Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTAHANAN TERAKHIR
Setelah mendengar pengakuan yang dilontarkan oleh Alya dengan penuh tangis, Anaxa secara mendadak merasakan nyeri di dadanya... Seperti ada yang meremas kuat.
Dan beberapa saat kemudian, Anaxa baru sadar bahwa dia sudah melakukan hal yang sangat fatal. Dia... Membuat seorang gadis menangis tersedu-sedu di hadapannya.
Seketika Anaxa jadi membenci dirinya sendiri. Pikirannya mulai penuh dengan makian akan kebodohannya. Anaxa bahkan ingin memutar balikkan waktu... Seandainya dia tidak dikendalikan oleh dorongan impulsif...
Tanpa sadar Anaxa meremas rambutnya dengan kuat. Langkah nya secara teratur juga mundur langkah demi langkah. Kepala Anaxa terlalu penuh. Terlalu setres. Terlalu berat. Terlalu...
"Brak!"
"ANAXA!" Alya tiba-tiba menjerit.
"Brak! Brak!"
Dengan panik, jeritan, juga air mata ketakutan, Alya berlari mendekati Anaxa kemudian menarik tubuh Anaxa menjauh dari tembok.
Bagaimana tidak takut? Alya menyaksikan dengan kedua matanya sendiri bagaimana Anaxa menghantam kan dahinya ke tembok dengan begitu kerasnya bak orang kesetanan.
"Brak!"
Sekali lagi dahi Anaxa membentur tembok. Baru setelah itu Anaxa berdiri mematung. Dan akhirnya Alya berhasil menarik tubuh pria itu mundur, namun rasa ketakutan nya belum hilang sepenuhnya. Gadis itu masih menangis tersedu-sedu, memeluk erat tubuh Anaxa dari belakang, dan menenggelamkan kepalanya ke punggung Anaxa.
"Anaxa... Kamu kenapa hiks?? Aku gak tau. Aku..." Alya tak mampu melanjutkan perkataan nya. Gadis itu masih sangat syok dan berusaha mencerna apa yang tadi terjadi.
Pertanyaan dari Alya seolah-olah memecahkan lamunan Anaxa. Dia menjulurkan tangannya dan meraba dahinya. Hanya hembusan nafas berat yang keluar dari mulut pria itu ketika melihat cairan merah pekat lengket membasahi jemarinya.
"Hah... Maaf... Aku malah kambuh lagi?" Perkataan Anaxa lebih mirip vonis daripada pertanyaan atas apa yang terjadi.
Alya melepaskan pelukannya pada Anaxa, kemudian membalikkan tubuh pria itu. Matanya langsung tertuju ke dahi yang lebam dan darah yang mengalir dari sana.
Anaxa hanya senyum lemah kepada Alya. "Maaf.." Ucapnya hampir tidak terdengar.
"Tidak apa-apa, Anaxa. Tidak apa-apa." Alya menggenggam tangan Anaxa, menarik pria itu untuk duduk di sofa. Alya mengusap air matanya, lalu melangkah ke tempat gadis itu menyimpan peralatan P3K.
Alya membawa peralatan P3K itu. Duduk di sebelah Anaxa, dan mulai mengobati luka di dahi pria itu dengan penuh kehati-hatian.
Dan Anaxa dapat melihat mata gadis itu yang masih lembab bekas air mata... Membuat dadanya sekali lagi terasa nyeri. "Maaf..." Ucap Anaxa sekali lagi, namun hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Alya.
"Tidak apa-apa Anaxa. Sungguh..."
"Tapi..." Kata-kata Anaxa seperti kembali tertelan dalam tenggorokannya setelah melihat lagi sorot pandang mata Alya yang masih berkaca-kaca dan penuh ke khawatiran.
Dan akhirnya Anaxa kembali menghela nafas lagi. Melontarkan senyum lemah. Lalu tanpa disangka dia berkata "Dulu saat masih sekolah... Aku pernah dirawat di rumah sakit jiwa..."
Ucapan Anaxa sempat membuat pergerakan Alya terhenti sejenak. Dan Anaxa berusaha mencari tanda-tanda ke-tidak sukaan, benci, takut, ataupun memandang dirinya dengan rendah. Namun yang didapatkan Anaxa hanyalah pandangan yang membuat dirinya tertegun... Tatapan kekhawatiran yang kental dari Alya. Dan Anaxa dapat melihat air mata yang kembali turun dari kedua mata gadis itu.
"Lalu, apa yang terjadi dengan Anaxa kecil? Apakah dia ketakutan harus terkurung di tempat seperti itu?" Alya malah bertanya sembari lanjut mengobati dahi Anaxa.
Pria itu ingin menjawab, namun kembali mengatupkan kedua bibirnya.
Alya tersenyum tipis setelah selesai mengobati Anaxa. Kali ini gadis itu memandang Anaxa dengan dalam seolah menembus jiwanya.
"Jika kamu ingin cerita, aku... Akan mendengarkan. Walaupun gak terlalu bagus untuk kasih saran atau masukan..."
Dan hancurlah pertahanan terakhir Anaxa selama bertahun-tahun berjuang sendirian.
Satu tetes. Dua tetes. Tiga tetes.
Anaxa mulai menangis saat pikirannya memutar memori masa lalu. Dia langsung menundukkan wajahnya dan terisak.
Alya yang cepat tanggap, langsung memeluk tubuh pria itu dan menepuk-nepuk punggung nya seolah menenangkan. "It's okay Anaxa. Jika kamu masih berat untuk cerita, kamu diperbolehkan untuk menangis sepuasmu."
Dan perkataan Alya sukses membuat Anaxa menangis, mengerang kesakitan, dan banjir air mata. Tanpa disadari tangan Anaxa meremas kulit sofa dengan begitu eratnya.
"Argh... Hahhh... Haah..."
Begitu tangis Anaxa mulai mereda, pria itu masih terdiam dalam pelukan Alya. Napasnya terdengar berat dan tidak beraturan, sementara matanya terpejam rapat seolah sedang berusaha mengusir sesuatu yang terus berputar di dalam pikirannya. Beberapa saat kemudian Anaxa membuka matanya, namun tatapannya masih terlihat kosong.
Alya yang menyadari hal itu hanya memanggil namanya dengan suara pelan. "Anaxa?" Pria itu tidak langsung menjawab. Dia hanya menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Aku... sebenarnya tidak terlalu ingat kapan semuanya dimulai."
Alya tidak menyela. Gadis itu hanya terus mendengarkan, memberikan ruang bagi Anaxa untuk menyusun kembali sesuatu yang selama ini terkubur jauh di dalam ingatannya.
"Yang paling kuingat... rumah." Suara Anaxa terdengar semakin pelan. "Rumahku dulu tidak pernah benar-benar tenang. Ayah dan ibuku sering bertengkar."
Anaxa menelan ludah sebelum melanjutkan. "Kadang mereka cuma berteriak. Kadang ada suara barang pecah, pintu dibanting, kursi bergeser..." Kedua tangan Anaxa perlahan mengepal. "Dan aku biasanya masuk kamar. Aku menutup telinga. Berharap semuanya berhenti... Tapi suara mereka tetap terdengar." Dia menundukkan wajahnya.
"Semakin lama, aku jadi takut setiap kali mendengar suara keras. Suara pintu ditutup terlalu keras saja bisa membuatku panik." Anaxa menghela napas panjang. "Lucu, kan? Aku bisa menghadapi dosen galak. Bisa menghadapi tugas menumpuk. Bahkan bisa menghadapi orang yang mengancamku.."
Alya menggenggam tangan Anaxa lebih erat.
"Jadi waktu kamu tadi..." Anaxa mengangguk kan kepalanya sebelum Alya menyelesaikan kalimatnya. "Aku tidak benar-benar ada di sini." Tatapannya kembali kosong. "Pikiranku kembali ke rumah. Semua suara itu kembali terdengar. Aku cuma ingin semuanya berhenti." Dan hening memenuhi kamar.
Alya tidak tahu harus berkata apa, tetapi akhirnya dia memberanikan diri untuk berbicara. "Anaxa... kamu tidak harus selalu kuat." Anaxa menoleh kepadanya.
"Kalau capek, bilang capek. Kalau takut, bilang takut. Kalau kepalamu terlalu penuh..." Alya menggenggam tangan Anaxa semakin erat. "...kamu boleh cerita."
"Kenapa kamu baik sekali kepadaku?" tanya Anaxa pada akhirnya. Alya tersenyum tipis. "Karena kamu juga pernah baik kepadaku."
Anaxa mengernyitkan kening. "Kapan?" Alya tertawa kecil. "Sudah lama."
Anaxa mencoba mengingat, tetapi semakin dia memikirkannya, semakin dia tidak menemukan jawabannya. Alya hanya tersenyum melihat kebingungan pria itu.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, Anaxa tidak memaksakan dirinya untuk mengingat.
Namun Alya tahu satu hal yang Anaxa sendiri sudah lupa. Mereka pernah bertemu jauh sebelum kelompok Anaxa ASOY terbentuk.