COVER FROM PINTEREST
.
.
Dinda tidak mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya mengingat bahwa cintanya bertepuk sebelah tangan dan tak hanya itu, dia masih mengingat jelas ketika pria yang dia cintai itu merenggut masa depannya. Namun dengan tatapan mata pria itu, Dinda bisa memastikan bahwa ada jutaan rahasia yang tidak dia ingat. Termasuk tentang bayi perempuan yang baru dia lahirkan. Bayi itu..., sangat mirip dengannya dan pria brengsek itu.
"Dia anak kita yang ke dua, Dinda," ucapnya dan mulai dari situ Dinda merasa semakin gila karena tidak bisa mengingat apapun.
Bagaimana dia bisa mempunyai anak ke dua sedangkan anak ke satu pun dia tidak mengingat siapa namanya.
PERHATIAN!
Cerita ini memiliki alur maju-mundur
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzieraHill, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4
DINDA POV
Fika sahabatku mencubiti tanganku yang tengah fokus dengan mata pelajaran manajemen yang sedang Mr. Ford
jelaskan di depan. Meski itu pelajaran yang sangat memusingkan, tapi aku tidak pernah mau ketinggalan. Karena itu aku tidak menyahuti cubitan Fika. Namun semakin lama aku bertahan ternyata Fika mencubitiku semakin keras membuatku mau tidak mau menolehkan kepalaku ke arah samping kanan.
"Apa sih!" gumamku menyenggol sahabatku dengan wajah geramnya.
"Mika semalam tidak ada berhentinya menghubungiku. Dia bilang minta nomermu yang baru," awalnya aku tidak tertarik, tapi karena mendengar nama Mika disebut aku pun mengalihkan kefokusanku kepada Fika
"Lalu, apa kau memberinya?" tanyaku. Fika menggelengkan kepalanya, sementara aku menghela
nafasku lega.
"Aku mohon jangan berikan padanya,” mohonku pada Fika. Fika pun terkikik ke arahku sebagai kode
rahasia yang tidak aku mengerti apa maksudnya.
"Enggak akan asal ada uang penutup mulutnya," aku yang mendengarnya mendaratkan tanganku ke atas
kepalanya.
"Okehh nanti aku ajak kau main ke rumah teman Ayahku, bagaimana? Kita buat kue rasa vanila. Aku
sedang ingin membuat kue," Fika menepuk tangannya senang layaknya anak kecil. Dia terlihat semangat sekali dengan kobaran matanya yang masih memperhatikanku.
“Tapi..., kenapa harus ke rumah teman Ayahmu? Bagaimana dengan rumahmu? Jangan bilang kau sudah menjadi
selingkuhan orang itu.” Mendengar itu aku kembali mendaratkan tanganku ke atas kepalanya. Enak saja di bicara seperti itu.
"Rumah teman Ayah maksudku. Ayahku pergi ke London semalam. Sekarang aku tinggal dengan temannya.
Entahlah, aku juga heran kenapa Ayah menitipkanku padanya. Sepertinya memang sedang ada perjanjian atau mungkin dia terlibat hutang dengan Ayah.” Ayah memang pernah bilang kalau beberapa orang yang sangat dekat sering kali meminjam uangnya. Mungkin orang yang tinggal denganku ini salah satunya.
"Oh oke, nanti usai perkuliahan ini tunggu aku ya. Aku ingin perpustakaan dulu," ungkap Fika
dan aku menyahutinya dengan anggukan di kepalaku.
...........................
Fika nampak sangat senang sekali dengan rumah Daniel. Sudah kukatakan sebelumnya kalau rumah ini sungguh seperti istana. Ada kolam renang yang selalu Daniel rawat airnya dan juga taman yang tidak sedikit pun terlihat usang. Mungkin karena Daniel tak pernah sibuk dengan pekerjaannya jadi, rumahnya bisa dia
rawat sendiri.
“Hei..., hei..., kenapa kau memutuskan untuk berenang?” tanyaku pada Fika yang sudah melepas bajunya dan hanya memakai tanktop dan juga celana ketatnya untuk berenang.
“Hahahaha aku tidak tahan melihat beningnya air ini. Apa lagi tempatnya membuatku semangat untuk segera masuk ke dalam sini.” Fika mulai menyelam ke dalam kolam. Dengan gerakan kepala yang sesekali muncul ke atas permukaan dia berhenti di ujung kolam renang.
“Ini sangat menyenangkan Dinda! Aku akan senang sekali jika kau mau mengajakku ke sini lagi,”aku tersenyum mendengarnya seraya mengambil pakaiannya yang terongok di lantai.
“Biarkan aku izin dengan Daniel. Aku juga akan merasa sepi jika Daniel tidak ada di rumah seperti sekarang dan lagi..., laki-laki itu memang tidak bisa kuketahui kapan dia akan pergi. Tadi pagi saja dia masih ada di sofa. Bersantai dengan TV-nya dan bersiul dengan kembang-kembang yang dia rawat di samping TV. Aku izin pergi ke kampus pun hanya dia katakan untuk berhati-hati di jalan.”
“Hahahahaha,” kudengar Fika tertawa. Dia meletakkan tangannya di pinggir kolam. Wajahnya dia
tumpukan pada ke dua tangannya yang dia lipat. “Memang dia tidak punya istri? Kenapa rumahnya sangat sepi? Sungguh! Jika Ayahku tahu. Mungkin akan dia beli dengan harga mahal. Aku sampai pusing melihat pelayanku di mana-mana.”
“Entahlah, aku juga tidak tahu. Ayah tidak memberitahu latar belakang kehidupannya dan memang Ayah terlihat sedang terburu-buru. Mungkin dia tidak sempat menceritakan bagian hidup pria ini denganku,”
Fika pun nampak mengangguk pelan. Dia kembali masuk ke dalam air dengan gerakan kakinya yang seperti katak berenang. Kemudian kepalanya muncul lagi dengan rambut yang memnutupi wajahnya. “Aku haus. Apa kau bisa mengambilkan minuman untukku, Nona.” Ungkap Fika membuatku jengkel.
“Dan kau kira, ini rumahmu! Kemudian kau berhak menyuruhku yang kau anggap sebagai
pelayan!” dengusku seraya meninggalkannya yang menertawaiku.
..........................................................
TOP epribadeeeeehhhh ...👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍