"Mentari, istri bocah ku......aku sangat mencintaimu. Taukah kau seberapa besar cinta ku pada mu?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Memangnya seberapa besar pacar ku ini mencinta aku?" (Mentari)
"Tidak besar, kecil sekali!" (Arka Anggara Wijaya)
"Ngapain nanyak kalau gitu!" (Mentari)
"Mentari?" (Arkana Anggara Wijaya)
"Em!" (Mentari)
"Cinta ku pada tak seluas samudera dan tidak sedalam lautan biru, tapi aku lebih mencintai mu dari pada diri ku sendiri, dan aku cemburu walau yang memandang mu seorang wanita. Aku ingin mengurung mu dalam sangkar cintaku. Agar tidak ada yang dapat menyentuh mu, kau Mentari ku dan hanya boleh menyinari ku saja. Biarlah aku menjadi budak cinta mu," (Arkana Anggara Wijaya)
"Pacar ish.....Tari gemuszzzz, oppa sarangheo," (Mentari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
"Kak makan....entar lu mati, besok lu kawin.....kalau lu mati siapa coba yang gantiin lu jadi mempelai wanitanya. Gw mah ogah, liat wajah calon laki lu aja gw enek," celetuk Mentari, yang masuk ke kamar Rembulan tanpa permisi dan tiba-tiba ia sudah berdiri di belakang Rembulan.
Rembulan hanya diam, ia berdiri sambil menyadarkan bahunya miring di sisi jendela, kedua tangannya memeluk dirinya sendiri, sesekali tangan itu mengusap lengan bagian atasnya seakan ia merasakan dingin. Padahal ia tengah merasa kecewa pada dirinya sendiri. Tidak ada raut bahagia yang kini ia rasakan, yang ada hanya kesedihan dengan wajah yang kusut, dan muram.
"Woy.....napasih," Mentari menepuk punggung sang Kakak, "Lu nangis Kak?" tanya Mentari sembari melihat wajah sembab sang Kakak, "Gila parah lu, nikah aja lima langkah dari rumah....galaunya selangit," bocah ingusan itu terus berbicara tanpa jeda, mulutnya yang cerewet itu terus berbicara tanpa arah yang jelas. Tapi ia pun memang penasaran mengapa Kakak nya yang sangat mencintai Arka itu malah menangis, bukankah menikah dengan orang yang kita cintai itu adalah hal yang sangat membahagiakan.
"Tari keluar dari kamar gw!" Rembulan tidak ingin menatap Mentari, ia hanya menekuk wajahnya. Tidak ada perasaan bahagia yang biasanya dirasakan calon pengantin, yang ada hanya rasa sedih dan kesal atas apa yang sudah ia rasakan.
Mentari menatap sinis Rembulan, "Lu ya Kak....gw juga ogah ke sini.....tapi karena di suruh Mama aja!" geram Mentari karena sang Kakak malah mengusirnya.
"Gw bilang keluar!" Rembulan mendorong Mentari agar keluar dari kamarnya, dan membanting pintu kamar begitu saja.
DUAR.....
"Sialan lu, Ulan GILA......." teriak Mentari sambil menendang pintu kamar sang Kakak, "Aduh sakit," Mentari mengelus kakinya ada perasaan menyesal saat menendang pintu, tapi harus bagaimana ia memang tadi cukup kesal.
"Tari ini ada apa Nak?" Ranti bertanya karena ia barusan mendengar keributan, itu memang biasa terjadi jadi Ranti tidak lagi merasa lucu atau aneh. Kakak adik itu memang tak jarang terlibat peperangan yang tak jarang membuat nya pusing juga.
Tari menatap Ranti, "Ma, Kak Ulan tuh....anak perempuan kesayangan Mama itu nggak tahu diri," omel Mentari.
"Ada apa?" Ranti masih dalam mode lembutnya, karena ia belum tahu permasalahan Kakak beradik itu.
"Mama tadi minta Tari buat manggil Kak Ulan makan?"
"Iya.....terus," Ranti masih menunggu lanjutan cerita dari Mentari.
"Terus Kak Ulan usir Tari!" Lanjut Mentari dengan dada yang naik turun, bahkan matanya melebar.
"Sudah....sudah," Ranti mengelus punggung Mentari, "Besok Kak Ulan udah nikah.....nanti kamu kangen loh sama Kakak....jadi lebih baik sekarang kalian akur....ya," Ranti mengelus kepala Mentari dan masuk ke kamar Rembulan.
Tok....tok....tok...
"Ulan Mama masuk ya?" karena tidak mendapat jawaban Ranti memutar gagang pintu dan ia melihat Rembulan hanya berdiam diri, dengan posisi memunggunginya. Mungkin juga Rembulan tidak mendengar jika ia meminta ijin masuk, "Ulan," Ranti menepuk punggung Rembulan.
Rembulan tersentak, ia sungguh tidak mendengar atau pun menyadari Ranti yang kini berada di dekatnya.
"Kamu kenapa?" Ranti tahu putrinya itu kini tengah menyimpan sesuatu, terlihat jelas wajah Rembulan yang tidak secerah biasanya.
Sejenak Rembulan menatap Ranti, tidak lama kemudian Rembulan kembali menatap keluar. Ia tidak tahu apa yang harus di katakan pada Ranti, lagi pula apa yang akan Ranti lakukan padanya bila ia menceritakan hal gelap yang sudah terjadi pada dirinya.
"Ulan....." suara lembut itu lagi-lagi membuat Rembulan menyadari jika Ranti masih di sana.
"Ma, Ulan pengen sendiri dulu...." pinta Rembulan.
Ranti mengangguk, "Mama keluar dulu, ingat jaga kesehatan buat besok....." Ranti menepuk punggung sang putri.
Rembulan mengangguk, Ranti pun pergi meninggalkan Rembulan sendirian di kamar sesuai keinginan nya.
"Aaaaaaa......" Rembulan menangis dan menjerit, dada nya kembali sesak dan terasa sakit. Ia ingin menceritakan pada Arka tentang dirinya, namun akan kah Arka masih menerima dirinya.
Drett.....drett...drett....
Ponsel Rembulan berdering tertulis nama Arka di sana, Rembulan memegang ponsel miliknya namun ia ragu untuk menjawab panggilan itu atau tidak. Namun setelah berdering beberapa kali akhirnya Rembulan memutuskan untuk menerima panggilan itu.
"Huuuufff," Rembulan menarik napas terlebih dahulu, kemudian meletakan ponsel pada telinga, "Mas Arka...." kata Rembulan, ia berusaha tenang dan menghilangkan suara getirnya.
"Kamu sedang apa?" Arka mulai bertanya dari seberang sana, "Dan kemana saja kenapa baru sekarang jawab panggilan aku?" Arka menghubungi Rembulan dari kemarin malam, tapi baru sore hari ini Rembulan menerima panggilan nya.
"Arka aku mau ngomong," Rembulan terlihat ragu, sejenak ia menimbang apakah mengatakan pada Arka adalah jalan terbaik.
"Iya kamu mau ngomong apa?" Arka menunggu apa yang akan dikatakan oleh Rembulan, namun cukup lama menunggu tetap saja Rembulan masih diam dalam kebisuannya, "Kamu mau ngomong apa?" Arka kembali bertanya.
"Apa kamu mau menerima aku apa adanya?" pertanyaan itu lolos dari bibir Ulan.
"Kamu ini bicara apasih, kita besok sudah menikah. Kenapa baru bertanya itu sekarang," Arka malah tertawa dengan pertanyaan Rembulan. Hingga tiba-tiba Linda datang di saat yang tidak tepat.
"Arka ini jas kamu ya Nak, besok ini kamu pakek.....kamu cobain dulu....mana tahu kekecilan atau kebesaran," kata Linda dengan bahagia, bahkan Rembulan pun mendengar dari sebrang sana.
"Iya Mi, nanti Arka cobain."
"Nggak boleh nanti, harus sekarang, karena akan segera di ganti kalau tidak cocok," jelas Linda lagi, "Ayo cepat Arka, Mami nggak sabar liat kamu besok nikah dengan Rembulan dia itu wanita baik-baik, sopan, kamu beruntung sekali Arka," Linda tersenyum dengan begitu lembut, wajahnya masih menyiratkan kebahagian.
Deeg.
Jantung Rembulan berpacu dengan kencang, ia cepat-cepat mematikan panggilan itu sepihak. Bahkan tanpa meminta ijin pada Arka, tangan Rembulan meremas dada yang begitu semakin bergemuruh. Pujian yang di lontarkan Linda sungguh jauh dari kenyataan, pujian itu sangat tidak sesuai dengan keadaan yang kini ia rasakan.
"Aaaaaa......" Rembulan melempar ponselnya ke dinding hingga pecah menjadi hancur berantakan, tapi hancur pada ponsel itu tidak seberapa jika di bandingkan pada hatinya. Otak Rembulan kembali mengingat yang dikatakan oleh Linda mengenai dirinya wanita baik-baik, sepertinya salah besar hingga Rembulan tersenyum miring. Apanya yang baik semua hancur seketika hanya karena kecerobohan yang ia buat sendiri, menyesal dan menyesal hanya itu saja yang bisa ia katakan. Andai, andai dan andai saja waktu bisa di putar kembali, ia ingin memperbaiki semua kesalahan ini.
Paling tidak sekarang suami yg kayak es beku sdh mencair.
Tadinya cerita awal dimulai dari Arka dan Rembulan lalu masuklah sosok Mentari, dikupas Thor tentang mereka.