Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, Wang Dahu hanyalah seorang pecundang—pemuda bertubuh gemuk yang tak mampu berkultivasi, dihina orang lain, bahkan dipermalukan oleh wanita yang dicintainya.
Ketika semua harapannya hancur, ia mendatangi Danau Pengabul Keinginan, tempat terlarang yang konon menyimpan rahasia mengerikan. Di sana, ia membuat perjanjian dengan iblis kuno demi memperoleh kekuatan.
Namun, sesuatu yang mustahil terjadi.
Alih-alih kehilangan tubuh dan jiwanya, Wang Dahu justru menyerap kekuatan sang iblis!
Kini, rahasia yang terkubur selama ribuan tahun mulai terbangun. Seorang lelaki yang dahulu diinjak-injak perlahan melangkah menuju puncak dunia kultivasi.
Tetapi, jika iblis kuno pun ketakutan terhadap tubuhnya, sebenarnya siapa Wang Dahu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Gerbang Menuju Dunia Kultivasi
Setelah ujian kedua usai, seluruh peserta yang dinyatakan lolos dikumpulkan di sebuah pelataran batu nan megah.
Seorang tetua berjubah putih berdiri mengawasi di hadapan mereka. Wajahnya tampak tenang dan teduh, tetapi aura spiritual yang terpancar dari raganya begitu menekan hingga tak ada satu pun peserta yang berani berbisik sembarangan.
“Selamat kepada kalian yang berhasil menembus dua ujian awal. Namun, jangan terburu-buru tinggi hati. Kalian masih belum sah menjadi bagian dari Sekte Awan Surgawi.”
Mendengar nama sekte besar itu meluncur dari bibir sang tetua, sorot mata para peserta seketika berbinar antusias.
Sekte Awan Surgawi adalah salah satu raksasa penguasa wilayah tersebut. Bagi para pemula, bisa diterima menjadi murid di tempat ini sama saja seperti menginjakkan satu kaki di gerbang takdir keabadian.
Tetua berjubah putih mengangkat tangannya pelan.
“Ikuti aku. Sebelum ujian akhir dimulai, kalian akan kuingatkan sejenak tentang seberapa luas dunia yang hendak kalian masuki.”
Gerbang utama kompleks sekte perlahan terkuak lebar.
Wang Dahu yang melangkah di barisan tengah peserta seketika menghentikan langkahnya.
Di hadapannya terbentang pemandangan dahsyat yang tak pernah mampu dibayangkan oleh benaknya selama ini.
Puncak-puncak pegunungan menjulang tinggi menembus lautan awan keemasan. Istana dan paviliun megah berdiri kokoh di atas tebing batu curam, saling terhubung oleh jembatan-jembatan gantung berukir indah. Air terjun raksasa meluncur deras dari ketinggian langit, membiaskan pelangi tipis yang menyelimuti seluruh atmosfer sekte.
Di kejauhan, tampak beberapa siluet manusia membelah awan melesat tinggi dengan mengendarai pedang terbang.
Jadi... inilah yang dinamakan sekte kultivasi sejati...?
Dahu menahan napas, berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya.
Ia memang telah melahap habis berbagai literatur kuno tentang dunia luar, namun menyaksikan sendiri keajaiban ini secara langsung memberikan getaran emosional yang jauh berbeda.
Meski begitu, ia buru-buru menetralkan kembali raut wajahnya. Ia tidak boleh terlihat bodoh seperti anak desa yang baru pertama kali keluar dari balik gunung.
“Bagaimana, bocah? Terperangah?” sindir suara si iblis di dalam kepalanya.
“Sedikit.”
“Sedikit? Bola matamu tadi nyaris melompat keluar dari kelopakmu!”
Dahu memilih mengabaikan godaan itu.
Sepanjang koridor batu, ia menyaksikan aktivitas murid-murid internal sekte. Sebagian besar dari mereka berada di Ranah Pengumpulan Qi pertengahan, dan tak sedikit yang telah melompati batas menuju Ranah Pembukaan Meridian.
Seorang murid muda di lapangan latihan tampak mengayunkan pedangnya santai.
WUSSS—BOOM!
Satu sabetan angin pedang tipis meluncur dan langsung menghancurkan bongkahan batu hitam raksasa menjadi serpihan debu!
Dahu mengamati dengan mata menyipit tajam. Daya hancur yang sedemikian dahsyat... ternyata hanya dianggap sebagai latihan harian biasa di tempat ini.
“Jangan cepat heran,” desis si iblis meluruskan. “Di tempat berkumpulnya para jenius, kekuatan fisik biasa tidak ada harganya. Jika kau mau bertahan hidup, jangan cuma mengandalkan keanehan ragamu. Kau wajib menempa ilmu dengan benar.”
Dahu mengangguk kecil dalam hati. Ia makin tersadar bahwa perjalanan panjangnya baru saja dimulai.
Tak lama kemudian, rombongan peserta tiba di depan sebuah lembah raksasa yang diselimuti kabut tebal.
Tetua berjubah putih kembali membalikkan badan menghadapi mereka.
“Ujian ketiga dan terakhir ini yang akan menyaring siapa yang benar-benar layak menyandang nama murid Sekte Awan Surgawi.”
Ia menunjuk ke arah celah lembah di kejauhan.
“Tempat itu adalah Lembah Ujian. Di dalamnya berkeliaran berbagai jenis monster beast liar. Tugas kalian sederhana: cari dan amankan token spiritual yang telah disembunyikan di beberapa titik lokasi, lalu bawakan kembali sebelum batas waktu berakhir.”
Area peserta seketika menjadi riuh rendah.
Tetua itu menaikkan intonasi suaranya. “Kalian diperbolehkan membentuk kelompok. Namun ingat, satu token hanya sah dimiliki oleh orang yang memegangnya saat keluar dari lembah. Artinya... kalian diizinkan merampas token milik peserta lain.”
“Apakah itu berarti kami boleh bertarung bebas?” seru salah satu peserta di depan.
“Selama tidak membunuh secara sengaja, kalian bebas menggunakan taktik apa pun untuk merebut token. Namun jika ada yang terluka parah atau lumpuh, formasi pelindung akan melempar kalian keluar dan dinyatakan gugur.”
Wajah para peserta berubah sangat serius. Hukum rimba resmi berlaku.
“Waktu ujian kalian adalah tiga hari. Dimulai dari sekarang!”
BOM!
Aba-aba ditiup, dan ratusan peserta langsung melesat liar membuang diri menembus pintu masuk lembah.
Dahu tidak ikut-ikutan lari membabi buta. Ia berdiri tenang, mengamati medan dan pergerakan massa terlebih dahulu sebelum memilih menyusuri rute semak yang lebih sepi.
Namun baru beberapa langkah menginjak tanah lembah, raga Dahu mendadak tersentak hebat!
Deg!
Darah di dalam tubuhnya mendadak bergolak liar!
Energi spiritual dalam jumlah masif yang sebelumnya ia serap dari formasi tangga batu ujian kedua mendadak mengamuk tanpa peringatan. Seolah-olah ada bendungan raksasa di dalam ulu hatinya yang jebol mendesak keluar!
Dadanya terasa bagai disiram minyak membara.
Aliran Qi di dalam jalur meridiannya berputar sangat cepat dan tak terkendali!
“Kh... gawat...!” ringis Dahu memegang dadanya.
“Ada apa dengan mu, Dahu?!” tanya si iblis ikut panik dari dalam batin.
“Energi di dalam tubuhku... mengamuk! Rasanya seperti mau meledak!”
Si iblis segera mengerahkan persepsi batinnya memeriksa kondisi fisik Dahu. Detik berikutnya, suaranya berubah tegang tak percaya. “Gila! Energi spiritual yang tersimpan di dantianmu mendadak memadat secara brutal! Jika kau nekat bertarung atau bergerak saat ini, jalur meridianmu bisa putus total!”
Dahu melirik cepat ke sekelilingnya. Para peserta lain sudah tersebar makin jauh ke dalam vegetasi lembah.
Ia tidak boleh mengalami terobosan ranah secara sembarangan di tempat terbuka seperti ini!
“Aku harus mencari tempat persembunyian sekarang!”
Dahu memaksakan kakinya berlari cepat, menerobos semak belukar menuju wilayah pedalaman tebing yang paling terisolasi.
Setelah melewati celah batuan terjal dan vegetasi lebat, Dahu akhirnya menemukan sebuah ceruk goa kecil yang tersembunyi di balik jalinan akar pohon purba.
Mulut goanya sangat sempit dan tertutup rapat dari luar. Dari sudut pandang mana pun, goa ini nyaris tak terlihat.
Setelah memastikan tidak ada aroma binatang buas atau jejak peserta lain di sekitar area tersebut, Dahu menyusup masuk.
Area dalam goa ternyata cukup lapang dan berudara sejuk alami.
Dahu langsung melipat kakinya, duduk bersila di atas batu datar. Ia menarik napas dalam-dalam dan berusaha memandu sirkulasi Qi yang mengamuk di dalam raganya.
Namun, begitu ia memusatkan kesadarannya—
BOOM!
Dantian Wang Dahu berdenyut dahsyat!
Udara di dalam goa mendadak berpusar kencang. Energi spiritual alam di sekeliling tebing tersedot masuk secara paksa melalui pori-pori kulitnya, membentuk pusaran angin mini yang mengelilingi tubuhnya!
Dahu menggertakkan gigi rapat-rapat, memusatkan fokus penuh untuk menekan dan memandu laju energi tersebut ke pusat dantiannya.
Satu sirkulasi...
Dua sirkulasi...
Tiga sirkulasi...
KRAK!
Suara pecahnya dinding penghalang di dalam tubuhnya bergema nyaring di dalam rongga dadanya!
BOOM!
Aura Dahu meledak hebat!
Ranah Pengumpulan Qi tingkat kedua!
Namun, gelombang terobosan itu sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda berhenti!
Energi murni yang tertimbun di dalam raganya terus bergejolak dan menembus batas-batas baru dengan kecepatan yang di luar nalar!
BOOM!
Tingkat ketiga!
BOOM!
Tingkat keempat!
Dua tingkat terlewati hanya dalam hitungan detik!
Hingga akhirnya, gelombang puncaknya menghantam dantiannya untuk yang terakhir kali!
DUARRRR!
Seluruh dinding goa bergetar halus, dipenuhi oleh kepulan angin spiritual yang memancar pekat dari tubuh Dahu!
Ranah Pengumpulan Qi tingkat kelima! Puncak!
Perlahan-lahan, pusaran energi di udara mulai mereda. Keheningan kembali menyelimuti goa sepi tersebut.
Dahu perlahan membuka kedua matanya.
Sepasang iris matanya memancarkan pendar keemasan redup sebelum menguap. Ia merasakan lonjakan tenaga yang tiada tara di dalam seluruh persendian dan jalur meridiannya. Aliran Qi-nya kini terasa melimpah, pekat, dan sangat stabil.
“Aku... berhasil menembusnya...” gumam Dahu takjub menatap kedua tangannya sendiri.
Namun di dalam ruang kesadarannya, si iblis kuno justru membeku total seolah baru saja disambar petir di siang bolong.
Beberapa detik berlalu, sebelum jeritan hysteria melengking memecah keheningan batin Dahu!
“GILA! KAU BENAR-BENAR MANUSIA GILA!”
Jeritan itu berdengung kencang di kepala Dahu. “Dari tingkat pertama melompat langsung ke tingkat kelima Puncak hanya dalam waktu beberapa menit?! Teknik iblis macam apa yang sebenarnya kau pakai, hah?!”
Dahu mengusap telinganya pelan. “Jangan berteriak di kepalaku. Aku tidak tuli.”
“Bagaimana bisa aku tidak berteriak?! Bahkan untuk ukuran jenius Dunia Atas sekalipun, menembus empat tingkat sekaligus secara beruntun seperti ini adalah hal yang tidak masuk akal! Tubuhmu pasti akan hancur meledak!”
Dahu tersenyum tipis. “Tapi kenyataannya ragaku utuh-utuh saja, kan?”
Si iblis terbungkam seribu bahasa. Ia memeriksa ulang seluruh jaringan organ dan meridian Dahu, namun yang ia temukan hanyalah fondasi yang amat kokoh dan murni tanpa cacat sedikit pun.
“Bocah ini... raganya benar-benar sebuah anomali mengerikan...” bisik si iblis bergidik ngeri.
Dahu tidak membuang waktu lebih lama untuk berdebat. Ujian ketiga di luar sana sedang berlangsung, dan ia masih harus mengamankan kepingan token untuk lulus secara resmi.
Ia bangkit berdiri, merapikan jubahnya yang agak kusut, lalu menyembunyikan kembali seluruh pendaran energi barunya hingga auranya tampak seperti kultivator biasa.
Ia melangkah keluar dari dalam goa sepi, menatap hamparan vegetasi Lembah Ujian di hadapannya dengan tatapan penuh percaya diri.