NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 5 PELANGGARAN PANTANGAN

Kepulan asap putih yang diembuskan Wira mengudara pelan, membaur dengan panasnya terik matahari Jogja yang kian menyengat menjelang pukul sepuluh pagi. Pemuda itu tersenyum miring, merasa seperti pemenang di atas singgasana pengasingannya. Undakan batu tua berukir yang ia duduki terasa dingin di balik celana seragam abu-abunya, memberikan kontras yang nyaman dari sengatan cuaca.

Sambil terus mengisap rokoknya dalam-dalam, Wira memperhatikan lalu lalang orang di sekitar Alun-alun Utara. Semuanya tampak berjalan lambat, seolah waktu di kota ini berjalan dengan kecepatan setengah dari kota-kota lain. Beberapa turis sibuk berfoto di depan gapura, sementara beberapa pedagang asongan duduk berteduh di bawah rimbunnya pohon beringin.

"Bosenin banget, sih?" gumam Wira, kembali mengembuskan asap. Ia meraih plastik es teh super manisnya, menyedotnya hingga bunyi sluurp keras terdengar ketika dasar plastik itu hanya menyisakan es batu dan sedikit air teh.

Karena malas mencari tempat sampah, Wira dengan santai melemparkan plastik kosong itu ke samping undakan. Plastik itu jatuh tepat di atas gundukan pasir bersih di dekat pilar. Beberapa tetes sisa air teh yang lengket menciprat mengenai ukiran batu kuno di dekat kaki Wira.

Pemuda itu tidak peduli. Baginya, itu hanyalah batu. Dan pasir adalah pasir. Tempat umum adalah tempat bebas.

Rokok di tangannya kini tinggal menyisakan puntung setelunjuk. Alih-alih mematikannya dengan benar atau membuangnya ke tempat yang semestinya, Wira justru menekan bara api rokok itu langsung ke permukaan batu berukir yang menjadi sandaran kakinya.

Cesss... Bunyi bara bertemu batu terdengar pelan, meninggalkan noda hitam abu yang kontras dengan warna asli batu tersebut. Ia lalu menyentil puntung itu sembarangan ke arah pelataran berpasir.

Untuk menyempurnakan posisi santainya, Wira mengangkat kaki kanannya yang terbalut sepatu kets kotor, lalu menumpukkannya tepat di atas sebuah ornamen patung kecil yang menyatu dengan gapura.

"Nyuwun ngapunten, Mas..." (Mohon maaf, Mas...)

Sebuah suara serak dan berat tiba-tiba menginterupsi ketenangan Wira.

Wira menoleh dengan malas.

Di bawah undakan batu tempatnya duduk, berdiri seorang pria tua renta yang mengenakan kemeja lurik pudar dan kain jarik sebagai bawahan, lengkap dengan sebuah blangkon di kepalanya.

Pria tua itu menatap Wira dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara terkejut, sedih, dan marah yang tertahan. Tangannya memegang sebuah sapu lidi yang sudah sangat tipis.

"Apa, Mbah?" sahut Wira tanpa mengubah posisinya sama sekali. Kakinya tetap bertengger pongah di atas ornamen batu, kemejanya masih terbuka memamerkan kaus oblong, dan dagunya terangkat menantang.

"Mas, nyuwun tulung, ampun lungguh wonten mriku. Niku mboten pareng, Mas..." (Mas, minta tolong, jangan duduk di situ. Itu gak sopan sama sekali, Mas...) ucap pria tua itu lagi. Suaranya pelan, namun bergetar.

Kening Wira berkerut. Otak Jakartanya yang terbiasa dengan bahasa Indonesia gaul sama sekali tidak menangkap makna kalimat itu, selain kata 'lungguh' yang samar-samar ia tahu artinya 'duduk'.

"Nggak ngerti, Mbah! Ngomong apaan sih?! Kalau mau minta sumbangan, saya nggak ada recehan! Pergi sana!" jawab Wira ketus. Ia merasa terganggu.

Kenapa di kota ini orang-orang selalu mencampuri urusannya?

Pria tua itu menghela napas panjang, mencoba bersabar, lalu beralih menggunakan bahasa Indonesia yang agak kaku.

"Mas... tolong turun. Tempat yang Mas duduki itu, dan patung yang Mas injak itu, tempat sakral. Mboten angsal... tidak boleh diduduki sembarangan. Apalagi pakai sepatu kotor begitu."

Wira mendengus sinis. Matanya menyapu undakan batu tempat ia duduk.

"Sakral apanya, Mbah? Ini kan cuma tumpukan batu semen biasa. Di pinggir jalan lagi. Kalo emang nggak boleh diduduki, ya dikasih pagar kawat kek, atau pasang plang yang gede. Jangan nyalahin orang yang mau numpang istirahat dong!"

"Sudah ada plangnya di sebelah situ, Mas. Cuma Mas-nya saja yang tidak mau baca..." balas pria tua itu, tangannya yang keriput menunjuk sebuah papan kecil beraksara Jawa dan bahasa Indonesia di sudut gapura yang memang terlewat dari perhatian Wira.

"Lagi pula, membuang sampah dan mematikan rokok di batu peninggalan keraton itu sangat tidak sopan. Tolong turun, Mas. Dan tolong ambil sampahnya."

Darah muda Wira seketika mendidih mendengarnya.

Kata 'tidak sopan' kembali menghantam telinganya.

Baru tadi pagi Bude Ning menceramahinya tentang kesopanan, sekarang seorang kakek-kakek tak dikenal di pinggir jalan ikut-ikutan mendikte dirinya?

Egonya yang tinggi sebagai "penguasa" jalanan di Bogor meronta.

"Ribet amat sih jadi orang!!" Wira meninggikan suaranya, membuat beberapa orang yang lewat mulai menoleh ke arah mereka.

"Cuma debu rokok sama plastik doang!! Nanti juga ada tukang sapu yang bersihin. Namanya juga tempat umum, wajar kali ada sampah. Nggak usah sok suci deh, Mbah!!"

Sifat begajulan Wira benar-benar mengambil alih.

Ia justru semakin menekan sepatunya ke ornamen batu itu, sengaja menantang.

Melihat kekurangajaran Wira yang semakin menjadi, pria tua itu tampak mengelus dada. Namun, sebelum beliau sempat menjawab, sebuah suara bentakan kasar datang dari arah belakang pria tua tersebut.

"Heh, Cah Gemblung!! Dikandani wong tuo kok malah ngeyel!!" (Heh, anak gila!! Dikasih tahu orang tua kok malah membantah!!)

Seorang pria paruh baya bertubuh gempal, kulitnya legam terbakar matahari, melangkah maju dengan wajah garang.

Dari handuk kecil yang melingkar di lehernya, Wira bisa menebak pria itu adalah salah satu tukang becak yang mangkal di sekitar sana.

Di belakang pria gempal itu, dua orang pemuda lokal berseragam bengkel ikut mendekat, menatap Wira dengan sorot mata bermusuhan.

Tensi di udara seketika memanas. Suasana santai Alun-alun menguap, digantikan oleh hawa pertikaian.

"Turun kowe! Nggak punya adab ya kamu! Bajumu saja seragam sekolah, tapi kelakuanmu kaya preman pasar!" bentak tukang becak itu, tangannya menunjuk tepat ke wajah Wira.

Mendapat perlakuan kasar seperti itu, Wira tidak ciut.

Justru sebaliknya. Adrenalinnya terpompa keras.

Inilah bahasa yang ia mengerti. Kekerasan. Tantangan.

Sudah seminggu ini ia menahan amarah karena dipaksa pindah, dan mungkin sekelompok warga lokal yang sok jagoan ini adalah pelampiasan yang tepat untuk tinjunya yang sudah gatal.

Dengan gerakan cepat dan luwes, Wira melompat turun dari undakan batu.

Tinggi badannya yang mencapai 175 sentimeter membuatnya berdiri sejajar, bahkan sedikit lebih tinggi dari tukang becak tersebut.

Wira membusungkan dadanya, menatap lurus ke mata pria gempal itu tanpa rasa takut sedikit pun.

"Biasa aja dong kalo ngomong! Nggak usah pakai nunjuk-nunjuk!" tantang Wira, urat di lehernya mulai menonjol.

"Gue turun nih, terus lo mau apa? Mau keroyokan? Sini maju kalo berani!"

"Wah, nantang cah iki!" (Wah, nantang anak ini!) salah satu pemuda bengkel tersulut emosinya, melangkah maju menyingsingkan lengan bajunya.

Mbah Karyo—pria tua bersapu lidi tadi—berusaha melerai dengan panik, merentangkan tangannya yang gemetar di antara Wira dan warga yang marah.

"Sampun, Mas Tarjo, sampun... Lare niki tiyang enggal, dereng ngertos aturan. Jangan pakai kekerasan." (Sudah, Mas Tarjo, sudah... Anak ini orang baru, belum tahu aturan.)

"Lha wonge sing kemaki, Mbah! Kudu diwenehi pelajaran ben ngerti tata krama!" (Lha dianya yang belagu, Mbah! Harus dikasih pelajaran biar ngerti tata krama!) balas Mas Tarjo si tukang becak, matanya melotot tajam ke arah Wira.

Orang-orang mulai berkerumun. Beberapa ibu-ibu pedagang bergumam panik melihat keributan yang nyaris pecah di depan mata.

Wira tersenyum sinis. Jantungnya berdetak kencang, namun bukan karena takut, melainkan karena antusiasme yang liar.

Ia mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, memasang kuda-kuda yang sering ia gunakan saat tawuran di Bogor. Ia sudah siap.

Jika pria gempal itu maju selangkah lagi, Wira memastikan tinju kanannya akan mendarat telak di rahang pria itu, masa bodoh dengan SP tiga, masa bodoh dengan Bude Ning.

Ia hanya ingin menghancurkan sesuatu hari ini.

Mas Tarjo membuang handuk dari lehernya dan melangkah maju menerobos halangan Mbah Karyo. Wira menarik tangan kanannya ke belakang, otot-otot di bahunya menegang, matanya memicing menatap target.

Satu detik lagi, kekacauan itu akan pecah.

Satu detik lagi, Wira akan menghancurkan hari pertamanya di Jogja hingga berkeping-keping.

Namun, tepat sebelum tinju Wira melayang, dan tepat sebelum tangan Mas Tarjo berhasil mencengkeram kerah kemeja Wira yang terbuka...

"Pak Tarjo, Mbah Karyo... wonten masalah napa niki kok duko-duko?" (Pak Tarjo, Mbah Karyo... ada masalah apa ini kok marah-marah?)

Sebuah suara menyela.

Tidak berteriak.

Tidak membentak.

Suara itu meluncur dengan intonasi yang begitu tenang, lembut, namun memiliki otoritas yang anehnya sanggup menghentikan waktu di area itu.

Wira membeku. Kepalan tangannya tertahan di udara.

Mas Tarjo yang tadinya murka pun mendadak menghentikan langkahnya, raut wajahnya yang garang seketika berubah melunak, bahkan sedikit menunduk hormat.

Wira perlahan menolehkan kepalanya ke arah sumber suara.

Emosi yang tadinya mendidih di ubun-ubunnya seolah disiram oleh seember air es.

Matanya terpaku. Napasnya tertahan.

Di sana, hanya berjarak dua meter dari tempatnya berdiri, seorang gadis berseragam SMA—seragam yang sama persis dengan miliknya—berdiri menatapnya.

Bukan pandangan marah, bukan pula ketakutan. Mata bulat bercahaya itu menatap Wira dengan ketenangan yang dalam, setenang air di telaga Keraton.

Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai menantang angin Jogja yang panas, sementara kulit kuning langsatnya tampak bersinar di bawah terik matahari.

Itu adalah pandangan paling teduh yang pernah Wira lihat dalam hidupnya, dan sekaligus...

Tatapan pertama yang berhasil membungkam seluruh kesombongannya tanpa perlu satu pun pukulan.

1
Kesya Ohilitean
aku senang sekali kerana novel mau membantu aku untuk mehilakan sertes
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih banyak, Kak Kesya... 😍😍😍

Semoga Kakak selalu sehat, ya... Selalu bahagia juga buat Kak Kesya... 😍😍😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!