Di mata keluarganya, Aira hanyalah seorang anak kedua yang tak pernah dianggap. Berbeda dari kakak dan adik bungsunya yang berpendidikan tinggi dan berkarier sukses, Aira hanya seorang lulusan SMA yang sehari-hari berjuang menjajakan kue keliling. Kasih sayang sang ayah menjadi satu-satunya alasan Aira bertahan di rumah yang penuh kepalsuan itu.
Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pria yang ia cintai datang melamar. Bukan untuk dirinya, melainkan untuk sang adik. Pengkhianatan yang telah lama berjalan di belakangnya itu justru didukung penuh oleh ibu dan kakaknya.
Dalam hancurnya rasa kecewa, Aira melangkah pergi menembus derasnya hujan malam. Malang tak dapat ditolak, sebuah sepeda motor menyenggol tubuhnya yang ringkih. Sang pengendara yang merasa bersalah bermaksud membawanya ke rumah sakit, tetapi jalanan malam yang sepi dan hujan lebat memaksa mereka berteduh di sebuah gubuk tua.Siapa sangka, niat baik untuk berteduh justru berbuah petaka. Warga sekitar yang mengepung gubuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan batal
Tanpa sepengetahuan Aira, Devan ternyata sudah menyiapkan gaun cantik dan kado istimewa untuk menghadiri pernikahan Karin.
"Sayang, ini buat kamu pakai ke acara pernikahan adikmu nanti." ujar Devan lembut sembari menyerahkan beberapa paper bag mewah ke tangan istrinya.
Aira menatap deretan paper bag itu dengan kening berkerut. "Ini apa, Mas?"
"Gaun buat kamu pakai ke resepsi Karin." jawab Devan tersenyum manis. "Cepat ganti baju gih, nanti kita bisa terlambat."
"Iya, Mas. Tunggu sebentar, ya."balas Aira penurut.
Aira bergegas melangkah ke kamar dan membuka satu per satu paper bag pemberian suaminya. Begitu dikeluarkan, matanya langsung membelalak terkagum-kagum.
"Wah... cantik banget!" gumamnya takjub.
Gaun itu berwarna merah marun elegan, menyapu lantai hingga semata kaki. Potongannya tanpa lengan dengan belahan paha yang cukup tinggi, memperlihatkan kesan seksi namun tetap berkelas.
Tanpa buang waktu, Aira langsung mengenakan gaun tersebut. Ia memoleskan riasan tipis bernuansa natural di wajahnya. Meski jarang berdandan, Aira cukup mahir berkat kebiasaannya menonton tutorial make up di YouTube. Apalagi seluruh rangkaian kosmetik yang dibelikan Devan adalah barang-barang high-end kelas atas. Hasilnya benar-benar sempurna—m wajah Aira tampak berseri, glowing dan memancarkan kecantikan alami yang memikat.
Perawatan rutin dari salon premium tempo hari pun membuahkan hasil nyata. Kulit tubuh dan wajah Aira kini terlihat jauh lebih cerah, mulus, dan bercahaya. Rambut panjangnya ia biarkan terurai bebas, menambah kesan anggun sekaligus menggoda. Di dalam paper bag lainnya, Devan juga sudah melengkapi penampilannya dengan sepasang heels dan clutch yang senada.
Merasa penampilannya sudah siap, Aira pun melangkah keluar kamar.
Di ruang tamu, Devan yang sedang berbincang bersama Oma Maria langsung terdiam terpaku. Pandangan Devan terkunci sepenuhnya pada sosok Aira yang kian hari kian memesona.
"Wah, kamu kelihatan cantik sekali, Aira." puji Oma Maria lebih dulu, menatap cucu menantunya dengan binar kagum.
Devan ikut tersenyum bangga, menatap Aira dengan binar mata penuh kejujuran. "Iya Sayang, kamu benar-benar cantik banget hari ini."
Pipi Aira mendadak merona merah. "Terima kasih, Oma. Terima kasih juga ya, Mas." ucapnya malu-malu.
Oma Maria mengamati pasangan di hadapannya dari atas roda. "Kalian mau ke mana rapi-rapi begini?" tanyanya.
"Kami mau menghadiri pernikahan adiknya Aira, Oma."sahut Devan.
Oma Maria agak cemberut. "Kenapa nggak bilang dari kemarin kalau adikmu mau nikah? Tahu gitu Oma kan bisa titip kado."ujarnya.
Usia Oma Maria memang sudah sangat sepuh. Beliau lebih sering beraktivitas di atas kursi roda dan selalu didampingi perawat ke mana pun pergi. Dengan kondisi fisik seperti itu, tentu tidak memungkinkan bagi Devan untuk mengajaknya berpergian jauh.
"Nggak apa-apa kok, Oma. Kado dari Devan juga sudah cukup kok." hibur Devan ramah.
"Ya sudah, kalian hati-hati di jalan ya." pesan Oma Maria.
Devan dan Aira bergantian berpamitan serta mencium tangan Oma Maria. Mereka berdua bergegas menuju mobil mewah yang sudah disiapkan oleh Aldi, asisten pribadi Devan.
"Silakan, Tuan, Nyonya." panggil Aldi sigap seraya membukakan pintu penumpang bagian belakang.
Begitu pintu mobil ditutup dari luar, Aira langsung menyenggol lengan Devan sambil mencibir gemas. "Katanya Aldi itu teman Mas, kok malah melayani begini? Mas bohong ya?"
Devan terkekeh pelan menyikapi tuduhan istrinya. "Lho, dia memang temanku, Sayang. Cuma ya aku pekerjakan juga sebagai asisten pribadi. Jadi aku nggak bohong, kan?"
Aira hanya mengerucutkan bibirnya tanpa membalas lagi karena Aldi sudah duduk di kursi kemudi. Saat itu, Aira sama sekali belum tahu kalau pesta pernikahan adiknya sebenarnya sudah batal berantakan. Tak ada seorang pun dari keluarganya yang memberi tahu, bahkan Siska kakak pertamanya pun memilih bungkam.
Di dalam mobil mewah yang melaju mulus, Aira sempat termangu menatap keluar jendela. Serasa mimpi. Ia kini berpergian dengan mobil super mahal lengkap dengan supir pribadi. Dulu, membayangkannya saja ia tidak berani. Tapi sekarang, ia resmi menjadi istri dari seorang Devan pengusaha sukses bergelimang harta yang memegang takhta sebagai orang terkaya nomor dua di Indonesia.
Tak butuh waktu lama, mobil mereka akhirnya tiba di depan pelataran rumah orang tua Aira. Namun, suasana di sana tergolong sangat sepi, tidak tampak seperti ada helatan pesta besar sama sekali.
Aira mengernyit heran. "Kok rumahnya sepi banget ya, Mas?"
Devan ikut mengedarkan pandangan. "Iya ya, kok sepi begini? Apa acaranya diselenggarakan di gedung, bukannya di rumah?"
"Aku kurang tahu, Mas. Karin nggak ada cerita apa-apa soal gedung. Lagian kalau sewa gedung kan biayanya membengkak banget." sahut Aira ragu.
Saat mobil yang dikendarai Aldi perlahan memasuki halaman rumah yang lengang itu, kebetulan Siska dan suaminya, Beni, baru saja keluar dari pintu depan hendak berangkat kerja.
Langkah Siska mendadak terhenti. Matanya membelalak menatap mobil sport super mewah yang mulus berbelok ke halaman mereka.
"Eh, Mas! Lihat deh, itu mobil siapa yang datang ke rumah kita?" seru Siska heboh, memukul-mukul lengan suaminya. "Ya ampun, keren banget! Itu kan mobil langka, cuma orang-orang kaya melintir yang bisa punya!"
Beni ikut melongo, matanya tak berkedip menatap bodi mobil yang berkilau. "Iya, gila... keren banget mobilnya, Sayang! Kapan ya kita bisa punya mobil berkelas kayak gitu?"
Siska langsung berbalik dan berteriak keras ke dalam rumah. "Ibu! Ibuuu! Coba keluar deh!"
Mendengar teriakan melengking Siska, Bu Ismi tergesa-gesa berlari ke teras depan. "Aduh, ada apa sih, Sis? Kamu ini pagi-pagi sudah teriak-teriak!" omel Bu Ismi.
"Lihat tuh, Bu! Ada mobil mewah berhenti di halaman kita! Kira-kira siapa ya?" tunjuk Siska antusias.
Bu Ismi ikut memicingkan mata. "Eh, iya... Siapa itu, Sis?"
Siska hanya mengangkat bahunya, ikut penasaran setengah mati.
Tak lama kemudian, seorang pemuda berpenampilan rapi turun dari pintu kemudi. Dengan sikap hormat, ia membukakan pintu penumpang. "Silakan, Tuan, Nyonya." ucap Aldi.
Detik berikutnya, pasangan pria dan wanita keluar dari mobil. Sang pria tampak sangat tampan, gagah, dan memancarkan aura keturunan bangsawan kaya raya. Sementara wanita di sampingnya... terlihat begitu cantik, anggun, dan memikat hingga menyedot perhatian siapa saja.
"Wow... tampan banget prianya! Wanitanya juga cantik sekali!" gumam Bu Ismi terpesona.
Siska memajukan tubuhnya, mengamati sosok wanita itu lebih jelas dari dekat. Matanya membelalak tak percaya.
"Lho... Bu? Kok wanitanya mirip banget sama Aira ya?" cetus Siska panik. Tapi cepat-cepat ia menggelengkan kepala menyangkal pikirannya sendiri. "Eh, tapi nggak mungkin lah! Mana bisa Aira sekusam dulu mendadak secantik dan sebebas ini!"
Sementara itu, Beni yang berdiri di samping Siska malah menelan ludah. Matanya terkunci rapat pada tubuh dan wajah Aira tanpa berkedip sedikit pun. Napasnya seperti tertahan, benar-benar tersihir oleh kecantikan Aira yang begitu seksi dan elegan.
Aira melangkah mendekati mereka bertiga dengan senyum tipis. "Ibu, bukannya hari ini Karin mau nikah? Kok rumah sepi banget?"
Begitu Aira berdiri tepat di hadapan mereka, Siska makin syok. Jarak semeter membuat Siska bisa melihat dengan sangat jelas bahwa wanita memukau di depannya ini memang adik kandungnya sendiri! Tapi versi yang jauh lebih glowing, mulus, dan tampil sangat berkelas dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Ai-Aira?! Ini beneran kamu, Aira?!" seru Siska terperanjat, matanya meneliti penampilan Aira tanpa berkedip.
"Iya, ini aku, Kak. Memangnya kenapa?" balas Aira santai.
Bu Ismi memegang dadanya, tak kalah kaget hingga wajahnya pucat. "Nggak... Nggak mungkin kamu ini Aira! Aira itu kusam, dekil, dan kucel! Nggak bakal pernah bisa secantik ini!"
Aira hanya tersenyum tipis mendengar cemoohan ibunya yang gagap. Siska dan Beni hanya bisa bergeming, mati kutu tak berkutik menatap perubahan drastis pada diri Aira.
Beni sampai berdecak kagum menatap Devan yang berdiri gagah dalam balutan setelan jas elegan. "Niat banget kamu dandan ganteng begini cuma buat datang ke nikahan Karin." gumam Beni, membatin betapa miripnya Devan dengan bos-bos besar kelas atas.
Bu Ismi langsung mendekati Aira, memutar-mutar tubuh anak perempuannya itu dengan wajah penuh kecurigaan. "Ini beneran kamu, Aira? Ngapain coba pakai baju sebagus ini segala? Baju begini pasti sengaja kamu sewa cuma demi pamer di pernikahan Karin, kan?" tuduh Bu Ismi bernada sinis.
Aira menarik napas pelan. "Nggak kok, Bu. Aira nggak nyewa baju sama sekali," jawabnya tenang.
"Halah, bohong! Mana mungkin kamu sanggup beli!" sembur Bu Ismi tak percaya. "Baju bermerek begini harganya mahal! Pasti ini semua hasil nyewa. Mobil yang kamu pakai itu juga paling mobil rental, kan? Gila, habis berapa duit kamu cuma demi nyewa semua ini? Kalau nggak mampu, ya nggak usah gaya-gayaan!"
Siska ikut-ikutan menimpali dengan nada sinis. "Iya! Biar apa coba datang pakai dandanan heboh begini? Biar dipuji-puji sama orang dan dikira kamu sekarang udah kaya raya?"
Mendengar tuduhan tak berdasar dari ibu mertua dan kakak iparnya, Aira dan Devan hanya bisa mengelus dada sabar.
Beni lalu ikut bersuara sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Daripada uangnya kamu buang-buang buat nyewa semua barang ini, mending uangnya dipakai buat bantu biaya rumah sakit Bapak." cetus Beni.
Sementara itu, Karin sendiri masih mengunci dirinya rapat-rapat di dalam kamar.
Aira langsung tersentak. "Biaya rumah sakit Bapak? Maksud Mas Beni apa?"
"Ya ampun, kamu belum tahu?" balas Beni spontan. "Pernikahan Karin itu dibatalkan karena calon suaminya ketahuan selingkuh! Bapak kaget luar biasa sampai penyakit jantungnya kambuh dan harus dilarikan ke rumah sakit semalam."
Kabar itu menyambar Aira dan Devan bagai petir di siang bolong.
"Apa?! Nikahan Karin batal karena calonnya selingkuh? Terus Bapak masuk rumah sakit?! Kenapa nggak ada satu pun dari kalian yang kasih tahu Aira?" seru Aira syok berat.
"Ya ini juga baru mau dikasih tahu, tapi kamu keburu datang." kilah Beni santai.
Tanpa pikir panjang, rasa panik langsung menguasai Aira. "Mas, ayo kita ke rumah sakit sekarang! Aira mau lihat kondisi Bapak!" ajaknya tegang pada Devan.
"Iya, Sayang. Ayo." sahut Devan sigap.
Saat itu juga, Devan dan Aira bergegas kembali ke mobil untuk menyusul Pak Bambang ke rumah sakit tempat beliau dirawat.
Melihat kepergian mereka, Bu Ismi malah mendengkus lega tanpa rasa bersalah. "Ck, baguslah kalau mereka yang ngurusin Bapak kamu di rumah sakit. Jadi kita nggak perlu repot bolak-balik lagi. Ibu juga harus bikin kue, kalau nggak kan nggak punya pemasukan." celetuk Bu Ismi, yang kini harus membanting tulang demi mengembalikan uang pinjamannya.
**Bersambung**