Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.
Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.
Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.
Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.
Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 — Sayembara
Pedang Gu Chen membelah awan sore dengan dengung yang rendah, dan di belakangnya tiga murid dalam lain mengikuti dalam formasi segitiga rapat. Sudah dua hari mereka menyisir lembah dan sungai di sebelah barat gunung, mencari tanda-tanda para tetua yang pergi dan tidak pernah memberi kabar.
Talisman suara yang diberikan Tetua Shen padam sejak pagi kedua, dan sejak itu tidak ada satu pun yang menjawab. Gu Chen tidak mengatakan apa-apa tentang itu, tetapi rahangnya mengeras setiap kali ia melirik talisman kosong di pinggangnya.
Sebuah kilatan putih di tepi sungai di bawah mereka menarik perhatiannya. Ia mengangkat tangan kiri, dan tiga pedang di belakangnya melambat. Ia menurunkan pedangnya dalam putaran lebar dan mendarat di atas kerikil yang basah, lalu berhenti dengan satu kaki setengah melangkah. Gagak-gagak beterbangan dari bangkai di dekat air dengan jeritan serak, dan bau darah yang sudah beberapa hari menusuk hidungnya sampai ia menahan napas.
Tiga tubuh tanpa kepala terbaring di tepi sungai, dua di antaranya setengah terendam di air dangkal. Gu Chen mengenali jubah merah bersulam api yang kini menghitam oleh darah kering, dan ia mengenali jubah hijau lumut Paviliun Obat di sebelahnya. Pedang panjang milik Tetua Jiang tergeletak di antara batu dengan bilah yang masih utuh. Di sabuk ketiga mayat itu hanya tersisa tali-tali yang terpotong, dan kantong-kantong penyimpanan mereka lenyap. Tiga kepala ditemukan beberapa langkah dari tubuh masing-masing, tergeletak miring di antara kerikil dengan mata melotot ke langit.
"Kakak Gu..." Salah satu junior, seorang pemuda berwajah bulat bernama Lei yang baru dua tahun menjadi murid dalam, menutup mulutnya dengan lengan baju dan terhuyung mundur sampai hampir jatuh. "Itu... itu para Tetua. Semuanya."
Gu Chen tidak menjawab. Ia berjongkok di samping tubuh Tetua Huo dan memeriksa leher yang terpotong dengan jarinya, dan ia menahan napas. Potongannya rata dan licin, tanpa serpihan tulang yang hancur, dan leher itu terbelah oleh satu goresan yang sama sekali tidak menemui perlawanan. Ia menengadah dan mengamati tebing di seberang sungai. Batu-batu di tepi air terbelah dalam garis lurus sepanjang puluhan langkah, dan sisa-sisa Qi yang berserakan di udara masih berpendar samar, tiga warna yang tercerai dari satu pusat.
'Mereka menggabungkan teknik. Dan seseorang memotong teknik itu menjadi dua dengan satu sapuan.' Tangannya yang bertumpu di lutut bergetar halus sebelum ia mengepalkannya.
"Lei." Suaranya datar dan pelan. "Bawa mereka pulang. Bungkus dengan kain, dan jangan sampai kepalanya tertinggal. Aku tidak mau ada yang hilang saat kita tiba di sekte."
"Baik, Kakak Gu." Lei mengangguk pucat dan memberi isyarat pada dua murid lain, yang mulai membungkus jasad-jasad itu dengan kain sutra putih sambil menahan mual.
Gu Chen berdiri diam di tepi sungai sampai mereka selesai, dan tidak sekali pun menoleh ke arah kerikil yang berlumur darah.
...------...
Halaman utama sekte penuh sesak ketika mereka mendarat menjelang malam. Murid-murid dalam dan luar berkumpul dalam lingkaran besar, dan bisik-bisik mereka mereda begitu tiga bungkusan putih diturunkan dari pedang-pedang terbang.
Tetua Shen berdiri di tengah halaman dengan tongkat tergenggam dan gulungan catatan di lengan jubahnya. Ia menatap bungkusan-bungkusan itu tanpa berkedip, dan ketika Lei membuka kain pembungkus yang pertama, ujung tongkatnya berderak di lantai batu.
Tidak ada seorang pun yang berbicara. Tetua Shen berjalan pelan mengelilingi ketiga jasad itu, berhenti di depan jubah merah yang hitam, dan menatap kepala yang terpisah dari tubuhnya. Rahangnya mengeras sampai urat di lehernya menonjol. Kedua matanya memerah, dan tongkat di tangannya retak dari ujung sampai ke tengah dengan bunyi kering.
'Aku sudah mengira... Aku bahkan sudah memastikan...' Gu Chen mendengar napasnya yang bergetar di tengah hening, lalu melihat Tetua Shen menegakkan punggung dan mengangkat kepalanya.
"Dengar baik-baik, semua murid Awan Azure!" Suaranya menggema ke seluruh halaman, serak dan penuh amarah yang ditahan. "Yu Tian telah membunuh Ketua Xuan Ming. Ia merampok gudang pusaka kita, dan sekarang ia membantai tiga tetua puncak di tepi sungai. Mulai hari ini, siapa pun yang menangkapnya, hidup atau mati, akan menerima satu juta inti monster!"
Dengung kaget menyapu halaman, lalu pecah menjadi teriakan. Murid-murid melompat dengan mata menyala, dan beberapa mencabut pedang sambil berseru.
"Tangkap iblis itu!"
"Satu juta inti!"
"Aku akan menggantung kepalanya di gerbang!"
Mereka berhamburan ke arah gerbang dalam gelombang jubah abu-abu dan biru, sebagian berlari, sebagian melompat ke atas pedang dan melesat ke udara, dan dalam beberapa tarikan napas halaman besar itu sudah sepi, hanya menyisakan debu yang berputar.
Gu Chen tetap berdiri di tempatnya. Ia menunggu sampai Tetua Shen menurunkan napasnya, lalu melangkah maju dan menangkupkan tangan. "Tetua, bagaimana dengan keadaan Lu Heng dan Lan Shuang? Mereka sudah diberi banyak sumber daya dua hari ini."
Tetua Shen menoleh perlahan, dan matanya yang masih merah menatap Gu Chen lama sebelum ia menjawab.
"Mereka berdua sudah menembus Istana Roh tingkat awal. Lan Shuang pulih lebih cepat dari perkiraan tabib, dan Lu Heng hampir tidak tidur sejak malam itu." Ia menurunkan pandangan ke tongkatnya yang retak, dan suaranya merendah. "Aku berharap mereka bisa membunuh Yu Tian."
Gu Chen mengangguk, menangkupkan kedua tangan sekali lagi dengan hormat, lalu berbalik dan berjalan menuju gerbang dalam tanpa bersuara. Langkahnya tenang, tetapi telapak tangan kirinya masih mengepal di sisi tubuh.
'Mustahil Yu Tian dikalahkan. Tebasan yang kulihat di tepi sungai itu bukan milik seorang Fondasi Roh. Aku tidak mau menjadi musuhnya, lebih baik menjadi kawan daripada lawan.'