NovelToon NovelToon
TAWANAN SANG RAJA MAFIA

TAWANAN SANG RAJA MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Nikahmuda
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Demi menyelamatkan sang ayah dari siksaan maut seorang mafia kejam, Aisyah gadis bercadar, Hafizah bermata biru blasteran menyerahkan diri sebagai tawanan abadi. Syaratnya gila: pria berdarah dingin itu harus masuk Islam dan menikahinya.
Pernikahan tanpa cinta pun dimulai. Alih-alih menjadi ratu, hidup Aisyah berubah menjadi neraka ketika suaminya sengaja membawa wanita malam ke hadapannya setiap hari untuk menghancurkan mentalnya.
Di tengah ketakutan yang mencekam dan air mata yang tak pernah kering, Aisyah hanya bersandar pada sujud malamnya.
Mampukah kelembutan ayat-ayat suci meluluhkan hati seorang psikopat tanpa Tuhan, atau justru Aisyah yang akan hancur lebur di sarang iblis?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dapur Istana Neraka dan Sepiring Keikhlasan

Mentari pagi di atas bukit terpencil itu memancarkan bias cahaya keemasan yang menembus kaca-kaca jendela raksasa istana megah milik Kenzie Al-Ghazali.

Namun, sinar hangat itu seolah kehilangan kekuatannya untuk mencairkan atmosfer dingin yang membekap seluruh sudut ruangan.

Di dalam kamar remang-remang, Aisyah Humaira terbangun dari sujud panjangnya.

Setelah semalaman menghabiskan waktu dengan air mata dan zikir, matanya terasa sembab dan berat.

Namun, ada ketenangan aneh yang meresap ke dalam relung hatinya, memberikannya kekuatan baru untuk menghadapi hari yang baru di sarang iblis ini.

Sambil melipat sajadah kecilnya, ingatan Aisyah tiba-tiba melayang pada pesan terakhir sang Ummi sebelum ia nekat meninggalkan pesantren—sebuah nasihat penuh air mata yang terus terngiang-ngiang di benaknya setiap kali ia merasa lelah.

"Anakku, Aisyah... kelak jika kau menjadi seorang istri, ingatlah bahwa ridha Allah ada pada ridha suamimu.

Sekalipun suamimu memiliki sifat yang buruk, kasar, atau bahkan tidak memperlakukanmu dengan baik...

jalankan lah kewajibanmu sebagai istri dengan ikhlas dan penuh kepatuhan selagi itu tidak melanggar syariat.

Biarkan akhlakmu yang menjadi saksi di hadapan Allah, bukan amarahmu."

Aisyah mengejap-ejapkan matanya, meresapi setiap kata mutiara dari wanita yang paling dicintainya itu.

Di balik cadar hitam yang kembali ia kenakan rapi pagi ini, Aisyah menarik napas panjang.

Ia adalah seorang istri sah secara agama di hadapan Allah.

Status itu tidak akan berubah sekadar karena suaminya seorang pembunuh atau karena pernikahan ini dibangun di atas ancaman.

Jika suaminya memperlakukannya seperti musuh, maka ia akan membalasnya dengan kesabaran dan ketaatan seorang wanita sholehah.

Dengan tekad bulat, Aisyah melangkah keluar dari kamar.

Langkah kakinya menyusuri lorong marmer yang sunyi hingga ia tiba di sebuah area yang belum pernah ia jamah sebelumnya dapur utama istana.

Dapur itu sangat luas, berstandar restoran bintang lima dengan peralatan serba modern berbahan stainless steel yang berkilau di bawah lampu putih terang.

Beberapa koki profesional berpakaian serba putih lengkap dengan topi tinggi tampak sibuk menyiapkan bahan-bahan makanan di balik meja besar, sementara para pelayan hilir mudik membersihkan ruangan.

Begitu Aisyah melangkah masuk dengan abaya hitam dan cadarnya, suasana dapur yang tadinya sibuk mendadak sunyi seketika.

Seluruh kepala menoleh.

Kepala koki seorang pria paruh baya bertubuh gempal asal Prancis bernama Chef Louis membelalakkan matanya kaget.

Ia segera meletakkan pisau di tangannya dan menghampiri Aisyah dengan rasa cemas yang kentara.

"N-Nyonya besar...?"

sapa Chef Louis dengan nada terbata-bata, mencemaskan apa yang sedang dicari oleh sang nyonya baru di tempat yang panas dan kotor seperti dapur ini.

"Ada yang bisa kami bantu?

Kenapa Nyonya turun ke sini?

Anda tidak seharusnya berada di tempat seperti ini.

Silakan kembali ke kamar, biarkan kami yang mengantar makanan ke sana."

Beberapa pelayan di belakang juga tampak berbisik-bisik, ketahuan panik karena takut Kenzie akan murka jika tahu istrinya turun tangan ke dapur.

Aisyah menggeleng pelan di balik cadarnya.

Ia tersenyum ramah, meski senyuman itu terhalang kain hitam.

"Tidak apa-apa, Chef Louis,"

suara Aisyah terdengar lembut, tenang, dan menenangkan.

"Saya tidak sedang mencari masalah.

Saya hanya ingin... memasak sesuatu hari ini."

"M-Memasak, Nyonya?!"

seru Chef Louis nyaris berteriak, diikuti oleh kehebohan kecil dari para asisten koki di belakangnya.

"Oh, tidak, tidak!

Itu tugas kami!

Tuan Kenzie bisa memecat kami semua jika beliau tahu istrinya harus memasak sendiri di dapur ini!"

"Tuan Kenzie tidak akan tahu jika kalian tidak memberitahunya,"

jawab Aisyah lembut namun tegas.

"Kumohon, biarkan aku menggunakan dapur ini sebentar saja.

Aku hanya ingin menyiapkan sarapan untuk suamiku."

Melihat ketulusan dan sorot mata biru Aisyah yang memancarkan ketegasan yang tak terbantahkan, Chef Louis akhirnya menyerah.

Ia menghela napas pasrah sambil mengangkat kedua tangannya menyerah.

"Baiklah, Nyonya... tapi kami akan membantu Anda menyiapkan semua bahan yang Anda butuhkan.

Jangan ragu meminta apapun pada kami,"

ucap Chef Louis akhirnya dengan nada takdzim.

Aisyah mengangguk, mengucapkan terima kasih dengan tulus.

Dengan cekatan, gadis Hafizah itu mulai meracik bumbu-bumbu dapur.

Meskipun tangannya terbalut kaus kaki tangan, gerakannya sangat terampil dan terlatih.

Selama hidup di pesantren, memasak untuk para santri adalah hal biasa baginya.

Ia memilih menu tradisional yang hangat: sup ayam bening berempah segar dengan aroma jahe yang menenangkan, dipadu dengan telur rebus dan nasi hangat yang pulen.

Di balik setiap irisan bawang dan taburan rempah, Aisyah melantunkan salawat dan doa, memohon agar masakan itu bisa melembutkan hati pria keras kepala yang kini menjadi suaminya.

Sekitar satu jam kemudian, aroma harum rempah-rempah tradisional yang menggugah selera menguar memenuhi seluruh sudut dapur mewah tersebut, meminggirkan bau amis daging dan saus barat yang biasa dimasak di sana.

Chef Louis mencolek sedikit kuah sup buatan Aisyah dengan ujung sendok kecil.

Begitu cairan hangat itu menyentuh lidahnya, mata koki profesional itu membelalak lebar, takjub setengah mati.

"Demi Tuhan..."

gumam Chef Louis dalam hati, terpesona oleh perpaduan rasa yang begitu kaya, gurih, dan menghangatkan dada.

"Ini... ini adalah sup paling lezat yang pernah aku cicipi seumur hidupku."

Aisyah tersenyum kecil.

Ia menata hidangan tersebut dengan sangat rapi di atas nampan perak yang elegan, lalu membawanya sendiri menuju ruang makan utama istana yang terletak di lantai dasar.

Ruang makan utama itu sangat luas, diterangi oleh lampu gantung kristal raksasa bermodel klasik.

Di atas meja makan panjang berbahan kayu mahoni yang bisa menampung selusin orang, Kenzie Al-Ghazali duduk seorang diri.

Pria itu mengenakan kemeja hitam formal yang lengannya digulung setengah, memperlihatkan otot lengan yang kokoh.

Wajahnya tampak dingin, kaku, dan kelelahan setelah semalaman bekerja mengurus jaringan sindikat dunianya.

Di hadapannya, sepiring sarapan mewah ala barat—daging steak setengah matang dan roti panggang mentega sudah tersaji rapi namun belum disentuhnya sama sekali.

Langkah kaki lembut mendekati meja makan.

Kenzie mendongak, mengerutkan keningnya tajam ketika melihat Aisyah berdiri di samping meja dengan membawa sebuah nampan perak.

Kenzie menyipitkan mata, menatap curiga ke arah istrinya.

"Apa yang kau bawa?"

tanyanya dingin, suaranya berat dan bariton.

Tanpa berkata sepatah kata pun, Aisyah meletakkan nampan tersebut di atas meja, tepat di hadapan Kenzie.

Ia membuka penutup mangkuk, membiarkan kepulan uap hangat beraroma rempah nusantara menyeruak keluar, memenuhi indra penciuman Kenzie.

Kenzie terdiam.

Ia menatap mangkuk berisi sup ayam bening dengan potongan ayam kampung dan taburan seledri segar.

Jauh berbeda dari menu sarapan mewah biasanya.

"Apa ini?"

tanya Kenzie sinis, menaikkan sebelah alisnya.

"Racun baru yang kau buat untuk melenyapkanku?"

Aisyah menunduk hormat, menjaga sikapnya sebagai seorang istri yang patuh.

"Itu sup ayam hangat, Tuan.

Silakan dicicipi.

Ini disiapkan agar tubuh Anda lebih rileks setelah bekerja semalaman."

Kenzie mendengus pelan, menatap Aisyah dengan tatapan meremehkan.

Namun, perutnya yang kosong sejak semalam dan aroma harum yang begitu menggoda membuat rasa penasarannya terpancing.

Dengan enggan, Kenzie mengambil sendok perak, menyeruput sedikit kuah sup buatan Aisyah.

Seketika, gerakan tangan Kenzie terhenti.

Rasa gurih kaldu ayam yang meresap sempurna, berpadu dengan kehangatan jahe dan rempah-rempah pilihan, meledak di lidahnya.

Rasa itu begitu otentik, begitu bersih, dan sangat menenangkan jauh melampaui masakan koki Prancis istananya yang kaya akan mentega dan krim berat.

Kenzie terpaku selama beberapa detik.

Ada sensasi hangat yang asing menyebar dari tenggorokan hingga ke dadanya.

Rasa lelah yang mendera tubuhnya seolah tersapu seketika oleh mangkuk sup sederhana itu.

Namun, gengsi seorang Kenzie Al-Ghazali sebagai penguasa dunia bawah terlalu tinggi untuk mengakui kekuatannya di hadapan sang istri.

Ia meletakkan sendok dengan bunyi berdenting pelan, lalu memasang kembali wajah datarnya yang dingin tanpa ekspresi.

Aisyah yang memperhatikan gerak-gerik suaminya dari balik cadar merasakan secercah harapan kecil menyelinap di dadanya.

"Bagaimana, Tuan?"

tanya Aisyah pelan, suaranya terdengar lembut.

"Apakah rasanya... kurang sesuai di lidah Anda?"

Kenzie mendengus tajam, melipat kedua tangannya di atas dada.

Ia menatap lurus ke mata biru Aisyah dengan tatapan sinis yang dibuat-buat.

"Biasa saja,"

jawab Kenzie acuh tak acuh, berbohong setengah mati.

"Rasanya terlalu hambar.

Jauh dari standar makananku."

Aisyah sedikit menunduk, menerima jawaban itu dengan ikhlas tanpa membantah sedikit pun.

"Baiklah, Tuan.

Jika kurang pas, besok saya akan coba perbaiki resepnya."

Tepat pada saat itu, Chef Louis yang sedari tadi mengintip cemas dari balik pintu penghubung dapur melangkah masuk dengan tergopoh-gopoh, membawa laporan kebersihan pagi.

Mendengar percakapan barusan, koki asal Prancis itu spontan melompat kaget dan bersuara lantang membela masakannya.

"Tunggu dulu, Tuan!"

seru Chef Louis tanpa sadar, lupa pada batasan protokol.

"Sup itu... sup itu bukan saya yang masak!

Itu adalah mahakarya buatan Nyonya besar sendiri!

Beliau yang turun tangan ke dapur pagi-pagi sekali dan meraciknya dengan tangannya sendiri!"

Suasana ruang makan mendadak membeku.

Kenzie terbelalak kaget.

Sontak, ia menoleh tajam ke arah Chef Louis, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke mangkuk sup di hadapannya, dan terakhir menatap sosok Aisyah yang berdiri tenang dengan kepala tertunduk di samping meja.

Jadi... wanita ini yang memasaknya sendiri?

Kenzie merasakan dadanya bergemuruh hebat secara tiba-tiba.

Kebohongan yang baru saja ia ucapkan bahwa sup itu hambar dan biasa saja berbalik menghantam wajahnya sendiri dengan telak.

Melihat reaksi suaminya yang terdiam seribu bahasa, Chef Louis langsung merasa ngeri sendiri atas kelancangannya.

Koki tua itu pucat pasi, menunduk ketakutan.

"M-Maafkan saya, Tuan... saya tidak bermaksud..."

Kenzie melambaikan tangannya dengan kasar, mengusir Chef Louis tanpa bersuara.

"Keluar!"

bentak Kenzie dingin.

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Chef Louis dan para pelayan langsung kabur terbirit-birit meninggalkan ruang makan, menyisakan Kenzie dan Aisyah berdua dalam keheningan yang pekat.

Kenzie menatap mangkuk sup itu lekat-lekat.

Sifat egonya bergolak hebat.

Ia benci mengakui kekalahan, apalagi di hadapan seorang gadis yang ia jadikan tawanan.

Dengan nada suara yang sengaja dikeraskan agar terdengar dingin dan menyebalkan, Kenzie mendengus.

"Oh... jadi kau yang memasaknya?"

cibir Kenzie, menatap tajam ke arah Aisyah.

"Pantas saja rasanya biasa saja tidak ada istimewanya sama sekali.

Lain kali, jangan buang-buang waktuku dengan masuk ke dapur.

Biarkan kepala koki yang memasak, karena itu memang tugasnya!"

Mendengar ucapan pedas dan sarkas dari sang suami, Aisyah tidak menunjukkan kemarahan sedikitpun.

Di balik cadarnya, ia justru tersenyum tipis.

Ia teringat kembali pada pesan sang Ummi: kesabaran adalah perisai seorang istri.

"Baik, Tuan,"

jawab Aisyah dengan suara yang sangat tenang dan santun.

"Saya minta maaf jika masakan saya tidak berkenan di lidah Anda.

Saya akan ingat pesan Anda."

Sikap Aisyah yang begitu sabar, patuh, dan sama sekali tidak tersulut emosi justru membuat Kenzie merasa seperti tertampar oleh angin.

Pria itu mendengus kasar, membuang muka, lalu mendorong mangkuk sup itu menjauh darinya, seolah-olah mangkuk itu adalah benda paling berbahaya di dunia.

"Pergi dari hadapanku!"

bentak Kenzie dingin.

"Aku tidak nafsu makan lagi!"

Aisyah mengangguk pelan.

"Baik, Tuan.

Saya permisi."

Dengan langkah anggun dan tenang, Aisyah membalikkan badan dan meninggalkan ruang makan tersebut.

Namun, begitu punggung Aisyah menghilang di balik pintu, Kenzie terdiam kaku di kursi mewahnya.

Pria berdarah dingin itu perlahan menatap kembali mangkuk sup hangat yang masih mengepulkan uap tipis di atas meja.

Ia melirik ke arah pintu tempat Aisyah baru saja berlalu, sementara debaran aneh di dalam dadanya bergemuruh semakin kencang, menggelisahkan seluruh malam dan paginya tanpa ia ketahui apa arti sesungguhnya.

1
ika mummy
beneran ceritan nya keren... aku syuuukkka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!