Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.
Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.
Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.
Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5 — Anak yang Terluka di Rumah Reyot
Jempol Raka turun dan menyentuh tombol MULAI LIVE.
Lingkaran merah muncul di layar.
Satu menit pertama, jumlah penonton tetap nol. Menit ketiga, seseorang masuk selama lima detik lalu pergi. Menit ketujuh, sinyal kontrakan tersendat dan gambar tangannya membeku.
Raka mengakhiri siaran tanpa satu pengikut baru.
Ia tidak kecewa. Kegagalan pertama memberinya data: cahaya cukup, suara kipas terlalu keras, dan akun kosong membutuhkan video pendek sebelum orang mau berhenti menonton.
Dua hari berikutnya ia merekam potongan proses mengasah pisau serta membuat sketsa ukiran. Namun ia masih membutuhkan gambar pembuka yang lebih kuat—tembok kusam yang berubah menjadi relief hidup. Karena itu, sore berikutnya Raka membawa ponsel dan buku sketsa untuk mencari lokasi mural di sebuah kawasan padat tak jauh dari kanal.
Ia baru melewati deretan rumah berdinding seng ketika suara benda jatuh terdengar dari gang buntu.
Brak!
Disusul tangis seorang anak.
"Ampun, Pak. Aku tidak ambil uangnya."
Langkah Raka berhenti.
Suara laki-laki menyambar, berat oleh alkohol. "Kalau bukan kau, siapa? Setan?"
Raka berbalik masuk ke gang. Pintu sebuah rumah reyot terbuka setengah. Bau arak murah bercampur selokan menusuk dari dalam. Di balik celah, seorang gadis kecil meringkuk di lantai, kedua tangannya melindungi kepala. Tubuhnya kurus. Kaos kuning yang dikenakannya terlalu besar dan kotor.
Seorang pria mengangkat sabuk di atasnya.
"Berhenti."
Suara Raka tidak keras, tetapi cukup membuat sabuk itu tertahan.
Pria tersebut menoleh. Wajahnya merah, matanya berair. "Siapa lo?"
Raka mendorong pintu sampai terbuka. "Turunkan sabuknya, Pak."
"Ini rumah gue. Itu anak gue. Pergi!"
Sabuk kembali terangkat.
Raka bergerak sebelum benda itu turun. Ia menangkap pergelangan pria tersebut, memutar secukupnya, lalu mengambil sabuk dari genggamannya. Pria itu mencoba menubruk, tetapi langkahnya goyah. Raka menggeser tubuh, menahan bahunya ke dinding tanpa memukul.
"Lepas! Gue bunuh lo!"
"Coba berdiri lurus dulu sebelum mengancam orang."
Raka melempar sabuk ke luar jangkauan lalu mundur. Ia tidak datang untuk menghukum. Ia hanya memastikan tangan itu tidak kembali menyentuh anak.
Gadis kecil tersebut masih meringkuk. Ada memar lama di lengan kurusnya dan bekas luka di lutut. Di sudut ruangan, sebuah piring plastik kosong diletakkan di depan pintu lemari yang terkunci.
Raka mengeluarkan ponsel. "Saya menghubungi polisi dan Dinas Sosial."
Pria itu mendadak lebih sadar. "Berani lo ikut campur? Dia anak angkat gue secara sah! Ada suratnya. Mau kasih makan dia? Mau bayar sekolahnya?"
"Kalau surat itu ada, tunjukkan kepada petugas. Bukan kepada saya."
"Dia suka mencuri. Harus diajar!"
Gadis kecil menggeleng cepat. "Aku lapar. Aku cuma ambil roti kemarin."
Raka berjongkok beberapa langkah darinya, menjaga kedua tangan terlihat. "Dik, saya tidak akan mendekat kalau kamu tidak mau. Ada bagian yang sakit sekali?"
Anak itu menatapnya melalui sela lengan. Bibirnya pecah. "Perut."
"Karena dipukul?"
"Belum makan."
Rahang Raka mengeras.
Ia menyebutkan alamat kepada operator polisi, menjelaskan bahwa ada dugaan kekerasan terhadap anak dan pelaku sedang mabuk. Setelah itu ia menghubungi layanan pengaduan sosial setempat. Semua kalimatnya pendek: lokasi, kondisi anak, kondisi pria, dan kebutuhan perlindungan segera.
Pak Leman—nama yang diteriakkan seorang tetangga dari luar—menendang kursi plastik. "Dasar tetangga tukang ngadu!"
Dua perempuan mengintip dari balik pintu rumah seberang. Begitu Raka memandang, salah satu dari mereka berkata, "Kami sering dengar tangisan, Mas. Tapi dia selalu bilang anaknya jatuh."
"Tolong tunggu sampai polisi datang," kata Raka. "Petugas mungkin membutuhkan keterangan Ibu."
Perempuan itu ragu, lalu mengangguk.
Raka kembali menatap gadis kecil. "Saya punya roti di tas. Boleh saya letakkan di sini?"
Anak itu mengangguk tipis.
Ia menaruh roti dan botol air di lantai, lalu mundur. Gadis itu meraih makanan dengan gerakan cepat, tetapi berhenti sebelum menggigit.
"Kenapa?"
"Nanti Bapak marah."
"Petugas sedang datang. Kamu boleh makan."
Pak Leman tertawa kasar. "Petugas juga bakal pulangkan dia ke gue. Gue punya surat. Lo cuma orang asing."
"Mungkin," jawab Raka. "Tapi hari ini kondisi tubuhnya akan dicatat, rumah ini akan diperiksa, dan ucapan para tetangga akan masuk laporan. Setelah itu, bukan Anda yang menentukan sendirian."
Senyum Pak Leman memudar.
Sirene pendek terdengar di mulut gang sekitar dua belas menit kemudian. Dua polisi datang lebih dulu, diikuti mobil layanan sosial. Raka mengangkat kedua tangan dan segera menjelaskan bahwa ia sempat menahan pergelangan Pak Leman untuk menghentikan sabuk, tetapi tidak memukulnya.
Salah satu petugas memisahkan mereka. Petugas lain berbicara kepada tetangga. Seorang pekerja sosial perempuan masuk sambil membawa tas medis kecil dan jaket anak.
"Dik, saya dari Dinas Sosial," katanya dengan suara pelan. "Boleh saya duduk di sini?"
Gadis itu menatap Raka sebelum mengangguk.
Pemeriksaan awal menemukan beberapa memar dengan usia berbeda dan tanda kurang makan. Polisi meminta Pak Leman menunjukkan dokumen pengasuhan. Pria itu mengobrak-abrik laci, lalu mengeluarkan map kusut.
"Lihat!" bentaknya. "Dia diserahkan kepada gue. Gue bapaknya."
Pekerja sosial tidak langsung menerima klaim tersebut. Ia memotret dokumen, mencatat nomor, lalu berkata, "Statusnya akan diverifikasi. Untuk malam ini, anak perlu pemeriksaan medis dan perlindungan sementara."
"Tidak bisa!"
"Bisa, Pak," kata polisi di sampingnya. "Ada dugaan kekerasan. Bapak ikut ke polsek untuk dimintai keterangan."
Pak Leman menunjuk Raka. "Dia yang masuk rumah tanpa izin! Dia menyerang gue!"
"Saya siap memberi keterangan," balas Raka. "Gang di depan punya saksi. Tubuh anak ini juga bukan sesuatu yang bisa Anda hapus dengan teriakan."
Di polsek, Raka mengulang kronologi dari awal. Waktu kedatangan, posisi sabuk, tindakan menahan tangan, panggilan darurat, serta saksi tetangga dicatat. Pekerja sosial menjelaskan bahwa anak akan dibawa ke fasilitas perlindungan sementara setelah pemeriksaan. Status pengasuhan Pak Leman harus diteliti melalui Dinas Sosial dan, bila perlu, Pengadilan Negeri.
"Saya bisa membawanya sementara?" tanya Raka.
Pekerja sosial menggeleng tegas. "Tidak bisa, Pak. Anda bukan keluarga, dan anak perempuan tidak dapat begitu saja ditempatkan dengan pria lajang yang baru dikenal. Ada asesmen, kunjungan, dan prosedur perlindungan."
Jawaban itu mengecewakan, tetapi benar.
Raka mengangguk. "Apa yang boleh saya lakukan?"
"Tinggalkan identitas dan nomor kontak sebagai pelapor. Kalau Anda bersedia menjadi pihak pendukung, kami catat. Namun keputusan penempatan tetap pada hasil asesmen."
Raka menyerahkan KTP dan nomor teleponnya. Ia juga menandatangani berita acara keterangannya setelah membaca setiap baris.
Ketika pekerja sosial hendak membawa gadis itu ke mobil, tangan kecil mendadak mencengkeram ujung kemeja Raka.
Pegangannya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Jangan tinggalin aku," bisiknya.
Raka berjongkok. "Kamu ikut Ibu ini ke tempat aman. Ada makanan dan dokter."
"Bapak nanti ambil aku lagi."
"Saya sudah memberikan nama dan nomor saya. Saya akan datang menanyakan kabarmu."
"Janji?"
Raka memandang mata anak itu. Ketakutan di sana berbeda dari mata Keisha pagi ketika ia pergi. Keisha takut kehilangan kebiasaan. Anak di depannya takut dikembalikan ke neraka yang sama.
"Janji."
Jari kecil itu akhirnya terlepas satu per satu.
Di dekat pintu polsek, Pak Leman menunggu diperiksa lebih lanjut. Saat gadis itu lewat, ia meludah ke lantai dan menatap Raka dengan kebencian telanjang.
"Ingat wajah gue," desisnya. "Dia anak yang gue angkat secara sah. Siapa pun lo, lo tidak akan bisa membawanya pergi."
Pintu mobil layanan sosial menutup.
Dari balik kaca, telapak tangan kecil menempel tanpa bergerak, sementara kendaraan itu membawa sang anak menuju perlindungan sementara—dan meninggalkan Raka dengan sebuah janji yang belum memiliki jalan hukum untuk dipenuhi.