Ayana pikir cinta berarti selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Ketika Angga kehilangan kekasih dan ibunya dalam waktu berdekatan, Ayana hadir untuk membantunya bangkit. Bahkan tanpa sepengetahuan Angga, Ayana diam-diam menggunakan segala yang dimilikinya untuk membantu pria itu meraih kesuksesan. Hingga mereka bertunangan dan pernikahan tinggal menghitung hari. Namun masa lalu Angga kembali. Rara, mantan kekasihnya, datang membawa luka, air mata, dan seorang bayi dalam kandungan. Perlahan, Angga mulai memilih Rara. Meninggalkan Ayana di hari fitting gaun pengantin Membiarkan Rara duduk di sampingnya sementara Ayana harus duduk di belakang Bahkan meminta Ayana mengalah dalam pencatatan pernikahan demi masa depan anak Rara. Sampai akhirnya Ayana sadar, Ia bukan lagi calon istri yang diprioritaskan. Ia hanya pilihan yang diminta untuk mengerti. Ayana pun pergi. Tanpa dendam. Tanpa membalas. Ia hanya berhenti menyelamatkan pria yang tidak pernah menyadari bahwa selama ini, dialah yang membuat hidupnya begitu mudah. Ketika Ayana kembali ke kota besar dan bertemu Kenan, seorang pewaris yang setara dengannya, hidupnya perlahan berubah. Sementara itu, kehidupan Angga mulai runtuh. Dan saat Angga akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Ayana, semuanya sudah terlambat. Karena perempuan yang dulu rela berdiri di belakangnya kini telah menemukan seseorang yang bersedia berdiri di sisinya. Akankah Angga mendapatkan Ayana kembali, atau harus hidup dengan penyesalan karena telah kehilangan perempuan yang seharusnya menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Punya Pilihan
Di sala satu apartemen, Rara duduk di salah satu kursi yang ada di dalam kamar. Entah sudah berapa kali ia menolak panggilan dari nomor yang sama. Namun beberapa detik kemudian, telepon itu kembali berdering. Ia menatap layar ponselnya cukup lama sebelum akhirnya meletakkannya dalam keadaan terbalik di atas meja. Tangannya gemetar, bukan karena takut pada orang yang terus menelepon itu. Ia hanya lelah.
Sudah beberapa minggu terakhir hidupnya terasa semakin berat. Kehamilan yang seharusnya membuatnya banyak beristirahat justru membuat pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia tinggal sendirian di apartemen itu. Perutnya yang semakin membesar membuat banyak pekerjaan sederhana terasa lebih melelahkan. Sementara urusan dengan mantan suaminya belum juga selesai.
Ponselnya kembali bergetar, kali ini panggilan tapi sebuah pesan.
Aku perlu bicara. Jangan terus menghindar.
Rara membaca pesan itu berulang kali. Ada banyak hal yang ingin ia jawab. Tentang pernikahan mereka yang sudah berakhir, tentang bayi yang sekarang ada di dalam kandungannya, dan tentang keputusan-keputusan yang dulu mereka buat bersama, lalu akhirnya membawa mereka pada keadaan seperti sekarang. Tetapi Rara tidak tahu harus memulai dari mana.
Ia mengusap wajahnya pelan. Dulu ia berpikir meninggalkan Angga adalah keputusan paling sulit yang pernah dibuatnya. Ternyata bukan, yang lebih sulit adalah menjalani hidup setelah keputusan itu.
Rara berdiri dari kursinya dan berjalan menuju dapur. Ia ingin membuat sesuatu untuk dimakan, tetapi baru beberapa langkah, rasa mual kembali datang.
Ia segera berpegangan pada meja. Beberapa saat kemudian, Rara duduk lagi. Matanya mulai panas.
“Kenapa semuanya jadi seperti ini?” gumamnya pelan. Entah pada siapa pertanyaan itu ia ajukan. Rumah itu terlalu sunyi.
Rara menarik napas panjang, lalu mengambil segelas air dan meminumnya sedikit demi sedikit sambil menenangkan diri. Bayi di dalam kandungannya tidak boleh ikut merasakan semua kekacauan yang sedang terjadi.
Rara menunduk, lalu mengusap perutnya. “Maaf,” bisiknya.
Gerakannya berhenti ketika ponselnya kembali berdering. Nomor yang sama kembali tertera di layar ponselnya. Dan Rara masih tidak mengangkatnya. Setelah panggilan itu berakhir, ia segera membuka daftar kontak dan berhenti pada satu nama.
Angga.
Jarinya menggantung di atas layar. Sudah lama ia tidak benar-benar meminta sesuatu kepada lelaki itu. Selama ini, Rara selalu berusaha menyelesaikan masalahnya sendiri. Bagaimanapun juga, Angga sudah memiliki kehidupan yang berbeda. Ia tahu lelaki itu akan menikah dengan Ayana. Ia tahu dirinya tidak seharusnya terlalu sering datang ke kehidupan Angga. Namun keadaan kali ini membuat Rara benar-benar tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa.
Rara akhirnya menekan tombol panggilan di layar. Tidak lama kemudian, suara Angga terdengar dari seberang.
“Rara?”
Rara langsung terdiam, mendengar suara itu membuat dadanya terasa semakin sesak.
“Apakah aku mengganggu?” Tanya Rara pelan. Sungguh, ia merasa sangat tidak enak, tapi tidak punya pilihan.
“Aku masih di kantor. Ada apa?” Suara Angga kembali terdengar dari ponsel.
Rara menarik napas. “Angga, aku butuh bantuan lagi.”
Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulutnya.
“Apa dia masih mengganggumu?” Suara Angga kembal terdengar. Tenang, pelan dan juga terdengar khawatir.
Rara mengangguk meskipun Angga tidak mungkin melihatnya. “Dia terus menghubungiku. Aku sudah bilang semuanya sudah selesai, tapi dia masih meminta aku datang untuk membicarakan beberapa urusan.”
“Apa dia mengancammu lagi?”
“Enggak.” Rara buru-buru menjawab. “Aku cuma aku bingung harus bagaimana.”
Di perusahaannya, Angga berhenti sejenak dari pekerjaannya dan terdiam sebentar. Ada banyak hal yang harus ia pikirkan sebelum memutuskan untuk menbantu Rara.
Ia tahu Rara bukan orang yang mudah meminta bantuan. Jika perempuan itu sampai meneleponnya, berarti masalahnya memang sudah membuat Rara kewalahan.
“Besok aku temani kamu menyelesaikannya.” Ucap Angga.
Rara langsung menolak. “Jangan.”
“Kenapa?”
“Bagaimana dengan Ayana? Maksud aku, apakah kamu sudah meminta izin padanya?” Suara Rara mengecil.
Beberapa saat keduanya terdiam. Hanya deru nafas yang terdengar di ponsel mereka.
“Aku cuma tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa,” lanjut Rara. “Kalau kamu tidak bisa, tidak apa-apa. Aku akan coba selesaikan sendiri. Cukup beri aku saran bagaimana sebaiknya aku bersikap.”
Helaan napas Angga terdengar di ponsel. “Kita selesaikan dulu masalahnya. Setelah itu kamu tidak perlu memikirkannya lagi.”
Rara menutup mata. “Terima kasih.”
Setelah sambungan berakhir, ia masih duduk dengan ponsel di tangannya. Ada rasa lega menyelimuti dada. Namun bersamaan dengan itu, muncul rasa bersalah yang lebih besar. Karena ia tahu, setiap kali dirinya meminta bantuan kepada Angga, ada seseorang yang mungkin harus menunggu lelaki itu pulang.
***
Sore harinya, Angga datang ke rumah Rara. Ia tidak datang dengan perasaan apa pun selain ingin membantu. Begitu melihat keadaan Rara, ia semakin yakin bahwa perempuan itu memang sedang kesulitan. Rara terlihat pucat. Di atas meja terdapat beberapa dokumen yang belum selesai diurus.
Angga duduk di seberang meja dan mulai membaca satu per satu. Mereka membicarakan masalah yang harus diselesaikan, dokumen yang perlu diperbaiki, dan beberapa urusan yang masih berkaitan dengan pernikahan Rara sebelumnya.
Tidak ada percakapan tentang masa lalu mereka, tidak ada pembicaraan tentang perasaan. Hanya dua orang yang sedang berusaha menyelesaikan sebuah masalah. Namun tanpa mereka sadari, dari luar keadaan itu bisa terlihat berbeda.
Angga menghabiskan waktu cukup lama di rumah Rara. Sementara di rumahnya sendiri, Ayana sedang menunggu. Hari itu seharusnya mereka pergi melihat beberapa perlengkapan pernikahan.
Ayana sudah menyiapkan semuanya sejak siang. Gaun yang akan dipakai untuk fitting sudah tergantung rapi. Tasnya juga sudah diletakkan di dekat pintu. Ia bahkan sempat tersenyum sendiri ketika membayangkan mereka memilih sesuatu bersama.
Tetapi satu jam sebelum waktu yang mereka sepakati, pesan Angga masuk.
Aku harus membantu Rara menyelesaikan urusannya. Sepertinya agak lama.
Ayana membaca pesan itu tanpa menjawab. Ia hanya menatap layar ponsel beberapa detik, kemudian meletakkannya di atas meja. Untuk pertama kalinya, ia tidak langsung bertanya kapan Angga akan pulang. Ia juga tidak bertanya apa yang terjadi pada Rara.
Ayana berdiri dan berjalan menuju kamar. Gaun yang tadi ia siapkan masih tergantung di sana. Ia menyentuh gaun itu pelan, lalu tersenyum kecil. Senyum yang bahkan tidak berhasil membuat dirinya sendiri merasa lebih baik.
“Aku bisa sendiri,” bisiknya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah. Bukan karena ia berhenti mencintai Angga. Justru karena ia masih mencintai laki-laki itu membuat Ayana mulai menyadari bahwa ia tidak bisa terus berpura-pura semuanya baik-baik saja.
***
Malam semakin larut ketika Angga akhirnya meninggalkan rumah Rara. Masalah mereka memang belum sepenuhnya selesai, tetapi setidaknya sudah ada jalan keluar. Sebelum pergi, Angga memastikan Rara sudah makan dan tidak terlalu lelah.
“Jangan terlalu banyak berpikir,” ucap Angga.
Rara hanya mengangguk. Setelah Angga pergi, ia berdiri di depan pintu cukup lama. Dari tempatnya berdiri, Rara bisa melihat mobil Angga semakin menjauh. Ada perasaan aneh yang muncul di dadanya. Bukan keinginan untuk merebut lelaki itu, bukan pula keinginan untuk kembali ke masa lalu.
Hanya sebuah kesadaran bahwa dulu ada seseorang yang begitu mencintainya. Dan sekarang, orang itu sudah memiliki perempuan lain yang menunggunya di rumah.
Rara menunduk. “Maaf, Ayana.” Ucapnya pelan. Ia tidak tahu apakah perempuan itu pernah menyalahkannya. Tetapi Rara tahu satu hal, ia tidak berniat menjadi alasan seseorang kehilangan kebahagiaan.
Sementara itu, Angga sampai di rumah hampir tengah malam. Lampu ruang tamu masih menyala. Ia membuka pintu perlahan.
Ayana sedang duduk di sofa dengan sebuah buku di tangan. Namun dari halaman yang terbuka sejak tadi, jelas bahwa ia sudah lama tidak membaca.
Angga berhenti beberapa langkah darinya. “Belum tidur?”
Ayana menggeleng, lalu menutup bukunya. “Aku menunggumu.”
Angga melanjutkan langkah lalu duduk di samping Ayana. Ada rasa bersalah yang mulai muncul ketika melihat wajah calon istrinya yang terlihat lelah di hadapannya itu.
“Aku minta maaf.”
Ayana hanya mengangguk. Ia memilih diam karena tidak ingin pertanyaannya akan membuat Angga tidak nyaman. Ayana tidak menyadari, justru diamnya itu membuat Angga merasa lebih tidak nyaman.
Karena Angga terbiasa dengan Ayana yang selalu memahami keadaan. Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Angga merasa bahwa kata-kata itu mungkin tidak akan selamanya ada.
Ayana berdiri dan membawa bukunya menuju kamar. Sebelum masuk, ia berhenti sebentar.
“Aku tahu kamu ingin membantu Rara.” Ucap Ayana tanpa kembalik tubuhnya, aku juga tidak pernah melarang.” Ayana membalik tubuhnya lalu tersenyum tipis. “Tapi, Ga… jangan sampai karena aku selalu mengerti, kamu lupa kalau aku juga bisa terluka.” Setelah mengatakan itu, Ayana masuk ke kamar.
Hingga pintu kamat tertutup perlahan, Angga masih berdiri di ruang tamu. Untuk pertama kalinya, ia tidak memiliki kalimat untuk menyela pernyataan Ayana. Dan untuk pertama kalinya pula, ia mulai menyadari bahwa mungkin masalah mereka bukan tentang Rara. Masalahnya adalah ia terlalu yakin bahwa Ayana akan selalu menunggu. Padahal, tanpa sepengetahuannya, kesabaran seseorang juga memiliki batas.
Emak akan memberi 5 bintang jika Angga benar-benar hancur
slah sndiri lbh memilih memungut smpah masa lalu....
mna g sadar diri... egois.... maunya sll di mngerti... tpi tak mau mngrti org lain....
harusnya km sadar angga.... perempuan yg dlu mninggalknmu... tk akn mngkin brubah.... dan mau mnemanimu di saat susahmu....
lihatlah skrg.... disaat km butuh suport & butuh ktenangan.... masa lalumu tak prnah mau mngrti keadaanmu... tak peduli dgn smua msalahmu... krna dia maunya sll km yg harus mngerti dia....