NovelToon NovelToon
Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Sandyakala "Aksa Dan Amerta"

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:306
Nilai: 5
Nama Author: Nyimas zaharah

Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.

Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Senyap

Malam semakin larut, cahaya gemerlap dari langit mulai terlihat. Lampu jalanan berwarna kuning oranye telah menyala menerangi jalanan desa. Gadis itu masih duduk di tepi pantai, sudah 30 menit lamanya ia berada disana. Angin malam mulai berhembus menyapu kulit Mahija yang saat ini masih duduk di tembok pembatas tepi pantai, tak dipungkiri lagi ia kedinginan saat ini hanya menggunakan baju berlengan pendek.

Lelaki itu berjalan mendekati gadis yang tengah duduk itu, dengan tidak yakin apakah ia telah selesai menangis ataukah belum. Mahija memberanikan dirinya untuk mencoba bertanya, apakah gadis yang bernama Mahika itu telah kembali tenang setelah menangis.

"Permisi,Sudah selesai menangis? "

"Sudah"

"Mau cerita? "

"Eng.. gak.. "jedanya. " Saya mau pulang kerumah, Hati-hati dijalan " ucap Mahika yang langsung beranjak dari tempat duduknya.

"Saya akan datang beberapa hari lagi sesuai janji saya untuk mengkitbah kamu" ucapnya disaat Mahika yang sudah berjalan meninggalkan dirinya.

Ia berjalan meninggalkan Mahija yang hanya diam memandangi dirinya, tanpa menatap wajah Mahija yang selalu terpukau dengan dirinya. Mahija juga harus pulang saat ini, malam sudah semakin gelap dan ia hanya punya izin sementara saja.

"BANG!! " teriak seseorang dari kejauhan, siapa lagi kalau bukan adik kandung satu-satunya yang selalu ia banggakan didepan orang-orang namun jika berhadapan langsung dengannya enggan untuk memujinya.

Mahija hanya melambaikan tangannya, segera ia menghampiri Fian yang duduk di tepi tembok pembatas, menyantap makanan yang ia beli di perjalanan menjemput Mahija. Mulutnya penuh dengan pangsit goreng yang dilumuri dengan saos yang telah diracik oleh si penjual, bau wangi daun bawang serta daging bercampur menjadi satu.

"Makan mulu" cetus Mahija, mengambil kunci mobil yang sudah diletakkan di samping plastik bungkusan jajanan Fian.

Mahija berjalan meninggalkan Fian yang masih kerepotan mengunyah sambil membawa bungkusannya, ia mengikuti Mahija yang terus saja ngedumel pada Fian yang lama menjemput dirinya.

"BANG NANTI BELI JAJAN LAGI YA! "

"Astaghfirullahaladzim Ian!! mulutmu saja masih penuh, kenapa masih minta jajan lagi" jeda Mahija, tidak ada jawaban dari Fian yang malah berjalan melewati Mahija dengan kresek yang berisikan pangsit digenggaman tangannya. "Lu ya!! Lama-lama gua jual juga lu ke black market pasti mahal harganya"

"Lo tega ngejual adek sendiri? Dasar tidak berprikemanusiaan dan berperike-adik-an" eja Fian membalikkan tubuhnya menghadap Mahija.

"Soalnya lu kek Nu'aiman"

"Lu yang Nu'aiman, bukan gua. Agak lain emang abang gua, ada rada-rada nya. " ujar Fian memberikan fakta sebenarnya.

"Emang, gua titisannya" jelas Mahija. "Daripada lu ngejual komandan Sandryo ke biro jodoh, kek Abu Nawas jual rajanya"

"Lah gua bantu ndan dryo biar gak jomblo mulu, sekalian dapat uang tambahan juga wkwk. Kan bagus ndan Dryo ada pasangannya nanti biar gak gangguin anggota di barak terus" kekeh Fian yang tertawa saat mengingat hal tersebut.

"Ya tapi gak gitu konsep nya, pulang-pulang ndan Dryo langsung nyariin gua buat laporan tingkah lu yang diluar prediksi BMKG dan para penerawang dunia"

" HAHAHA" Tawa Fian pecah seketika saat mendengar jawaban dari Mahija. "Tapi pokoknya belikan jajan nanti di depan SD yang dilewati"

"GAK"

"Yasudah gua tinggal ngadu ke umma saja nanti, abang gak mau belikan jajan ian" yang sudah menggenggam kunci mobil ditangan kanannya.

Mahija tampak kebingungan, bagaimana bisa kunci mobil berada di tangan Fian. Fian hanya tersenyum dan langsung berlari meninggalkan Mahija, melihat itu Mahija juga mengejar Fian takut jika ia ditinggalkan.

"IAN!!"

"YOI! "

***

Dua orang pria memasuki sebuah gudang yang cukup minim penerangannya, ia melihat semua orang ada di dalam gudang tersebut. Menatap satu-persatu wajah para tersangka yang saat ini tengah bersimpuh di lantai semen yang dingin, ia beralih duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari posisinya berdiri tadi.

Mengeluarkan benda pipih dari saku celananya, menggulirkan jarinya pada benda pipih tersebut. Ia menelpon seseorang dengan intonasi suara yang cukup tegas, Mahija segera memerintahkan orang yang sedang ditelepon nya untuk segera datang ke tempatnya.

"Ubi ndan? " seseorang dibelakang tubuhnya, menawarkan ubi yang masih penuh dengan kepulan asap. Ia adalah Hansen, anggota yang selalu mengikuti perintahnya.

Mahija menyipitkan matanya, menatap ubi yang tengah dipegang oleh Hansen dengan kedua tangannya secara bergantian. Ia sama sekali tidak bergeming persekian detik, melihat wajah Hansen yang kusam.

"Belom mandi? "

"Siap belum ndan"

"Dih, bau. Minimal mandi lah, biar jodohnya mendekat. Gimana mau cepat menikah kalau mandi saja males" ujar Mahija langsung mengambil ubi yang berada di tangan Hansen. "Mandi Sen, malu sama jodoh yang udah wangi. Kamu sendiri belom mandi" sembari menutup hidungnya.

"Gimana mau mandi ndan? Kamar mandi saja tidak ada disini, baju ganti saja tidak bawa"

"Ya itu pikir sendiri, sudah dewasa kan? "

"Siap,kalau begitu saya mau mandi ndan"

"Yasudah pikirin, tapi sebelum itu kamu tugas jaga didepan dulu "

"Ndan? "

"Mandi di barak saja kamu" Senyum Mahija yang senang sekali menjahili anggota nya itu.

Hansen mengikuti langkah atasannya itu, ia hobi sekali mengikuti kemana pun Mahija pergi bahkan perintah apa saja yang diberikan oleh Mahija ia turuti walaupun terkadang ia kebingungan bagaimana menyelesaikan perintah tersebut hingga membutuhkan bantuan dari beberapa letting nya.

Brakk!!

"ADUUH! " sorot mata di dalam ruangan tertuju pada seorang Hansen, hanya ada gelengan kepala diantara para letting nya yang diiringi dengan mimik wajah hendak tertawa namun harus tertahan saat itu juga.

"Jalan gak cuma pakek kaki, tapi pakek mata juga Sen" cetus seorang letting yang langsung di balas dengan wajah melotot Hansen padanya.

"Maaf ndan" singkat Hansen, mundur selangkah dari posisinya berdiri.

Tidak ada jawaban dari sang komandan yang hanya fokus dengan layar ponselnya saat ini, ia tampak tidak bergeming sesaat lalu berjalan secepat mungkin mendekat ke arah Fian.

"Umma masuk rumah sakit." hanya kalimat itu yang langsung membuat Fian bangkit dari posisi duduknya lalu berlari keluar dari dalam gedung tersebut bahkan sepatu yang ia gunakan belum ia gunakan kembali.

Mahija yang usai memberitahukan hal tersebut juga harus tetap tenang membawa sepatu serta jaket milik Fian, ia meninggalkan gedung setelah memberikan perintah kepada seluruh anggotanya untuk menunggu untuk perintah selanjutnya.

***

"Umma.. " suara Fian memecahkan suasana ruangan rumah sakit.

Fian tidak memperdulikan situasi disekitar nya yang hanya ia pikirkan saat ini hanya ada ummanya seorang, apakah wanita yang ia sayangi itu dalam keadaan baik-baik saja saat ini atau hal buruk yang ada dipikirannya saat dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.

Telapak kaki Fian tampak menghitam sesaat setelah berdiri diambang pintu masuk, wajah ayah dan umma memperhatikan anak bungsu dan sulung mereka yang penuh dengan ke khawatiran. Mahija yang membawa sepatu dan jaket serta tas miliknya dan Fian sedangkan Fian dalam keadaan tidak beraturan pakaian yang ia kenakan saat ini.

"SIAP GERAK!! " suara aba-aba perintah yang tiba-tiba saja terdengar dari lisan sang ayah.

Langsung saja kedua putranya reflek dengan sikap sempurna mengikuti perintah sang ayah, tidak ada bantahan dari kedua putranya itu. Mahendra tampaknya membuat kedua putranya itu kebingungan setengah mati, Fian yang dari tadi ingin segera melihat ummanya itu sudah tidak sabaran.

"Kalian ini datang dalam keadaan yang seperti ini, Fian pakaianmu rapihkan pakai sepatu mu kembali" Perintah tegas sang ayah langsung dituruti oleh Fian.

Sedangkan Mahija hanya diam dengan sikap sempurna nya, ia sedikit melirik kearah brankar yang tengah tertutup tirai tersebut. Meneliti dan membaca situasi yang ada pada ruang inap tersebut, Mahendra hanya menatap putra sulungnya itu dengan seksama.

"Kenapa langsung kemari? " pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh sang ayah.

"Tapi kata bang Bian umma masuk rumah sakit, jadi langsung kesini buru-buru" jawab Fian sembari menunjuk Mahija yang berada disebelah nya.

"Kamu tidak memberitahukan ke Fian?"

"Fian nya langsung nyelonong pergi, belum juga selesai ngasih info udah cabut pergi" jelas Mahija yang diberi tatapan tajam dari Fian.

"Yasudah, masuk" jeda Ayah. " JANGAN RIBUT" ucap Ayah penuh dengan penekanan.

"Siap" Serempak Mahija dan Fian bersamaan.

Mereka mendekat ke arah brankar rumah sakit melihat umma nya tersenyum menatap mereka yang sudah kelimpungan, melihat hal itu jantung yang ada di dada Mahija dan Fian kembali tenang.

"Umma kenapa bisa masuk rumah sakit? "

"Umma kecapean sayang, kegiatan bhayangkari penuh ditambah ikut dinas Ayah. Toh cuma 2 hari saja disini, umma gak papa"

"Alhamdulillah umma kalau begitu, Fian kira umma kenapa-napa"

"Enggak sayang"

Malam semakin larut, suasana rumah sakit sudah sepi sedangkan Mahija dan Fian berada di lorong yang tak jauh dari ruang rawat inap ummanya. Mereka duduk sembari menikmati segelas kopi dan susu coklat yang baru saja mereka beli di mini market terdekat. Mereka hanya diam dan memandangi layar ponsel mereka masing-masing, Fian yang sedang menonton film animasi di saluran youtube dan Mahija yang sedang melihat whatsapp dan menjawab pesan yang tidak sempat ia balas.

Kedua abang beradik yang jarang terlihat bersama meskipun satu asrama dan markas tapi kesibukan diantara mereka berdua dan tugas membuat mereka hanya bisa duduk diam dengan ponselnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!