejar-ngejar Bianca. Dan kebersamaan mereka saat ini membuat yang lainnya berasumsi jika Bianca akhirnya takluk juga ditangan pria itu.

“Kau mau makan apa? Biar aku pesankan untukmu.” Rico berucap dengan nada manis. Yang sukses membuat Bianca dan Lily saling menatap dengan kening berkerut.

“Terserah kau saja.” Bianca berucap tanpa minat seraya mengajak Lily untuk mengobrol bersama. Sengaja ingin mengabaikan tatapan ingin tahu dari sekitarnya.

Tak lama setelah kepergiaannya, Rico muncul dengan membawa sebuah nampan berisikan dua burger keju berukuran sedang, satu porsi spageti dan juga tiga kaleng minuman bersoda.

“Terima kasih, Rico.” Ucap Lily seraya tersenyum kecil pada Rico, yang dibalas pria itu dengan anggukan kepala. Sementara Bianca tengah sibuk mengisi perutnya dengan seporsi burger keju yang tadi dibelikan oleh Rico. Tak ada kata terima kasih yang terucap dari bibirnya. Karena menurut Bianca, Rico sendiriliah yang mengajak—memaksanya untuk makan siang bersama.

Ditengah kegiatannya mengisi perut, Rico tak pernah melepaskan sedikitpun perhatiannya dari wajah Bianca. Sesering apapun ia melihat gadis itu, Rico tak pernah merasa puas. Bahkan keinginannya untuk memiliki Bianca semakin bertambah besar. Dan mengajak Bianca untuk makan siang bersama saat ini termasuk dalam salah satu caranya untuk mendekati gadis itu. Rico juga merasa begitu puas ketika Bianca mau menerima ajakannya, yang menurutnya menjadi salah satu bukti jika gadis itu mulai luluh akan semua usahanya. Setidaknya, itulah yang Rico pikirkan.

***

Setelah membiarkan Bianca melambai sebentar pada sahabatnya Lily, Jimmy segera melajukan mobil yang dikemudikannya membelah jalan yang tak terlalu padat oleh kendaraan. Sekalipun trotoar pinggir jalan dipenuhi oleh murid-murid sekolah yang baru saja pulang.

“Kita mau ke mana?” Bianca bertanya seraya menatap Jimmy melalui keca spion dalam mobil ketika menyadari jika saat ini mereka sedang tak menuju ke rumah Alan.

“Kita harus menjemput tuan dulu.” Jawab Jimmy singkat. Lalu kembali fokus mengemudi.

“Bukankah dia selalu membawa mobil?”

“Tuan sengaja tak membawa mobil dan berpesan agar menjemputnya setelah menjemput Nona Bianca.” Bianca mengangguk mengerti lalu mengalihkan perhatiannya keluar jendela. Sekalipun hari sudah sore, namun matahari masih bersinar dengan terik di atas sana. Dan Bianca merasa beruntung ketika saat ini ia pergi dan pulang sekolah mengendarai mobil pribadi. Padahal dulu, ia harus berjalan kaki setiap harinya menuju halte bus. Ditambah, ia juga harus berjalan kaki lumayan lama untuk sampai ke rumahnya yang terletak di gang kecil.

“Jimmy, stop!” pekik Bianca. Hal yang membuat Jimmy mau tak mau menghentikan mobil secara mendadak. Beruntung mereka tak menabrak apapun.

“Ada apa, Nona?” tanya Jimmy seraya berbalik untuk menatap Bianca.

“Aku ingin membeli milkshake.” Ujar Bianca seraya tersenyum lebar dan dengan segera beranjak keluar dari dalam mobil. Tadi, ketika sibuk menatap keluar jendela, ia secara tak sengaja melihat salah satu booth minuman dingin yang begitu menggoda. Apalagi dicuaca yang panas seperti ini.

“Untukmu.” Sesampainya dimobil, Bianca segera menyodorkan satu gelas milkshake cappucino pada Jimmy. Yang dibalas pria itu dengan kernyitan di dahi.

“Untukku?” tanya Jimmy dengan nada ragu. Pasalnya, baru kali ini seseorang memberikan minuman padanya.

“Hu-um.” Jawab Bianca seraya menganggukkan kepala karena tengah sibuk menyeruput milkshake cokelat miliknya. Dan tersenyum puas ketika minuman dingin tersebut membasahi tenggorokannya.

“Terima kasih, Nona.” Jimmy berucap penuh ketulusan seraya mengambil milkshake yang masih disodorkan Bianca padanya. Tanpa Bianca sadari, disela-sela aktifitasnya membelah jalan, kedua sudut bibir Jimmy terangkat ke atas membentuk sebuah senyuman kecil.

***

Setelah menerima telfon dari Jimmy dan mengatakan jika ia telah berada di depan gedung kantornya, Alan segera melangkah pergi meninggalkan ruangan kerjanya. Hari ini, ia bisa menyelesaikan seluruh pekerjaannya dengan cepat. Tentu saja atas bantuan dari sekretarisnya—Lucy.

“Lama sekali.” Ucap Alan dengan nada ketus yang dibuat-buat setelah ia baru saja masuk ke dalam mobil. Dan Jimmy yang kembali fokus melajukan mobil menuju rumah Alan.

“Salahmu sendiri tak membawa mobil.” Balas Bianca tak acuh. Lalu kembali sibuk dengan milkshake cokelat di tangannya.

“Apa itu?” tanya Alan seraya menunjuk sesuatu di tangan Bianca. Sejak tadi, matanya memang tak pernah lepas dari gelas bening plastik berpenutup yang dipegang oleh istrinya itu.

“Milkshake.” Jawab Bianca singkat. Seakan ia memang tak ada niat untuk berbicara dengan suaminya.

“Untukku?” tanya Alan seraya menunjuk dirinya sendiri.

“Tak ada. Kau bisa beli sendiri.” Jawab Bianca seraya menatap Alan dengan senyum mengejek. Sengaja ingin membuat pria itu kesal.

Bianca sadar jika milkshake yang dibelinya menggunakan uang dari Alan. Setiap harinya, pria itu tak pernah lupa meninggalkan satu lembar pecahan seratus dolar diatas meja nakas di kamar mereka sebagai uang jajannya. Sementara keperluannya yang lain juga ditanggung oleh pria itu. Awalnya, Bianca menolak seraya menatap Alan tak percaya. Ia tak pernah memegang uang yang banyak. Bahkan ketika masih tinggal bersama kedua orangtuanya, mereka hanya memberikan uang jajan sebanyak dua puluh dolar untuk satu minggu.

Namun karena suaminya itu tak pernah mengenal kalimat penolakan, Bianca hanya bisa menerima dengan pasrah. Dan sisa uang jajannya ia tabung sendiri.

“Yang ini untukku saja.” Alan berucap santai seraya berniat mengambil segelas milkshake yang terletak pada drink holder yang berada di dalam mobilnya. Namun pergerakannya terhenti ketika mendengar ucapan Jimmy.

“Yang ini milikku, Tuan.” Jimmy berucap tegas seraya memegang gelas milkshake tersebut. Seolah melarang Alan untuk menyentuh apalagi mengambilnya. Alan tertegun, matanya hanya bisa menatap Jimmy tak percaya.

“Good job, Jimmy.” Ucap bianca senang seraya terkekeh geli. Alan mendesah jengkel lalu berbalik menatap Bianca dengan mata memicing. Bianca terdiam, apalagi ketika salah satu sudut bibir Alan tertarik ke atas.

Dengan gerakan cepat, Alan mendaratkan satu kecupan kecil pada pipi Bianca seraya tersenyum puas.

“Alan!” Bianca berteriak kaget seraya melirik kaca spion dalam. Sungguh merasa malu apalagi jika Jimmy sampai melihatnya. Tapi seperti biasa, yang Bianca dapatkan hanyalah wajah tanpa ekspresi pria bemata biru itu.

***

“Woah!” Bianca yang berniat menaiki tangga tersentak kaget ketika Alan secara tiba-tiba menarik tangannya dan membuat dirinya berada di dalam pelukan pria itu. Beruntung ia tak terjatuh.

“Diam dan jangan protes.” Titah Alan. Dan tubuh Bianca secara refleks mengikuti perintah pria itu.

“Hei–aku mau mand—” Sebelum menyelesaikan ucapannya, Alan telah lebih dulu memenjara bibir Bianca. Mengulumnya penuh kelembutan.

“Balasan untuk yang tadi.” Alan berucap santai seraya menaiki tangga. Meninggalkan Bianca yang menatapnya tak terima lengkap dengan umpatan kekesalan.

1
Linda Andri
Luar biasa
SM🌺
lama bgt ya, uda keburu diperkosa itu sih. kirain bakal ketemu dalam hitungan jam
Dahlia Dwi Aisyah
ceritanya bagus
Sumarni
saya mampir ya thor🙏
Samsul Hidayati
gila itu emak, bisa anak sendiri di perkosa
Samsul Hidayati
ular keket beraksi
Samsul Hidayati
mulai ada ulat bulu
Samsul Hidayati
tu kan Alan sdh jatuh cinta sama blaca
Samsul Hidayati
alan sdh jatuh hati sama Blanca itu tunggu bucin akunx
Samsul Hidayati
alan itu sdh mulai ada rasa suka
Samsul Hidayati
keren Alan setia setelah menikah
Samsul Hidayati
sy suka lelaki seperti Alan waktu muda gonta ganti setelah menikah jd setia
Tita Amelia
kelamaan coba itu papa alex langsung gercep d ratakan semua sama papa alex
Ani Yuningsih
katanya kaya, pintar, kok pekok, bodoh, plus begonya gak ke tulungan ya, kok gak masuk akal sm skx, kayak GK ada niat mo nyari si bego' alan
Wiwikfaridotulsummeh24 Faridot
bikin season 2 nya
Wiwikfaridotulsummeh24 Faridot
bikin season 2 nya Thor anak2nya Bianca🙏
uus widiani
ya ampun emaknya
Febriani Soemantri
Semua sekretaris bucin abis ama sibos apa2 dilaporkan 😂😂😂😂
Ida
akhirnya jebol juga kasiaan
PeQueena
3x purnama dan akpun baru menginjakan lg disana...
btw makasih kakakk author..
senang dengan karyamu.💗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!