Pernikahan Vivian Valerie Ananditha dan Radhit Gezha Revandhana bukanlah sebuah dongeng indah. Bagi Radhit seorang pengusaha muda yang arogans, gila kerja, dan terbiasa memegang kendali Vivian hanyalah sebuah "beban" dan "kewajiban konyol" yang terpaksa dia jalani demi memenuhi wasiat almarhum ayahnya.
Di mata Radhit, Vivian adalah wanita lemah, membosankan, dan tidak bernilai. Setiap hari, kehidupan rumah tangga mereka dipenuhi dengan kedinginan, pengabaian, hingga bentakan verbal yang merendahkan. Tidak ada tempat untuk Vivian di dalam hati Radhit, terlebih ketika hadir sosok Clarissa Olivia seorang model cantik nan manipulatif yang pandai memainkan peran di balik panggung bisnis Radhit.
Namun, di balik diamnya Vivian yang penurut, ada sebuah rahasia kecil yang dia jaga dengan nyawanya: sebuah kehidupan baru sedang tumbuh di dalam rahimnya.
Vivian bertahan menelan semua luka, caci maki, dan aroma parfum wanita lain dari pakaian Radhit semata-mata demi janin di perutnya. Dia berhar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase Clarissa
Mata Radhit mengeras seketika. Sorot kehangatan yang baru saja menghiasi wajahnya kini menguap, berganti dengan kewaspadaan tingkat tinggi.
Ia melirik Vivian melalui kaca spion; wanita itu masih mengusap lembut kepala Bumi yang tertidur lelap di pangkuannya, sama sekali tak menyadari bahaya yang mengintai dari kegelapan malam.
"Vi, kencangkan sabuk pengamanmu sekarang," suara Radhit terdengar rendah namun begitu tegas.
Vivian mendongak, kebingungan terpancar di wajahnya. "Ada apa, Mas?"
"Lakukan saja, Vi. Sekarang," potong Radhit tanpa menoleh. Tangannya mencengkeram erat lingkar kemudi, sementara matanya terus memperhatikan spion samping. Dua buah mobil SUV hitam berbingkai kaca gelap tampak membuntut dari jarak yang terlalu dekat.
Belum sempat Vivian mengunci sabuk pengaman dengan sempurna, suara derum mesin meraung kencang dari arah depan. Sebuah truk boks tua mendadak memotong jalur dari persimpangan, melintang tegak lurus dan menutup seluruh badan jalan utama yang sepi itu.
CIEEEETTT!
Radhit menginjak pedal rem sekuat tenaga. Ban mobil memekik keras menembus keheningan malam, meninggalkan jejak hitam membakar di atas aspal. Tubuh Vivian terdorong ke depan, namun refleks cepatnya berhasil mendekap erat tubuh kecil Bumi agar tidak terhempas dari pangkuannya.
Bumi terbangun seketika dan menangis histeris. "Ibu! Ada apa, Bu?!"
"Ssst... tidak apa-apa, Sayang. Ibu di sini," bisik Vivian memeluk Bumi rapat-rapat, dadanya berdegup kencang oleh rasa takut.
Sebelum Radhit sempat membanting setir untuk memutar balik, dua SUV hitam di belakang mereka melaju kencang dan berhenti rapat memblokir jalan pulang. Mobil mereka kini sepenuhnya terkepung di tengah jalan raya yang lengang.
Dari SUV hitam tersebut, turun empat orang pria bertubuh kekar mengenakan jaket kulit dan penutup wajah. Tangan mereka menggenggam pipa besi tebal dan pemukul kasti. Salah satu dari mereka pria berbadan paling tegap berjalan mendekat dengan langkah berat yang mengancam.
"Mas Radhit! Kita harus bagaimana?!" seru Vivian panik, air mata kecemasan mulai menggenangi pelupuk matanya.
Radhit menatap pintu mobil yang terkunci dari dalam. Ponsel di dashboard masih menyalakan panggilan dengan kepala tim pengawalnya. "Pak Radhit! Posisi kami tertahan barikade kedua satu kilometer di belakang! Tetap di dalam mobil, Pak!"
Namun, pria-pria di luar tidak memberi waktu. Pria berbadan tegap itu mengayunkan pipa besinya tanpa ampun.
PRANGGG!
Kaca jendela samping pengemudi retak seribu. Ayunan kedua dipastikan akan meremukkan kaca tersebut dan membahayakan keselamatan orang-orang di dalam.
Radhit tahu, struktur kaca mobil ini tidak dirancang untuk menahan pukulan beruntun. Jika mereka berhasil memecahkan kaca atau menembus masuk, Vivian dan Bumi akan menjadi sasaran utama kekejaman orang-orang suruhan Clarissa.
"Vi, dengarkan Mas," Radhit berbalik, menatap Vivian tepat di matanya. Tatapannya kini begitu tenang sebuah ketenangan yang memancarkan keteguhan luar biasa dari seorang pria yang telah membuat keputusan paling krusial dalam hidupnya.
"Mas... jangan keluar..." pinta Vivian terisak, menggelengkan kepalanya keras. "Mereka banyak, Mas!"
Radhit mengulurkan tangannya, mengusap lembut pipi Vivian untuk terakhir kalinya, lalu mengecup dahi Bumi yang sedang menangis ketakutan.
"Tugas Mas adalah memastikan kalian berdua selamat," bisik Radhit, suaranya bergetar oleh emosi yang tertahan. "Kunci pintu dari dalam begitu saya keluar. Jangan pernah buka pintu untuk siapa pun sampai tim pengawal Mas tiba. Paham?"
"Mas Radhit, jangan!" jerit Vivian seraya mencoba menggapai lengan Radhit.
Namun Radhit sudah mengambil tindakan. Pria itu menekan tombol pembuka kunci pintu, lalu membuang tubuhnya keluar dari mobil dengan cepat dan kembali mengunci pintu dari luar menggunakan remote di tangannya.
"Mas Radhit!" Teriak Vivian memukul-mukul kaca jendela dari dalam, menyaksikan pria itu kini berdiri kokoh di tengah kepungan empat pria bersenjata.
Radhit berdiri tegap, merapikan kerah kemejanya, dan menatap para penyerang itu dengan pandangan dingin tanpa rasa takut sedikit pun. Di belakangnya, di dalam kabin mobil yang aman, adalah seluruh dunianya anak dan wanita yang telah ia janjikan untuk dilindungi hingga helatan napas terakhir.
"Siapa pun yang memberi kalian uang... dia tidak bayar cukup tinggi untuk nyawa kalian malam ini," gertak Radhit dingin, mengunci pandangan pada sang pemimpin kelompok.
Pria berbadan tegap itu tertawa menyeringai. "Jangan banyak bacot, Bos! Maju!"
Pertarungan tidak seimbang itu meletus seketika.
Radhit bergerak cepat menghindar dari ayunan pipa besi pertama, mencengkeram lengan lawan, dan menghantamkan sikunya ke wajah penyerang itu hingga tersungkur.
Namun, jumlah lawan yang menang angin membuat posisi Radhit sangat terdesak.
Satu pukulan pipa besi mendarat telak di bahu kirinya. Radhit meringis menahan sakit yang luar biasa, namun ia menolak untuk jatuh.
Pria itu terus bertarung membabi buta, menghantam dan menahan setiap serangan agar tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyentuh pintu mobil tempat anak dan istrinya berada.
BUG!
Sebuah pukulan telak menghantam lambung Radhit, membuatnya berlutut di atas aspal yang dingin. Darah segar mulai mengalir dari sudut bibir dan pelipisnya.
Di dalam mobil, tangis Vivian pecah tak terbendung. Menyaksikan Radhit dihujani pukulan demi pasang badan melindungi mereka, setiap dinding kebencian dan rasa sakit masa lalu di hati Vivian hancur berkeping-keping. Pria yang dulu menyakiti hatinya kini rela menyerahkan raga dan nyawanya agar ia dan Bumi tetap aman.
"Mas Radhit! Cukup!" jerit Vivian dari balik kaca yang kabur oleh air matanya.
Pemimpin kelompok itu mengangkat pipa besi tebal tinggi-tinggi ke udara, mengarahkannya tepat ke kepala Radhit yang terkulai lemas di tanah. "Ini pesan dari Klien kami, Bos!"
Vivian memejamkan mata erat-erat, memeluk Bumi sekencang-kencangnya seraya menjerit histeris.
CIEEEETTT! BRAYYY!
Di detik yang paling kritis, tiga mobil sirene hitam milik tim pengawal pribadi Radhit menerobos barikade dengan kecepatan tinggi, memblokir area pertarungan. Belasan petugas keamanan berseragam lengkap menyergap keluar dengan senjata tersetel, melumpuhkan para penyerang dalam hitungan detik.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!" seru komandan pengawal.
Para preman suruhan itu kocar-kacir dan bertekuk lutut di bawah kepungan pengawal berpelindung lengkap.
Suasana mencekam itu seketika sirna, berganti riuh sirene dan suara langkah kaki.
Begitu situasi dipastikan aman, pintu mobil terbuka dari dalam. Vivian berlari keluar tanpa peduli pada sandal yang terlepas, menghampiri tubuh Radhit yang terbaring lemah di atas aspal dengan napas terengah-engah.
"Mas! Mas Radhit!" tangis Vivian Histeris saat ia memangku kepala Radhit di atas pangkuannya. Tangannya yang gemetar menyeka darah yang mengalir dari pelipis pria itu. "Kenapa kamu nekat banget, Mas... kenapa kamu lakukan ini..."
Radhit perlahan membuka matanya yang berat. Di tengah rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya, pria itu mengukir senyum tipis yang sangat tulus ketika melihat wajah Vivian yang dipenuhi air mata kekhawatiran.
Dengan sisa tenaganya, jemari Radhit yang bernoda darah terangkat pelan, menyapu air mata di pipi Vivian.
"Kamu... dan Bumi... tidak apa-apa, kan?" bisik Radhit dengan suara yang hampir tak terdengar.
Vivian menggelengkan kepalanya keras, air matanya menetes jatuh membasahi pipi Radhit. "Kami tidak apa-apa, Mas... Kami selamat karena kamu."
"Baguslah..." nyaris tanpa suara, Radhit menghembuskan napas lega sebelum matanya perlahan terpejam rapat, dan tangannya terkulai lemas jatuh ke atas aspal.
"Mas Radhit! Mas! Buka matamu, Mas!" jerit Vivian histeris di tengah kegelapan malam, memeluk erat tubuh pria yang kini sepenuhnya telah menebus masa lalunya.
Masalah Clarissa cari kelemahannya,dan hancurkan apa yang dimilikinya yang bisa mengancam perusahaan
Untuk Julian sungguh mulia,kamu yang menolong Vivian, melindunginya,dan memberi rasa nyaman,namun tidak memaksa Vivian, untuk memilihnya, karena dia tahu masih ada nama Radit di hati Vivian