NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 35

Damian benar-benar menepati ucapannya untuk pulang lebih awal. Bahkan, sebelum kembali ke mansion, pria itu sempat mampir ke sebuah toko bunga untuk membeli buket tulip setelah teringat bahwa istrinya sangat menyukai bunga.

Entah sejak kapan ia mulai mengingat hal-hal kecil tentang Emma. Padahal, sebelumnya, Damian bahkan tidak peduli dengan urusan seperti itu.

Namun, begitu tiba di mansion, ia justru disambut dengan sikap dingin istrinya.

Emma sedang duduk di sofa ruang keluarga sambil membaca sebuah buku. Ketika melihat Damian datang, ia hanya melirik sekilas sebelum kembali menundukkan wajahnya, seolah-olah kedatangan pria itu sama sekali tidak penting.

Damian mengangkat sebelah alis.

"Apa kau tidak melihatku pulang?" tanyanya.

"Lihat," jawab Emma singkat.

"Kalau begitu, kenapa kau tidak menyambutku?"

Emma membalik halaman bukunya dengan santai. "Untuk apa kau pulang cepat?" tanyanya balik, pura-pura sibuk membaca.

Damian menatapnya tidak percaya.

"Kau sendiri yang melarangku pulang terlambat."

"Aku kan cuma bercanda!"

"Dan aku juga bisa pulang cepat meskipun kau hanya bercanda."

Emma mendengus, lalu kembali menatap bukunya. "Terserah kau saja."

Damian menggeleng pelan melihat tingkah istrinya. Ia kemudian meletakkan buket bunga tulip yang dibawanya tepat di hadapan Emma.

"Kalau begitu, ini juga bukan apa-apa."

Awalnya, Emma tidak terlalu memperhatikan benda yang diletakkan suaminya. Namun, ketika melihat warna bunga yang memenuhi pandangannya, ia langsung menurunkan buku.

Matanya membulat sempurna.

"BUAT AKU?!"

Damian mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya di rumah ini ada wanita lain yang suka mengoceh sepertimu?"

Emma langsung melotot.

"HEI! KENAPA KAU SELALU MEMANGGILKU WANITA CEREWET?!"

"Karena memang begitu kenyataannya."

"Damian!"

Pria itu hanya memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menikmati ekspresi kesal istrinya.

Emma ingin terus mengomel, tetapi perhatiannya kembali tertuju pada buket tulip di hadapannya. Perlahan, ia mengambil bunga itu dan mengamatinya dengan mata berbinar.

Bunga kesukaannya.

Damian mengingatnya.

Entah mengapa, dadanya terasa hangat. Pipinya pun mulai memerah, membuatnya buru-buru menundukkan kepala agar suaminya tidak menyadarinya.

Sayangnya, Damian bukan orang yang mudah melewatkan perubahan sekecil apa pun.

"Kau kenapa?" tanyanya.

"Tidak kenapa-kenapa!"

"Lalu, kenapa wajahmu merah?"

"PANAS!"

Damian melirik pendingin ruangan yang menyala di atas mereka, lalu kembali menatap Emma dengan ekspresi datar.

"Pendingin ruangannya rusak?"

Emma terdiam.

"Atau jangan-jangan kau malu karena suamimu membelikan bunga?"

"SIAPA YANG MALU?!"

Damian terkekeh pelan. "Baiklah, baiklah. Tidak ada yang malu."

Emma memeluk buket tulip itu ke dadanya sambil membuang muka. Ia benar-benar ingin terlihat kesal, tetapi senyum kecil di bibirnya justru mengkhianatinya.

Beberapa detik kemudian, Emma melirik Damian dari sudut matanya.

"Memangnya ... kau beli bunga ini sendiri?"

"Memangnya aku harus menyuruh orang lain membelikannya?"

"Enggak. Aku cuma bertanya!"

Damian duduk di sampingnya, kemudian menyandarkan punggungnya ke sofa.

"Aku ingat kau menyukai tulip. Jadi, aku membelikannya."

Emma terdiam.

Kalimat itu sederhana, tetapi entah mengapa membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

Selama ini, ia selalu mengira Damian tidak pernah benar-benar memperhatikannya. Pria itu jarang memujinya, lebih sering mengomel daripada bersikap manis, dan bahkan masih suka memanggilnya wanita cerewet.

Namun, ternyata Damian mengingat bunga kesukaannya.

Emma menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan senyum.

"Terima kasih," ucapnya pelan.

Damian menoleh. "Apa? Aku tidak dengar."

Emma langsung menatapnya tajam.

"KUBILANG TERIMA KASIH!"

"Nah, begitu dong. Ternyata kau bisa bicara dengan suara normal juga."

Emma langsung memukul pelan lengan suaminya dengan buku yang tadi dibacanya.

"KAU MERUSAK MOMEN!"

Damian tertawa kecil, lalu mengambil buku dari tangan Emma dan meletakkannya di meja.

"Sudah. Jangan marah terus. Aku baru pulang, bukannya disambut dengan senyuman, malah diinterogasi."

"Memangnya siapa yang menyuruhmu pulang cepat?"

"Kau."

"Aku bilang aku cuma bercanda!"

"Dan aku bilang aku ingin pulang menemui istriku."

Emma mendadak bungkam.

Damian sendiri tampak tidak menyadari betapa besar pengaruh kalimatnya terhadap perempuan di sampingnya. Ia mengatakannya begitu saja, seolah-olah itu merupakan hal paling wajar di dunia.

Sementara Emma, yang kini merasakan wajahnya semakin panas, hanya bisa menunduk sambil merapikan kelopak bunga tulipnya.

Astaga, Emma! Jangan senang dulu! Dia cuma membelikan bunga! Cuma bunga!

Namun, jauh di dalam hatinya, ia tidak bisa menyangkal bahwa perhatian kecil itu membuatnya bahagia.

Terlebih ketika Damian tiba-tiba mengusap puncak kepalanya.

"Jangan terlalu banyak berpikir, wanita cerewet."

Emma mendongak. "Siapa yang berpikir?!"

"Kau. Wajahmu seperti sedang merencanakan sesuatu."

Emma mendengus, kemudian memeluk buket tulipnya semakin erat.

"Pokoknya, aku suka bunganya."

Damian menatapnya beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

"Bagus. Besok kalau kau mau, aku belikan lagi."

Mata Emma langsung berbinar.

"BENARAN?!"

Damian menghela napas panjang.

“Nah, mulai lagi berisiknya,” gumam Damian sambil menggelengkan kepala.

“Biarin! Memangnya kau pikir aku peduli?” balas Emma ketus, lalu kembali sibuk mengagumi bunga tulip pemberian suaminya.

Dari kejauhan, beberapa pelayan mansion yang sedang bekerja diam-diam memperhatikan mereka. Ada yang tersenyum kecil, bahkan ada yang sampai menyenggol lengan temannya karena tidak tahan melihat tingkah pasangan itu.

Pemandangan tersebut terasa begitu berbeda dari biasanya.

Dulu, mansion itu selalu terasa sunyi. Bahkan ketika seluruh pelayan sedang bekerja, suasananya tetap tenang dan nyaris tidak pernah terdengar suara tawa.

Bukan tanpa alasan. Keluarga itu memang tidak banyak bicara, terutama Damian yang terkenal dingin dan sulit didekati.

Sebelum Emma datang, penghuni mansion itu hanya Damian, Raina, Leonardo, serta Ethan, kakak laki-laki Damian yang saat ini masih berada di luar negeri.

Meski ada beberapa pelayan yang bekerja di sana, tidak ada yang berani membuat keributan. Terlebih jika Damian sedang berada di rumah.

Namun, semuanya berubah sejak Emma menjadi bagian dari keluarga mereka.

Perempuan itu seolah membawa keramaian ke dalam mansion yang sebelumnya terasa begitu kaku. Ia bisa mengomel hanya karena hal sepele, tertawa keras saat menonton sesuatu yang lucu, atau mengajak para pelayan mengobrol seolah-olah mereka sudah berteman lama.

Dan yang paling mengejutkan, Damian yang biasanya tidak suka diganggu kini justru membiarkan istrinya melakukan semua itu.

Bahkan, terkadang pria itu ikut meladeni ocehan Emma.

“Lihat, deh. Tuan Damian ternyata bisa tersenyum juga,” bisik salah seorang pelayan kepada temannya.

“Iya. Dulu, kalau ada yang membuat Tuan Damian kesal sedikit saja, suasana mansion bisa langsung terasa seperti musim dingin.”

“Sekarang malah Nyonya Emma yang paling sering membuat beliau kesal.”

“Tapi, anehnya, Tuan Damian tidak pernah benar-benar marah kepada Nyonya.”

Mereka kembali melirik ke arah sofa.

Di sana, Emma sedang menunjukkan bunga tulipnya kepada Sonia dan Sonya yang baru saja datang dari taman.

“Cantik banget, kan?” tanya Emma dengan wajah berbinar.

“Iya, Nyonya. Tuan Damian pasti sengaja memilih bunga yang Nyonya sukai,” jawab Sonia sambil tersenyum.

Emma langsung mengangguk penuh semangat. “Iya! Ternyata dia punya sisi romantis juga!”

Damian yang mendengar perkataan itu langsung menoleh.

“Aku masih bisa mendengarmu, Emma.”

Emma terkesiap, lalu buru-buru memeluk bunganya.

“Memangnya aku bilang apa? Aku sedang memujimu, tahu!”

“Kalau itu caramu memuji seseorang, aku tidak bisa membayangkan bagaimana caramu menghina orang.”

“DAMIAN!”

Tawa kecil para pelayan pun terdengar lagi.

Damian memejamkan matanya sejenak, berusaha bersabar menghadapi istrinya yang seolah tidak pernah kehabisan kata-kata.

Namun, ketika ia membuka mata dan melihat Emma tertawa bersama para pelayan, tatapannya perlahan melembut.

Mansion ini memang jauh lebih berisik sekarang.

Anehnya, Damian tidak membencinya.

Justru, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa rumah yang selama ini hanya menjadi tempat untuk beristirahat itu benar-benar terasa seperti rumah.

Dan tanpa disadarinya, semua itu bermula sejak seorang perempuan cerewet bernama Emma hadir dalam hidupnya.

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!