Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Menatap hari esok
Malam turun dengan cepat di atas Desa Hutan Batu. Langit yang tadinya berwarna jingga keemasan kini berubah menjadi hitam legam tanpa bintang, tertutup oleh barisan awan tebal yang menggantung rendah di atas punggung pegunungan.
Suhu udara dingin menusuk tulang langsung merayap naik, membuat angin malam berhembus kencang membawa desau daun-daun pinus yang bergesekan.
Di atas lokasi bekas gubuk reyot mereka yang kini telah disulap menjadi tenda darurat semi-permanen dari kain terpal kedap air (Youbu), keluarga Lin berkumpul dalam keheningan yang khidmat.
Di bagian depan tenda darurat tersebut, Lin Wanru menyusun beberapa ranting kayu kering yang berhasil dikumpulkan oleh adiknya, lalu menyalakannya menggunakan batu api kecil yang ia temukan di sela-sela reruntuhan dapur.
Setelah beberapa kali gesekan, percikan api kecil menyambar serpihan jerami kering hingga menyala, menciptakan kobaran api unggun kecil yang hangat di tengah pekatnya malam.
Cahaya kemerahan dari api unggun itu memantul di wajah Wanru yang masih menyisakan lebam keunguan, serta menerangi wajah Nyonya Lin dan Lin Bao yang duduk berdekatan di dekatnya.
"Wah... hangat sekali..." gumam Lin Bao pelan, seraya mendekatkan kedua tangan kecilnya ke dekat jilatan api untuk menghangatkan jemarinya yang kaku akibat kedinginan.
Bocah itu menoleh ke arah kakaknya dengan mata berbinar kagum. "Kakak hebat sekali. Padahal rumah kita tadi hancur, tapi sekarang kita punya tempat berteduh dan api yang hangat."
Wanru tersenyum tipis, lalu mengusap puncak kepala adiknya dengan lembut. "Ini baru permulaan, Bao-er. Selama kita mau berpikir dan bekerja sama, tidak ada badai yang bisa meruntuhkan kita."
Di bawah temaram cahaya api unggun, Wanru mengeluarkan kantong kain kecil dari ikat pinggangnya. Ia melonggarkan tali pengikatnya, lalu menuangkan isinya di atas telapak tangannya.
Beberapa keping uang tembaga kecil berkilau redup tertimpa cahaya api. Wanru menghitungnya perlahan satu per satu.
"Satu, dua, tiga... delapan... sepuluh..."
Total kepingan tembaga yang tersisa dari hasil penjualan jamur dan akar herbal di Pasar Sungai Besi tadi siang kini hanya tinggal sepuluh keping tembaga. Sebagian besar modal awal mereka sudah habis tersedot untuk membeli terpal kedap air, tali tambang rami, gergaji kecil, dan paku besi.
Nyonya Lin melirik kepingan uang tembaga di tangan putrinya, lalu menghela napas berat. "Hanya tersisa sedikit itu, Wan-er... Kalau untuk membeli beras putih di pasar kecamatan besok, uang sebanyak itu mungkin tidak cukup. Setelah itu... apa yang harus kita makan?"
Wanru menutup kembali kantong uangnya dengan rapi, lalu menyelipkannya kembali ke pinggangnya. Wajahnya tetap tenang tanpa secercah pun kepanikan.
"Ibu, jangan khawatir soal makanan," jawab Wanru meyakinkan. "Sepuluh keping tembaga adalah modal kerja yang sangat cukup untuk memulai kembali. Kita tidak akan membeli beras mahal di pasar. Besok pagi-pagi sekali, aku akan kembali masuk ke zona pinggiran Hutan Hantu untuk mencari lebih banyak jamur liar dan tanaman obat. Dan kali ini, aku akan meracik strategi penjualan yang lebih efisien."
Mendengar kata-kata optimis dari putrinya, Nyonya Lin mengangguk pelan, meski guratan kekhawatiran di wajah paruh bayanya belum sepenuhnya hilang.
Menjelang tengah malam, angin pegunungan bertiup semakin kencang. Suara desau angin terdengar melengking melewati celah-celah bukit, mengguncang pepohonan tua dan menghantam dinding kain terpal tenda darurat buatan Wanru dengan keras.
Bruk... sreet...
Kain terpal itu berderit kencang menahan hantaman angin, namun struktur kerangka kayu yang diikat menggunakan simpul kokoh dan dipaku kuat pada empat tiang utama tetap berdiri tegak tanpa goyang sedikit pun.
Nyonya Lin yang berbaring di dalam tenda beralaskan selimut kasar terbangun karena suara angin tersebut. Ia meraba dinding terpal di sampingnya, dan merasakan bagaimana kain tebal itu sukses menahan terjangan angin dingin dari luar tanpa membiarkan satupun hembusan udara malam membekukan ruangan dalam.
Di sebelah ibunya, Lin Bao sudah tertidur pulas dalam pelukan hangat selimut, bernapas teratur tanpa terganggu oleh suara badai di luar.
Wanru sendiri duduk bersila di dekat pintu masuk tenda, mengawasi kestabilan struktur bangunan darurat tersebut sambil memegang sebilah kayu kecil untuk berjaga-jaga. Sebagai seorang insinyur perencanaan, ia memeriksa setiap sudut ikatan tali untuk memastikan tidak ada simpul yang kendur.
"Struktur ini lulus uji coba beban angin malam pertama," batin Wanru menganalisis puas. "Besok, setelah fajar menyingsing, aku bisa menambahkan lapisan pelindung jerami di bagian atas terpal untuk meredam suara hujan jika sewaktu-waktu badai turun."
Di tengah kesunyian malam yang mencekam di luar sana, jauh di dalam wilayah Desa Hutan Batu, rumah-rumah penduduk tampak gelap dan tertutup rapat.
Musuh-musuh mereka seperti Nyonya Liu yang dengki dan Paman Lin Dehai yang serakah mungkin sedang tidur nyenyak di atas tempat tidur empuk mereka, merasa bahwa keluarga Lin telah hancur total dan tidak akan pernah bisa bangkit lagi.
Namun, di atas reruntuhan gubuk yang kini berdiri sebuah tenda terpal kokoh, api kecil terus menyala, memancarkan simbol perlawanan yang tak terlihat.
Wanru mendongak menatap langit malam yang pekat. Utang mereka kepada Lin Dehai telah lunas dibayar oleh sang pangeran penyamar di pasar, rumah bordil berhasil dihindari, dan kini mereka memiliki tempat berteduh mandiri meskipun harus merangkak dari titik nol.
"Paman Dehai... Nyonya Liu..." bisik Wanru pada angin malam. "Nikmati kemenangan kecil kalian malam ini. Karena begitu matahari esok pagi terbit, babak baru pembalasanku akan segera dimulai."
Bersambung...