NovelToon NovelToon
GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

GADIS KECIL SANG PEMBUNUH BAYARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Isekai / Romansa Fantasi
Popularitas:441
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

Dendam akibat pembantaian keluarganya menjadikan Leo Cristian Theodore (18) seorang pembunuh bayaran berdarah dingin sejak usia sepuluh tahun. Namun, hidupnya berubah drastis saat ia menjalankan misi membasmi sebuah keluarga dan menemukan seorang anak perempuan bernama Vellora Zavendra (5thn) bersembunyi di dalam lemari.

Alih-alih merasa takut saat ditodong pistol, Vellora justru memeluk erat Leo dan memohon untuk dibawa pergi karena sebatang kara. Pelukan polos tersebut meruntuhkan pertahanan sang pembunuh bayaran, membuatnya melihat bayangan dirinya sendiri di masa lalu.

Sejak pertemuan dengan gadis kecil itu kini mengubah hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. PABRIK TUA

Suara desingan peluru yang saling bersahutan perlahan mereda, digantikan oleh erangan tertahan dan bau anyir darah yang menguar pekat bercampur asap mesiu di udara. Di dalam gudang pabrik tua yang lembap dan minim cahaya itu, sisa-sisa pertarungan sengit baru saja usai. Satu per satu, anak buah dari komplotan pria bertopeng elang itu tumbang. Tubuh mereka terhempas ke lantai beton yang dingin, meregang nyawa setelah timah panas menembus pertahanan mereka tanpa ampun.

Deru mesin mobil menderu memecah keheningan yang mencekam, disusul decit ban yang bergesekan kasar dengan tanah berkerikil di luar pabrik. Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok Leo. Matanya sedingin es, menatap tajam memindai sekeliling. Langkah kakinya yang berat dan penuh wibawa bergema saat ia berjalan melewati mayat-mayat yang bergelimpangan. Tidak ada sedikit pun raut gentar di wajahnya; hanya ada kilat amarah yang tertahan.

"Tuan Muda," lapor salah satu anak buah Leo dengan napas memburu namun penuh hormat, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Sebagian besar dari mereka telah berhasil kami bereskan. Kami menyisakan beberapa yang masih hidup untuk Anda interogasi."

"Bawa mereka padaku,?" desis Leo, suaranya rendah namun mengiris seperti belati yang baru diasah.

Bara, tangan kanan Leo yang bertubuh besar dan kokoh, mengangguk tegas. "Kalian, seret mereka kemari!" teriak Bara memberi komando.

Beberapa anak buah Leo dengan kasar menyeret tiga tawanan yang tersisa. Wajah mereka babak belur, pakaian robek bersimbah darah. Dengan satu tendangan keras di lipatan lutut, Bara memaksa ketiga pria itu berlutut tepat di hadapan tuannya.

Bara menarik pelatuk pistolnya—menghasilkan bunyi klik yang mematikan—lalu menodongkan moncong baja dingin itu tepat ke pelipis tawanan di tengah. "Jika kalian masih ingin menghirup udara esok hari, buka mulut kalian sekarang! Di mana pemimpin kalian?!" ancam Bara, suaranya menggelegar menggetarkan ruangan.

Namun, alih-alih merintih ketakutan, ketiga pria itu justru saling bertatapan dalam diam. Sebuah senyum ganjil terbentuk di sudut bibir mereka. "Walau mati dengan tubuh hancur sekalipun, kami tidak akan pernah mengkhianatinya," bisik salah satu dari mereka. Detik berikutnya, tanpa aba-aba, tubuh ketiga pria itu kejang hebat, mulut mereka mengeluarkan busa putih, dan mereka pun ambruk ke lantai, tak bernyawa.

"Sial! Kenapa mereka tiba-tiba mati?!" umpat Bara terkejut, menunduk melihat ketiga tawanan yang terkapar tak berdaya.

Leo menatap tumpukan mayat itu dengan rahang mengeras. Pikiran liar berkecamuk di kepalanya; betapa mengerikannya dogma yang ditanamkan pria bertopeng elang itu, hingga anak buahnya begitu patuh dan rela membuang nyawa demi bungkam.

"Mereka sepertinya baru saja menelan kapsul racun mematikan yang disembunyikan di dalam mulut mereka, Tuan," lapor salah seorang anak buah Leo setelah memeriksa denyut nadi tawanan itu.

"Sialan!" umpat Leo, suaranya memantul di dinding-dinding pabrik. Matanya menyapu setiap sudut ruangan yang remang dengan beringas. "Cari dia di mana pun dia berada! Geledah setiap inci, setiap sudut tersembunyi di tempat rongsokan ini! Cepat!" teriak Leo dengan urat-urat leher yang menonjol keras, tak mampu lagi membendung murkanya.

Leo tak tinggal diam. Dengan langkah lebar dan pistol bersiaga di tangan, ia merangsek menyusuri lorong gelap pabrik, mendobrak masuk ke setiap ruangan yang ia lewati. Hingga akhirnya, ia tiba di ujung lorong—sebuah ruangan pribadi yang diyakini sebagai markas utama pria bertopeng elang. Tanpa ragu, Leo mengangkat kakinya dan menendang pintu besi itu hingga terbuka paksa dengan suara berdebum keras.

Kosong. Ruangan itu sunyi senyap. Tidak ada satu pun tanda-tanda kehidupan di sana. Namun, saat tatapan tajam Leo menyisir seluruh isi ruangan, insting pembunuhnya menangkap sesuatu. Di atas meja kerja yang berantakan, tergeletak sebuah cangkir kopi hitam.

Leo melangkah mendekat, menyentuh dinding luar cangkir tersebut. "Sepertinya ruangan ini baru saja ditinggalkan," gumam Leo. Kopi di dalamnya baru diminum setengah, dan dinding cangkirnya masih terasa hangat menembus kulit sarung tangannya.

Terdengar langkah kaki bergegas mendekat. Bara masuk dengan napas tersengal. "Tuan Muda, apa Anda menemukan orangnya?"

"Tidak. Bagaimana dengan tim yang lain?" sergah Leo tanpa mengalihkan pandangannya dari meja.

"Nihil, Tuan. Mereka sudah menyapu seluruh sudut bangunan, tapi tidak menemukan pria yang Tuan Muda maksud. Tempat ini bersih," lapor Bara dengan nada frustrasi.

"Pengecut itu pasti sudah kabur!" pekik Leo. Tangannya mengepal kuat, lalu dengan amarah yang memuncak, ia menghantam sebuah radio pemancar tua yang terletak di samping cangkir kopi.

Kresek... kresek...

Seketika, hantaman itu justru memicu sesuatu. Bunyi statis terdengar dari radio tersebut, perlahan berubah menjadi suara seseorang di ujung sana.

"Ada apa, anak kecil? Apa kau datang membawa pasukanmu ke sini ingin membalas dendam? Hahahahaha!"

Suara tawa jahat itu meledak secara tiba-tiba, menggema dan memenuhi setiap sudut ruangan pengap itu.

"Sialan... dia dengan sengaja meninggalkan rekaman suaranya di radio ini. Suara menjijikkan itu," desis Leo, matanya berkilat penuh kebencian.

"Jika kau datang ke sini untuk mencariku, maka aku sudah pergi. Kau tidak akan pernah bisa menemukanku, Putra Kedua Keluarga Theodore," suara pria bertopeng elang itu terus bergaung angkuh di benak Leo. "Sayang sekali... waktu itu aku tidak sempat membunuhmu bersama seluruh keluargamu yang menyedihkan itu. Ini semua gara-gara Liam! Bajingan tengik itu datang merusak pestaku! Jika saja dia tidak muncul, kau pasti sudah membusuk di neraka bersama keluargamu, hahahaha!"

Napas Leo seketika memburu. Kenangan pembantaian keluarganya kembali merobek kewarasannya.

"Teruslah mengejarku, anak kecil! Aku ingin melihat seberapa hebat kau bisa bertahan hidup, bocah ingusan!"

Tepat saat kalimat ejekan itu berakhir, suara tawa berganti menjadi bunyi tit... tit... tit... yang berdetak semakin cepat.

Mata Leo terbelalak menyadari polanya. "Sial! Dia menaruh bom di radio ini!" pekik Leo sekuat tenaga. "Bara, lari!!"

Keduanya langsung berbalik dan berhamburan berlari keluar lorong.

BLAAAAARRR!

Ledakan dahsyat memekakkan telinga merobek bangunan itu. Gelombang kejut melemparkan puing-puing beton, memicu ledakan beruntun, dan lidah api raksasa mulai melahap sebagian besar pabrik tua tersebut dalam hitungan detik.

Melalui alat komunikasi, Leo memerintahkan semua anak buahnya untuk mundur dan mengevakuasi diri. Di tengah kepungan asap hitam pekat dan hawa panas yang membakar kulit, mereka berpacu dengan maut. Setelah perjuangan yang terasa seperti selamanya, mencari jalan keluar di antara puing-puing yang runtuh, mereka akhirnya berhasil keluar dari neraka kecil itu. Beberapa terluka bakar dan bersimbah darah, namun nyawa mereka selamat.

Di luar ruangan yang aman, Leo menghela napas lega melihat pasukannya. Namun di balik kelegaan itu, giginya gemeretak. Balas dendamnya lagi-lagi tertunda; sang musuh lenyap tanpa jejak.

Sementara itu, ratusan meter dari sana, tersembunyi di balik kegelapan hutan lebat, sosok pria bertopeng elang itu berdiri diam. Ia menatap ke arah Leo dan pabrik yang terbakar habis dengan senyum menyeringai yang penuh kepuasan.

Merasa hawa dingin yang menusuk dari arah yang berbeda, insting Leo seakan membunyikan alarm. Ia tiba-tiba menolehkan kepalanya dengan cepat ke arah rimbunnya hutan. Matanya memicing, berusaha menembus pekatnya malam. Namun, tidak ada apa-apa di sana. Hanya pepohonan yang bergoyang ditiup angin malam.

"Mungkin hanya perasaanku saja," gumam Leo pelan, mencoba menepis paranoianya.

Bara yang masih terbatuk membersihkan debu dari wajahnya, mendekat. "Tuan Muda, bagaimana sekarang?"

Leo menoleh, menatap dingin sisa-sisa pasukannya yang kelelahan. "Kalian semua, kita kembali ke kediaman Theodore. Obati luka-luka kalian." pekik Leo memberi perintah mutlak.

Ia lalu membuka pintu mobil, masuk ke dalamnya tanpa menoleh lagi ke arah reruntuhan pabrik. Iring-iringan mobil hitam itu pun perlahan melaju pergi, membelah malam, membawa pulang amarah dan dendam yang kini berlipat ganda, bersiap untuk pertempuran sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!