NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Batas Ilusi

Langkah kaki mereka berdua beriringan menyeberangi zebra cross di jalan raya yang sore itu cukup padat.

Begitu kaki mereka menapak di trotoar seberang, jantungku mendadak berdegup kencang secara abnormal. Napasku memburu, entah kekuatan dari mana, tubuhku bergerak sendiri.

Aku langsung berlari kecil dan memeluk pria itu dengan erat dari belakang. Aku menyandarkan pipiku di punggungnya, menghirup aroma tubuhnya yang terasa begitu familier di dalam ingatan jangka pendekku.

"Aku kangen banget sama kamu..." bisikku lirih.

Pria itu tersentak hebat. Tubuhnya menegang kaku selama beberapa detik sebelum akhirnya dia berbalik dengan sentakan kasar, melepaskan pelukanku secara paksa.

Sepasang matanya melotot, menatapku dengan kombinasi rasa terkejut, terancam, dan bingung yang amat sangat.

"Eh, maaf. Kamu siapa, ya?!" tanyanya dengan nada suara yang meninggi, langsung mengambil langkah mundur untuk memberi jarak.

"Kenapa kamu tiba-tiba memeluk saya sembarangan?!"

Aku terpaku di tempat, menatap wajahnya dengan mata membelalak tak percaya. Wajah ini, mata ini, semuanya sama.

"Sayang, ini aku... Via," suaraku bergetar, mencoba tersenyum meski bibirku kelu.

"Kamu kok nanya begitu. Aku pacar kamu, masa kamu sama sekali enggak ingat sama aku, Ini aku Via, pacar kamu!"

Pria itu mengernyitkan dahi dalam-dalam. Dia menoleh ke arah perempuan di sebelahnya seolah meminta penjelasan, lalu kembali menatapku dengan tatapan jengkel.

"Pacar? Mbak, tolong ya, saya sama sekali enggak kenal sama Mbak. Saya baru pertama kali lihat Mbak hari ini. Mungkin Mbak salah orang atau salah mengenali wajah!" serunya, mulai terdengar tidak nyaman.

"Enggak. Aku enggak mungkin salah orang!" Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, mengaburkan pandangan.

Aku melangkah maju selangkah lagi, mengabaikan tatapan heran dari orang-orang di sekitar trotoar. Aku mengulurkan tangan, berusaha meraih jemari tangannya.

"Kamu pasti lagi bercanda, kan. Kamu sengaja mau ngerjain aku, tolong jangan kayak gini, ini sama sekali enggak lucu!"

"Mbak, jauhi saya. Jangan macam-macam ya!"

Plak!

Pria itu menepis tanganku dengan kasar begitu aku mencoba mendekat untuk memeluknya kembali.

Kilatan rasa takut yang nyata kini terpancar dari matanya. Dia memandangku seolah-olah aku adalah orang asing yang mengalami gangguan jiwa.

"Saya bilang saya enggak kenal. Jangan lancang memegang saya!" ketusnya dengan napas memburu.

Tanpa menunggu penjelasanku lagi, pria itu berbalik, menarik tangan temannya, dan langsung berlari mengambil langkah seribu.

Mereka menjauh secepat mungkin dari hadapanku, tenggelam di antara kerumunan pejalan kaki, seolah-olah aku adalah sosok monster yang menakutkan.

"Tunggu... Jangan pergi, dengarkan aku dulu!" teriakku histeris.

Baru saja aku hendak mengangkat kaki untuk mengejarnya, sebuah cengkeraman kuat dan dingin mendarat di lengan atas sebelah kananku. Langkahku tertahan seketika.

"Lepasin aku, Rara. Lepas!" ujarku meronta-ronda, mencoba menyentakkan tanganku.

"Aku harus kejar dia. Dia pacar aku, dia cuma lagi bingung!"

"Sadar, Via. Sadar!" Rara membentakku.

Dia memutar tubuhku dengan paksa, mengguncang kedua bahuku dengan kencang, agar aku berhenti bergerak dan menatap lurus ke dalam matanya. "Buka mata lo!"

"Enggak. Kamu enggak mengerti, Ra. Dia nyata, pria tadi itu beneran pacar aku, dia cuma lupa sama aku. Lepasin aku Ra, nanti dia makin jauh!" jawabku sambil menangis histeris.

Dadaku sesak, menolak mentah-mentah kenyataan pahit yang baru saja menampar wajahku.

"Dia gak lupa, Via. Dia memang gak pernah kenal sama lo!" Suara Rara melunak, namun setiap artikulasinya terdengar sangat tegas dan menusuk tepat di ulu hati.

"Pria yang lo peluk tadi itu orang asing. Dia punya kehidupannya sendiri!"

"Kamu bohong. Kamu cuma enggak mau aku bahagia, kan?!" tuduhku membabi buta, air mata kini merembes membasahi pipi.

"Via, dengerin gue!" Rara menaikkan volume suaranya, mencengkeram wajahku dengan kedua tangannya agar aku fokus padanya.

"Pria itu bukan siapa-siapa. Dia bukan orang yang ada di dalam khayalan lo, dia juga bukan pria yang ada di dalam mimpi-mimpi lo selama ini. Pria di mimpi lo itu gak nyata!"

"Dia nyata, Rara... dia nyata..." bisikku melemah, menggelengkan kepala dengan kuat sembari berusaha menutup kedua telingaku. Aku tidak ingin mendengar kata-kata Rara selanjutnya. Aku tidak mau duniaku runtuh.

Namun, Rara tidak membiarkanku kabur. Dia menarik paksa tanganku dari telinga, memaksaku untuk menghadapi kenyataan.

"Mau berapa lama lagi lo hidup dalam penolakan begini, hah?!" tanya Rara dengan mata yang mulai berkaca-kaca karena kasihan sekaligus frustrasi melihat kondisiku.

"Pria yang lo cari itu gak ada di dunia ini, Via. Berhenti mengejar bayangan, berhenti memeluk orang asing yang mirip sama dia. Lo harus bangun dan hadapi kenyataan yang ada di dunia nyata, demi kebaikan diri lo sendiri!"

Kata-kata Rara yang terakhir menghantamku telak tanpa ampun. Bagaikan dihantam godam besar, seluruh dinding pertahanan dan penyangkalan yang kubangun rapat-rapat selama berminggu-minggu hancur lebur dalam sekejap.

Tangisku pecah sejadi-jadinya di atas trotoar jalan yang ramai sore itu. Tubuhku melemas, dan jika Rara tidak sigap merengkuhku ke dalam pelukannya, aku pasti sudah tersungkur di atas aspal yang dingin.

Tangisku makin pecah di atas trotoar yang bising oleh deru klakson kendaraan. Orang-orang yang lewat mulai menatap kami dengan pandangan penuh selidik dan bisikan-bisikan aneh.

Namun, Rara tidak memedulikan mereka. Dia mempererat pelukannya, mengusap punggungku yang berguncang hebat karena tangis yang tak kunjung reda.

"Sstt... udah, Vi. Udah. Ikut gue sekarang, yuk," bisik Rara lembut di telingaku.

Dengan sabar, Rara menuntun tubuhku yang lemas dan hampir kehilangan seluruh tenaga. Dia membawa langkahku menjauh dari keramaian trotoar jalan raya, menyeberang menuju sebuah taman kecil yang terletak di balik area pertokoan tua.

Tempat itu tampak sunyi, hanya ada hembusan angin sore dan rontokan daun kering di atas bangku beton yang kosong.

Rara mendudukkan aku di bangku tersebut, lalu dia duduk di sampingku, merangkul bahuku dengan protektif.

"Menangis aja sepuas lo, Vi. Keluarin semuanya," ujar Rara dengan suara yang menenangkan. Dia tidak lagi memedulikan bajunya yang basah karena air mataku.

Aku memejamkan mata erat-erat, menenggelamkan wajahku di pelukan Rara. Namun, begitu kelopak mataku tertutup, kegelapan di balik mataku justru menarikku kembali ke dalam labirin ingatan yang sangat kukenali.

Pikiranku terlempar jauh, masuk ke dalam kilas balik mimpi-mimpi yang selama ini menguasai tidurku. Di dalam dimensi mimpi itu, semuanya terasa begitu hangat dan nyata.

Pria yang berwajah sama persis dengan orang asing di trotoar itu sedang berdiri di hadapanku. Namun di sini, dia tidak menepis tanganku. Dia justru menggenggam erat jemariku, seolah-olah aku adalah hal paling berharga yang pernah dia miliki di dunia ini.

Dalam mimpi itu, dia menatapku dengan sepasang mata yang memancarkan binar penuh kasih sayang. Begitu lembut, tanpa ada kilatan rasa takut atau jengkel seperti yang kulihat beberapa menit lalu.

"Via..." suaranya terdengar seperti melodi paling indah, memanggil namaku sambil mengelus pucuk kepalaku dengan jemari tangannya yang hangat. "Jangan pernah berpikir kamu sendirian di dunia ini. Aku ada di sini, selalu mencintai kamu."

Setiap perlakuannya terekam jelas di otakku. Bagaimana dia selalu tersenyum setiap kali menatapku, bagaimana dia menarikku ke dalam dekapannya yang hangat saat udara malam terasa dingin, dan bagaimana dia memperlakukanku dengan penuh kelembutan seolah aku adalah kaca rapuh yang harus dijaga agar tidak pecah.

Di dalam mimpi itu, aku adalah pusat semestanya. Cinta yang dia berikan begitu besar, begitu tulus, hingga mampu mengisi kekosongan yang selama ini menganga di dalam dadaku.

Aku mengingat dengan jelas bagaimana rasanya kecupan lembutnya di keningku sebelum aku terbangun. Sentuhan yang selalu terasa begitu nyata, membuatku benar-benar percaya bahwa dia sedang menungguku di suatu tempat di dunia nyata ini.

Namun, hembusan angin malam yang mendadak dingin di taman itu menyentakku kembali dari lamunan. Aku membuka mata perlahan, mendapati diriku masih berada di atas bangku beton yang dingin, di pelukan Rara.

Air mataku kembali menetes, meratapi kenyataan bahwa pria yang mencintaiku dengan begitu hebatnya ternyata hanyalah sebuah ilusi, yang diciptakan oleh otakku sendiri.

"Dia... dia baik banget di mimpi aku, Ra," bisikku parau, nyaris tak terdengar di antara isak tangis.

"Dia sayang banget sama aku. Kenapa... kenapa di sini dia malah takut sama aku, Ra?"

Rara menghela napas panjang, mempererat rangkulannya di bahuku.

"Karena yang ada di mimpi lo itu adalah cerminan dari apa yang lo butuhkan Vi, bukan orang nyata yang ada di luar sana."

...****************...

AUTHOR NOTE'S

Hallo guys... terimakasih sudah berkenan membaca sampai bab 5 ini ya.

Akhirnya topeng ilusi yang selama ini Via genggam mulai retak ya.

Di bab ini kita bisa lihat seberapa besar obsesi Via terhadap pria di mimpinya, sampai-sampai akal sehatnya sempat kalah.

Tapi, apakah ini benar-benar akhir dari pencarian Via? Atau justru awal dari misteri yang lebih besar? Jangan lupa tinggalkan jejak berupa vote dan komen dan agar tidak ketinggalan update bab berikutnya jangan lupa follow juga ya, dukungan kalian berarti banget buat kelanjutan cerita ini! ♥️✨

1
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!