Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GEMA MASA LALU
Elma Laurent menatap layar laptop di hadapannya. Beberapa lembar dokumen tersusun rapi di atas meja kerjanya, sementara sebuah map tebal terbuka di sampingnya. Sudah hampir satu jam ia mempelajari berkas perkara yang baru saja diterimanya. Kasus tersebut berkaitan dengan dugaan manipulasi laporan keuangan dan penyembunyian sejumlah dokumen internal sebuah perusahaan investasi. Kliennya kali ini adalah seorang mantan direktur keuangan yang dituduh terlibat dalam transaksi ilegal sebelum akhirnya diberhentikan dari jabatannya.
Awalnya, perkara itu tampak seperti sengketa bisnis biasa. Namun, setelah menelusuri sejumlah dokumen pendukung, Elma menemukan sesuatu yang membuatnya berhenti membaca. Sebuah nama perusahaan muncul berulang kali dalam laporan tersebut. Nama yang sudah lima tahun tidak pernah ingin ia dengar lagi.
Elma terdiam. Jemarinya yang semula sibuk membolak-balik dokumen berhenti di atas sebuah halaman. Ia mengenali perusahaan itu.
Perusahaan yang sama dengan perusahaan yang pernah menjadi pusat perkara terbesar dalam perjalanan kariernya lima tahun lalu. Perkara yang dahulu dipercayakan kepadanya karena reputasinya sebagai pengacara muda yang memiliki kemampuan analisis tajam dan keberanian menghadapi lawan yang jauh lebih berpengalaman.
Saat itu, Elma begitu percaya diri, ia menganggap perkara tersebut sebagai kesempatan besar untuk membuktikan kemampuannya. Bahkan, keberhasilannya menangani kasus itu sudah diperkirakan akan membawanya pada posisi senior di firma hukum tempatnya bekerja. Namun, semuanya berakhir jauh dari harapan, ia kalah dalam persidangan. Bukti-bukti yang diajukannya dipatahkan satu demi satu.
Beberapa dokumen penting yang seharusnya memperkuat pembelaannya tidak pernah berhasil diperoleh tepat waktu. Sementara pihak lawan justru tampil dengan strategi yang begitu matang. Putusan pengadilan menjadi awal kehancuran kariernya. Profesionalitasnya dipertanyakan. Rekan-rekan yang sebelumnya memuji kemampuannya mulai menjaga jarak. Kesempatan promosi yang sudah berada di depan mata dibatalkan. Lebih menyakitkan lagi, ia harus menerima kenyataan bahwa kegagalan tersebut menjadi catatan buruk dalam perjalanan profesionalnya.
Elma menutup map di hadapannya.
"Lima tahun, dan mereka masih membawa masalah yang sama," gumamnya.
Elma berusaha mengesampingkan kenangan itu. Bagaimanapun, ia tidak ingin membiarkan masa lalu memengaruhi pekerjaannya sekarang. Ada masa lalu yang sengaja dilupakan, tetapi bukan berarti ia benar-benar menghilang. Lima tahun berlalu, tetapi tidak semua perkara benar-benar selesai ketika palu hakim diketukkan.
Ketukan terdengar dari pintu ruangannya.
"Masuk."
Pintu terbuka, memperlihatkan Karin yang membawa dua gelas kopi. Perempuan itu berjalan mendekati meja Elma, kemudian meletakkan salah satu gelas di hadapannya.
"Sepertinya kamu sedang menghadapi sesuatu yang cukup serius."
Elma mengangkat wajah. "Kenapa?"
Karin menunjuk tumpukan dokumen di atas meja. "Sudah hampir satu jam aku melihatmu dari luar. Biasanya kamu tidak sampai mengabaikan kopi yang baru saja kubawakan."
Elma melirik gelas kopi tersebut. "Aku sedang membaca berkas."
"Dan berkas itu kelihatannya tidak terlalu menyenangkan."
Karin menarik kursi di seberang meja, lalu duduk tanpa menunggu dipersilakan.
Elma mengembuskan napas pelan. "Kasus baru."
"Kasus apa?"
"Manipulasi laporan keuangan dan penyembunyian dokumen internal sebuah perusahaan investasi."
Karin mengangguk, menunggu penjelasan lebih lanjut. "Kliennya seorang mantan direktur keuangan. Dia dituduh terlibat dalam transaksi ilegal yang dilakukan perusahaan sebelum akhirnya diberhentikan."
"Jadi, dia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah?"
"Kurang lebih."
Elma membuka kembali salah satu dokumen dan menggesernya ke arah Karin.
"Masalahnya, ada beberapa transaksi yang tidak bisa dijelaskan secara transparan. Sejumlah dokumen audit juga tidak ditemukan dalam arsip perusahaan."
Karin memperhatikan halaman tersebut. "Lalu apa yang membuatmu terlihat begitu muram?"
Elma terdiam sesaat sebelum menjawab. "Perusahaan yang terlibat dalam kasus ini adalah perusahaan yang sama dengan yang pernah kutangani lima tahun lalu."
Karin langsung mengangkat wajah. "Perkara yang dulu?"
Elma mengangguk.
Karin mengetahui betul bagaimana masa lalu itu memengaruhi perjalanan karier Elma. Ia bahkan menyaksikan sendiri bagaimana perempuan itu harus menghadapi berbagai tuduhan setelah kalah dalam persidangan.
"Jadi, kamu kembali berurusan dengan mereka?"
"Secara tidak langsung. Perusahaan itu memang bukan satu-satunya pihak dalam perkara sekarang, tetapi namanya muncul dalam beberapa dokumen."
Karin mengambil kopi miliknya. "Apa menurutmu ada hubungannya dengan kasus lama?"
"Itu yang sedang kucari tahu."
Elma memutar layar laptop sedikit ke arah Karin. "Lihat bagian ini."
Karin mendekatkan kursinya. "Ini laporan audit?"
"Ya. Ada beberapa transaksi yang tercatat dalam periode yang sama dengan perkara lima tahun lalu. Aku juga menemukan bahwa sebagian dokumen pendukungnya pernah diminta oleh tim hukum kami waktu itu."
Karin mengernyit. "Tunggu. Maksudmu dokumen yang dulu tidak pernah berhasil kamu dapatkan?"
"Tepat."
Karin meletakkan gelas kopinya. "Elma, bukankah itu salah satu alasan utama kenapa pihak lawan berhasil mematahkan pembuktianmu?"
Elma mengangguk pelan. "Dokumen itu seharusnya bisa menjelaskan aliran dana dan hubungan antara beberapa eksekutif perusahaan. Tetapi setiap kali kami mengajukan permintaan, pihak perusahaan selalu mengatakan dokumennya masih dalam proses pemeriksaan."
"Dan akhirnya tidak pernah diberikan?"
"Tidak pernah."
Karin menggeleng pelan. "Aku masih ingat betapa frustrasinya kamu waktu itu."
Elma tersenyum tipis, tetapi tidak ada kegembiraan di wajahnya. "Aku juga masih ingat."
"Jujur saja, sampai sekarang aku masih merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan perkara itu."
Elma menatap Karin. "Apa maksudmu?"
"Kamu bukan pengacara yang ceroboh. Aku tahu bagaimana kamu mempersiapkan perkara itu. Kamu memeriksa setiap bukti, mempelajari setiap keterangan saksi, bahkan hampir tidak pernah pulang tepat waktu selama persidangan berlangsung."
Karin berhenti sejenak. "Tetapi semuanya tiba-tiba berantakan menjelang sidang terakhir. Bukti yang kamu butuhkan tidak tersedia, pihak lawan seperti sudah mengetahui setiap langkahmu, dan kamu akhirnya harus menanggung seluruh akibatnya."
Elma menunduk memperhatikan dokumen di hadapannya. "Aku pernah berpikir mungkin memang ada sesuatu yang terlewat dari persiapanku."
"Dan sekarang?"
"Aku tidak tahu."
Elma menutup laptopnya setengah. "Aku tidak ingin membuat kesimpulan hanya berdasarkan dugaan. Kasus sekarang berbeda, kliennya juga berbeda. Aku harus memisahkan keduanya."
Karin mengangguk memahami. "Itu benar. Tetapi menurutku kamu tetap perlu memeriksa hubungan antara kedua perkara tersebut."
"Aku akan melakukannya."
Karin memperhatikan ekspresi sahabatnya. "Apakah kamu merasa terganggu karena harus kembali menghadapi perusahaan itu?"
Elma tidak segera menjawab, ia memandang ke arah jendela besar ruangannya. Gedung-gedung perkantoran terlihat berjajar di kejauhan.
"Sejujurnya, aku tidak pernah ingin berurusan dengan mereka lagi."
Karin diam.
"Bukan karena aku takut kalah," lanjut Elma. "Aku hanya tidak ingin kembali mengingat bagaimana semuanya berakhir."
Karin menggeser gelas kopi sedikit lebih dekat ke arahnya.
"Kamu sudah melewati masa itu, Elma."
"Aku tahu."
"Dan kamu bukan lagi pengacara muda yang sama seperti lima tahun lalu."
Elma menatapnya. "Kamu sekarang jauh lebih berpengalaman. Reputasimu sudah kembali, klien-klien mempercayaimu, dan kamu berhasil membangun semuanya dari awal. Jangan biarkan satu perkara lama membuatmu meragukan kemampuanmu sendiri."
Elma tersenyum kecil. "Kamu selalu pandai memberikan ceramah."
"Karena kamu selalu pandai menyembunyikan masalah."
Keduanya tertawa pelan. Namun, Karin kembali serius ketika melihat Elma membuka salah satu dokumen.
"Jadi, apa langkahmu selanjutnya?"
"Aku akan meminta akses terhadap arsip perusahaan yang berkaitan dengan transaksi tersebut. Aku juga ingin memeriksa kembali dokumen audit lama yang pernah diajukan dalam perkara sebelumnya."
"Bagaimana kalau mereka kembali mempersulit aksesmu?"
Elma mengangkat bahu. "Kali ini aku akan menggunakan jalur hukum yang tersedia. Mereka tidak bisa terus-menerus berlindung di balik alasan administratif."
Karin mengangguk. "Bagus. Setidaknya sekarang kamu tahu apa yang harus dilakukan."
Elma mengambil gelas kopinya dan menyesap sedikit.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Kamu tidak harus menyelesaikan semuanya hari ini." Ucap Karin.
Elma mengangguk.
Setelah Karin meninggalkan ruangan, Elma kembali membuka laptopnya. Ia memperhatikan satu halaman laporan yang sejak tadi menjadi perhatiannya. Ada sesuatu yang terasa janggal pada tanggal penerbitan dokumen tersebut. Laporan audit itu tercatat selesai beberapa hari sebelum sidang terakhir lima tahun lalu, tetapi tidak pernah tercantum dalam daftar dokumen yang diterima tim hukumnya.
Elma mengambil pena, kemudian memberikan tanda pada tanggal tersebut. Ia belum tahu apakah kedua perkara itu benar-benar memiliki hubungan atau hanya kebetulan administratif.
Namun, satu hal mulai mengusiknya. Jika dokumen tersebut memang sudah tersedia sejak awal, mengapa pihak perusahaan begitu keras menolak menyerahkannya? Dan siapa yang sebenarnya diuntungkan dari ketidaktahuan dirinya lima tahun lalu?
Elma menatap layar laptop beberapa saat sebelum kembali mengetik. Kali ini, ia tidak hanya ingin memenangkan perkara yang sedang ditanganinya. Ia juga ingin memastikan bahwa tidak ada lagi bagian dari kebenaran yang disembunyikan darinya.
☆