NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”

• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.

• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.

• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.

• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.

• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8 — Sentuhan yang Terlarang

Malam turun perlahan di Villa Vieri, membawa hawa dingin yang menyusup melalui jendela-jendela tinggi. Di luar, hujan membasahi taman dan membuat lampu-lampu di sepanjang jalan setapak berkilauan seperti pecahan kaca.

Bianca Elena Laurent berdiri di depan cermin kamar, mengenakan gaun tidur satin berwarna hitam dengan jubah tipis menutupi bahunya. Rambut panjangnya tergerai, sementara pikirannya masih dipenuhi pesan misterius yang mengancam keselamatan Adrian.

Jika kau memberi tahu sang Don, kau tidak akan pernah melihat Adrian lagi.

Ia menggenggam foto lama Elena dan Alessandro yang tadi disembunyikannya di dalam buku. Semakin lama ia memandang wajah ibunya, semakin besar keinginannya untuk mengetahui kebenaran.

Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah mengganggu.

Dante.

Pria itu selalu muncul ketika Bianca merasa hampir memahami sesuatu, lalu menutup pintu dengan serangkaian jawaban setengah hati. Anehnya, setiap kali mereka bertengkar, Bianca justru semakin menyadari kehadiran Dante—aroma parfum kayunya, sorot mata biru safirnya, dan caranya berdiri seolah seluruh dunia harus tunduk kepadanya.

Bianca membenci kenyataan bahwa sebagian kecil dirinya mulai tertarik pada pria itu.

Terlebih lagi, mereka telah menikah.

Pernikahan yang awalnya hanyalah kesepakatan kini terasa seperti perang yang perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih rumit.

Ketukan terdengar di pintu.

“Bianca, ini aku.”

Suara Dante membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

“Masuk.”

Dante membuka pintu. Ia sudah mengganti setelan formalnya dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka dan celana panjang gelap. Rambutnya sedikit basah, seolah baru saja berjalan melewati taman.

Tatapannya berhenti pada Bianca selama beberapa detik.

“Kau belum tidur?”

“Belum. Aku sedang menikmati kebebasanku sebelum suamiku mengeluarkan aturan baru.”

Dante menutup pintu, lalu mengangkat sebelah alis.

“Kau selalu punya jawaban untuk segala hal?”

“Hanya untuk pertanyaan yang tidak kusukai.”

“Aku mulai memahami mengapa kau begitu sulit dihadapi.”

“Dan aku mulai memahami mengapa tidak banyak orang berani berbicara jujur kepadamu.”

Dante mengembuskan napas pendek. Anehnya, ia tidak marah.

“Aku datang untuk membicarakan sesuatu.”

“Kalau ini tentang pengawalan, aku sudah mendengar cukup banyak hari ini.”

“Bukan.”

Dante melangkah menuju meja kecil di dekat jendela. Ia meletakkan sebuah gelas air, kemudian menatap Bianca kembali.

“Ada orang yang mencoba memasuki ruang arsip keluarga malam ini. Pengawalku menangkapnya sebelum dia berhasil masuk.”

Bianca langsung menegakkan tubuh.

“Siapa?”

“Dia tidak membawa identitas. Tetapi ketika diperiksa, dia memiliki foto ibumu.”

Darah Bianca seakan berhenti mengalir.

“Foto yang mana?”

“Foto Elena bersama ayahku.”

Bianca terdiam. Foto itu seharusnya berada di ruang terlarang, tetapi seseorang telah mengetahui keberadaannya dan bersedia mempertaruhkan nyawa untuk mendapatkannya.

“Apakah orang itu bekerja untuk Luciano?”

“Belum ada bukti.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan?”

“Mencari tahu siapa yang mengirimnya.”

Dante mendekat, dan untuk pertama kalinya malam itu, Bianca melihat kelelahan di balik sikap dinginnya.

“Aku ingin kau mengunci pintu malam ini. Jangan menerima siapa pun selain aku atau pengawal yang sudah kau kenal.”

Bianca menatapnya.

“Kau benar-benar takut sesuatu akan terjadi kepadaku.”

Dante tidak langsung menjawab.

“Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu.”

Kalimat itu sederhana, tetapi cara Dante mengucapkannya membuat dada Bianca terasa sesak.

“Kenapa?” tanyanya pelan. “Bukankah sejak awal aku hanya bagian dari kesepakatanmu?”

Rahang Dante mengeras.

“Awalnya, mungkin.”

“Dan sekarang?”

Dante menatapnya begitu lama hingga Bianca hampir menyesal telah bertanya.

“Sekarang aku tidak yakin lagi.”

Keheningan memenuhi kamar.

Hujan semakin deras, memukul kaca jendela dengan irama yang tidak beraturan. Bianca berdiri di dekat meja, sementara Dante berada hanya beberapa langkah darinya.

“Dante,” katanya akhirnya, “aku tidak tahu apa yang sedang terjadi di antara kita.”

“Aku juga tidak.”

“Kadang-kadang kau memperlakukanku seperti seseorang yang harus kau lindungi. Di lain waktu, kau memandangku seperti aku adalah ancaman terbesar bagi keluargamu.”

“Karena kau mungkin keduanya.”

Bianca tertawa kecil tanpa kegembiraan.

“Romantis sekali.”

“Aku tidak pernah mengaku sebagai pria romantis.”

“Tidak. Kau hanya pria yang menganggap semua masalah bisa diselesaikan dengan perintah.”

Dante menggeleng pelan, tetapi kali ini tidak membantah.

“Aku tidak terbiasa mengkhawatirkan seseorang,” katanya. “Biasanya, ketika seseorang menjadi kelemahanku, aku menjauhkannya dari hidupku.”

“Lalu mengapa kau tidak menjauhkanku?”

Dante melangkah mendekat.

“Karena aku sudah mencoba.”

Jarak di antara mereka kini begitu dekat sehingga Bianca dapat melihat gurat lelah di sudut mata Dante. Ia juga dapat merasakan kehangatan tubuh pria itu, kontras dengan udara dingin yang menyelimuti kamar.

Dante mengangkat tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuh wajahnya.

“Bolehkah aku?”

Bianca memahami pertanyaan itu tanpa perlu penjelasan.

Ia tahu Dante bisa saja memaksakan kehendaknya. Pria itu memiliki kekuasaan, pengawal, dan seluruh keluarga Vieri di belakangnya. Namun, malam itu ia memilih untuk menunggu jawaban Bianca.

Dan pilihan itu membuat pertahanannya goyah.

“Boleh,” bisik Bianca.

Jemari Dante menyentuh pipinya dengan lembut. Sentuhan yang begitu berbeda dari kesan dingin dan berbahaya yang selalu melekat pada dirinya.

Bianca memejamkan mata sesaat.

Ibu jarinya menyusuri tulang pipi Bianca, kemudian berhenti di dekat rahangnya. Tatapan mereka bertemu kembali, dan sesuatu yang selama ini mereka tahan terasa semakin sulit disangkal.

“Aku seharusnya tidak melakukan ini,” ujar Dante lirih.

“Kalau begitu, berhentilah.”

Dante tidak bergerak.

Bianca menelan ludah, lalu menambahkan, “Atau berhentilah mengatakan bahwa kau seharusnya berhenti.”

Kali ini, Dante tersenyum tipis.

“Kaulah yang membuatku kehilangan kemampuan berpikir jernih.”

“Bagus. Sekarang kau tahu bagaimana rasanya.”

Dante tertawa pelan—suara rendah yang jarang Bianca dengar. Sesaat, pria itu tidak terlihat seperti seorang Don yang ditakuti banyak orang, melainkan seorang laki-laki yang sedang berusaha memahami perasaannya sendiri.

Kemudian ia menundukkan kepala.

“Bianca, aku ingin menciummu.”

Jantung Bianca berdebar keras.

“Kalau begitu, jangan hanya mengatakannya.”

Dante mendekat perlahan, memberinya waktu untuk berubah pikiran.

Namun, Bianca justru mengangkat wajah dan menyambutnya.

Bibir mereka bertemu dalam ciuman yang awalnya lembut dan ragu-ragu. Dante menyentuh pinggang Bianca dengan hati-hati, sementara tangan Bianca bertumpu di bahunya.

Ciuman itu berlangsung lebih lama daripada yang mereka rencanakan.

Ketika mereka akhirnya berpisah, dahi Dante masih menempel pada dahi Bianca. Napas keduanya sedikit tidak teratur.

“Ini kesalahan,” bisik Bianca, meskipun tangannya belum beranjak dari bahu Dante.

“Mungkin.”

“Besok kita mungkin akan kembali bertengkar.”

“Hampir pasti.”

Bianca tertawa kecil, dan Dante mencium keningnya.

Sentuhan itu justru terasa lebih intim daripada ciuman mereka sebelumnya.

Untuk beberapa saat, Bianca membiarkan dirinya bersandar pada dada Dante. Ia dapat mendengar detak jantung pria itu, cepat dan nyata—sebuah pengingat bahwa bahkan seseorang seperti Dante Vieri masih memiliki sisi manusia yang disembunyikannya dari dunia.

Dante merangkulnya, tetapi tidak berusaha menuntut lebih.

“Kalau kau ingin aku pergi, katakan,” ujarnya.

Bianca mengangkat wajah.

“Aku ingin kau tinggal. Malam ini saja.”

Tatapan Dante melembut.

“Baik.”

Ia mengecup kening Bianca sekali lagi, lalu duduk bersamanya di sofa dekat jendela. Mereka berbicara dalam suara pelan tentang hal-hal kecil yang sebelumnya tak pernah mereka bagikan: masa kecil Bianca, kebiasaan Dante membaca laporan hingga larut malam, dan kenangan samar tentang ibu mereka masing-masing.

Malam itu, tidak ada janji cinta.

Tidak ada pengakuan besar.

Hanya dua orang yang perlahan menurunkan pertahanan mereka, membiarkan kedekatan tumbuh tanpa memaksakan apa yang belum siap mereka berikan.

Menjelang tengah malam, Dante berdiri untuk kembali ke ruang kerjanya.

“Aku harus memeriksa laporan dari pengawal.”

Bianca mengangguk, meskipun ada bagian dari dirinya yang ingin memintanya tetap tinggal.

Sebelum pergi, Dante menggenggam tangannya.

“Jangan pergi ke Piazza Navona besok malam.”

Bianca menahan napas.

“Aku sudah mengatakan bahwa aku belum memutuskan apa pun.”

“Dan aku berharap kau memilih untuk tetap aman.”

Dante mengecup punggung tangannya, kemudian berjalan menuju pintu.

Sesaat sebelum keluar, ia menoleh.

“Selamat malam, Bianca.”

“Selamat malam, Dante.”

Pintu tertutup perlahan.

Bianca berdiri sendirian di tengah kamar, menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat. Ia tidak tahu apakah ciuman itu akan mengubah hubungan mereka atau justru membuat segalanya semakin rumit.

Yang jelas, ia mulai memahami satu hal yang berbahaya.

Dante Vieri bukan lagi sekadar pria yang harus ia hadapi.

Pria itu mulai menjadi seseorang yang bisa melukainya dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan.

Namun, ketika Bianca hendak mematikan lampu, ponselnya bergetar.

Sebuah pesan baru muncul dari nomor tak dikenal.

“Kau mulai memercayai suamimu. Itu kesalahan pertamamu.”

Pesan kedua menyusul beberapa detik kemudian.

“Tanyakan kepada Dante apa yang terjadi pada Elena Laurent pada malam kematiannya. Lalu tanyakan mengapa Alessandro Vieri membayar seseorang untuk menghilangkan semua bukti.”

Bianca membeku.

Di bawah pesan itu terdapat sebuah foto buram yang memperlihatkan Dante berdiri di depan sebuah mobil hitam pada malam hujan, bertahun-tahun silam.

Di sampingnya, seorang pria tergeletak di tanah.

Dan di bagian belakang foto, tertulis satu kalimat:

“Suamimu mungkin bukan pembunuh ibumu, Bianca. Tetapi dia tahu siapa pembunuh yang sebenarnya.”

1
nnda
ceritanya dipercepat kah kak? kok tiba² udah punya anak si Bianca sama Dante
Isabell: iya kak mohon maaf update hari ini agak amburadul 😖 ada bab yang hilang, nanti aku ubah dulu kak 🙏
total 1 replies
Frida
💪
Yiruma Nitya
Bagus loh kak sumpah, semangat terus, jangan lupa mampirin aku jg ya
Yiruma Nitya
Jadi penasaran
Zendyaa4
aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭
niaww
semngat trus kak isabelll
Isabell: terima kasih kak 😍semangat juga untuk mu kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!