NovelToon NovelToon
IBU TIRI PENYELAMATKU

IBU TIRI PENYELAMATKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Action
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Setelah enam bulan wafatnya sang Ibu, Dea memutuskan meninggalkan rumah karena tidak tahan terhadap tekanan dan siksaan dari Paman, Bibi dan sepupunya yang sengaja ingin merebut warisan dari sang ayah yang merupakan seorang CEO sebuah perusahaan Ekspor-Impor bernilai ratusan triluin.

Takdir Pelarian Dea mempertemukannya dengan Tania, seorang gadis desa yang merantau ke kota untuk mencari keluarga dan asal usul jati dirinya.
Dea akhirnya mau kembali ke rumah setelah sang ayah menikahi Tania dan menjadi ibu tiri untuk Dea. Kembalinya Dea ke rumah menimbulkan ketidak sukaan dari paman dan bibi Dea, apalagi sekarang adanya Tania yang menjadi perisai hidup bagi Dea.

Banyak drama dan kejadian yang menguras emosi, banyak plot twist dalam setiap bab kejadiannya, baik dalam kehidupan Dea maupun kehidupan Tania dalam mencari keluarganya di ibukota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun Hitam dan Mahkota Berduri

Kastil Schloss von Hapsburg berdiri megah di atas tebing batu berlapung salju, memandang ke arah Danau Zurich yang terhampar luas di bawahnya. Arsitektur Gotik abad ke-18 dengan dinding batu hitam dan menara-menara tinggi menjulang menjadikan tempat itu tampak bagaikan benteng abadi. Namun di balik kemegahan kuno tersebut, kastil ini dilindungi oleh laboratorium keamanan siber terkini dan barikade pertahanan udara otomatis.

Di dalam kamar utama kastil yang hangat oleh nyala api dari perapian batu, Dea berdiri di depan cermin raksasa setinggi tiga meter.

Dua orang penjahit kenamaan asal Milan melangkah mundur sambil menunduk hormat. Di tubuh Dea, melekat sebuah gaun malam dari bahan sutra beludru berwarna hitam pekat. Potongan gaun itu begitu anggun, menutup bahunya dengan sulaman benang perak berbentuk ranting-ranting berduri, sementara di bagian dada kiri, tersemat bros mawar hitam bermahkotakan berlian yang berkilau dingin.

Dea menatap bayangannya sendiri di dalam cermin. Gadis di dalam cermin itu bukan lagi gadis kecil kusam yang menangis sambil bersembunyi di bawah ranjang saat Paman Hendra mengamuk. Gadis di depan cermin ini memancarkan wibawa darah bangsawan Hapsburg dan ketegasan klan Mawar Hitam.

Tania melangkah mendekat dari balik pintu ukir, mengenakan gaun malam serupa berpotongan mermaid warna merah anggur yang kontras. Tangan Tania memegang sebuah kotak beludru merah kecil.

"Gadis kecil Ibu sudah tumbuh menjadi ratu yang sangat cantik," bisik Tania lembut, matanya berkaca-kaca menatap Dea melalui pantulan cermin.

"Ibu..." Dea berbalik, memegang tangan Tania. Tangannya dingin. "Jantungku berdegup sangat kencang. Bagaimanakah jika nanti aku gemetar di depan orang-orang itu?"

Tania tersenyum, menyapu seuntai rambut Dea ke belakang telinganya. Tania membuka kotak beludru kecil di tangannya, mengeluarkan sebuah tiara perak mungil berukirkan motif daun mawar yang dipenuhi berlian kecil. Dengan gerakan yang sangat telaten, Tania menyematkan tiara itu di atas sanggul rambut Dea.

"Dengar Ibu, Dea," ucap Tania, suaranya mengalun hangat namun tegas. "Malam ini kau tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain. Kau tidak perlu menjadi pembunuh atau politisi. Kau cukup berdiri tegak di samping Ayahmu dan Ibu. Setiap kali kau merasa takut, ingatlah bahwa ada darah Ibu Diana yang suci di dalam dirimu, dan ada Ibu yang akan mematahkan leher siapa pun yang berani menatapmu dengan niat jahat."

Dea tersenyum merekah, menyerap seluruh kekuatan dari kata-kata ibu sambungnya itu. Ia merengkuh Tania, memeluknya erat-erat, meresapi aroma wangi melati yang selalu membawanya pada rasa aman.

Pintu kamar terbuka perlahan. Xander melangkah masuk.

Pria penguasa bayangan itu mengenakan tuxedo buatan khusus dengan medali segel Dominus Umbrae berbahan platinum tersemat di kerahnya. Namun saat matanya menangkap sosok Dea yang berdiri di samping Tania, langkah kaki Xander terhenti seketika.

Mata biru Xander membelalak. Pandangannya terpaku pada Dea. Untuk sejenak, waktu seolah berputar mundur dua puluh tahun lalu—melihat Diana berdiri di depannya dengan gaun anggun dan tiara yang sama. Namun, di dalam mata Dea, Xander melihat kobaran api keberanian yang tidak pernah dimiliki Diana. Api keberanian yang ditempa oleh kasih sayang Tania.

Xander melangkah mendekati Dea, lalu perlahan menekuk satu lututnya di atas karpet beludru, menyejajarkan tingginya dengan sang putri. Ia mengambil jemari kanan Dea, lalu mencium punggung tangan putrinya dengan penuh pengabdian seorang ayah.

"Malam ini, seluruh dunia bawah tanah akan berlutut di hadapanmu, Putriku," bisik Xander dengan suara parau yang bergetar.

Dea memegang bahu Xander, memintanya untuk berdiri. "Kita lakukan ini bersama-sama, Ayah."

Tiba-tiba, pintu kamar dihentakkan terbuka dari luar. Freya dan Dirga menerobos masuk dengan raut wajah yang sangat tegang.

"Tuan Xander!" seru Freya cepat, menyodorkan sebuah kotak kayu hitam berukir naga emas yang baru saja dikirimkan oleh kurir tak dikenal ke gerbang utama kastil. "Sebuah paket baru saja tiba. Pengirimnya menggunakan segel pribadi Sebastian Vance."

Xander menyipitkan matanya. Ia mengisyaratkan Freya untuk meletakkan kotak itu di atas meja tengah. Dirga dengan sigap memeriksa kotak itu menggunakan pemindai bahan peledak sebelum mengangguk pelan menandakan area aman.

Xander membuka kait perak kotak kayu tersebut.

Di dalam kotak berlapis kain sutra merah itu, tidak ada bom atau ancaman tertulis. Yang ada hanyalah sebuah proyektor holografik kuantum kecil berukuran sebesar koin. Proyektor itu otomatis menyala begitu penutup kotak terbuka, memancarkan cahaya biru yang membentuk bayangan tiga dimensi seorang pria tua berambut putih klimis dengan setelan jas abu-abu mahal.

Pria tua itu adalah Sebastian Vance—Konsul Agung Mawar Hitam yang berkhianat.

"Selamat malam, Xander yang terhormat," suara digital Sebastian bergema di dalam ruangan, terdengar sangat halus namun sarat akan keangkuhan yang memuakkan. "Atau haruskah aku memanggilmu sang penguasa yang bangkit dari kubur?"

Xander hanya berdiri membisu, menatap bayangan holografik itu dengan mata yang memancarkan hawa membunuh mutlak.

"Aku tahu kau sudah berada di Zurich bersama adik iparmu yang tidak tahu diri dan anak haram Diana," lanjut Sebastian sambil terkekeh pelan. "Lelang di Opernhaus Zurich akan dimulai dalam dua jam. Malam ini, aku akan menjual seluruh kode akses jaringan Mawar Hitam kepada sindikat Teratai Merah dan konsorsium Amerika. Dan jika kau berniat mengacaukan acaraku... aku sudah menyiapkan kejutan kecil di dalam auditorium."

Proyektor holografik itu berganti menampilkan gambar rekaman kamera tersembunyi secara real-time.

Di dalam gambar tersebut, tampak ratusan tamu berbusana mewah mulai memadati Grand Ballroom Gedung Opernhaus Zurich. Namun di bawah panggung utama gedung pertunjukan megah itu, terpasang belasan tabung bahan peledak cair bertekanan tinggi yang terhubung dengan pemindai detak jantung otomatis milik Sebastian.

"Satu tembakan liar, satu ledakan kecil, atau jika kau mencoba melumpuhkan sinyalku," desis Sebastian dengan senyum iblisnya, "seluruh Gedung Opernhaus beserta ribuan tamu pembeli dan kau sendiri akan hancur berkeping-keping menjadi abu. Datanglah sebagai tamu yang penurut, Xander. Serahkan Dea padaku untuk pembukaan brankas utama, atau kita semua akan mati bersama di Zurich malam ini."

BZZZT!

Proyektor holografik itu mati total, meninggalkan keheningan yang membekukan di dalam kamar kastil.

Dirga mengepalkan tangannya hingga berbunyi kletak keras. "Pria tua itu sudah gila! Dia menjadikan seluruh petinggi dunia bawah tanah sebagai sandera!"

Xander mengusap dagunya perlahan. Senyuman dingin yang mengerikan perlahan terukir di bibirnya. Ia menoleh ke arah Freya dan Dirga.

"Sebastian mengira dia memegang kendali karena dia memiliki bom cair itu," kata Xander datar. "Dia lupa... bahwa aku adalah pria yang merancang sistem keamanan Gedung Opernhaus Zurich lima belas tahun lalu."

Xander berbalik menatap Tania dan Dea. "Apakah kalian berdua siap untuk menghadiri pesta paling berdarah dalam sejarah Eropa?"

Tania menyunggingkan senyum tipisnya yang mematikan, merapikan posisi bros mawar hitam di dadanya. "Aku sudah menunggu saat ini selama dua puluh tahun, Xander."

Dea menggenggam jam saku perak milik ibunya, menatap kedua orang tuanya dengan tatapan mata yang tak tergoyahkan. "Ayo kita berangkat."

Konvoi delapan mobil limosin Maybach berarmor tebal perlahan membelah badai salju malam Zurich, menuju panggung Opernhaus Zurich—di mana topeng pengkhianatan Sebastian Vance akan segera dikoyak habis di depan seluruh penguasa dunia.

1
sunaryati jarum
Mantaaap technologynya
sunaryati jarum
Bermimpilah setinggi langit Baskoro,bilang jatuh nanti langsung remek
sunaryati jarum
Makin penasaran
sunaryati jarum
Perang antara klan
sunaryati jarum
Wonder woman kamu Tania
sunaryati jarum
baru mampir
Icita: Tks KK, semoga betah y.. sehat selalu
total 1 replies
ceuceu
ga kebaca alur ceritanya,ternyata beda dari prediksi pembaca,keren sih
ceuceu
Baru mulai baca.
sejauh ini sy suka ceritanya,sy kasi like thor
Icita: mkasih kk, sehat selalu..💪💪
total 1 replies
Nica
sangat suka dan luar biasa...lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!