NovelToon NovelToon
Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Balas Dendam Seorang Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.

Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.

Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.

Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.

Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.

Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Surat Terakhir dari Seorang Ibu

Celine Wang berdiri membeku di depan pintu lift, memandangi amplop putih yang baru saja diberikan Alexander Wu kepadanya.

Surat terakhir dari ibunya.

Selama bertahun-tahun, Celine percaya bahwa Amelia Wang meninggal karena penyakit yang perlahan menggerogoti tubuhnya. Ia masih mengingat malam-malam ketika ibunya terbaring lemah, berusaha tersenyum meski napasnya semakin berat. Celine yang saat itu masih muda tidak pernah menyangka bahwa di balik senyum tersebut mungkin tersimpan rahasia yang dapat mengubah seluruh pemahamannya tentang masa lalu.

Kini, sebuah amplop sederhana mengancam untuk meruntuhkan semua yang dipercayainya.

“Dari mana kau mendapatkan surat ini?” tanyanya.

Alexander tidak segera menjawab.

“Aku menemukannya di dalam kotak dokumen pribadi ayahku. Kotak itu disimpan di ruang arsip yang tidak tercantum dalam daftar inventaris perusahaan.”

“Sudah kau baca?”

“Sebagian.”

Celine mengangkat wajahnya. “Sebagian?”

“Aku membaca halaman pertama. Setelah mengetahui nama ibumu, aku memutuskan untuk membawanya kepadamu.”

Celine tertawa hambar.

“Kau ingin aku percaya bahwa kali ini kau tidak menyembunyikan apa pun?”

“Aku tidak memintamu memercayaiku.”

Jawaban Alexander membuat Celine terdiam sesaat.

Dahulu, pria itu selalu berbicara seolah semua orang harus mengikuti keputusannya. Bahkan ketika mereka masih menikah, Alexander sering menentukan apa yang menurutnya terbaik bagi Celine tanpa pernah bertanya apa yang sebenarnya diinginkan istrinya.

Sekarang, untuk pertama kalinya, ia menyerahkan sesuatu tanpa memaksakan kesimpulan.

Namun, satu tindakan benar tidak mampu menghapus bertahun-tahun pengkhianatan.

“Aku akan menyerahkan surat ini kepada Daniel untuk diperiksa,” kata Celine. “Jika isinya benar-benar penting, aku akan mengetahuinya melalui jalur yang tepat.”

Alexander mengangguk.

“Aku mengerti.”

Celine hendak pergi, tetapi suara Alexander kembali menghentikannya.

“Ada satu hal lagi. Di dalam kotak itu, aku menemukan catatan tentang sebuah pertemuan di Hotel Lanting. Nama ibumu, William Wang, dan Shen Yiran tercantum di sana.”

“Aku sudah menemukan catatan pertemuan itu.”

Alexander terlihat terkejut.

“Kau sudah sampai sejauh itu?”

“Jauh lebih jauh daripada yang pernah kau bayangkan.”

Kalimat itu terdengar dingin, tetapi bukan tanpa alasan. Celine telah menghabiskan berbulan-bulan mengumpulkan potongan-potongan kebenaran, menghadapi ancaman, dan mempertaruhkan keselamatannya sendiri. Alexander baru mulai membuka arsip keluarganya setelah rahasia tersebut tidak lagi bisa diabaikan.

“Aku tidak akan menghentikanmu,” ujar Alexander. “Jika kau membutuhkan dokumen lain, aku akan memberikannya kepada Daniel.”

Celine menatapnya lama.

“Jangan lakukan ini untuk mendapatkan kesempatan kembali ke hidupku.”

“Aku tahu.”

“Tidak. Kau belum tentu tahu.” Suaranya melemah, tetapi tatapannya tetap tegas. “Aku pernah mempercayaimu lebih daripada siapa pun. Kau menghancurkan kepercayaan itu tanpa memberiku kesempatan untuk menjelaskan diriku sendiri. Jadi, jika sekarang kau ingin melakukan sesuatu yang benar, lakukanlah karena memang itu yang seharusnya kau lakukan.”

Alexander menundukkan kepala.

“Aku akan melakukannya.”

Celine kemudian melangkah pergi, membawa surat yang mungkin mengubah sejarah keluarganya.

Alexander tidak mengejarnya.

Untuk pertama kalinya, ia memahami bahwa mencintai seseorang tidak berarti memiliki hak untuk menahan orang itu agar tetap tinggal.

Di kantor Daniel Zhou, suasana terasa tegang ketika Celine meletakkan amplop tersebut di atas meja.

Daniel mengenakan sarung tangan tipis sebelum memeriksa bagian luar amplop. Ia memotret setiap sisi, mencatat kondisi kertas, lalu mengeluarkan selembar surat yang ditulis dengan tinta hitam.

Tulisan tangan itu membuat mata Celine langsung berkaca-kaca.

Ia mengenal setiap lengkungan huruf tersebut.

Tulisan tangan Amelia.

“Apakah kau siap membacanya?” tanya Daniel lembut.

Celine menarik napas panjang.

“Bacakan.”

Daniel mulai membaca.

Victor,

Jika surat ini sampai ke tanganmu, mungkin aku sudah tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tahu kau menganggap diam sebagai cara untuk melindungi keluarga, tetapi diam juga dapat menjadi bentuk pengkhianatan.

Celine mengepalkan tangannya.

Daniel melanjutkan.

William tidak pernah berniat menghancurkan keluarga Wu. Ia hanya ingin mengembalikan apa yang telah diambil dari Shen Guowei dan memastikan putrinya tidak menjadi korban perebutan kekuasaan. Namun, seseorang telah mengubah perjanjian itu, dan kini semua orang berusaha menyalahkan orang yang paling mudah dikorbankan.

Shen Yiran mengetahui siapa yang mengubah angka-angka dalam laporan Shengyuan. Aku juga mengetahui sebagian kebenarannya. Tetapi ada seorang anak yang tidak bersalah, dan keselamatannya bergantung pada keputusan yang kami ambil malam itu.

Celine merasakan tenggorokannya mengering.

Anak yang tidak bersalah.

Pikiran tentang gelang perak berbentuk bunga kembali muncul. Apakah anak yang dimaksud adalah Alexander? Atau seseorang lain yang selama ini belum mereka temukan?

Daniel membaca paragraf berikutnya.

Aku telah membuat keputusan yang mungkin tidak akan pernah bisa dimaafkan William. Aku memilih menyelamatkan seseorang daripada mengatakan seluruh kebenaran. Aku tidak tahu apakah pilihanku benar. Yang kutahu, jika semua nama dibuka pada waktu itu, seorang anak akan kehilangan masa depannya sebelum sempat memilih jalan hidupnya sendiri.

Surat itu berhenti sejenak.

Di bawah paragraf terakhir terdapat kalimat yang ditulis dengan tekanan tinta lebih kuat.

Jika suatu hari Celine mencari kebenaran, jangan biarkan dia mewarisi kebencian kami. Dia berhak mengetahui apa yang terjadi, tetapi dia tidak boleh dipaksa menanggung dosa yang bukan miliknya.

Celine menutup mulutnya dengan tangan.

Air matanya akhirnya jatuh.

Selama ini, ia mencari jawaban tentang kematian ayahnya, tentang kehancuran keluarganya, dan tentang alasan ibunya meninggalkan begitu banyak petunjuk. Ia mengira Amelia ingin membimbingnya menuju pembalasan.

Namun, surat itu menunjukkan sesuatu yang berbeda.

Ibunya mungkin justru berusaha mencegahnya mengulangi kesalahan generasi sebelumnya.

“Celine,” ujar Daniel pelan, “surat ini belum membuktikan bahwa Amelia dibunuh atau bahwa Victor terlibat langsung dalam kematiannya. Kita harus memeriksa tanggal, keaslian tulisan, dan konteksnya.”

Celine menyeka air matanya.

“Aku tahu.”

“Dan satu hal lagi. Surat ini ditujukan kepada Victor, bukan kepadamu. Ada kemungkinan beberapa bagian sengaja tidak dijelaskan karena mereka sudah mengetahui konteksnya.”

Celine menatap paragraf tentang seorang anak.

“Kalau anak itu adalah Alexander, mengapa ibuku harus melindunginya?”

Daniel tidak menjawab.

Mereka belum memiliki bukti yang cukup untuk menghubungkan Alexander dengan anak dalam surat itu. Gelang perak hanyalah petunjuk, bukan kepastian.

Celine memahami hal tersebut, tetapi sulit mengabaikan satu kemungkinan yang semakin kuat: Alexander mungkin telah terlibat dalam rahasia keluarga itu sejak kecil, tanpa mengetahui apa pun.

Sore itu, Alexander kembali ke kediaman keluarga Wu untuk menghadapi ayahnya.

Victor Wu sedang duduk di ruang kerja, memeriksa laporan perusahaan ketika Alexander masuk tanpa mengetuk.

“Kau menemukan surat Amelia,” kata Victor, bahkan sebelum putranya membuka mulut.

Alexander menatapnya tajam.

“Jadi, Ayah tahu surat itu ada.”

Victor menutup berkas di hadapannya.

“Aku tahu banyak hal yang tidak perlu kau ketahui.”

“Termasuk mengapa Amelia harus menyembunyikan seorang anak?”

Untuk pertama kalinya, wajah Victor kehilangan ketenangannya.

“Dari mana kau mendengar itu?”

“Dari suratnya.”

Victor berdiri perlahan.

“Kau tidak memahami apa yang terjadi lima belas tahun lalu.”

“Kalau begitu, jelaskan.”

“Tidak semua kebenaran akan menyelamatkan orang yang mengetahuinya.”

Alexander mengepalkan tangan, teringat betapa seringnya kalimat serupa digunakan untuk membenarkan kebohongan.

“Ayah selalu mengatakan bahwa semua yang dilakukan adalah demi keluarga. Tetapi William meninggal, Shen Guowei meninggal, Amelia meninggal, dan Shen Yiran menghilang. Berapa banyak orang lagi yang harus kehilangan hidupnya sebelum Ayah mengakui bahwa keluarga ini telah melakukan kesalahan?”

Victor menatap putranya dengan mata yang mulai memerah.

“Kau pikir aku tidak menyesal?”

“Penyesalan yang tidak diikuti kebenaran hanyalah cara lain untuk melindungi diri sendiri.”

Keheningan panjang memenuhi ruangan.

Akhirnya, Victor berjalan menuju lemari besi di sudut ruang kerja. Ia memasukkan kode, membuka pintunya, lalu mengambil sebuah kotak kecil berlapis beludru.

Ketika kotak itu dibuka, terlihat sebuah gelang perak dengan liontin berbentuk bunga.

Alexander tertegun.

Gelang itu sama dengan yang dikenakannya ketika masih kecil.

“Apa maksud semua ini?” bisiknya.

Victor menutup mata sejenak.

“Gelang itu bukan milikmu sejak awal.”

Alexander menatap ayahnya seolah tidak mengenali pria di hadapannya.

“Lalu milik siapa?”

Victor mengangkat wajah.

“Seseorang yang pernah diselamatkan Amelia pada malam ketika William meninggal.”

Jantung Alexander berdegup keras.

“Siapa orang itu?”

Victor menggenggam kotak tersebut erat-erat.

“Aku tidak bisa memberitahumu sebelum memastikan bahwa orang itu masih hidup.”

Malamnya, Celine menerima panggilan dari nomor tak dikenal.

Ia hampir membiarkannya berdering, tetapi sebuah pesan masuk tepat sebelum panggilan berakhir.

Jika kau ingin mengetahui siapa anak yang diselamatkan Amelia, periksa daftar pasien Rumah Sakit Lanting pada malam William Wang meninggal.

Celine segera menghubungi Daniel dan meminta bantuan untuk memeriksa arsip rumah sakit secara sah.

Namun, sebelum Daniel sempat menjawab, sebuah foto baru masuk.

Foto itu memperlihatkan seorang anak kecil mengenakan gelang perak berbentuk bunga. Wajahnya sengaja dicoret dengan tinta hitam.

Di belakang foto tertulis satu kalimat:

Anak itu bukan Shen Yiran, dan bukan pula anak Victor Wu.

Celine menatap foto tersebut dengan napas tertahan.

Jika pesan itu benar, selama ini mereka telah mengejar hubungan yang salah.

Dan jika Amelia menyelamatkan anak yang bukan berasal dari keluarga Wu maupun Shen, mungkin alasan sebenarnya di balik kematian William jauh lebih rumit daripada perebutan aset Shengyuan.

Ponselnya kembali bergetar.

Kali ini, sebuah pesan suara masuk.

Celine menekan tombol putar.

Suara seorang perempuan terdengar lirih, seolah berbicara dari tempat yang sangat jauh.

“Celine, jika kau sudah membaca surat ibumu, jangan percaya pada catatan rumah sakit yang akan kau temukan. Seseorang telah mengganti nama pasien itu.”

Suara tersebut berhenti sejenak sebelum melanjutkan.

“Dan orang yang menggantinya masih bekerja di tempat yang sama.”

Rekaman berakhir.

Celine menatap layar ponselnya dengan jantung berdebar.

Siapa perempuan itu?

Apakah Shen Yiran benar-benar masih hidup?

Dan jika seseorang telah memalsukan catatan rumah sakit selama lima belas tahun, apakah itu berarti pelaku masih memiliki kekuasaan untuk menghapus bukti kapan saja?

Celine memandang surat ibunya sekali lagi.

Ia kini memahami bahwa kebenaran bukanlah sebuah pintu yang terbuka begitu saja ketika seseorang menemukan kuncinya.

Kebenaran adalah lorong panjang yang dipenuhi pintu-pintu lain, dan di balik setiap pintu terdapat rahasia yang mungkin lebih menyakitkan daripada yang sebelumnya.

Namun, ia tidak akan berhenti.

Bukan demi membalas dendam kepada keluarga Wu.

Bukan pula demi membuktikan bahwa dirinya benar.

Ia akan terus mencari karena ayah dan ibunya berhak mendapatkan keadilan.

Dan kali ini, ia akan memastikan tidak ada seorang pun yang dapat mengubah bukti, menghapus nama, atau menentukan kebenaran mana yang pantas diketahuinya.

Tanpa disadari Celine, di sebuah ruangan gelap di Hong Kong, seorang perempuan tua sedang memandangi foto Amelia Wang.

Di samping foto itu terletak sebuah dokumen dengan nama pasien yang telah dicoret.

Perempuan itu mengangkat telepon dan berbisik kepada seseorang di ujung sambungan.

“Celine sudah menemukan suratnya.”

Suara seorang pria menjawab dingin.

“Kalau begitu, kita tidak punya banyak waktu lagi.”

Perempuan itu memejamkan mata.

“Apakah kau yakin ingin melakukan ini?”

Pria itu menjawab tanpa keraguan.

“Lima belas tahun lalu, kita membiarkan satu keluarga hancur demi melindungi seorang anak. Kali ini, kita harus memastikan anak itu tidak mengetahui siapa dirinya sebenarnya.”

Sambungan terputus.

Perempuan itu kembali menatap foto Amelia.

“Maafkan aku,” bisiknya.

Di luar jendela, lampu-lampu Hong Kong menyala seperti biasa.

Namun, sebuah nama yang telah dihapus selama lima belas tahun akhirnya mulai muncul kembali ke permukaan.

Dan ketika nama itu ditemukan, bukan hanya keluarga Wu yang akan menghadapi kehancuran.

Seluruh kebenaran tentang kematian William Wang mungkin akan terbuka—termasuk rahasia yang selama ini disembunyikan oleh orang yang paling dipercaya Celine.

1
niaww
semngat kak jangan lupa mampir🥰❤
Isabell: siap kakak terimakasih 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!