NovelToon NovelToon
Ternyata Bukan Aku

Ternyata Bukan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:14.5k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Misya dan Reyden menikah selama dua tahun. pernikahan yang mereka jalani karena perjodohan, tak ada masalah dalam rumah tangga mereka yang monoton itu.

namun menjelang pernikahan ke dua mereka, ternyata Misya baru tahu kalau Reyden belum menerima dan bisa mencintai dia bukan karena belum siap. tapi karena hatinya masih ada pada wanita masa lalunya yang akhirnya kembali.

apakah Reyden akan kembali kepada wanita di masa lalunya atau mungkin dia mulai menyadari cintanya kepada Misya?

ikuti terus kelanjutan kisah cinta mereka ya kak...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Misya 21

Langkah kaki Reyden begitu cepat, meninggalkan gema sepatu yang menghantam lantai marmer koridor lantai 42 Nusantara Tower. Hatinya terbakar oleh kepanikan yang teramat sangat. Di dalam lift pribadi yang membawanya turun ke basement, napasnya memburu tak beraturan, sementara jemarinya terus mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

'Jangan terjadi apa-apa pada Misya... Kumohon, ya Allah, jangan biarkan dia menyerah...' batin Reyden terus merapal doa dalam kecamuk rasa bersalah yang menghimpit dada.

Sementara itu, di dalam ruang rapat yang baru saja ditinggalkannya, keheningan yang mencekam masih menyelimuti ruangan.

Merlyn masih bersimpuh di lantai sudut ruangan, air matanya menetes deras membasahi pipi, sementara napasnya tersengal-sengal karena tangis histeris. Karier yang ia banggakan, posisi strategis di perusahaan keluarga, seketika musnah dalam hitungan menit hanya karena kebodohannya sendiri.

Aurelia berdiri kaku di dekat kursi utamanya. Wajahnya yang biasa memancarkan kepercayaan diri tingkat tinggi kini tampak pias, dikhianati oleh rasa malu dan amarah yang bergemuruh di dalam dada. Ia menatap tajam ke arah Merlyn yang masih terisak.

"Berdiri kamu, Merlyn!" suara Aurelia dingin menusuk, memecah keheningan ruang rapat.

Merlyn mendongak perlahan dengan mata sembab.

"Mbak Aurel... aku nggak nyangka Mas Rey bakal senekat itu... Dia benar-benar memecat dan nurunin jabatan aku..."

"Makanya, pakai otakmu sebelum bertindak!" sentak Aurelia tajam, tidak lagi bisa menahan kekesalannya. Suaranya bergetar menahan emosi.

"Kamu pikir dengan cara murahan seperti itu kamu bisa menjatuhkan istrinya dan membuat Rey kembali padaku?! Lihat sekarang! Kamu justru menghancurkan dirimu sendiri, dan yang lebih parah... kamu membuatku ikut dipermalukan di hadapannya!"

"Setelah ini bahkan sepertinya aku tak memiliki kesempatan lagi untuk bisa kembali dekat dengan Rey! Arrrrggghhh... Sia-lan!" Teriak Aurelia.

Staf-staf agensi yang lain hanya bisa menunduk, mereka tak mengira kalau Aurelia bisa berkata kasar seperti ini. Karena selama ini, image yang mereka tahu adalah Aurelia yang lemah lembut, sopan dan juga sangat penuh perasaan dan perhitungan.

Aurelia merapikan tas tangannya dengan gerakan kasar. Ia menyadari satu kenyataan pahit yang selama ini ia tepis, pria yang dulu pernah mengisi hari-hari masa lalunya kini telah benar-benar berpaling. Bukan lagi karena rasa hormat pada perjodohan keluarga, melainkan karena cinta yang tulus dan perlindungan mati-matian yang mulai tumbuh dan diberikan Reyden untuk Misya.

"Pemberkasan kontrak ini tetap harus berjalan sesuai prosedur, tapi urusan internal keluarganya... itu urusan kalian sendiri. Jangan pernah libatkan agensi saya lagi dalam drama murahan seperti ini!" tegas Aurelia penuh amarah sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan dengan langkah menghentak, meninggalkan Merlyn yang terpaku dalam penyesalan. Kini selain harus menerima hukuman dari Rey, dia juga akan mendapatkan sidang dari keluarga besarnya.

Di sisi lain, mobil sedan mewah hitam milik Reyden melesat kencang membelah jalanan ibu kota. Pikiran rey hanya satu, saat ini bertemu dan memang sudah waktunya menjelaskan semuanya kepada Misya.

Pukul dua lewat lima belas menit, mobil itu mendadak berhenti dengan decitan ban yang cukup nyaring di pelataran rumah mewah Reyden.

Ceklek!

Pintu utama terbuka lebar.

"Mbak Atin!" panggil Reyden menggelegar ke seluruh penjuru rumah, napasnya tersengal-sengal, peluh dingin bercucuran di pelipisnya.

Mbak Atin yang sedang berdiri cemas di dekat lorong lantai bawah langsung terlonjak dan berlari kecil menghampiri majikannya.

"Pak Rey...! Astaga, Bapak sudah pulang..." seru Mbak Atin dengan suara bergetar ketakutan.

"Bagaimana keadaan Misya?!" potong Reyden cepat, mencengkeram kedua lengan Mbak Atin dengan cemas.

"Apa pintunya sudah terbuka? Apa dia masih di dalam?"

Wajah Mbak Atin semakin pucat, wanita paruh baya itu menggelengkan kepalanya lemah dengan mata berkaca-kaca.

"Belum, Pak... Dari tadi suara tangisannya sempat reda, tapi tidak lama kemudian sesenggukan lagi makin kencang di dalam kamar tamu. Saya ketuk-ketuk dan panggil berkali-kali sudah tidak ada sahutan sama sekali, Pak! Saya takut... takut Ibu nekat melakukan hal yang tidak-tidak di dalam sana!"

Jantung Reyden seolah copot dari tempatnya mendengar penjelasan itu.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Reyden melemparkan tas kerjanya begitu saja ke lantai, lalu berlari tergesa-gesa menyusuri koridor lantai bawah menuju kamar tamu tempat Misya mengurung diri.

Tok... tok... tok!

"Misya!" panggil Reyden dengan suara bariton yang pecah dan bergetar hebat. Ia menggedor pintu kayu itu dengan panik.

"Misya, buka pintunya! Ini saya, Rey! Tolong, buka pintunya, Misya!"

Sunyi. Tidak ada sahutan sama sekali dari balik pintu. Suasana di dalam terasa begitu hening dan mencekam.

Rasa takut yang luar biasa merajam dada Reyden. Ia mencengkeram erat gagang pintu, mencoba memutarnya, namun tetap terkunci mati dari dalam.

"Mbak Atin! Ambilkan kunci cadangan sekarang!" perintah Reyden dengan suara meninggi, panik setengah mati.

"Sudah saya cari ke mana-mana, Pak! Kunci cadangannya tidak ada di tempat biasa, sepertinya terkunci rapat dari dalam menggunakan gerendel tambahan yang dipasang waktu malam-malam itu!" jawab Mbak Atin panik sambil meremas ujung seragamnya.

Reyden memejamkan mata sesaat, napasnya memburu. Tidak ada pilihan lain. Jika ia menunggu lebih lama, ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada wanita yang sangat dicintainya itu.

Braaakk

Braaakk

Reyden menghantamkan bahunya yang bidang ke daun pintu kayu tebal itu dengan sekuat tenaga.

"Pak Rey, jangan!" jerit Mbak Atin histeris.

Braaakk

Tubuh Reyden menghantam pintu kayu tersebut hingga suara bantingan keras menggema ke seluruh rumah. Pada hantaman kedua, gerendel besi di dalam pintu berderit nyaring, dan kunci di dalamnya jebol.

Braaakk

Hantaman ketiga yang dilayangkan Reyden dengan sisa-sisa tenaga dan kepanikan hebat membuat daun pintu kayu itu terbuka paksa. Engselnya berderit nyaring, terayun lebar menabrak dinding di baliknya.

"Ya Allah..." gumam Mbak Atin lemas, menutup mulutnya dengan kedua tangan di belakang Reyden.

Reyden menerobos masuk ke dalam kamar tamu dengan napas memburu dan dada yang naik-turun tak beraturan. Matanya langsung menyapu setiap sudut ruangan yang remang-remang karena tirai jendela tertutup rapat.

Di atas ranjang, tidak ada siapa-siapa. Kasur tampak rapi meski bantalnya sedikit berantakan. Namun, suara isakan tertahan yang amat lemah terdengar dari sudut ruangan, tepat di dekat sisi ranjang yang berbatasan langsung dengan dinding.

Langkah Reyden terhenti seketika. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat melihat sosok istrinya.

Misya duduk bersimpuh dengan posisi meringkuk di lantai sudut kamar. Kedua lututnya ditekuk erat ke dada, sementara wajahnya dibenamkan di antara lipatan tangan. Kaus longgar yang ia kenakan tampak basah di bagian pundak oleh air mata, dan rambut panjangnya tergerai berantakan menutupi punggungnya yang bergetar hebat. Di sampingnya, ponsel yang menampilkan pesan antara dirinya dan nomor baru yang tak lain adalah nomor Aurelia yang baru saja menghubunginya.

"Misya..." panggil Reyden pelan.

1
Susan Paulina
Lanjut lagi Thor, ditunggu ya 👍
Ambu Rinddiany Thea
untung mertua s misya tidak seperti emaknya s abi hadeeeeh amsiong we lmn kitu mah ..🤭
Sri Angga
good job reyden.
ryuka
xiihhh gila ni cewe.. dia yg ninggalin dia yg ga terima pas udah ga di pikirin
Oma Gavin
ulet bulu gatel aurela ngga kapok juga sudah di cuekin sudah di bentak ngga di anggap kok masih saja menggatal
ryuka
haduhhh ada ulet keket gabtau diri muncul
ryuka
untung bapak ibu mertua nya baik ya misya
Oma Gavin
ulet bulu gatel mulai menggatal
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Heni Setiyaningsih
bersyukur Misya punya mertua yg selalu menyayangi dan melindungi
nining cahyaningrum
bagus
Lembang Azam
bagus Rey sebelum trlambat, untung kamu cpt menyadarinya dan bergerak cp, klw enggak kamu yg tak ulek JD bergedel🤣
Oma Gavin
akhirnya reydhan tegas juga itu semua orang kenapa berkomplot musuhi misya dan bela aurelia
ryuka
diiihh dasar cewe cewe gila.. 🔥🔥🔥🔥🔥
nely_48
ku pegang kata² mu ya rey,,,
nely_48
hmmmm tunggu hukuman mu merlyn,, sok anggun sok merasa tinggi setinggi langit kau aurelia, gataunya cewe arogan n egois, pantas az bunda nya Rey lbh memilih menjodohkan dgn misya
Sri Angga
jgn cm dg kata tp buktikan
Ambu Rinddiany Thea
sok buktikan ters rey sm s misya kalo cinta kamu hanya buat ambu seorang eh salah , buat misya seorang maksdnya 🤭
Susan Paulina: Di tunggu Up selanjutnya Thor, tambah seruu 👍
total 1 replies
Ambu Rinddiany Thea
lanjuuut maak
Ambu Rinddiany Thea
kenapa sih ga apada terbuka aja 2 2 nya , s rey masih mendem soal s aurelia s misya masih mendem soal sepupu dajalna nu ngirim2 foto te bermerk , maenya ambu kudu turu gunung ie teh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!