Menjadi korban perundungan dan anak broken home membuat Ardelia Aira Safira berharap kehidupan barunya di SMA Bangsa Indonesia berjalan tenang. Namun, segalanya berubah saat ia bertemu kembali dengan dr. Arkanza Dirgantara dokter muda dingin, tampan, sekaligus sahabat dari kakak iparnya.
Berawal dari insiden yang menyelamatkan harga dirinya, Aira perlahan melihat luka masa lalu di balik sikap kaku sang dokter. Dengan kepolosan dan keberaniannya, Aira nekat mengejar Arkan. Namun bagi Arkan, perbedaan usia dan status Aira sebagai adik ipar sahabatnya adalah batas yang tak boleh dilanggar. Puncaknya, Arkan secara tegas menolak Aira serta menghancurkan hati gadis itu seketika.
Namun, ketika Aira benar-benar memilih mundur dan menghilang, keheningan justru menyadarkan Arkan bahwa hidupnya yang monoton terasa hampa. Di antara dinding kaku rumah sakit dan riuhnya masa SMA, akankah Arkan tetap berpegang pada logika, atau menyerah pada hatinya yang mendadak kacau?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketika Luka Menemukan Penawarnya
Pagi ini, Reyhan mengantarkan Aira, adik perempuannya yang teramat ia sayangi menuju sekolah barunya. Setelah perdebatan panjang beberapa hari lalu, Reyhan akhirnya memilih untuk mengalah. Ia membiarkan Aira memilih sekolah yang diinginkannya, asalkan dengan satu syarat mutlak Aira harus selalu terbuka kepada dirinya dan Mama jika terjadi sesuatu.
Sekolah baru Aira memang bukan sekolah favorit yang megah seperti sebelumnya. Namun bagi Reyhan, sekolah ini jauh lebih menjanjikan kenyamanan dan keamanan, mengingat ia sendiri merupakan alumni dari SMA tersebut.
Setelah memastikan Aira masuk gerbang dengan aman, Reyhan langsung memacu mobilnya menuju kantor. Reyhan adalah pemilik sebuah agensi kreatif dan desain digital yang cukup diperhitungkan.
Perusahaan yang ia rintis sejak sepuluh tahun lalu itu memiliki portofolio yang mengesankan, dengan klien yang membentang dari dalam hingga luar negeri. Namun, beberapa bulan terakhir ini, Reyhan harus merelakan sebagian sahamnya untuk dibagi dengan investor lain. Langkah pahit itu terpaksa ia ambil demi menyuntikkan dana segar agar roda investasi perusahaannya tetap berputar stabil.
✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥
"Tensi Ibu sudah stabil dan seluruh indikator klinisnya normal. Sekarang kita tinggal menunggu Dokter visit untuk memastikan kapan Ibu diperbolehkan pulang," ujar Dinda dengan senyum ramah usai memeriksa seorang pasien.
"Terima kasih, Suster Dinda."
Dinda mengangguk sopan lalu melangkah keluar. Tugasnya di bangsal ini telah selesai, dan ia harus segera beralih ke ruangan lain untuk membagikan obat.
Namun, baru saja melewati pintu, langkah Dinda mendadak terhenti karena nyaris bertabrakan dengan seseorang yang berjalan tergesa.
"Ah, maaf... maaf," gumam pria itu cepat.
"Dokter Arkan? Kenapa jalannya menunduk begitu?" tanya Dinda heran.
Arkan mendongak sekilas, merapikan letak stetoskopnya. "Maaf, Din. Saya tidak memperhatikan jalan."
Dinda mengamati penampilan seniornya itu. Ada yang berbeda dengan visual Arkan hari ini. Rahang tegasnya kini tampak dihiasi bulu-bulu halus yang tipis, matanya nampak lelah dibalik kacamata yang bertengger di hidungnya, dan rambutnya yang sedikit panjang dibiarkan berantakan jauh dari kesan rapi yang biasanya ia tampilkan.
"Saya permisi dulu, ada pasien yang harus divisit," pamit Arkan.
Pria itu melangkah mendahului Dinda tanpa banyak bicara. Dinda hanya bisa terpaku bingung menatap punggung Arkan. Namun, kebingungannya tidak bertahan lama sewaktu sebuah suara cempreng yang sangat ia kenali memecah keheningan koridor rumah sakit.
"Kak Dinda! Tolong Aira!"
Dinda menoleh cepat dan terkesiap. Di ujung koridor, Aira tampak terduduk lemas di atas kursi roda yang didorong oleh seorang perawat. Tiga orang teman sekolahnya berjalan cemas di sisi kursi roda tersebut.
Hal yang membuat Dinda memekik ngeri adalah kondisi kaki kiri Aira yang terbalut perban darurat, dengan noda darah merah pekat yang tampak merembes lebar.
Arkan yang belum melangkah jauh pun ikut menghentikan langkahnya saat mendengar nama adik ipar rekannya dipanggil.
"Astaghfirullah, Aira! Kamu kenapa?!" pekik Dinda langsung menghambur mendekat.
"Kaki Aira sakit sekali, Kak... hiks..." tangis Aira pecah, wajahnya memerah menahan linu.
Arkan segera berbalik dan melangkah lebar menghampiri kerumunan kecil itu. "Ada apa ini?" tanya Arkan dengan nada otoriter khas seorang dokter.
"Tadi dia tersandung saat praktik lompat jauh di pelajaran olahraga, Dok. Tidak sengaja menghantam batu tajam dan kakinya langsung robek berdarah," jelas salah satu teman kelas Aira dengan gugup.
"Bawa ke ruangan saya sekarang. Biar segera saya periksa," perintah Arkan tenang kepada perawat yang mendorong kursi roda.
"Baik, Dokter Arkan," sahut perawat itu patuh.
"Eh, Sus, biar saya saja yang mendorongnya," sela Dinda mengambil alih kendali kursi roda.
Dengan cekatan, Dinda mendorong Aira masuk ke ruang tindakan Arkan, diikuti oleh teman-teman Aira yang tampak cemas. Begitu tiba di dalam, mereka membantu membaringkan Aira di atas brankar periksa.
"Kalian berempat saja ke sini?" tanya Dinda pada teman-teman Aira.
"Tidak, Suster. Kami bersama guru olahraga tadi. Beliau sedang mengurus administrasi di bagian depan," jawab salah satu dari mereka.
Arkan mulai menggunting perban darurat yang telah jenuh oleh darah. Aira kembali meringis dan menangis tertahan. Bahkan Dinda sendiri sampai harus memalingkan wajah sejenak saat melihat luka robek di kaki Aira yang ternyata cukup dalam dan menganga.
"Lukanya cukup dalam. Ini harus dijahit. Saya bersihkan dulu jaringannya," kata Arkan dengan nada tenang, mencoba mengondisikan pasiennya.
Mendengar kata dijahit, tangis Aira justru semakin histeris. Ia meremas seprai brankar dengan sangat erat.
"Bagaimana keadaan murid saya?" suara bariton seorang pria paruh baya memecah kepanikan. Dia adalah guru olahraga Aira yang baru saja menyelesaikan urusan administrasi.
"Lukanya cukup dalam, Pak. Dokter bilang harus dijahit," lapor teman Aira.
"Ya sudah, kalian bertiga tunggu di luar saja. Biar Bapak yang menjaga Aira di sini," perintah sang guru. Setelah ketiga murid itu keluar, Dinda mendekati sang guru olahraga dengan senyum profesional.
"Pak, proses penjahitan akan segera dimulai. Lebih baik Bapak kembali kesekolah bersama murid-murid yang lain. Untuk masalah medis Aira, biar saya yang menangani karena saya adalah kakak iparnya," jelas Dinda ramah.
"Ah, begitu? Kebetulan sekali. Tapi saya merasa sangat tidak enak, Suster. Aira celaka saat jam pelajaran saya."
"Saya sangat mengerti kekhawatiran Bapak. Terima kasih banyak sudah mengantarkan Aira secepat ini ke rumah sakit. Bapak bisa kembali ke sekolah dulu untuk mengurus murid yang lain, nanti saya yang akan menghubungi Bapak setelah tindakannya selesai," pungkas Dinda dengan nada menenangkan.
Setelah guru olahraga itu berpamitan dan pergi, Dinda segera merogoh ponselnya untuk menghubungi Reyhan. Ia sengaja tidak menelepon Mamanya terlebih dahulu agar wanita paruh baya itu tidak jatuh panik.
Di dalam ruang tindakan, Arkan dengan sabar membersihkan luka Aira. Sensasi perih dari cairan antiseptik membuat Aira terus mengeluh.
"Dokter Arkan... pelan-pelan, Dok! Sakit sekali!" jerit Aira dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya.
"Iya, ini sedang dibersihkan dengan sangat pelan," jawab Arkan lembut, fokusnya terarah sepenuhnya pada luka di kaki pasien mudanya.
"Kaki Aira tidak apa-apa, kan, Dok? Tidak perlu diamputasi, kan?" tanya Aira dramatis di sela isakannya.
Arkan menghentikan gerakannya sesaat. Ia menatap wajah gadis remaja yang sedang menatapnya dengan mata bulat yang basah dan hidung yang memerah. Sebuah senyuman tipis tanpa sadar terukir di sudut bibir dokter muda itu.
"Hanya luka robek biasa. Perlu beberapa jahitan saja, tidak sampai harus diamputasi," jawab Arkan geli.
"Tapi darahnya banyak sekali... Aira tidak akan terkena anemia akut, kan, Dok?" tanyanya lagi, masih dengan nada khawatir yang berlebihan.
Arkan kembali tersenyum kecil. Sifat dramatis adik ipar Dinda ini rupanya cukup menghibur di tengah penatnya hari ini. "Kamu tidak akan kehabisan darah hanya karena luka jatuh seperti ini, Aira."
Arkan menyiapkan jarum pembius lokalnya. Saat cairan anestesi mulai bekerja, rasa sakit di kaki Aira perlahan memudar digantikan rasa kebas yang dingin. Aira memejamkan matanya erat-erat, tidak berani melihat proses jarum yang menembus kulitnya untuk menyatukan luka tersebut.
"Sudah selesai. Buka matamu," ucap Arkan beberapa menit kemudian sembari merapikan peralatannya.
Aira membuka matanya perlahan. Kakinya memang sudah tidak sakit, hanya terasa sedikit kaku. Saat ia sedang mengamati kakinya yang kini terbalut perban putih rapi, Arkan tiba-tiba mendekat.
Dokter muda itu menempelkan stetoskopnya di dada Aira untuk memeriksa denyut jantung pasca-tindakan. Wajah tampan Arkan mendadak berada begitu dekat dengan wajahnya, menyisakan jarak yang sangat minim hingga Aira bisa mencium aroma maskulin khas rumah sakit dari tubuh pria itu.
Detik itu juga, debaran di dada Aira menggila. Jantungnya berpacu sangat cepat, menciptakan tabuhan bertalu-talu yang terdengar jelas melalui membran stetoskop Arkan.
Arkan mengernyitkan dahi, menatap Aira dengan heran. "Kenapa detak jantungmu tiba-tiba berpacu secepat ini?"
"H-hah?" Aira mendadak gagap.
"Kondisi fisikmu stabil. Nanti saya resepkan antibiotik," ujar Arkan bersiap menarik diri.
"Dokter..." panggil Aira menahan langkah Arkan. "Dokter tidak mau memeriksa hati Aira juga?"
Arkan menghentikan gerakannya, menaikkan sebelah alis. "Kenapa dengan hatimu?"
"Sepertinya hati Aira mendadak cenat-cenut sejak melihat Dokter Arkan dari dekat," ucap Aira tanpa dosa, sambil menyeka sisa air mata di pipinya.
Kali ini, Arkan benar-benar tidak bisa menahan tawa kecilnya. Baru kali ini ada pasien remaja yang baru saja menangis histeris karena luka jahitan, namun sedetik kemudian langsung menggodanya dengan percaya diri.
"Kalau begitu, sepertinya saya harus memeriksa kepalamu juga. Takutnya tadi kamu sempat terbentur dan mengalami gegar otak ringan," balas Arkan kalem, sebelum akhirnya menarik tirai penutup brankar untuk memberi Aira privasi.
Aira mendengus kesal di balik tirai. Dokter tampan ini rupanya memiliki benteng pertahanan yang sangat tebal dan sulit ditembus.
✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥⁕✥
Satu jam kemudian, Aira tertidur pulas akibat efek obat yang diberikan oleh Arkan. Dinda dan Arkan sedang duduk beristirahat di meja kerja sambil menikmati makan siang yang mereka pesan.
"Kamu sudah menghubungi Bang Reyhan, Din?" tanya Arkan di sela suapannya.
"Sudah, Kak. Katanya dia sedang di jalan menuju ke sini setelah menyelesaikan urusan kantornya," jawab Dinda. Dinda sengaja mengubah panggilannya menjadi Kakak karena mereka sedang berbicara secara personal, bukan profesional.
Dinda meletakkan sendoknya, menatap Arkan dengan ragu. "Kak, boleh aku tanya sesuatu?"
"Tanya saja."
"Kenapa Kak Arkan beberapa hari ini terlihat... berbeda? Seperti sedang banyak pikiran."
Arkan menghentikan sendoknya. Tatapannya mendadak kosong, persis seperti raut dingin yang ia tunjukkan pagi tadi.
"Beberapa hari lalu... adalah hari yang sangat menyakitkan untuk saya, Din," ucap Arkan lirih. Ia meraih segelas air, meneguknya lambat-lambat seolah mencoba mendorong beban di dadanya.
"Maksud Kakak?"
"Tunangan saya... dia mengkhianati saya."
Dinda tersentak. Ia sama sekali tidak tahu jika Arkan sudah memiliki tunangan, sebab yang ia tahu pria itu selalu menghabiskan waktunya untuk belajar dan bekerja di rumah sakit.
"Kak Arkan sudah bertunangan?"
Arkan mengangguk dengan senyum getir. "Kami bertunangan tiga tahun lalu. Dia seorang pramugari rute internasional. Hubungan kami memang dingin karena jarak. Kami jarang bertemu, dan jika dia pulang ke Indonesia, dia lebih sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Komunikasi kami sangat hambar."
Arkan menjeda kalimatnya, menarik napas dalam. "Dua minggu lalu dia pulang. Saya berniat menjemputnya di bandara sebagai kejutan dengan membawa buket mawar merah kesukaannya, meskipun dia melarang saya datang karena alasan ingin pulang bersama temannya."
"Lalu?" tanya Dinda tercekat.
"Di sana, saya melihatnya keluar dari pintu kedatangan... bergandengan tangan dengan mesra bersama seorang pilot." Arkan memejamkan mata, rahangnya mengeras mengingat kepedihan hari itu.
"Saat itu saya masih mencoba berpikiran positif. Mungkin mereka hanya rekan kerja yang dekat. Tapi begitu saya menghampirinya, dia sangat terkejut. Tanpa rasa bersalah, dia memeluk saya hanya untuk mengatakan bahwa hubungan kami harus berakhir karena dia sudah tidak merasa nyaman." Arkan menatap Dinda dengan binar mata yang memerah menahan amarah yang tersisa. "Itu adalah hari terpahit dalam hidup saya. Dikhianati oleh orang yang paling saya percaya."
Dinda terdiam, kehilangan kata-kata. Ia ingin memberikan kalimat penenang, namun ia tahu luka dikhianati tidak akan sembuh hanya dengan kata-kata mutiara.
Namun sedetik kemudian, Arkan menepuk bahu Dinda sambil tersenyum tulus. Kelegaan tampak samar di wajah tampannya setelah berhasil membagikan beban tersebut.
"Tapi sekarang saya sudah ikhlas. Mungkin kami memang tidak berjodoh. Saat ini saya hanya ingin fokus pada pekerjaan saya di rumah sakit, dan mungkin bersiap mengambil spesialisasi. Tolong rahasiakan cerita ini ya, Dinda. Saya hanya memercayakannya padamu."
"Tentu saja, Kak. Kita adalah teman. Dan begitulah gunanya teman, saling mendengarkan," jawab Dinda tulus.
Namun, sebelum mereka sempat menyelesaikan makan siang, tirai pembatas brankar tiba-tiba tersingkap lebar. Aira tampak terduduk tegak di atas kasur dengan senyum manis yang mengembang tanpa dosa.
"Aira juga sudah tahu rahasia Dokter Arkan! Tenang saja, Dokter, Aira tidak akan membocorkan pada siapa pun kalau Dokter Arkan baru saja diselingkuhi!" seru Aira ceria.
Arkan dan Dinda tersentak kaget setengah mati. Mereka tidak menyangka gadis itu sudah terbangun dan mendengar seluruh percakapan rahasia mereka.
"Aira! Kamu sudah bangun? Kakimu masih sakit?" tanya Dinda panik, buru-buru menghampiri adik iparnya.
"Masih agak linu, Kak. Dokter Arkan... tolong periksa kaki Aira lagi dong. Takutnya jahitannya lepas, kan kasihan kalau Aira tidak bisa jalan lagi," pinta Aira dengan nada manja yang dibuat-buat, matanya mengerling jenaka ke arah Arkan.
"Jangan cari kesempatan selagi sakit, dasar bocah centil!" sebuah suara bariton yang familier menyahut ketus dari arah pintu masuk.
"Mas Reyhan! Bang Reyhan!" panggil Dinda dan Aira bersamaan.
"Dokter Arkan, maafkan adik saya yang menyusahkan ini, ya. Silakan lanjutkan makan siangnya," ucap Reyhan dengan wajah menahan malu yang amat sangat pada Arkan.
"Tidak apa-apa, Bang. Saya tidak merasa terganggu," jawab Arkan maklum.
Aira langsung mengerucutkan bibirnya kesal karena kakaknya datang merusak suasana.
"Kamu sudah selesai makan, Sayang?" tanya Reyhan lembut pada istrinya.
"Sudah, Mas. Mas Reyhan sendiri sudah makan siang?"
"Belum. Nanti saja, belum terlalu lapar."
Dinda berkacak pinggang. "Sudah siang begini belum makan? Kemarin ada yang menasihati saya panjang lebar agar jangan sampai telat makan karena sibuk bekerja. Siapa ya kira-kira orangnya?" sindir Dinda jenaka.
Reyhan terkekeh, mengusap tengkuknya salah tingkah. "Iya, iya, Sayang. Nanti Mas makan setelah Mama sampai di sini untuk menjaga Aira."
"Bang Reyhan ke sini sebenarnya mau menjenguk adiknya yang terluka atau mau pacaran dengan Kak Dinda, sih? Dari tadi Aira dicuekin terus!" protes Aira dengan wajah ditekuk.
Reyhan menoleh pada adiknya, lalu memasang wajah heran. "Abang ke sini tentu saja untuk melihat istri cantik Abang. Memangnya kamu siapa, ya? Saya tidak kenal. Kamu kenal tidak, Sayang?" goda Reyhan melirik Dinda.
"Ihh! Kalau mau berduaan jangan di sini dong! Tidak kasihan apa dengan anak kecil yang sedang sakit dan jomblo sejak lahir ini?" gerutu Aira makin kesal.
"Ya sudah, Sayang, kita pergi saja dari ruangan ini. Biarkan anak jomblo ini sendiri di sini. Siapa tahu ada suster yang berminat mengadopsinya," sahut Reyhan enteng, membuat Dinda dan Arkan tertawa terbahak-bahak.
"Abang tega sekali!" jerit Aira dramatis.
Reyhan akhirnya melangkah mendekati brankar Aira, menatap kaki adiknya yang terbalut perban dengan binar khawatir yang tidak bisa disembunyikan. "Sakit tidak?"
"Sakit sekali, Bang. Lukanya dalam sampai harus dijahit beberapa kali," adu Aira mencari simpati.
"Lagian kamu ini ada-ada saja. Baru hari pertama masuk sekolah baru, sudah ada saja kejadiannya. Memangnya kamu olahraga bagaimana sampai bisa jatuh begitu?"
"Tadi itu praktik lompat jauh, Bang. Aira tidak sengaja tersandung batu tajam di bak pasir, lalu kaki Aira robek," jelas Aira membela diri.
"Makanya, kalau lari itu matanya dipakai untuk melihat jalan. Kasihan batunya tidak salah apa-apa tapi kamu tabrak," gurau Reyhan, yang kembali memicu tawa di dalam ruangan.
Aira menatap kakaknya dengan mata berkaca-kaca, kali ini benar-benar merasa kesal. "Ih, Abang menyebalkan! Bukannya kasihan. Dulu sebelum menikah, kalau Aira terkena air panas sedikit saja Abang langsung panik setengah mati. Kenapa sekarang setelah punya istri Abang jadi tidak peduli lagi?"
Dinda langsung menyenggol lengan suaminya. "Mas, jangan menggoda Aira terus. Kasihan, tadi saat dibawa ke sini kakinya penuh darah."
Reyhan menghela napas, lalu mengusap puncak kepala adiknya dengan sayang. "Abang hanya bercanda, Aira. Tentu saja Abang tetap sayang padamu seperti dulu. Tanggung jawab Abang memang sudah terbagi karena sekarang ada istri dan anak-anak, tapi kamu tetap adik kandung Abang. Abang panik sekali saat mendengar kabar kamu kecelakaan tadi, makanya Abang langsung mengebut ke sini."
"Tapi tadi saat masuk kenapa malah langsung menemui Kak Dinda?" tuntut Aira manja.
Reyhan menggelengkan kepala melihat sifat cemburu adiknya. "Dulu sebelum menikah juga Abang selalu bersama Kak Dinda, kenapa sekarang kamu jadi cemburuan begini, sih?"
Aira mendadak mengubah ekspresi wajahnya, menyengir lebar tanpa dosa. "Ih, Aira cuma bercanda, Bang! Aira sengaja berkata begitu biar Dokter Arkan merasa simpatik dan kasihan pada Aira karena merasa ditelantarkan oleh kakaknya sendiri. Tapi Dokter Arkan malah diam saja dari tadi, tidak seru!"
Reyhan memutar bola matanya jengah. "Oh, jadi semua drama ini hanya untuk menarik perhatian Dokter Arkan?"
"Aira sama sekali tidak cemburu pada Kak Dinda, kok. Aku justru senang melihat Abang sangat menyayangi Kak Dinda. Itu berarti sekarang aku punya dua orang kakak yang menyayangiku. Masalahnya sekarang... aku hanya kurang satu hal."
"Apa?" tanya Reyhan curiga.
"Kurang pacar. Khususnya pacar yang berprofesi sebagai dokter," sahut Aira sambil melirik genit ke arah Arkan.
"Aira! Jangan centil, kamu sedang sakit!" tegur Reyhan, wajahnya memerah menahan malu atas kelakuan ajaib adiknya di depan sang kolega.
"Bang Reyhan tidak tahu, ya? Dokter Arkan ini baru saja resmi menyandang status jomblo. Siapa tahu beliau tertarik dengan Aira yang imut dan manis ini," goda Aira tanpa malu-malu.
"Aira, tolong jangan membuat Abang malu di rumah sakit ini, ya! Hargai Dokter Arkan yang sudah mengobati kakimu!" bisik Reyhan gemas.
"Iya, Aira tahu. Aira hanya ingin mempromosikan diri saja kalau Aira jomblo sejak lahir karena dilarang pacaran oleh Abang. Siapa tahu Dokter Arkan mau mendaftarkan diri menjadi pacar Aira dan langsung meminta restu pada Abang di sini, hihihi..." seloroh Aira dengan tingkat percaya diri yang luar biasa tinggi.
Dinda akhirnya tidak bisa menahan tawa renyahnya lagi melihat tingkah laku adik iparnya. Berbeda dengan Reyhan yang hanya bisa menepuk jidatnya sendiri dengan pasrah, sementara Arkan hanya menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum tipis di bibirnya.
"Siapa sebenarnya yang mengajarimu menjadi segenit ini, Aira?" tanya Reyhan heran.
"Tentu saja Bang Reyhan! Kalau tidak meniru jurus genit Abang dulu, bagaimana mungkin Abang bisa mendapatkan Kak Dinda yang cantik dan baik hati ini?" balas Aira tangkas.
Dinda menyenggol bahu suaminya sambil terkekeh. "Tenang saja, Aira. Kadar genitmu masih belum seberapa dibanding kegilaan abangmu dulu saat mendekati Kakak."
"Istri dan adik kenapa kompak sekali menyiksaku hari ini, ya?" keluh Reyhan pasrah.
Sebelum perdebatan keluarga itu semakin melebar, Arkan berdiri dari kursinya lalu berjalan mendekati brankar Aira untuk melakukan pemeriksaan akhir.
"Semua indikator klinisnya sudah normal dan kamu sudah diperbolehkan pulang hari ini. Lusa, silakan datang kembali ke mari untuk melakukan kontrol dan ganti perban. Ingat, untuk sementara waktu lukanya jangan sampai terkena air dulu," jelas Arkan profesional.
"Tidak ada cedera yang serius kan, Dok?" tanya Reyhan memastikan.
"Tidak ada, Bang. Hanya memar ringan saja. Butuh waktu beberapa hari untuk pemulihan, jadi tolong jangan biarkan dia terlalu banyak berjalan dulu agar jahitannya tidak robek," jawab Arkan.
"Terima kasih banyak, Dokter Arkan," ucap Reyhan menjabat tangan sang dokter.
"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk memeriksa pasien di bangsal lain." Arkan merapikan jas putihnya bersiap melangkah keluar.
"Dokter Arkan!" panggil Aira menahan langkah sang dokter di ambang pintu.
"Ya? Ada yang tertinggal?" tanya Arkan bingung.
Aira memasang wajah paling manis yang ia miliki. "Aira turut berduka cita, ya, Dok."
Arkan mengernyitkan dahi. "Berduka cita untuk apa?"
"Turut berduka cita atas hati Dokter yang telah terluka dan dikhianati oleh mantan tunangan Dokter. Tapi tenang saja, kalau Dokter butuh terapi untuk menyembuhkan luka hati, Dokter bisa berkonsultasi gratis pada Aira. Pintu hati Aira selalu terbuka dua puluh empat jam khusus untuk Dokter Arkan," ucap Aira dengan kedipan mata jenaka.
Reyhan benar-benar ingin menenggelamkan dirinya ke dalam lantai rumah sakit detik itu juga. Sementara Arkan hanya tersenyum simpul, menggelengkan kepala melihat tingkah ajaib gadis remaja itu, lalu melangkah keluar meninggalkan ruangan tindakan.
"Sekarang Mas bisa merasakan kan, bagaimana malunya menjadi Dinda dulu sewaktu Mas hobi merayu Dinda di depan umum?" bisik Dinda di telinga suaminya sambil tertawa puas.
Reyhan menatap istrinya dengan wajah sendu yang dramatis. "Dinda... kenapa karma instan ini datangnya cepat sekali, ya?"
"Sabar, ya, Mas. Anggap saja ini ujian hidup," pungkas Dinda menepuk-nepuk pundak suaminya sebelum berjalan keluar ruangan menyisakan Reyhan yang menatap tajam ke arah Aira yang sedang pura-pura sibuk mengamati kuku jarinya.
Bersambung__
_____